Ads

Senin, 25 Januari 2016

Suling Naga Jilid 102

Dan ternyata Iblis Akhirat tidak menyendiri dalam kekagetannya. Raja Iblis Hitam yang menyerang Ceng Liong, membuka serangan dengan mempergunakan jurus dari Hek-wan Sip-pat-ciang, tangan kirinya mencengkeram dan lengannya mulur panjang melewati kepala lawan, lalu dari belakang tubuh lawan, lengan itu membalik dan tangannya mencengkeram ke arah kepala Ceng Liong!

Cucu Pendekar Super Sakti ini sudah mendengar pula dari Bi Lan tentang ilmu kepandaian si Raja Iblis Hitam, bahkan Bi Lan sudah mendemonstrasikan semua ilmu tiga orang gurunya, maka diapun tidak terkejut melihat lengan yang dapat mulur memanjang itu. Dia membalik dan menangkis, mengerahkan tenaga Swat-im Sin-kang.

“Dukk....!”

Dan seperti juga rekannya, Raja Iblis Hitam yang tinggi besar ini mengeluarkan teriakan kaget dan cepat menarik kembali lengan kirinya yang mulur tadi karena tangkisan lawan itu bukan saja membuat pukulannya membalik dan tangannya terpental, akan tetapi seluruh lengannya merasa dingin seperti dimasuki air es! Dia terkejut dan maklum bahwa dia berhadapan dengan seorang pendekar Pulau Es, maka diapun tidak berani main-main lagi.

Sama saja kekejutan yang dialami oleh Iblis Mayat Hidup. Kakek yang seperti tengkorak hidup inipun tadinya memandang ringan kepada Kam Bi Eng, wanita yang masih nampak cantik jelita dalam usianya yang tigapuluh dua tahun itu. Seorang wanita yang hanya bersenjatakan sebatang suling emas! Maka dia ingin menangkap wanita ini hidup-hidup, dan sudah menubruk dengan Ilmu Hun-kin Tok-ciang untuk membikin putus otot kedua pundak lawan dan sekaligus membekuknya. Seperti juga suaminya, Kam Bi Eng sudah mempelajari lebih dahulu ilmu-ilmu dari calon lawannya.

Diketahuinya sudah bahwa lawannya ini selain memiliki Sam Kwi Cap-sha-ciang seperti yang lain, juga paling ahli dalam penggunaan Kiam Ciang, dan memiliki ilmu silat yang berbahaya, yaitu Hun-kin Tok ciang. Kini, melihat datangnya serangan, ia mengenai jurus Hun-kin Tok-ciang dan cepat ia sudah memutar sulingnya. Terdengar suara melengking-lengking dan tahu-tahu lengan kanan Iblis Mayat Hidup sudah tertangkis, sedangkan lengan kirinya tiba-tiba menjadi kejang karena serangannya disambut oleh totokan yang cepat sekali datangnya dari suling yang menangkis lengan kanan tadi, mengenai tepat pada pergelangan tangannya dan membuat lengan itu menjadi kejang. Dia menahan pekiknya akan tetapi melangkah mundur untuk mengurut lengan kirinya, lalu maju lagi menyerang dengan Kiam-ciang, bertubi-tubi dan dengan marah sekali.

Bhok Gun yang dihadapi Suma Hui terkejut bukan main dan segera dia mengerti bahwa wanita ini bukan lawannya! Wanita ini memiliki pukulan-pukulan yang mengandung hawa panas sekali ,seperti api, dan ketika menangkis mengenai lengan kirinya ada hawa yang amat dingin seperti es menyusup ke dalam lengannya! Hampir saja dia melepaskan pedangnya, dan dia cepat melompat mundur dengan mata terbelalak. Suma Hui tersenyum mengejek dan ialah yang kini menerjang mendesak lawannya cepat memutar pedangnya melindungi tubuh.






Bi-kwi seoranglah yang agaknya menemukan tandingan yang seimbang. Akan tetapi ia menjadi semakin penasaran saja karena semua serangannya terhadap Bi Lan atau Siauw-kwi yang ketika kecil menjadi muridnya ini, dapat dihindarkan oleh Bi Lan, bahkan Bi Lan membalas dengan tidak kalah sengitnya! Dua orang ini, ketika mempergunakan ilmu silat dari Sam Kwi, nampaknya seperti orang berlatih saja karena gerakan mereka sama, dan kelincahan mereka berimbang. Bi-kwi menjadi semakin penasaran dan sambil mencoba untuk mendesak sumoinya, ia berteriak-teriak memaki dan menghina, disambut oleh Bi Lan sambil tersenyum saja.

