Ads

Senin, 25 Januari 2016

Suling Naga Jilid 104

“Bagus! Kalian ini pendekar macam apa? Main keroyok!” bentak Sai-cu Lama dengan sikap congkak, untuk menutupi kegelisahannya, matanya sudah liar mencari-cari jalan keluar untuk melarikan diri.

“Ingat, Sai-cu Lama. Yang melakukan tantangan adalah aku dan locianpwe Tiong Khi Hwesio terhadap Kim Hwa Nio-nio dan engkau, jadi boleh saja aku maju melawanmu dan membantu locianpwe ini karena lawanku sudah tewas.” Dan Sim Houw melanjutkan serangannya.

“Omitohud...., memang sudah tiba saatnya engkau harus menyerah Sai-cu Lama. Ucapan Pendekar Suling Naga itu benar, dan pinceng tidak malu harus mengeroyokmu agar engkau cepat takluk!”

Tiong Khi Hwesio juga menyerang dengan pedang pusakanya, Cui-beng-kiam yang ampuh itu. Hwesio tua ini maklum bahwa andaikata dia akan menangpun, akan makan waktu banyak sekali untuk menundukkan Lama yang menyerang Ban-tok-kiam. Akan tetapi, kalau seorang pendekar muda sakti seperti Sim Houw itu maju membantunya, pihak lawan tentu takkan dapat bertahan lama.

Sai-cu Lama tidak melihat adanya lowongan untuk melarikan diri. Melarikan diri dari dua orang lawan yang sakti itu berarti bunuh diri, maka diapun mengamuk dan melawan mati-matian dan sekuat tenaga. Tentu saja dia harus bergerak lebih cepat dan mengalurkan tenaga lebih banyak dari pada dua orang yang mengeroyoknya dan karena itu, sebentar saja tubuhnya sudah penuh keringat, napasnya memburu dan dari kepalanya yang gundul itu keluar uap tebal!

Setelah merobohkan lawannya, Suma Hui membalikkan tubuh dan melihat betapa suaminya, Kao Cin Liong masih terlibat dalam perkelahian yang amat seru melawan kakek cebol Im-kan Kwi atau Iblis Akhirat, wanita yang gagah ini mengeluarkan suara melengking nyaring dan ia pun menerjang ke dalam perkelahian itu.

“Haiiiittt....!”

Sepasang pedang di tangannya sudah berubah menjadi dua sinar bergulung-gulung yang menyambar-nyambar ke arah kepala dan tubuh Iblis Akhirat. Tentu saja orang pertama dari Sam Kwi ini terkejut bukan main. Menghadapi Kao Cin Liong saja dia sudah merasa repot dan terdesak terus, makin lama dia merasa tubuhnya semakin lemah dan lelah sedangkan lawannya nampak masih segar. Kini, isteri lawannya yang memainkan sepasang pedang dengan amat ganasnya, ikut maju mengeroyok! Tentu saja dia menjadi panik dan gerakannya kacau. Kesempatan ini dipergunakan oleh Kao Cin Liong utuk mengirim sebuah tendangan ke arah perut kakek cebol itu.

“Dukkk....!”






Iblis Akhirat yang juga seorang ahli tendang Pat-hong-twi, berhasil menangkis tendangan itu dengan kakinya, akan tetapi pada detik yang sama, pedang di tangan kiri Suma Hui “masuk” dan menyayat paha kakinya.

“Srattt....!”

Darah mengucur deras dari celana dan kulit paha yang robek. Iblis Akhirat terkejut, golok Toat-beng Hui-to yang hanya dapat dipergunakan dalam jarak jauh, kini dibabatkan ke arah perut Suma Hui, sedangkan tangan kirinya mencengkeram ke arah selangkang Kao Cin Liong. Hebat memang orang pertama dari Sam Kwi ini. Dalam keadaan terluka itu, dia masih mampu sekaligus membagi serangan kepada dua orang lawannya. Dan serangan berganda inipun sama sekali tak boleh dipandang ringan karena kalau mengenai sasaran, tentu dua orang lawannya itu akan roboh tewas! Akan tetapi, tentu saja suami isteri keturunan Gurun Pasir dan Pulau Es itu tidak mudah dirobohkan oleh lawan yang sudah terdesak.

