Ads

Rabu, 27 Januari 2016

Suling Naga Jilid 111

Yo Jin menyangka bahwa anak kepala dusun ini akan memukulnya, dan dia pun merasa sungkan untuk membalas, maka dia menangkis sedapatnya. Karena tidak membalas, dan karena dia masih lelah, beberapa pukulan mengenai tubuhnya, dan tentu saja terasa nyeri karena mengenai bagian yang memar dan masih biru. Lui-kongcu melanjutkan serangannya sambil berteriak-teriak seperti lagak seorang jagoan tulen.

Karena kesakitan, Yo Jin lalu melawan. Dia membalas dengan pukulan tangan kanan yang mengenai dada Lui-kongcu sehingga tubuh si jangkung ini terpelanting! Kiranya, hanya lagak saja seperti jagoan. Memang dia pernah belajat silat, akan tetapi orang seperti dia mana ada ketekunan belajar secara sungguh-sungguh? Dia belajar hanya untuk berlagak, maka yang dihafalnya hanyalah pemasangan kuda-kuda dan gerakan-gerakan yang nampak indah, namun karena dia tidak tekun mempelajari dasar-dasarnya, maka semua gerakannya itu kosong belaka, bagaikan bungkusan indah yang tidak ada isinya.

Maka, begitu Yo Jin membalas, diapun terkena pukulan dan terpelanting. Melihat demikian, tiga orang pemuda berandalan itupun maju mengeroyok. Tentu saja Yo Jin yang masih belum pulih kesehatannya, dan masih lelah itu, harus menerima hajaran empat orang pengeroyoknya, dipukul dan ditendang sampai babak belur. Namun, dengan gigih dia membela diri dan melawan, sedikitpun tidak pernah mengeluh.

“Heiii, jangan berkelahi! Jangan pukuli anakku....!”

Ayah Yo Jin yang melihat puteranya dipukuli orang lalu maju untuk melerai, akan tetapi ia disambut oleh pukulan-pukulan yang membuat ia roboh terpelanting pula!
Melihat itu, Siu Kwi lalu keluar dari tempat persembunyiannya.

“Tahan, jangan berkelahi!”

Mendengar suara perempuan, empat orang pengeroyok itu menghentikan amukan mereka dan Lui-kongcu memandang bengong ketika dia melihat seorang wanita muda yang amat cantik jelita berdiri di situ. Tiga orang pemuda berandalan itupun memandang dan mereka segera mengenal wanita itu.

“Kongcu, itulah pacarnya yang cantik!“






Lui-kongcu tidak perlu diberitahu lagi karena matanya yang berminyak sudah melahap kecantikan yang berada di depan matanya dan diapun sudah dapat menduga bahwa tentu wanita ini yang menjadi gara-gara keributan itu, yang diperebutkan dan dia tidak menyalahkan anak buahnya kalau tergila-gila kepada wanita ini. Memang cantik jelita!

“Yo Jin, aku akan mengampunimu kalau engkau mau memberikan pacarmu ini kepadaku, setidaknya kupinjam dia untuk beberapa malam lamanya!” kata Lui-kongcu tanpa malu-malu lagi.

Dapat dibayangkan betapa panas rasanya hati Yo jin. Dia sudah jatuh cinta kepida Siu Kwi dan kini mendengar kata-kata yang tidak sopan dan kurang ajar itu, yang ditujukan kepada Siu Kwi, tentu saja dia menjadi marah.

“Lui-kongcu, andai kata ia itu pacarku, tunanganku atau isteriku, tentu takkan kuserahkan kepadamu, dan akan kuhajar engkau yang berani bersikap kurang ajar! Akan tetapi sayang, ia hanya seorang sahabat baru dan seorang tamuku yang terhormat.”

Mendengar jawaban ini, Lui-kongcu dan tiga orang pemuda berandalan itu saling pandang. Si gendut, seorang di antara tiga pemuda berandalan itu, berseru tak percaya.

“Kau bohong! Kalau bukan pacarmu, kenapa engkau membelanya sampai mati-matian?”

“Hemmm, orang-orang macam kalian ini tentu merasa heran, akan tetapi orang-orang sopan tentu mengerti bahwa sudah sepatutnya kalau seorang pria menghormati wanita, membelanya dan bukan seperti kalian yang hendak menghinanya dan mempermainkannya!”

“Ha-ha-ha, bocah petani dusun tolol! Orung macam engkau mau memberi kuliah kepadaku? Kalau ia bukan apa-apamu, sudah, mundur kau dan jangan turut campur!” kata Lui-kongcu yang diam-diam merasa jerih juga melihat kenekatan Yo Jin yang agaknya tidak mengenal takut dan sakit. Ia menghampiri Siu Kwi dan tersenyum menyeringai sambil memasang aksi.

“Nona cantik, marilah engkau ikut bersamaku. Aku adalah Lui-kongcu, putera kepala dusun di timur yang kaya raya. Engkau tentu akan mengalami kesenangan kalau ikut bersamaku. Jadilah tamuku yang terhormat dan kita bersenang-senang bersama. Marilah, manis!”

