Ads

Senin, 25 Januari 2016

Suling Naga Jilid 105

Peristiwa hebat yang mengakibatkan terbasminya semua pembantu Hou Seng, bukan tidak ada pengaruhnya bagi pergolakan yang terjadi di kota raja karena ulah pembesar Hou Seng. Perubahan besar terjadi dengan sendirinya. Ketika mendengar betapa semua pembantunya dibasmi oleh para pendekar, terutama keturunan para pendekar Pulau Es, Hou Seng menjadi tarkejut bukan main. Berita itu tersiar luas sampai kaisar sendiri mendengarnya dan bertanya kepadanya, ada hubungan apa antara para datuk sesat itu dengan dirinya!

Akan tetapi Hou Seng memang cerdik. Sambil menangis dia mengadu kepada kaisar betapa limpahan kasih sayang dari kaisar itu menimbulkan iri hati yang membuat dia dimusuhi oleh banyak pejabat. Karena merasa dirinya terancam, terpaksa dia mempergunakan tenaga luar untuk melindungi keselamatannya, dan dia sama sekali tidak tahu bahwa tenaga luar itu kemasukan tokoh-tokoh dari dunia sesat.

Sebagai contohnya dia menceritakan tentang dibunuhnya dua orang pengawal pribadinya merangkap selirnya oleh para datuk sesat. Panjang lebar dia bercerita dan mengemukakan alasan-alasan sampai akhirnya kaisar merasa kasihan dan berpihak kepadanya! Dan sejak itu, urusan para datuk yang menyelundup ke kota raja itu tidak dibicarakan lagi, kesalahan Hou Seng dimaafkan. Akan tetapi, Hou Seng sendiri tidak berani banyak tingkah semenjak peristiwa itu dan dia tidak lagi mau mencari gara-gara. Kedudukannya sudah cukup baik dan dia harus tahu diri dan tidak mengadakan tindakan-tindakan yang menimbulkan kecurigaan kaisar.

Hou Seng tidak begitu membela kematian para datuk itu karena dia telah mengetahui bahwa dua orang selir yang menjadi pengawal pribadi itu sesungguhnya difitnah oleh Kim Hwa Nio-nio dan kawan-kawannya. Hal ini diketahuinya sebelum terjadi pembunuhan atas diri para datuk sesat oleh para pendekar. Diketahuinya karena dia merasa curiga melihat betapa kematian kedua kucing itu tidak sama keadaannya. Kucing pertama mati dengan muka kehitaman, akan tetapi kucing ke dua tidak demikian. Hal itu menunjukkan bahwa racun pertama yang diminumkan kucing dari cawan araknya itu tidak sama dengan racun yang diambil dari tubuh selir-selirnya yang diminumkan kucing ke dua.

Racun-racun yang dibawa dua orang selirnya itu membuat kucing mati tanpa hitam pada mukanya, sedangkan racun yang berada dalam cawan araknya itu merupakan racun yang lain lagi, berarti racun itu berada dalam cawan araknya bukan dari kedua orang selirnya melainkan dari luar! Apa lagi ketika dia mendengar dari para selirnya bahwa dua orang selir merangkap pengawal pribadi itu memang selalu membawa racun di tubuhnya, untuk membunuh diri kalau sampai mereka tertangkap musuh agar mereka tidak perlu disiksa untuk mengakui dan membuka rahasia Hou Seng!

Mendengar ini, Hou Seng merasa menyesal sekali dan kepercayaannya terhadap para datuk sudah goyah, itulah sebabnya, ketika mendengar betapa para datuk itu tewas oleh para pendekar, dia pura-pura tidak tahu saja. Bahkan Coa-ciangkun tidak ditegurnya sama sekali! Diam-diam dia malah bersyukur akan tindakan Coa-ciangkun. Bayangkan saja kalau pasukan itu mencampuri dan kemudian terdengar berita bahwa pasukan itu bekerja sama dengan para datuk sesat atas perintahnya! Mungkin kaisar sendiri tidak akan memaafkannya kalau sampai terjadi hal seperti itu.