Memang ialah yang minta kepada Tiong Khi Hwesio agar diperbolehkan menghadapi sucinya, karena ia sudah hafal akan semua ilmu sucinya, dan iapun tahu bagaimana caranya untuk menghadapi dan melawannya. Ada sedikit kelebihan pada diri Bi-kwi, yaitu ia lebih matang dalam hal ilmu-ilmu dari Sam Kwi dibandingkan sumoinya. Akan tetapi kekurangan Bi Lan ini tertutup oleh ilmu-ilmu dari Naga Sakti Gurun Pasir yang pernah dilatihnya, bahkan ilmu-ilmu ini akan membuat Bi-kwi bingung kalau dikeluarkan oleh Bi Lan.

Sementara itu, Kim Hwa Nio-nio sudah terlibat dalam perkelahian yang amat hebat dan seru melawan Sim Houw. Liong-siauw-kiam di tangan nenek itu memang membuatnya semakin lihai. Kebutan di tangan kirinya itu sudah berbahaya sekali, ujung bulu kebutan yang kadang-kadang lemas kadang-kadang kaku seperti batangan-batangan baja itu menyambar-nyambar ganas dan setiap ujung bulu kebutan itu dapat menghancurkan otot atau jalan darah dapat ditotoknya. Ini semua masih ditambah lagi dengan pedang suling yang menyambar-nyambar seperti seekor naga.

Akan tetapi, dalam hal penggunaan Liong-siauw-kiam ini, nenek Kim Hwa Nio-nio hanya dapat memanfaatkan ketajamannya saja, dan lubang-lubang pada pedang itu hanya mengeluarkan suara mendengung panjang, tidak seperti kalau Sim Houw yang memainkannya. Biarpun demikian, karena pedang suling itu bekerja sama dengan kebutan, nenek itu benar-benar merupakan lawan yang berbahaya dan kuat sekali.

Namun, Sim Houw telah mempergunakan sepasang senjata yang memang menjadi senjata istimewanya sebelum dia memiliki pedang suling. Kini pedang di tangan kanannya berkelebatan dan mengaung-ngaung seperti seekor naga mengamuk, sedangkan suling emas di tangan kiri mengeluarkan suara melengking-lengking, lebih kuat malah dari pada lengking suara suling yang keluar dari suling emas di tangan Kam Bi Eng, sumoinya yang menghadapi Iblis Mayat Hidup, seorang di antara Sam Kwi. Dan dengan sepasang senjata yang ampuh ini, Sim Houw dapat menandingi dan mengimbangi permainan sepasang senjata Kim Hwa Nio-nio sehingga mereka terlibat dalam pertandingan yang amat seru.

Perkelahian antara Sai-cu Lama dan Tiong Khi Hwesio agaknya merupakan perkelahian yang paling hebat di antara mereka. Dua orang kakek ini memiliki tingkat kepandaian yang amat tinggi, dan keduanya memiliki tenaga sin-kang yang sudah matang, juga pengalaman berkelahi puluhan tahun lamanya. Lebih lagi, kini keduanya mempergunakan pedang pusaka yang amat ampuh dan baru sinar pedangnya saja sudah cukup untuk menggentarkan hati lawan. Kalau tadinya Sai-cu Lama mengandalkan keampuhan Ban-tok-kiam sehingga dengan senjata ampuh itu dia dapat menebus kekalahannya yang sedikit dari Tiong Khi Hwesio, kini harapannya itu kandas.

Ternyata pedang pusaka di tangan lawan itu tidak kalah ampuhnya, bahkan kini Tiong Khi Hwesio memainkan ilmu pedang yang amat aneh dari Pulau Neraka, membuat Sai-cu Lama repot dan harus melindungi diri kuat-kuat. Dengan demikian, dia mulai terdesak dan lebih banyak menangkis daripada menyerang. Beratlah melawan kakek yang menggunakan pedang Cui-beng-kiam dengan Ilmu Pedang Cui-beng Kiam-sut dan didasari dengan tenaga Inti Bumi, semacam sin-kang yang hebat dari Pulau Neraka.