Dia mengulur tangan hendak memegang tangan Siu Kwi. Agaknya, pemuda ini selalu yakin bahwa setiap orang perempuan tentu akan tunduk dan memyambut ajakannya dengan girang. Wanita mana yang dapat menolaknya? Dia masih muda, tampan dan gagah, kaya raya dan ayahnya menjadi kepala dusun yang hidupnya seperti seorang raja kecil saja di dusunnya! Sudah terlalu banyak wanita yang tunduk kepadanya, seperti kerbau dicocok hidungnya kalau dia merayu dan mengajak mereka.

Siu Kwi ingin sekali tampar menghancurkan kepala Lui-kongcu itu. Akan tetapi ia masih terus sadar dan teringat bahwa ia kini harus menjadi seorang yang baru sama sekali, tidak boleh lagi mempergunakan ilmunya untuk mengulangi lagi kehidupan sesat dan kejam seperti yang sudah-sudah. Akan tetapi, tentu saja ia tidak dapat memadamkan kemarahan yang berkobar di dalam dadanya melihat sikap anak kepala dusun itu.

“Tidak, aku tidak mau pergi ke mana-mana, tidak mau pergi meninggalkan Jin-toako yang membutuhkan perawatanku. Kalian pergilah dari sini dan jangan membikin kacau!”

Lu-kongcu tertawa dan membelalakkan matanya.
“Aih, kenapa begitu, nona manis? Apakah engkau lebih suka tinggal di sini, di tempat yang kotor dan amat tidak pantas bagimu ini? Dan lihat si tolol Yo Jin ini, seorang petani busuk yang kotor dan bodoh. Tidak patut sama sekali engkau bersahabat dengan orang tolol macam ini. Untuk menjadi bujangmupun, dia belum pantas!”

Siu Kwi menjadi marah bukan main.
“Huh, toako Yo Jin ini adalah seorang laki-laki sejati. Dia seribu kali lebih baik dari pada kamu dan kawan-kawanmu. Pergilah dan jangan menganggu kami lagi!”

Mendengar ucapan ini, Lui-kongcu menjadi marah. Mukanya merah sekali. Pemuda dusun itu seribu kali lebih baik dari dia?

“Hajar mampus petani busuk ini, baru kularikan gadis tak tahu diri itu!” katanya dan diapun sudah menyerang Yo jin dengan marah, dibantu kawan-kawannya. Dan kini, mereka mencabut pisau yang sudah mereka persiapkan lebih dulu.

“Jin-toako, kau pukul mereka sampai puas!” tiba-tiba Siu Kwi berkata. “Cepat hajar mereka, toako!”

Tentu saja Yo Jin terheran mendengar seruan itu, akan tetapi dia menjadi semakin heran dan girang melihat betapa empat orang pemuda yang mengeroyoknya itu tiba-tiba saja menghentikan gerakan-gerakan mereka dan ketika dia memukul mereka, empat orang itu sama sekali tidak melawan, tidak menangkis atau mengelak. Dia tidak tahu bahwa dengan gerakan yang luar biasa cepatnya, Siu Kwi telah membuat mereka untuk sementara lumpuh dengan sambitannya, mempergunakan kerikil-kerikil kecil sekali.

Enak saja Yo Jin membabat mereka dengan kaki tangannya, memukul dan menendang sampai mereka itu terguling-guling. Ketika pengaruh totokan sudah hilang dan mereka mampu bergerak kembali, mereka sudah menjadi ketakutan.

Lui-kongcu bangkit berdiri, sempoyongan dan memandang kepada Yo Jin dan Siu Kwi bergantian, kemudian dia memandang kepada ayah Yo jin dan berkata sambil menudingkan telunjuknya ke arah muka Siu Kwi,

“Ia seorang siluman! Ya, seorang siluman betina yang jahat dan akan menghancurkan keluargamu!”

Setelah berkata demikian, Lui-kongcu melarikan diri diikuti tiga orang pemuda berandalan. Tadi, tiga orang pemuda itu sudah menceritakan betapa mereka mengalami hal yang aneh ketika mencabut pisau sehingga mereka dihajar oleh Yo Jin. Sekarang, kembali mereka mengalami hal yang sama dan juga Lui-kongcu mengalaminya. Maka, mereka semua condong percaya kepada dugaan pemuda berandalan kepala besar bahwa agaknya Yo Jin dibantu siluman, dan siapa lagi kalau bukan perempuan cantik itu silumannya?

“Mereka sungguh kurang ajar!” bentak Yo Jin marah ketika mendengar wanita yang telah menjatuhkan hatinya dimaki siluman.

“Biarkan mereka pergi, Jin-toako. Mereka adalah anak-anak yang masih bodoh dan hanya mengandalkan kedudukan orang tua dan kekayaan saja. Wah, luka-lukamu lecet kembali, mari kuberi obat lagi.”

“Baik, Kwi-moi dan terima kasih atas kebaikanmu.” Dua orang muda itu hendak masuk kembali ke dalam rumah.

