Ads

Rabu, 27 Januari 2016

Suling Naga Jilid 112

“Orang she Yo, sungguh besar sekali nyalimu! Engkau membiarkan anakku yang kurang ajar itu untuk memukul dan melukai Lui-kongcu, putera kepala dusun timur! Sungguh, engkau membikin malu aku yang menjadi kepala dusun di sini!” kata kepala dusun Tong kepada kakek Yo. Dia menerima pengaduan dari rekannya, kepala dusun Lui dan karena merusa malu hati terhadap rekannya, maka dia cepat memanggil kakek Yo datang menghadap dan menegurnya dengan keras. 

“Sekarang juga Yo Jin harus menyerahkan diri agar dapat kuantarkan kepada kepala dusun Lui untuk menerima hukuman!

Tentu saja kakek Yo terkejut mendengar ini dan dia cepat-cepat memberi hormat.
“Mohon beribu ampun dan kebijaksanaan Tong-thungcu,” katanya. “Sesungguhnya anak saya Yo Jin sama sekali tidak bersalah, akan tetapi dia terbujuk oleh siluman betina. Untung bahwa saya telah berhasil mengusir siluman betina itu dan menyelamatkan anakku dari ancaman malapetaka.”

Kepala dusun itu tertegun.
“Siluman....? Apa maksudmu?”

Kakek Yo lalu menceritakan tentang munculnya siluman betina yang menyamar sebagai seorang wanita cantik sehingga menjadi perebutan antara anaknya dan Lui-kongcu dan terjadi perkelahian. Akan tetapi, anaknya itu terbujuk oleh siluman dan dalam keadaan tidak sadar.

“Kalau terlambat sedikit saja saya mengusir siluman itu, tentu anakku telah mati. Siluman itu sudah saya usir, dan harap Tong-thungcu suka membujuk Lui-thungcu agar mengampuni anak saya yang sebenarnya tidak salah karena berada dalam pengaruh siluman dan tidak sadar.”

“Ah, jangan mencari alasan dengan cerita yang gila!” bentak kepala dusun Tong. “Siapa mau percaya omonganmu? Hayo bawa Yo Jin ke sini, ataukah aku harus ke sana sendiri untuk menangkapnya?”

“Ah, Tong-thungcu tidak percaya? Marilah, harap dilihat sendiri keadaan anak saya yang sampai sekarang masih belum sadar benar,” kata kakek Yo. Kepala dusun itu merasa heran dan diapun segera mengikuti kakek Yo, dikawal oleh tiga orang anak buahnya.

Setelah tiba di dalam rumah kakek Yo, kepala dusun Tong melihat betapa Yo Jin benar-benar berada dalam keadaan sakit dan tidak sadar. Pemuda itu berbaring demam gelisah di atas pembaringan di dalam kamarnya. Mukanya merah sekali, tubuhnya panas dan pemuda itu mengigau, memanggil-manggil “Kwi-moi!” berkali-kali.






“Nah, begitulah keadaannya, thungcu. Yang dipanggilnya itu adalah nama siluman itu. Maka harap Tong-thungcu suka mengasihaninya dan suka membujuk Lui-thungcu.”

Kakek Yo dengan suara mohon dikasihani minta kebijaksanaan kepala dusun Tong sambil menyerahkan bungkusan yang terisi seluruh simpanan uangnya kepada pembesar itu.

Mula-mula kepala dusun itu berpura-pura menolaknya. Akan tetapi, melihat bahwa isi buntalan itu cukup banyak, diapun menyuruh pengawalnya untuk menerima bungkusan itu sambil berkata,

“Sebenarnya, berat bagiku untuk memenuhi permintaanmu. Aku merasa malu hati kepada rekanku, kepala dusun Lui. Akan tetapi, melihat keadaan anakmu, aku percaya dan biarlah saya akan membicarakan hal ini dengan dia.”

Kakek Yo merasa girang dan berterima kasih, dan sambil membungkuk-bungkuk dia mengantar kepala dusun itu meninggalkan rumahnya sampai di luar pekarangan. Dia rela kehilangan semua simpanannya asal anaknya tidak ditangkap. Kakek Yo benar-benar percaya bahwa anaknya sakit karena berdekatan dengan siluman.