Betapapun juga, usaha para pendekar menentang Kim Hwa Nio-nio dan akhirnya berhasil membasmi komplotan itu, amat berhasil dan keadaan kota raja menjadi tenteram kembali.

Diam-diam para pembesar yang setia kepada kaisar bersyukur dan memuji-muji para pendekar. Mereka maklum akan kelemahan kaisar dan mereka tidak akan mengadakan reaksi terhadap Hou Seng sebagai kekasih dan kepercayaan kaisar kalau saja Hou Seng tidak mengadakan tindakan yang bukan-bukan. Dan kini, dibasminya komplotan kaki tangan Hou Seng, membuat pembesar itu menjadi jerih dan tidak begitu menonjol lagi.

Sementara itu, para pendekar sudah kembali ke tempat masing-masing. Suma Ceng Liong dan isterinya, Kam Bi Eng, yang kehilangan puteri mereka dengan suka rela, hanya bercakap-cakap sebentar, karena adanya Sim Houw di situ membuat suami isteri ini merasa kurang enak hatinya. Seperti diketahui, Kam Bi Eng tadinya adalah tunangan dari Sim Houw menurut ikatan orang tua mereka, akan tetapi kemudian tunangan itu terputus karena Bi Eng tidak mencinta Sim Houw, melainkan mencinta Suma Ceng Liong. Setelah suami isteri itu pergi, Kao Cin Liong dan isterinya, Suma Hui juga berpamit setelah Cin Liong meningggalkan pesan kepada Bi Lan.

“Sumoi, biarpun engkau baru setahun belajar dari ayah ibuku, engkau tetap seorang sumoi (adik seperguruan) dariku. Dan ibu telah meminjamkan Ban-tok-kiam, hal itu berarti bahwa ibu sayang dan percaya kepadamu. Dan aku sendiri, dalam pergaulan beberapa saat ini, tahu bahwa pilihan ayah ibu terhadap dirimu tidak keliru. Nah, engkau berhati-hatilah menjaga Ban-tok-kiam dan bawa pusaka itu kembali kepada ibuku.”

Tiong Khi Hwesio juga meninggalkan tempat itu untuk pulang ke Bhutan, karena semua pengalamannya setelah bertemu dengan para pendekar itu, membuka matanya bahwa dia telah terlalu menurutkan kedukaan hati sehingga dia lupa bahwa dia telah melupakan puterinya sendiri, Wan Hong Bwee atau Puteri Gangga Dewi yang hidup bersama suaminya di Bhutan. Dia ingin kembali dan tiba-tiba merasa rindu kepada puterinya itu, dan ingin menghabiskan sisa usianya di dekat keluarga puterinya dan dekat pula dengan makam isterinya.

Setelah Gu Hong Beng dan Cu Kun Tek juga pergi, melanjutkan perjalanan masing-masing, tinggallah Bi Lan dan Sim Houw berdua. Mereka saling pandang dan akhirnya Sim Houw yang bertanya lebih dahulu,

“Lan-moi, sekarang engkau hendak ke manakah?”

Sampai lama Bi Lan tidak mampu menjawab. Gadis ini sedang merasakan sesuatu yang amat aneh terjadi di dalam hatinya. Ia melihat Sam Kwi, tiga orang gurunya, tewas dan tidak merasa kehilangan. Juga kepergian Bi-kwi yang disusul kepergian semua pendekar, termasuk Hong Beng dan Kun Tek, tidak sedikitpun membekas di dalam hatinya. Ia tidak merasa kehilangan dan kesepian. Akan tetapi mengapa sekarang, setelah berada di ambang perpisahannya dengan Sim Houw, tiba-tiba saja ia merasa bahwa tak mungkin dia dapat berpisah dari orang ini? Ia seakan-akan sudah seharusnya berada di samping Sim Houw, menghadapi kehidupan yang penuh dengan kesulitan ini bersama Sim Houw!

Ia merasa bahwa begitu berpisah, ia akan kehilangan segala-galanya. Apa pula gejala seperti ini? Apa artinya? Apakah ia jatuh cinta kepada Sim Houw? Tidak mungkin!

