Ads

Senin, 25 Januari 2016

Suling Naga Jilid 110

Siu Kwi tersenyum, manis sekali.
“Hal itu sudah terjadi bertahun-tahun yang lalu, kesedihan sudah lama meninggalkan hatiku. Akan tetapi, aku ingin mengetahui siapakah namamu dan di mana rumahmu?”

“Aku she Yo bernama Jin, tinggal berdua dengan ayah di dusun sebelah selatan itu.”

Dia menudingkan telunjuknya ke arah selatan di mana nampak dari situ sekelompok rumah dusun.

“Namamu Jin (Welas Asih), pantas engkau berhati mulia, mau membela dan menolong aku yang sama sekali tidak kaukenal. Aku she Ciong, namaku Siu Kwi dan lempat tinggalku tidak tetap karena aku sudah tidak memiliki keluarga lagi.”

Pemuda dusun yang bernama Yo Jin itu memandang dengan sinar mata mengandung iba dan dia menggeleng kepala.

“Akan tetapi.... apakah sama sekali tidak mempunyai anggauta keluarga? Orang tua, saudara-saudara....“

Akan tetapi Ciong Siu Kwi menggeleng kepala dan ia memang tidak berbohong. Ia sendiri sudah tidak mempunyai sanak keluarga sama sekali ketika dipungut oleh Sam Kwi.

“Aku hidup sebatangkara, seorang diri saja di dunia yang luas ini. Aihh, kenapa kita bercakap-cakap saja, engkau perlu dirawat. Mari kuantar engkau pulang.”

Siu Kwi lalu memegang lengan pemuda itu dan membantunya bangkit berdiri. Melihat betapa wanita itu memegang lengannya, kembali jantung Yo Jin tergetar dan diapun masih merasa ragu-ragu. Seorang wanita secantik ini, sudah menjanda dan nampak begitu mewah pakaiannya, hendak menggandengnya!

“Tapi, nyonya....”

“Hemm, Yo Jin. Aku sudah memperkenalkan bahwa namaku Siu Kwi, bukan?”

“Baiklah,.... adik Kwi. Aku.... aku masih sangsi apakah mungkin seorang seperti engkau ini merawatku....?”






Senang hati Siu Kwi disebut Kwi-moi (adik Kwi) walaupun ia yakin bahwa ia lebih tua dari pemuda itu. Diapun sengaja menyebut toako (kakak) untuk mengimbangi sebutan Yo Jin dan untuk menghormati pemuda dusun itu.

“Kenapa tidak, Jin-toako? Engkau sudah menolongku, menyelamatkan aku dari gangguan tiga pemuda berandalan itu. Budimu terlampau besar dan sudah sepatutnya kalau aku kini merawatmu, sekedar untuk membalas kebaikanmu dan menyatakan terima kasihku. Akan tetapi.... tentu saja aku tidak berani memaksa kalau engkau tidak sudi dirawat oleh seorang janda yang hidup merana dan kesepian”.

Di dalam kalimat terakhir itu terkandung isak dan inipun bukan pura-pura karena memang hati Siu Kwi merasa sedih sekali membayangkan hatinya yang sedang kesepian dan merana itu menderita pukulan karena ditolak oleh Yo Jin. Ia merasa kagum dan suka sekali kepada pemuda ini. Bukan sekedar nafsu berahi yang mendorongnya.

Entah bagaimana, melihat sikap pemuda ini yang melindungi dan membelanya mati-matian tanpa pamrih, ia merasa aman sentausa berada di samping Yo Jin. Perasaan sepi lenyap.

“Aih, mana mungkin aku menolak uluran tanganmu, Kwi-moi? Mari, marilah kita pulang.”

“Pulang?”

Seperti dalam mimpi Siu Kwi mengulang kata yang terdengar amat luar biasa itu, amat asing namun amat indahnya.

“Ya, pulang! Bukankah engkau tadi mengajakku pulang? Ke rumahku, rumah ayahku.”

“Pulang....?”

Kembali Siu Kwi mengulang kata itu, kata yang baginya mengandung makna yang asing dan indah, seolah-olah “pulang” merupakan sebuah tempat milik mereka berada, sebuah sarang yang aman sentausa, yang nyaman dan penuh kedamaian.