Hawa siluman yang menimbulkan sakit panas itu, maka diapun mengundang seorang dukun untuk menyembuhkan puteranya. Dukun itu seorang tosu yang suka mempelajari ilmu klenik dan sang tosu, dengan biaya yang cukup besar tentunya, segera melakukan sembahyangan di situ, menggunakan darah anjing dipercik-percikkan di empat penjuru rumah, berkemak-kemik membaca mantera dan dengan rambut riap-riapan dan pedang di tangan dia berjalan pula mengitari rumah sampai tujuh kali. Akhirnya dia meninggalkan rumah kakek Yo sambil mengantongi hadiah yang cukup banyak, juga sebungkus masakan yang lezat.

Akan tetapi, penyakit Yo Jin tidak menjadi sembuh, bahkan setelah lewat tiga hari, keadaannya menjadi semakin payah. Dan pada malam hari ke tiga itu, setelah kakek Yo tertidur nyenyak saking lelahnya, sesosok bayangan hitam berkelebat di atas genteng rumah itu. Bayangan itu melakukan pengintaian dari atas genteng, membuka genteng di atas kamar Yo Jin dan ia mendekam sambil mengintai ke dalam kamar. Dilihatnya Yo Jin rebah terlentang dengan muka merah akan tetapi kurus sekali, dan pemuda itu bergerak gelisah ke kanan kiri dengan gerakan lemah.

“Kwi-moi.... Kwi-moi.... jangan tinggalkan aku.... Kwi-moi....” Demikianlah dia mengigau berkali-kali, mengulang-ulang nama itu dengan bisikan-bisikan lemah.

“Ohhh....!”

Bayangan itu terisak dan menangis. Bayangan itu adalah Siu Kwi dan iapun cepat melayang turun dan memasuki kamar Yo Jin. Ditubruknya Yo Jin dan dirangkulnya tubuh yang panas itu.

Yo Jin membuka kedua matanya dan melihat wajah orang yang dirindukannya, diapun merangkul.

“Kwi-moi....!”

“Jin-toako! Aihh.... toako, kau kenapakah....?”

“Kwi-moi, tangan tinggalkan aku lagi....” pemuda itu mengeluh lemah.

“Tidak, tidak ah,.... betapa bodohku telah meninggalkanmu.” Ia mencium dahi pemuda itu. “Hemm, badanmu panas. Engkau demam.”

Cepat Siu Kwi memeriksa keadaan Yo Jin dan wanita yang pandai dan banyak pengalaman ini maklum bahwa pemuda itu terserang demam karena luka-lukanya yang tidak terawat kini membengkak dan keracunan! Cepat ia bekerja, mencuci luka-luka itu dan menaruhkan obat luka yang selalu dibawanya, dan juga menyuruh Yo Jin menelan dua butir pel kuning. Setelah menelan pel, Yo Jin tidur pulas dengan kepala di atas pangkuan Siu Kwi.

Siu Kwi duduk di tepi pembaringan, mengelus-elus rambut dikepala Yo Jin yang kusut.
Ia memandangi wajah yang kurus itu dan tak terasa dua butir air mata menetes turun, keluar dari kedua matanya. Hatinya diliputi keharuan yang amat mendalam. Selama tiga hari ini, ia sendiri tersiksa sekali. Ia berkeliaran di hutan-hutan dan gunung-gunung, mencoba untuk melupakan Yo Jin, namun tidak berhasil sama sekali. Makin dilupakan, makin teringat dan selama tiga hari ini ia hampir tidak makan dan tidak tidur sama sekali.

Akhirnya, iapun tidak kuat dan memaksa diri kembali ke dusun itu dan di waktu malam telah menggelapkan dusun, iapun mendatangi rumah pria yang dicintanya untuk menengok dengan diam-diam. Dapat dibayangkan betapa kagetnya ketika ia melihat Yo Jin ternyata dalam keadaan sakit yang cukup payah. Dan lebih terharu lagi ketika ia mendengar igau pemuda itu dalam sakitnya. Baru ia tahu bahwa sepeninggalnya, Yo Jin jatuh sakit dan terus mencari-cari dan memanggil-manggilnya!