Selama dalam perjalanan berdua, Sim Houw bersikap seperti seorang kakak, begitu penuh perhatian dan sayang, akan tetapi kesayangan seorang saudara. Sedikitpun Sim Houw tidak pernah menunjukkan tanda-tanda bahwa dia cinta kepadanya. Berbeda dengan sikap Hong Beng atau Kun Tek ketika berdua bersamanya. Dan ia sendiri? Tiba-tiba Bi Lan merasa nelangsa. Bagaimana kalau ia benar-benar mencinta orang ini akan tetapi di lain pihak Sim Houw tidak cinta kepadanya? Tiba-tiba ia menjadi panik, takut kehilangan Sim Houw!

“Eh, Lan-moi, kenapa kau kelihatan melamun dan tidak menjawab pertanyaanku?”

Sim Houw bertanya, suaranya mengandung perasaan iba. Dia tahu bahwa sejak kecil, gadis ini bergaul dengan Sam Kwi sebagai guru- guru dan penolongnya, juga dengan Bi-kwi sebagai sucinya yang pernah mendidiknya seperti diceritakan gadis itu kepadanya. Dan kini tiba-tiba saja ia kehilangan semua orang itu! Tentu Bi Lan berduka, walaupun tidak diperlihatkannya, demikian Sim Houw berpikir.

Bi Lan menjadi kaget dan kedua pipinya berubah merah.
“Aku.... aku.... ah, aku tidak mendengar pertanyaanmu, toako. Engkau bertanya apakah tadi?”

“Aku bertanya, ke mana engkau hendak pergi sekarang, Lan-moi.”

“Ke mana....? Ah, tadi aku bingung, toako. Yang jelas, aku harus mengembalikan pedang Ban-tok-kiam ini kepada subo.”

“Itu benar, Lan-moi. Dan mengapa engkau menjadi bingung?”

“Entahlah, toako Setelah semua orang pergi, setelah semua tujuan perjalananku tercapai, semua masalah yang tadinya kujadikan tujuan dan kewajiban terpenuhi, aku merasa kosong, sunyi dan bingung. Baru terasa olehku betapa hampanya hidup ini, toako. Aku tadinya mempunyai guru-guru, mempunyai suci, mempunyai mereka sebagai musuh-musuhku juga. Sekarang mereka telah tidak ada. Dan aku seperti berada seorang diri saja di dunia ini, kosong dan sunyi, tidak ada gunanya lagi....”

“Ah, engkau dilanda perasaan kesepian, Lan-moi. Pernah aku mengalaminya....”

Sim Houw menghentikan kata-katanya, merasa bahwa dia telah terlanjur bicara. Akan tetapi, ucapannya itu rupanya menarik perhatian Bi Lan karena gadis itu cepat mendesaknya.

“Pernah kau mengalami kesepian seperti aku ini, toako? Kapankah engkau mengalaminya? Dan mengapa? Orang seperti engkau ini, yang memiliki kepandaian tinggi, pengetahuan luas, banyak kawan-kawan baik, bagaimana bisa kesepian seperti aku?”

Belum pernah selamanya Sim Houw menceritakan keadaan dirinya kepada siapapun juga. Biarpun dia pernah menderita sengsara karena kesepian, namun hal itu selama ini menjadi rahasia hatinya. Akan tetapi, entah bagaimana, kini mendengar desakan Bi Lan, dia ingin membuka rahasia hatinya! Dia ingin sekali nampak oleh gadis itu sebagaimana adanya, tanpa rahasia dan biarlah segala keburukan dan cacatnya nampak, kalau ada!

“Baru-baru ini perasaan itu berakhir, Lan-moi, akan tetapi selama bertahun-tahun, aku seperti hidup di alam mimpi, setiap hari aku melamun dan merasa kesepian yang selalu menghantui diriku. Dan semua itu timbul karena.... putus cinta, Lan-moi.”

Bi Lan tertarik sekali.
“Ceritakanlah, toako, ceritakanlah. Aku ingin sekali mendengar tentang cinta itu!”

Melihat betapa gadis itu kini nampak bersemangat, Sim Houw tersenyum.
“Mari kita tinggalkan dulu tempat ini,” dia melirik ke arah gundukan tanah di mana terkubur enam mayat itu. “Di dalam hutan sana itu aman kita bicara.”

