Ads

Senin, 25 Januari 2016

Suling Naga Jilid 103

“Maaf, ciangkun. Harap suka dengarkan dulu baik-baik. Kami tujuh orang adalah pendekar-pendekar yang melihat betapa ada sekelompok datuk kaum sesat kini merajalela di kota raja. Mereka adalah Kim Hwa Nio-nio, Sai-cu Lama, Sam Kwi dan yang lain-lain. Kami harus menentang mereka dan hari ini kami menantang mereka mengadakan pi-bu di luar hutan ini. Akan tetapi kami tahu bahwa tentu orang-orang sesat itu mengunakan akal jahat, menarik pasukan pemerintah untuk campur tangan dengan tuduhan bahwa kami pemberontak-pemberontak. Karena itu terpaksa kami mendahului, mendatangi ciangkun untuk memperkenalkan diri dan menceritakan hal yang sebenarnya."

Coa-ciangkun adalah seorang pembesar militer yang korup dan ambisius, dan karena inilah maka mudah saja dia diperalat oleh Hou Seng. Tentu saja dia mengerti bahwa Hou Seng mempergunakan datuk-datuk kaum sesat untuk memperkuat kedudukan. Hal itu tidak dia perdulikan karena dianggap bukan urusannya. Yang penting baginya, dia memperoleh banyak hadiah dan janji bahwa kelak kedudukannya akan dinaikkan kalau dia membantu Hou Taijin yang sedang berkembang kekuasaannya itu. Oleh karena itu, mendengar ucapan Hong Beng, dia tidak merasa heran, bahkan memandang dengan sikap tidak perduli, bahkan dia mencurigai Hong Beng.

“Orang muda, mana aku tahu bahwa engkau dan kawan-kawanmu bukan pemberontak-pemberontak. Aku hanya mendengar laporan bahwa ada pemberontak-pemberontak sedang hendak ditangkap oleh Kim Hwa Nio-nio dan teman-temannya, maka aku hendak menangkap mereka dengan kekuatan pasukanku.”

“Tentu saja ciangkun juga sudah kena dikelabuhi. Tahukah ciangkun bahwa kami bertujuh dipimpin oleh seorang hwesio tua?”

“Ya, menurut laporan, para pemberontak ini dipimpin oleh seorang hwesio tua yang bernama Tiong Khi Hwesio”

“Hemmm, ciangkun adalah seorang panglima yang sudah lama bertugas, tentu mengenal pula catatan sejarah dan riwayat para panglima besar di kota raja yang setia kepada kaisar dan pemerintah. Tentu ciangkun pernah pula mendengar nama Puteri Milana, bukan? Apakah ciangkun mau berpura-pura tidak mengenal puteri dari mendiang Pendekar Super Sakti dari Pulau Es itu? Dan kenalkah akan nama Puteri Nirahai?”

Coa-ciangkun menelan ludah dan mukanya berubah ketika dia menatap wajah pemuda itu.

“Tentu.... tentu aku mengenal nama Puteri Nirahai dan.... ketika masih muda sekali pernah aku melihat Puteri Milana memimpin pasukan. Gagah sekali akan tetapi apa hubungannya dengan ini semua?”






“Sabarlah, ciangkun dan dengarkan ceritaku. Ciangkun tahu bahwa yang memimpin kami bertujuh adalah Tiong Khi Hwesio dan hwesio tua itu bukan lain adalah Pendekar Tangan Maut Wan Tek Hoat, cucu tiri Pendekar Supert Sakti, suami Puteri Syanti Dewi dari Bhutan.”

“Ahh....!” panglima itu terkejut.

“Nah, apakah ciangkun masih percaya bahwa tujuh orang yang dipimpin oleh pendekar Wan Tek Hoat yang kini telah menjadi seorang pendeta itu, para pendekar budiman dan gagah perkasa itu benar-benar hendak memberontak? Tujuh orang memberontak? Apakah itu masuk di akal?”

Panglima itu mulai merasa bimbang.
“Aku.... aku tidak tahu....”

“Dan ketahuilah pula, bahwa di antara kami yang dianggap pemberontak ini, terdapat pula bekas Panglima Kao Cin Liong! Tentu ciangkun belum lupa akan nama besarnya....!”

Panglima Coa menjadi semakin gelisah. Tentu saja dia mengenal Kao Cin Liong yang sudah lama mengundurkan diri dari kedudukannya sebagai panglima. Akan tetapi Panglima Kao itu terkenal jujur dan bersih sehingga tidak disuka di antara rekan-rekannya.

“Dan mereka semua, ketujuh orang yang akan mengadakan pi-bu dengan Kim Hwa Nio-nio dan kawan-kawannya, semua adalah anggauta keluarga Pulau Es.”

“Hemm, engkau sendiri agaknya seorang di antara mereka dari Pulau Es, bukan?”

Panglima itu bertanya. Hong Beng mengangguk. Memang tadi dia sengaja menerima pukulan untuk mendemonstrasikan kekuatan Soat-im Sin-kang dari Pulau Es.

“Guru saya adalah cucu dari Pendekar Pulau Es, ciangkun.”