“Tranggg....!”

Golok itu dibabat oleh pedang sedemikian kerasnya sehingga patah, dan tangan yang mencengkeram itupun dapat ditangkis oleh Cin Liong yang menyusulkan tamparan ke arah kepala. Pada saat yang sama, sepasang pedang di tangan Suma Hui telah melakukan gerakan menggunting, satu ke arah kaki dan satu ke arah pinggang!

Dalam satu detik, tubuh Iblis Akhirat menghadapi serangan ke arah kepala, pinggang dan kakinya. Dia terkejut dan dengan gugup berusaha meloncat ke belakang. Namun kurang cepat.

“Prokk!”

Iblis Akhirat tidak sempat mengeluh karena kepalanya retak terkena tamparan tangan Cin Liong dan tubuhnya terlempar lalu terbanting jatuh tanpa dapat bergerak kembali!
Suma Hui yang seperti seekor naga betina haus darah, begitu lawan ke dua ini tewas, ia sudah menerjang lagi memasuki perkelahian antara Iblis Mayat Hidup dan Kam Bi Eng.

Sepasang pedangnya bergulung-gulung mengurung tubuh Iblis Mayat Hidup yang menjadi terkejut karena sejak tadi diapun sudah repot menghadapi suara suling emas yang melengking-lengking dan yang membawa sinar-sinar maut itu dari lawannya, Kam Bi Eng. Melihat betapa Suma Hui menerjang maju membantunya, Kam Bi Eng lalu berseru,

“Enci Hui, kuserahkan tengkorak ini kepada enci dan cihu (kakak ipar), aku mau membantu suamiku!”

Berkata demikian, Kam Bi Eng meloncat keluar dari perkelahian itu dan langsung menubruk ke arah Raja Iblis Hitam yang sedang berkelahi melawan suaminya, Suma Ceng Liong.

Sebenarnya, kalau dia menghendaki, Suma Ceng Liong sudah akan dapat merobohkan lawannya sejak tadi. Tingkat kepandaiannya masih lebih tinggi dari lawannya. Akan tetapi pendekar ini memang sengaja mempermainkan lawannya. Betapapun juga, tidak ada niat membunuh lawan dalam hatinya. Akan tetapi tiba-tiba isterinya masuk dan mengirim serangan dahsyat ke arah Raja Iblis Hitam yang menjadi kaget dan terhuyung ke belakang. Maka diapun menerjang maju lagi membantu isterinya yang tentu saja membuat Hek-kwi-ong si Raja Iblis Hitam menjadi semakin repot dan terdesak.

Kao Cin Liong juga tidak membiarkan isterinya maju sendiri melawan Iblis Mayat Hidup. Diapun membantu isterinya sehingga dua orang Sam Kwi yang masih tinggal itu menjadi repot bukan main menghadapi pengeroyokan suami isteri pendekar itu. Baik Raja Iblis Hitam maupun Iblis Mayat Hidup sama sekali bukan lawan suami isteri yang maju bersama itu. Dalam waktu belasan jurus saja, Raja Iblis Hitam roboh oleh pukulan suling di tangan Kam Bi Eng, sedangkan Iblis Mayat Hidup roboh oleh tusukan pedang Suma Hui!

Sam Kwi tewas dan kini tinggal Bi-kwi dan Sai-cu Lama saja yang masih mempertahankan diri. Ketika Hong Beng hendak membantunya, Bi Lan berseru nyaring,

“Jangan bantu aku, biarkan aku sendiri yang membuat perhitungan dengan Bi-kwi!”

Karena teriakan ini maka para pendekar hanya nonton saja, dan biarpun mereka tidak ada yang membantu karena teriakan itu, namun mereka bersiap-siap untuk melindungi Bi Lan kalau sampai terancam. Betapapun juga, Bi-kwi merupakan lawan yang berat bagi Bi Lan karena mereka berdua itu memiliki tingkat yang seimbang.