Mereka lalu memasuki hutan dan di bawah sebuah pohon besar, di mana terdapat batu-batu yang kering dan bersih, mereka duduk berhadapan.

“Ketahuilah, Lan-moi. Ketika aku berusia belasan tahun, oleh orang tuaku aku telah ditunangkan dengan seorang gadis yang kemudian menjadi sumoiku sendiri karena gadis itu adalah puteri tunggal dari suhu. Akan tetapi, kalau aku yang telah menerima ikatan perjodohan itu dengan taat mulai memperhatikan gadis itu dan sudah mempunyai perasaan cinta, sebaliknya gadis itu tidak cinta kepadaku, melainkan cinta kepada orang lain! Melihat kenyataan ini, maka aku mengalah, akulah yang memutuskan tali perjodohan itu sehingga gadis itu dapat menikah dengan pria yang dicintanya.” Sampai di sini, Sim Houw berhenti dan termenung.

“Dan kau....?”

Bi Lan bertanya, hatinya merasa terharu. Ia dapat membayangkan betapa sedihnya hati pemuda itu, dan betapa luhur budinya, mengalah karena ingin membahagiakan gadis yang dicintanya.

“Aku....?” Sim Houw tersenyum pahit.

“Aku lalu merantau.... sampai sekarang ini.”

“Sumoimu....? Ahhh, bukankah wanita cantik yang sakti itu, yang memegang suling emas, isteri dari pendekar Suma Ceng Liong, ia itulah sumoimu? Jadi iakah orangnya gadis.... yang pernah menjadi tunanganmu itu?”

Sim Houw sudah menguasai kembali hatinya dan dia mengangguk sambil tersenyum.
“Ia hebat dan lihai, bukan? Dan suaminya juga hebat. Mereka memang pasangan yang sepadan dan cocok, aku ikut gembira melihat ia berbahagia dengan suaminya dan mereka telah mempunyai seorang anak perempuan yang demikian manis.”

Bi Lan memandang dengan sinar mata kasihan.
“Dan engkau sekarang masih merasa kesepian, toako?”

“Tidak, tidak lagi! Penderitaan itu sudah lewat bagiku.”

Dan diam-diam Sim Houw maklum bahwa yang melenyapkan perasaan kesepian itu adalah setelah dia berjumpa dengan Bi Lan! Dia mencinta gadis ini, akan tetapi cintanya sekali ini bukan sekedar cinta nafsu yang dibangkitkan oleh gairah karena tertarik oleh pribadi dan kecantikan Bi Lan. Tidak! Ia mencinta Bi Lan, merasa kasihan kepada Bi Lan dan dia ingin melihat orang yang dicintanya ini berbahagia. Bukan hanya ingin memperoleh gadis ini sebagai isterinya agar selamanya tidak berpisah darinya, Dia tidak akan menderita lagi walaupun dia tidak menjadi suami Bi Lan, asal gadis ini hidup bahagia.

“Dan sejak itu kau.... kau tak pernah jatuh cinta lagi?”

Pertanyaan yang tiba-tiba ini mengejutkan hati Sim Houw. Akan tetapi dia tenang sekali sehingga kekagetannya tidak sampai nampak di wajahnya. Dia hanya menggeleng kepalanya. Apa lagi yang dapat dilakukannya? Mengaku bahwa kini dia jatuh cinta kepada Bi Lan? Tidak! Biarpun dia sungguh mencinta gadis ini, dia tidak akan membuat pengakuan, tidak akan memberi kesempatan gadis ini mentertawakannya. Putus cinta merupakan suatu kegagalan yang pernah dialami dan ditertawakan cintanya akan merupakan hal yang lebih menyakitkan lagi. Biarlah cintanya kepada Bi Lan menjadi suatu rahasia saja bagi dirinya sendiri.

Tiba-tiba ada suatu keinginan menyelinap di hati Bi Lan. Ia ingin menghapus kedukaan Sim Houw karena penderitaan putus cinta itu. Ia ingin membahagiakan orang ini. Ia ingin orang ini dapat jatuh cinta lagi dan bukan kepada orang lain, kecuali kepada dirinya!

Suling Naga