“Hemm, kalau begitu, apa yang kalian kehendaki?”

“Kami mengharap kebijaksanaan Coa-ciangkun agar menarik mundur pasukan, agar tidak mencampuri pi-bu antara kami dan para datuk sesat itu.”

Coa-ciangkun mengerutkan alisnya. Mana mungkin hal ini dilakukan? Kalau dia melakukan hal itu, tentu Hou Seng akan marah kepadanya. Bukankah Kim Hwa Nio-nio dan kawan-kawannya itu merupakan para pembantu yang amat dipercaya oleh Hou Taijin? Dia menggeleng kepala beberapa kali.

“Tidak mungkin aku melakukan hal itu. Sudah menjadi kewajibanku untuk membasmi pemberontak. Kalau aku tidak setia kepada kewajibanku, berarti aku berdosa besar dan mendapat hukuman.”

Hong Beng mengerutkan alisnya dan mencoba membantah.
“Akan tetapi, ciangkun sama sekali tidak dapat melihat bukti bahwa kami memberontak terhadap pemerintah. Kami hanya menentang para datuk kaum sesat yang merajalela di kota raja!”

“Aku tidak tahu akan hal itu. Mereka itu adalah pembantu-pembantu Hou Taijin....“

Tahulah Hong Beng bahwa panglima ini sudah menjadi antek Hou Taijin, maka dia segera berkata dengan nada suara tegas.

“Kalau ciangkun tidak mau memenuhi permintaan kami dengan baik, terpaksa kami akan membunuh ciangkun!”

“Hong Beng, bunuh saja dia ini! Dia tentu antek Hou Seng dan merencanakan pemberontakan terhadap kaisar!” Kun Tek juga berkata dengan sikap mengancam.

Orang seperti Panglima Coa ini hanya galak terhadap bawahannya atau terhadap rakyat jelata yang tidak mampu melawan saja. Kalau dia sendiri menghadapi ancaman dan berada dalam keadaan tak berdaya, kekuasaan dan anak buahnya tidak lagi mampu melindunginya, dia berubah menjadi seorang penakut dan pengecut. Orang yang paling kejam sebetulnya adalah orang yang menyembunyikan rasa takut yang besar sekali di dalam batinnya. Melihat betapa dua orang pemuda yang dia tahu amat lihai ini bersikap hendak membunuhnya, Coa-ciangkun menjadi ketakutan. Wajahnya berubah pucat dan tubuhnya gemetar.

“Jangan kira kami akan kalah kalau kau tidak mau memenuhi permintaan kami!” bentak Hong Beng. “Kami dapat membunuhmu, kemudian kami masih mempunyai waktu cukup untuk membunuh enam orang perwira pembantu itu, baru kami akan mengamuk membunuhi pasukan yang tentu akan kacau karena kehilangan pimpinan itu. Kami tidak melakukan hal itu, justeru karena kami bukan pemberontak dan kami tidak mau menyusahkan pasukan pemerintah. Nah, cepat kaupilih sekarang juga!”

Ucapan itu merupakan desakan yang membuat Coa-ciangkun tidak berdaya lagi. Dia tahu bahwa orang-orang kang-ouw ini berbahaya sekali. Membunuh atau dibunuh bagi mereka tidak ada artinya, seperti para perajurit yang maju perang.

“Baiklah.”

Akhirnya dia berkata sambil menundukkan muka, seperti tunduknya hati yang sudah tidak mampu mencari jalan keluar lagi. Dia terpaksa melakukan ini, dan tentang akibatnya dengan Hou Taijin, itu urusan nanti dan dia baru akan mencari jalan keluarnya kalau saatnya sudah tiba.

Demikianlah, Hong Beng dan Kun Tek lalu membawa pembesar militer itu mendekati padang rumput, sambil bersembunyi. Ternyata perkelahian pibu itu sudah dimulai dan ketika Bhok Gun dan Kim Hwa Nio-nio memberi isyarat kepada pasukan yang bergerak maju, dua orang pendekar muda itu lalu membawa Coa-ciangkun keluar. Karena terpaksa, Coa-ciangkun meneriakkan perintahnya agar pasukannya itu tidak bergerak lalu mengundurkan diri.

Tentu saja peristiwa ini sama sekali tidak pernah disangka-sangka oleh Kim Hwa Nio-nio dan kawan-kawannya. Mereka terkejut bukan main dan sekaligus menjadi gelisah. Pasukan itu mundur ke dalam hutan dan mereka tidak terlindung pasukan lagi! Pada hal, mereka semua terdesak dengan hebat oleh pihak lawan.

“Coa-ciangkun, engkau akan dihukum gantung oleh Hou Taijin atas perbuatanmu ini....!”

Kim Hwa Nio-nio berteriak marah, akan tetapi kemarahannya yang ditujukan kepada Coa-ciangkun inilah yang mencelakakannya. Ia sudah terdesak hebat oleh suling dan pedang di tangan Sim Houw, dan karena ia marah-marah dan meneriakkan kata-kata itu kepada Coa-ciangkun sambil menoleh ke arah batu besar di mana panglima itu berdiri, berarti dia membagi perhatiannya, dan kelengahan sedikit saja membuat Sim Houw melihat lowongan yang baik sekali.