“Nanti dulu!” Tiba-tiba terdengar ayah Yo Jin membentak.

Orang tua ini sungguh amat terpengaruh oleh kata-kata yang ditinggalkan oleh Lui-kongcu. Pada jaman itu, memang semua orang amat percaya akan tahyul, percaya akan siluman-siluman yang suka mendatangkan gangguan terhadap kehidupan manusia, percaya pula akan dewa-dewa pelindung dan segala macam tahyul lagi.

Mendengar ucapan Lui-kongcu, ayah inipun terkejut dan sejak tadi dia sudah mengamati Siu Kwi penuh perhatian. Seorang wanita yang amat cantik, dengan pakaian mewah dan perhiasan emas permata yang mahal-mahal. Dan wanita seperti itu mau mendekati puteranya, seorang petani biasa! Dan pula, wanita itu muncul begitu tiba-tiba. mengaku tak memiliki keluarga, tak memiliki rumah tinggal. Mana mungkin ini? Seorang wanita gelandangan tidak sekaya ini, apalagi secantik ini. Dan mengapa Yo Jin tiba-tiba saja menjadi begitu nekat membelanya sehingga anak itu bahkan berani menentang seorang putera kepala dusun?

Agaknya anaknya itu sudah tergila-gila kepada siluman ini, yang tentu saja telah mempergunakan ilmunya untuk menundukkan Yo Jin. Puteranya itu walaupun sudah berusia duapuluh lima tahun, akan tetapi dia yakin masih seorang perjaka tulen dan menurut dongeng, siluman memang suka mengubah diri menjadi seorang perempuan cantik untuk menghisap sari tenaga dari tubuh seorang perjaka! Dan menurut dongeng, seorang perjaka yang terpikat oleh siluman, akan mati kehabisan darah, bahkan keluarganya juga akan ikut tertimpa malapetaka!

Mendengar bentakan ayahnya dan kini melihat betapa ayahnya memandang dengan mata terbelalak kepada Siu Kwi, Yo Jin merasa heran.

“Ada apakah, ayah?”

“Tidak boleh.... nona ini tidak boleh memasuki rumah kita....!”

Lalu orang tua itu menjadi ketakutan ketika teringat bahwa seorang siluman amat sakti dan akan mampu membunuhnya hanya dengan pandang matanya, dan juga amat kejam, maka cepat dia menjura kepada Siu Kwi.

“Nona, harap maafkan kami.... harap suka mengasihani seorang tua seperti aku, seorang duda yang hidup berdua dengan anakku Yo Jin. Harap kau suka memaafkan kami dan jangan.... jangan menjadikan anakku korban.... carilah korban lain, masih banyak terdapat perjaka di dusun ini dan dusun-dusun lainnya....”

Biarpun Yo Jin dan Siu Kwi terheran-heran mendengar ucapan yang tersendat-sendat itu, mereka berdua maklum apa yang dimaksudkan oleh orang tua itu. Kakek itu menuduh Siu Kwi siluman!

“Ayah....! jangan begitu....”

“Lopek, aku mengerti apa yang kau maksudkan. Engkau menuduh aku seorang siluman betina, bukankah begitu?” kata Siu Kwi, suaranya terdengar dingin menusuk.

Wanita ini memang marah bukan main. Gatal-gatal kedua tangannya. Ia telah diusir, bahkan dituduh seorang siluman. Kalau dulu, beberapa hari yang lalu saja, tak mungkin ia dapat mengampuni orang yang berani mengusirnya dan menuduhnya siluman. Tentu ia akan membunuh orang itu. Akan tetapi, ia kini hanya merasa marah dan juga berduka sekali. Ayah pria yang menjatuhkan hatinya kini mengusirnya dan menuduhnya siluman. Kakek itu menjura.

“Maafkan.... maafkan kami....”

Siu Kwi tidak dapat menahan kesedihannya. Ia terisak lalu berlari pergi.
“Kwi-moi....! Tunggu, jangan tinggalkan aku, Kwi-moi....!” Yo Jin berteriak dan mengejar.

“Yo Jin, berhenti kau!”

Ayahnya menghardik. Selama ini, Yo Jin hanya hidup berdua dengan ayahnya, maka tentu saja dia amat menyayang ayah ini dan mentaatinya. Kini, mendengar bentakan ayahnya, dia seperti tertahan oleh sesuatu yang amat kuat, berhenti berlari, menoleh dan dia lalu menjatuhkan diri berlutut.

“Ayah...., Kwi-moi....!”

Dan pemuda inipun terguling, pingsan. Setelah mengalami pengeroyokan sampai dua kali, menerima gebukan-gebukan yang amat banyak, dan hanya sentuhan dan sikap Siu Kwi saja yang menguatkan hatinya sehingga dia dapat bertahan, kini dia tidak dapat menahan pukulan batin melihat ayahnya menuduh kekasihnya itu siluman dan Siu Kwi pergi meninggalkannya!

**** 111 ****
Suling Naga