Sementara itu, Sai-cu Lama menjadi semakin lemah. Beberapa kali dia terhuyung dan Sim Houw yang ingin merampas Ban-tok-kiam, menggunakan kesempatan itu untuk menerjang dengan Liong-siauw-kiam di tangannya. Senjata pusaka ini mengancam kepala lawan dan pada saat yang sama, tangan Tiong Khi Hwesio mencengkeram ke arah pusar. Sai-cu Lama yang sudah kerepotan itu menangkis cengkeraman dengan tangan kiri sedangkan pedang Ban-tok-kiam menyambut serangan Liong-siauw-kiam.

“Cringgg.... tukk....!”

Pertemuan pedang pusaka itu disusul totokan yang dilakukan cepat sekali oleh Sim Houw, tepat mengenai pundak kanan Sai-cu Lama. Biarpun tubuh Sai-cu Lama kebal dan totokan itu hanya membuat lengan kanannya kesemutan sebentar, namun ini cukup bagi Sim Houw untuk merenggut dan merampas pedang Ban-tok-kiam dari tangan yang dalam beberapa detik kesemutan dan kehilangan tenaga itu! Pada saat Ban-tok-kiam terampas, kaki Tiong Khi Hwesio menendang, tepat mengenai lutut Sai-cu Lama dan pendeta inipun roboh!

“Ha-ha-ha, Tiong Khi Hwesio, engkau menang dengan keroyokan. Sekarang apa yang hendak kaulakukan kepadaku?” Sai-cu Lama yang sudah tak berdaya itu masih tertawa mengejek.

“Pinceng akan membawamu ke Tibet agar diadili oleh para pimpinan Dalai Lama,” jawab Tiong Khi Hwesio.

“Ha-ha-ha. Kau hanya akan dapat membawa mayatku!”

Dan tiba-tiba saja sebelum ada orang mampu mencegahnya, tangan kanan pendeta Lama itu bergerak ke arah kepalanya sendiri dan jari-jari tangannya sudah mencengkeram dan amblas ke dalam kepalanya. Dia mengeluarkan pekik dahsyat dan tewas seketika dengan kelima jari tangan masih terbenam ke dalam kepalanya. Darah dan otak mengalir keluar dari jari jari tangan yang masih menancap itu. Mengerikan!

“Lan-moi, terimalah kembali pedangmu!”

Sim Houw berkata sambil menyusup masuk dalam perkelahian antara Bi Lan dan Bi-kwi. Bi Lan menyambut pedang Ban-tok-kiam dengan girang dan kini ia seperti seekor harimau betina tumbuh sayap. Begitu pedang berada di tangannya dan diputarnya, Bi-kwi nampak terkejut dan jerih. Akan tetapi tiba-tiba saja Bi-kwi menjatuhkan dirinya berlutut di depan Bi Lan! Wanita ini melihat betapa enam orang yang lain telah tewas. Melanjutkan perkelahian tidak ada gunanya lagi.

Menghadapi Bi Lan saja sejak tadi ia tidak mampu menang. Setiap kali gadis itu mengeluarkan ilmu yang didapatnya dari Pendekar Naga Sakti Gurun Pasir, Bi-kwi selalu menjadi bingung dan terdesak. Maka, ketika Bi Lan menerima Ban-tok-kiam dari Sim Houw, Bi-kwi maklum bahwa kalau ia melanjutkan perkelahian, ia tentu akan roboh di tangan bekas sumoinya sendiri. Maka iapun mempergunakan siasat, tiba-tiba ia menjatuhkan diri berlutut.

“Sumoi, kalau kau mau melupakan hubungan lama dan hendak membunuhku, bunuhlah!” katanya.

Wanita ini sudah mengenal betul watak sumoinya. ini balik kekerasan hati dan keberanian Bi Lan, tersembunyi watak yang halus dan mengenal budi. Melihat bekas sucinya berlutut di depan kakinya, Bi Lan menjadi bengong. Iapun teringat betapa bagaimanapun juga, selama bertahun-tahun wanita inilah yang mengajarkan dasar-dasar ilmu silat kepadanya, mewakili Sam Kwi.