Hebat bukan main perkelahian yang terjadi di luar hutan, di padang rumput yang sunyi itu. Yang terdengar adalah sambaran-sambaran senjata yang berdesingan, bentrokan-bentrokan senjata dan teriakan-teriakan yang mengiringi suatu serangan. Akan tetapi lebih-lebih dari itu semua, dua suara suling melengking-lengking seperti ditiup terdengar, yaitu dari suling emas yang digerakkan oleh Kam Bi Eng dan yang digerakkan oleh Sim Houw. Biarpun Kam Bi Eng adalah puteri Pendekar Suling Emas Kam Hong, namun dalam hal memainkan suling emas, ia masih kalah matang dibandingkan suhengnya, Sim Houw. Dua batang suling yang berkelebatan seperti naga itu selain mengeluarkan hawa pukulan yang hebat, mengintai nyawa lawan, juga mengeluarkan suara melengking-lengking seperti ditiup dan dimainkan saja.

Yang paling repot di antara gerombolan datuk sesat itu adalah Bhok Gun. Dia diserang dan didesak oleh Suma Hui yang kini sudah mengeluarkan senjatanya pula, yaitu sepasang pedang! Padahal tadi, dengan kedua tangan kosong saja ia masih mampu mengatasi pedang lawan. Karena jengkel tak dapat segera mengalahkan lawan, Suma Hui telah mencabut sepasang pedangnya dan kini ia mainkan Siang-mo Kiam-sut (Ilmu Pedang Sepasang Iblis) yang luar biasa ganasnya. Bhok Gun terkejut dan dia terus didesak mundur oleh lawan. Hal ini sungguh sama sekali di luar perhitungan Bhok Gun.

Ketika berangkat, Kim Hwa Nio-nio begitu yakin bahwa mereka bertujuh akan mampu mengalahkan lawan tanpa perlu bantuan pasukan. Akan tetapi sekarang, ternyata mereka menghadapi tujuh orang lawan yang demikian tangguhnya sehingga mereka semua terdesak. Maka, Bhok Gun segera mengeluarkan suara teriakan tiga kali. Mendengar ini, Kim Hwa Nio-nio yang juga terdesak dan maklum bahwa dari teman-temannya ia tidak dapat mengharapkan bantuan karena mereka sendiripun terdesak, segera bersuit tiga kali.

Teriakan Bhok Gun dan suitan gurunya itu merupakan isyarat bagi pasukan yang bersembunyi di dalam hutan untuk bergerak. Terdengar sorak-sorai dan seratus duapuluh orang perajurit keluar dari dalam hutan menuju ke padang rumput. Akan tetapi, pada saat itu, nampak seorang laki-laki tinggi besar berlari-lari mendahului para perajurit ke arah padang rumput dan di belakangnya ikut berlari Hong Beng dan Kun Tek!

Ketika tiba di dekat padang rumput, panglima itu dibawa meloncat oleh Hong Beng ke atas sebuah batu besar. Panglima itu mengeluarkan sebuah sempritan dari saku bajunya dan meniup alat ini berkali-kali. Mendengar itu, para perajurit menahan langkah mereka dan hanya mengurung tempat perkelahian itu, dan semua perajurit itu memandang ke arah orang berpakaian panglima itu dengan bingung.

“Berhenti di tempat! Dilarang bergerak mencampuri perkelahian!”

Mendengar teriakan ini, tentu saja para perajurit tidak berani bergerak. Yang mengeluarkan perintah itu adalah Coa-ciangkun, komandan mereka sendiri! Ketika tadi mereka membuat persiapan di dalam hutan, mereka dibagi menjadi beberapa kelompok dari masing-masing kelompok mempunyai seorang perwira atau kepala kelompok. Dan kini, para kepala kelompok itu sendiri menjadi bingung dan cepat memberi aba-aba agar anak buahnya jangan bergerak. Mereka terkejut dan merasa heran akan perintah dari komandan mereka itu.

Tentu saja Kim Hwa Nio-nio menjadi lebih kaget lagi.
“Coa-ciangkun, cepat bergerak menangkap pemberontak-pemberontak ini!” teriaknya sambil terus memutar sepasang senjatanya melindungi tubuhnya dari desakan Sim Houw.