“Singgg.... srattt....!”

Darah muncrat dan Kim Hwa Nio-nio terpekik, Liong-siauw-kiam terlepas dari tangan kanannya dan Sim Houw sudah cepat menyambar pedang pusaka itu dengan suling emasnya. Pedang pusaka itu dapat ditempel suling dan ditariknya, lalu dipegangnya dengan tangan kiri sambil menyimpan suling emas.

Kim Hwa Nio-nio terbelalak melihat lengan kanannya. Ujung pedang Koai-liong Po-kiam tadi dengan kecepatan seperti kilat melihat lowongan dan sudah menyambar ke arah lengan kanan, membuat putus urat nadi lengan kanannya sehingga darahnya muncrat-muncrat keluar.

Kim Hwa Nio-nio menotok lengan kanannya untuk menghentikan jalan darah, kemudian sambil mengeluarkan teriakan melengking saking marahnya, ia menggunakan kebutan di tangan kiri untuk menyerang Sim Houw dengan membabi-buta. Akan tetapi, kalau tadi saja ketika ia masih menggunakan dua senjata, ia selalu terdesak oleh Sim Houw, apa lagi sekarang setelah lengan kanannya tak dapat dipergunakan lagi untuk menyerang!

Dengan mudah saja Sim Houw mengelak, lalu nampak sinar berkelebat menyilaukan mata ketika Koai-liong Po-kiam meluncur dan membabat. Nampak bulu-bulu kebutan itu berhamburan karena terbabat putus dan selagi nenek itu terhuyung, Liong-siauw-kiam sudah bergerak di tangan kiri Sim Houw.

“Tukk....! “

Nampaknya ujung Liong-siauw-kiam itu hanya menyentuh sedikit saja belakang kepala nenek itu sebelah kiri, akan tetapi akibatnya sungguh hebat. Nenek Kim Hwa Nio-nio mengeluarkan jeritan mengerikan dan tubuhnya terjengkang dan terbanting ke atas tanah, dan tubuh itu diam tak bergerak lagi. Kiranya ujung pedang pusaka Suling Naga itu telah membikin retak bagian kepala itu dan merusak isi kepala sehingga nenek itupun tewas seketika setelah mengeluarkan jeritan itu. Kebutan buntungnya masih tergenggam di tangan kirinya. Nenek ini, bagaimanapun juga tewas sebagai seorang gagah, tak pernah menyerah sampai maut merenggut nyawanya.

Jeritan nenek yang mengantar nyawanya itu disusul pekik yang keluar dari mulut Bhok Gun. Sejak tadi, diantara tujuh orang di masing-masing pihak, Bhok gun yang paling repot keadaannya. Tingkat kepandaian lawan, yaitu Suma Hui, masih lebih tinggi dengan selisih yang lumayan, maka sejak bentrok pertama kali, Bhok Gun selalu terdesak dan lebih banyak menangkis daripada menyerang.

Ketika mendengar teriakan Coa-ciangkun yang memerintahkan pasukannya mundur, wajahnya menjadi pucat sekali dan jeritan gurunya benar-benar merupakan pukulan hebat baginya. Tubuhnya seketika menjadi lemas dan dia tak mampu lagi menghindarkan benturan pedangnya dengan pedang kii Suma Hui yang membuat pedangnya menyeleweng dan terpental, kemudian tahu-tahu pedang kanan lawan telah menembus dadanya. Dengan teriakan panjang diapun roboh dan nyawanya melayang, menyusul nyawa subonya.

Kematian dua orang ini tentu saja mendatangkan perasaan tidak tenang dan gelisah dalam dada Bi Kwi, Sam Kwi dan bahkan Sai-cu Lama sendiri. Diantara mereka, hanya Sai-cu Lama dan Bi Kwi yang dapat mengimbangi permainan lawan, sedangkan tiga orang Sam Kwi itu harus mengakui bahwa lawan mereka adalah orang-orang yang sakti dan mereka merasakan betapa beratnya menandingi mereka.

“Sai-cu Lama, kembalikan Ban-tok-kiam milik keluarga Gurun Pasir itu!”

Sim Houw yang sudah mengembalikan pedang dan suling kepada Kun Tek kini maju menerjang Sai-cu Lama dengan Liong-siauw-kiam, membantu Tiong Khi Hwesio. Diserang oleh senjata pusaka itu dari samping, Sai-cu Lama terkejut karena serangan dengan pedang pusaka itu selain mengandung tenaga sin-kang yang amat kuat, juga mengeluarkan suara lengkingan nyaring seolah-olah ada suling ditiup dekat telinganya an mengguncang jantungnya.

Suara itupun mengandung khi-kang yang amat hebat! Dia cepat menggerakkan Ban-tok-kiam menangkis.

“Cringgg....!” Nampak bunga api berhamburan ketika Ban-tok-kiam bertemu dengan Liong-siauw-kiam.

Suling Naga