Ayah Yo jin adalah seorang kakek petani yang bertubuh tinggi besar, berwatak jujur dan dia menyambut pulangnya puteranya dengan alis berkerut. Tentu saja dia merasa heran bukan main melihat anaknya pulang bersama seorang, wanita cantik berpakaian mewah yang menggandengnya. Mereka nampak demikian mesra! Akan tetapi perasaan heran ini menjadi kekagetan dan kekhawatiran ketika dia melihat betapa muka anaknya itu matang biru dan bengkak-bengkak. Baru dia mengerti setelah Yo Jin menceritakan bahwa dia diganggu dan dikeroyok oleh tiga orang pemuda kota yang berandalan itu dalam membela Ciong Siu Kwi yang hendak diganggu.

“Nyonya.... eh, adik Ciong Siu Kwi menemani aku karena ia hendak merawat luka-lukaku, ayah. Aku tidak dapat menolak maksud baiknya itu.”

Ayahnya mengangguk-angguk dan menatap wajah wanita ini dengan tajam penuh selidik. Pandang mata itu membuat Siu Kwi merasa kikuk sekali, akan tetapi ia hanya menundukkan mukanya.

“Mari, Jin-toako, kucuci luka-luka itu, karena kalau didiamkan saja dan terkena kotoran dapat membengkak dan berbahaya,” katanya halus kepada Yo Jin.

Pemuda itu mengangguk dan mulailah Siu Kwimerawatnya. Iamencuci luka-luka itu, dengan jari-jari tangan menyentuh halus ia menggosok bagian yang bengkak, menaruh obat pada bagian yang memar dan matang biru. Entah mana yang lebih manjur, obat yang dipergunakan Siu Kwi ataukah sentuhan jari-jari tangannya, akan tetapi Yo Jin merasa betapa kenyerian di tubuhnya lenyap seketika. Mau rasanya dia dipukuli orang setiap hari kalau sesudah itu dirawat oleh jari-jari tangan wanita cantik ini! Karena dia memang jujur, maka suara hatinya ini tak dapat ditahannya.

“Wah, aku sungguh beruntung!” katanya, Ayahnya sudah meninggalkan mereka yang berada di ruangan samping.

“Beruntung? Kenapa?” tanya Siu Kwi, ingin tahu sekali.

“Ya, beruntung telah dipukuli orang sampai babak belur dan matang biru.”

Siu Kwi memandang heran.
“Eh? Betapa anehnya!”

“Kalau tidak begitu, bagaimana mungkin aku akan mendapatkan perawatanmu seperti ini?”

Siu Kwi merasa betapa jantungnya berdebar. Ingin ia merangkul pemuda itu, akan tetapi hal itu tidak dilakukannya. Ia harus bersikap biasa, ia tidak menuruti lagi segala kehendak hatinya seperti yang sudah-sudah. Namun ia tidak dapat terbebas dari perasaan jengah sehingga mukanya berubah kemerahan.

“Jin-toako, masih sakitkah bekas pukulan dan tendangan itu?"

“Tidak, sama sekali sudah lenyap. Sentuhan tanganmu yang lembut mengusir semua rasa nyeri,” jawab Yo Jin sungguh-sungguh.

“Senangkah engkau kurawat begini?”

“Senang sekali! Mau rasanya aku setiap hari menerima pukulan asal engkau yang merawatnya.”

Siu Kwi memandang penuh perhatian. Bersandiwarakah pemuda ini? Apakah dia sebenarnya seorang laki-laki yang pandai merayu hati wanita dan kini berpura-pura sebagai seorang pemuda dusun yang bodoh? Tidak, dia merasa yakin bahwa pemuda ini bukan seorang perayu, melainkan seorang yang amat jujur. Apa yang diraskannya, apa yang dipikirkannya, langsung saja keluar melalui mulutnya. Dan ia merasa betapa ada suatu kegembiraan besar memenuhi dadanya.

Tiba-tiba terdengar teriakan-teriakan nyaring di luar rumah dan ayah Yo Jin memasuki ruangan itu dengan wajah membayangkan kekhawatiran besar.

“Mereka bertiga datang bersama Lui-kongcu putera kepala dusun di timur! Ah, Yo Jin, engkau mencari gara-gara saja. Bagaimana baiknya sekarang?”

Yo Jin mengerutkan alisnya dan diapun bangkit. Sedikitpun dia tidak merasa takut.
“Ayah, mereka itu pengacau-pengacau tak tahu malu. Kalau mereka berani datang untuk membikin ribut di sini, biarlah aku akan menghajar meereka lagi.” Berkata demikian, dengan sikap gagah Yo Jin lalu melangkah keluar.