Biarpun kemudian Bi-kwi menyelewengkan ajaran-ajaran itu, namun harus diakuinya bahwa ia mempelajari banyak dari Bi-kwi. Apa lagi kalau diingat bahwa ketika ia berada di ambang kehancuran, tertawan oleh Sam Kwi dan hendak dijadikan mangsa mereka, Bi-kwilah yang menyelamatkannya dan membebaskannya. Semua ini terbayang di dalam ingatannya dan Bi Lan menjadi lemas.

“Bangkit dan pergilah dari sini. Selamanya jangan sampai jumpa dengan aku lagi,” kata Bi Lan.

Bi-kwi bangkit, hampir tidak percaya. Ia memandang kepada Bi Lan dengan bibir mengulum senyum, hatinya mengejek, akan tetapi ia tidak berkata apa-apa lagi, dengan muka tunduk ia lalu pergi dari situ. Para pendekar memandang saja, tidak ada yang berani mencampuri, walaupun diam-diam merasa heran bagaimana Bi Lan membiarkan seorang wanita sejahat itu bebas.

“Omitohud.... suatu tindakan yang bijaksana,” tiba-tiba terdengar Tiong Khi Hwesio berseru kagum. “Sudah terlalu banyak orang mati terbunuh, mengerikan sekali!”

Dia memandang kepada enam mayat yang berserakan di situ dan semua orangpun ikut memandang. Akan tetapi tidak ada seorangpun di antara para pendekar itu yang merasa menyesal. Orang-orang seperti Sam Kwi, Sai-cu Lama, Kim Hwa Nio-nio dan muridnya itu, kalau tidak disingkirkan dari dunia, tentu hanya akan memperbanyak jumlah perbuatan jahat saja dan membikin banyak orang tak berdosa menderita oleh perbuatan mereka.

Hanya dua orang yang kelihatan menyesal dan bingung. Mereka adalah Suma Ceng Liong dan Kam Bi Eng.

“Mereka telah tewas, akan tetapi.... di mana adanya anak kami yang diculik oleh Sai-cu Lama?”

Tiba-tiba terdengar suara yang besar dan tegas,
“Jangan khawatir, anak kalian selamat, berada di sini bersamaku!“

Semua orang menengok dan dari dalam hutan keluarlah seorang kakek tua renta yang menggandeng dua orang anak perempuan di kanan kirinya. Seorang di antara dua anak perempuan itu adalah Suma Lian.

“Ayah....! Ibu....!”

Suma Lian berlari menghampiri orang tuanya yang menyambutnya dengan rangkulan dan ciuman penuh kegembiraan dan keharuan.

“Ayah, tahukah ayah siapa kakek yang menyelamatkan aku ini?”

Suma Lian berlari dan menggandeng tangan kakek tua renta yang menghampiri sambil menuntun anak perempuan kedua sambil tersenyum.
Suma Ceng Liong dan isterinya memandang, juga semua orang memandang.

“Omitohud!” Tiong Khi Hwesio berseru paling dulu. “Locianpwe telah meninggalkan Beng-san dan hidup merantau dalam pakaian pengemis? Sungguh aneh sekali dan amat mengherankan!”

Kakek yang kini memakai nama julukan Bu-beng Lo-kai itu tersenyum.
“Tidak begitu mengherankan seperti melihat engkau, mantu raja ini, sekarang menjadi seorang hwesio!” Dan dua orang kakek itupun tertawa.

Mendengar bahwa kakek berpakaian jembel itu datang dari Beng-san, Suma Ceng Liong terkejut.

“Dari Beng-san....?” Serunya. “Apakah.... locianpwe ini.... paman.... paman....” Dia masih ragu-ragu untuk menyebutkan nama orang itu.

“Ayah, kakek ini adalah suami nenek Milana!”

“Benar, dia paman Gak Bun Beng!”

Seru Suma Hui dan ia bersama Suma Ceng Liong segera memberi hormat kepada kakek berpakaian jembel itu.