“Kim Hwa Nio-nio, kami tidak melihat adanya seorangpun pemberontak. Mereka adalah para pendekar, keluarga dari para pendekar Pulau Es! Karena perkelahian ini adalah urusan pribadi dan tidak menyangkut pemerintah, kami tidak mau campur tangan. Seluruh pasukan mundur....!“

Sempritan itu ditiupnya beberapa kali sebagai isyarat agar pasukannya mundur. Para perwira juga cepat memberi aba-aba dan pasukan itupun mundur kembali ke dalam hutan!

Semua ini adalah hasil rencana yang matang dari Tiong Khi Hwesio. Dia dapat menduga bahwa orang-orang licik seperti Kim Hwa Nio-nio dan Sai-cu Lama, untuk mencari kemenangan, tentu bukan hanya membawa semua temannya, melainkan juga mengandalkan bantuan pasukan pemerintah. Perhitungannya itu tepat ketika pagi hari itu, para pendekar melihat masuknya pasukan yang seratus orang lebih besarnya ke dalam hutan dengan cara sembunyi. Mereka itu agaknya keluar dari pintu gerbang timur, lalu mengambil jalan memutar ke utara dan memasuki hutan itu dari timur. Melihat ini, Hong Beng dan Kun Tek segera melaksanakan tugas yang telah diberikan oleh Tiong Khi Hwesio kepada mereka berdua.

Dua orang pendekar muda ini menyusup ke dalam hutan, mendekati tempat persembunyian para perajurit. Ketika mereka melihat betapa Coa-cianqkun sedang memberi perintah dan keterangan dan perintah kepada para pembantunya, mereka hanya mengintai saja. Sampai Coa-ciangkun selesai memberi perintah pasukan itu dibagi menjadi enam kelompok, masing-masing dikepalai oleh seorang perwira, dan panglima itu mengundurkan diri beristirahat ke dalam sebuah pondok darurat yang dibuat oleh anak buahnya, barulah mereka berdua turun tangan.

Dengan kepandaian mereka yang tinggi, mudah saja bagi Hong Beng dan Kun Tek untuk menyergap dan membuat para perajurit yang berjaga di belakang pondok tiba-tiba saja roboh pingsan tanpa mengetahui apa yang menimpa diri mereka. Totokan-totokan yang dilakukan dua orang pendekar itu membuat enam orang perajurit roboh terkulai dan seperti orang tidur saja. Mereka lalu membongkar dinding belakang pondok darurat itu dan masuk ke dalam.

Dapat dibayangkan betapa kagetnya Coa-ciangkun ketika tiba-tiba ada dua orang pemuda gagah berdiri di depan pembaringannya selagi dia beristirahat. Sebelum dia sempat berteriak, Kun Tek sudah menodongkan sebatang pisau belati ke arah dada pembesar militer itu dan Hong Beng cepat menotok urat gagunya dan membuat tubuh pembesar itu lemas. Kemudian, dua orang pemuda itu membawa tubuh Coa-ciangkun keluar pondok melalui pintu belakang, dan terus membawanya jauh ke dalam hutan, tempat yang memang sudah mereka persiapkan. Di tempat sunyi ini, Hong Beng membebaskan totokannya sehingga panglima itu dapat bergerak dan bicara kembali.

“Maafkan kami, Coa-ciangkun, akan tetapi kami terpaksa melakukan hal ini terhadap ciangkun, karena kami sedang menghadapi fitnah yang dilakukan oleh Kim Hwa Nio-nio dan Sai-cu Lama bersama kawan-kawan mereka!”

Setelah merasa dirinya bebas dan dua orang pemuda itu tidak menodongnya lagi, Panglima Coa marah sekali. Dia bukan orang lemah, bahkan orang yang memiliki ilmu kepandaian silat yang cukup tinggi. Maka tanpa banyak cakap lagi dia lalu menerjang maju, mengirim pukulan ke arah dada Hong Beng. Pemuda ini tidak mengelak, melainkan menerima pukulan itu begitu saja.

“Bukk....!”

Bukan pemuda itu yang roboh, melainkan panglima itu terkejut dan berseru keras sambil meloncat ke belakang. Ketika tangannya bertemu dada pemuda itu, dia merasa tangannya sakit dan ada hawa yang amat dingin seperti es menyusup ke dalam tubuhnya melalui tangan yang memukul!

“Siapa.... siapa kalian....?” bentaknya, “dan.... apa maksud kalian berbuat kurang ajar seperti ini terhadap aku?”

Suling Naga