“Toako, berhati-hatilah....” Siu Kwi berseru dan iapun sudah bangkit dan memegang lengan pemuda itu.

Yo Jin menoleh.
“Lebih baik engkau jangan keluar, jangan memperlihatkan diri. Biar aku yang menghadapi mereka.”

“Tapi.... tapi engkau akan dikeroyok lagi, dipukuli....“

Yo Jin tersenyum dan untuk beberapa detik lamanya tangannya menggenggam tangan wanita itu.

“Tak perlu dirisaukan! Bukankah di sini ada engkau yang akan mengobati semua bekas pukulan?”

Dia lalu melepaskan tangannya dan cepat keluar karena orang-orang itu sudah berteriak-teriak lagi.

Siu Kwi berdiri bengong dan mulutnya tersenyum, wajahnya berseri. Ia merasa seperti seorang gadis remaja yang baru pertama kali jatuh cinta! Akan tetapi ia segera mengkhawatirkan keadaan Yo jin dan iapun cepat mengintai dari balik pintu.

Ternyata tiga orang pemuda berandalan itu, setelah melarikan diri. Segera pergi menghadap Lui-kongcu (tuan muda Lui), putera dari kepala dusun tempat asal tiga orang pemuda itu. Mereka memang berkawan dengan putera kepala dusun yang terkenal mata keranjang. Mereka memuji-muji kecantikan wanita yang menjadi pacar seorang pemuda petani di dusun selatan sehingga Lui-kongcu tertarik sekali. Apa lagi mendengar betapa tiga orang pemuda itu yang dianggap sebagai anak buahnya, telah dihajar babak-belur oleh pemuda itu karena memperebutkan wanita cantik, Lui-kongcu merasa penasaran.

Mengandalkan kedudukan ayahnya, dia memang sudah biasa merajalela dan suka membikin kacau, menekan para penduduk yang tentu saja takut kepadanya mengingat akan kedudukan ayahnya, yaitu kepala dusun Lui.

Ketika Yo Jin muncul diikuti oleh ayahnya yang memandang khawatir, Lui-kongcu sudah menyambutnya dengan dampratan.

“Monyet inikah yang telah lancang tangan berani memukuli tiga orang pemuda dusun kami?” Dia membentak sambil menudingkan telunjuk kanannya ke arah muka Yo Jin. “Siapakah namamu?”

Yo Jin tidak mengenal pemuda yang bertubuh jangkung kurus dan berwajah tampan akan tetapi angkuh ini. Akan tetapi tadi ayahnya sudah memberi tahu bahwa tiga orang pemuda berandalan itu datang bersama Lui-kongcu putera kepala dusun timur. Maka dia dapat menduga tetu pemuda tampan jangkung berpakaian mewah ini putera kepala dusun itu.

“Maaf, bukan aku yang memukuli dan mengeroyokku. Aku hanya membela diri saja. Namaku adalah Jin she Yo....”

“Bagus, Yo Jin. Aku adalah Lui-kongcu, putera kepala dusun kami di timur. Engkau telah berani kurang ajar terhadap kami, hayo cepat berlutut minta ampun!”

Bukan watak Yo Jin untuk merendahkan diri karena takut. Dia tidak merasa besalah, maka diapun tidak takut terhadap siapa juga.

“Lui-kongcu, sudah kukatakan bahwa aku tidak bersalah. Merekalah yang terkenal sebagai pemuda-pemuda berandalan yang suka membikin kacau. Sebaiknya kalau Lui-kongcu sebagai putera kepala dusun, menghukum mereka agar mereka tidak lagi menjadi berandalan-berandalan yang suka mengacau ke kampung-kampung.”

“Tutup mulutmu! Engkau berani membantah dan melawan aku, ya?” bentak Lui-kongcu marah sambil melangkah maju mendekati Yo Jin. “Hayo lekas berlutut!”

“Aku tidak bersalah apa-apa, kenapa harus berlutut?” jawab Yo Jin dengan sikap tenang dan alis berkerut, pandang mata tajam ditujukan kepada wajah kongcu itu.

“Engkau melawanku?”

Lui-kongcu membentak, lalu membuat gerakan memasang kuda-kuda dengan gagah dan membentak,

“Haiiiit....!” Lalu tubuhnya menerjang ke depan, tangannya yang dikepal memukul bertubi-tubi.

Suling Naga