Kakek itu tertawa dan memandang kepada Tiong Khi Hwesio.
“Agaknya keadaanku tidak jauh bedanya dengan dia yang kini telah menjadi hwesio itu. Nama lama itu sudah hampir kulupa, namaku sekarang adalah Bu-beng Lo-kai, nama yang diberikan oleh Suma Lian kepadaku, ha-ha-ha. Dan engkau, hwesio yang baik, siapakah namamu?”

Tiong Khi Hwesio menjura dengan hormat.
“Nama pinceng adalah Tiong Khi Hwesio.”

Kakek jembel itu kini memandang kepada Suma Lian.
“Nah, Suma Lian, engkau sudah bertemu dengan orang tuamu. Bagaimana sekarang? Aku akan segera pergi bersama Li Sian.”

“Enci Lian, mari kita pergi!” kata Li Sian.

Suma Lian memandang kepada ayah ibunya.
“Ayah dan ibu, bolehkah aku ikut dengan kakek untuk belajar ilmu silat?”

Suami isteri itu saling pandang. Tentu saja mereka merasa berat untuk berpisah dari anak satu-satunya ini. Akan tetapi merekapun merasa sungkan terhadap kakek itu kalau hanya melarang begitu saja. Ceng Liong lalu bertanya kepada Bu-beng Lo-kai.

“Benarkah bahwa paman ingin mengajak Suma Lian untuk dibimbing dalam ilmu silat?”
Bu-beng Lo-kai tersenyum.

“Usiaku tidak berapa banyak lagi dan memang aku ingin meninggalkan semua ilmu yang pernah kupelajari kepada Suma Lian dan Li Sian, kalau saja kalian tidak menaruh keberatan.”

Makin tidak enak rasa hati Suma Ceng Liong kalau harus melarang, maka dia mengharapkan bantuan anaknya.

“Lian-ji, di rumah engkau dapat belajar ilmu silat dari ayah ibumu. Kenapa engkau ingin ikut paman Gak?”

“Ayah, aku suka sekali kepada kakek Bu-beng Lo-kai, juga aku suka sekali kepada Li Sian. Aku ingin ikut dia merantau, menjelajahi dunia sambil berlatih silat bersama adik Li Sian. Ayah, aku tidak akan melupakan ayah dan ibu, dan setelah selesai belajar, tentu aku akan pulang lagi.”

Suami isteri itu saling pandang. Kakek itu menghendakinya, bahkan tadi dengan suara memohon menyatakan keinginannya untuk mewariskan ilmu-ilmunya kepada Suma Lian, dan anak itu sendiripun menginginkannya. Tentu akan janggal sekali rasanya kalau mereka melarang.

Mereka adalah pendekar-pendekar dan di waktu masih kecil dan masih muda, itulah saatnya bagi seorang pendekar untuk menerima gemblengan-gemblengan dalam kehidupan, menderita kesukaran-kesukaran dan pengalaman-pengalaman berbahaya. Semua itu telah mereka alami dahulu di waktu mereka masih muda. Tentu saja mereka tidak ingin puteri mereka menjadi lemah dan luput dari pengalaman-pengalaman yang amat diperlukan itu.

Maka merekapun menyetujui dan Kam Bi Eng menahan air matanya ketika ia dan suaminya mengikuti bayangan anak mereka yang digandeng pergi oleh kakek tua renta itu, bersama seorang anak perempuan lain, puteri keluarga Pouw yang juga menderita musibah yang amat hebat.

Para pendekar yang tadi terlibat dalam perkelahian, kini di bawah pimpinan Tiong Khi Hwesio, sibuk melakukan penguburan atas semua mayat bekas lawan. Kemudian merekapun bubar dan meninggalkan tempat itu yang kembali menjadi sunyi-senyap seperti biasa. Peristiwa hebat itu, perkelahian antara datuk-datuk sesat dan para pendekar, hanya ditandai dengan adanya sebuah makam baru di tepi hutan itu.

**** 104 ****
Suling Naga