“Ah, Jin-toako.... aku cinta padamu.... aku cinta padamu....“ bisiknya berkali-kali dan ia mendekap kepala di pangkuannya itu seperti mendekap sebuah mustika yang takkan pernah dilepaskannya lagi.

Karena ia sendiri selama tiga hari kurang tidur, setelah kini bertemu kembali dengan Yo Jin, bahkan pemuda itu tertidur di pangkuannya, hati Siu Kwi merasa demikian tenteram sehingga iapun memejamkan matanya, bersandar pada dinding dan dengan kepala pemuda itu masih di atas pangkuannya, iapun tertidur pulas.

Seperti itulah keadaan mereka ketika pada keesokan harinya kakek Yo memasuki kamar anaknya. Dia berdiri terpukau di ambang pintu, terbelalak, bahkan sempat menggosok mata dengan punggung tangan beberapa kali seperti tidak percaya akan penglihatannya sendiri. Perempuan siluman itu telah berada dalam kamar anaknya!

Agaknya kehadiran kakek ini cukup untuk membangunkan Siu Kwi. Ia membuka matanya dan melihat kakek itu di ambang pintu kamar, ia segera teringat akan keadaannya. Wajahnya menjadi merah sekali dan dengan lembut ia menurunkan kepala Yo Jin dari atas pangkuannya.

“Aku.... aku datang untuk mengobati Jin-toako yang ternyata terserang demam karena luka-lukanya,” katanya lirih kepada kakek Yo.

Kakek Yo masih tidak mampu bersuara. Ada perasaan marah akan tetapi juga takut terhadap perempuan di depannya.

Pada saat itu, Yo Jin juga terbangun.
“Kwi-moi keluhnya dan ketika dia membuka mata dan melihat Siu Kwi telah berada di dekat pembaringan, dia cepat menangkap tangan gadis itu. “Ah, Kwi-moi, benarkah engkau ini? Engkau telah datang kembali?” tanyanya dengan suara gemetar.

Siu Kwi meremas tangan pemuda itu.
“Aku datang untuk mengobatimu, Jin-toako.“

“Ah, terima kasih, Kwi-moi. Aku sudah sembuh! Melihat engkau datang saja aku sudah sembuh sama sekali. Lihat, aku sudah bisa duduk!”

Seperti seorang anak kecil yang kegirangan, pemuda itu bangkit duduk walaupun dengan tubuh yang masih lemas. Hati Siu Kwi merasa terharu bukan main.

Kakek Yo tidak dapat menyangkal bahwa anaknya benar-benar kelihatan sembuh. Akan tetapi, hal ini bahkan memperkuat dugaannya bahwa Siu Kwi tentulah seorang siluman tulen yang sengaja membuat Yo Jin sakit dan kini kembali untuk mengobati Yo Jin agar dia dapat percaya! Akan tetapi, untuk menuduh demikian, dia tidak berani. Pertama, diapun ingin melihat anaknya sembuh dulu, dan ke dua, dia mulai merasa ngeri dan takut terhadap Siu Kwi.

“Kwi-moi, jangan kau pergi lagi, Kwi-moi....” kata Yo Jin sambil menggenggam tangan wanita itu.

“Tidak, Jin-toako. Aku kembali uutuk menemanimu dan merawatmu sampai sembuh.”

“Sampai sembuh dan engkau akan pergi lagi? Tidak, Kwi-moi, engkau tidak boleh pergi, selamanya, dari sampingku!”

Genggaman tangan Yo Jin semakin erat seolah-olah dia benar-benar merasa khawatir kalau-kalau wanita itu akan pergi lagi.

Siu Kwi memandang ke arah kakek Yo.
“Kalau saja Yo-lopek mau mengijinkannya.”

“Ayah, biarkan Kwi-moi di sini. Aku.... aku tidak dapat hidup tanpa ia, ayah!”

Yo Jin berkata dengan suara lantang dan nekat. Sikap ini sungguh membuat Siu Kwi terharu sekali dan kembali dua titik air mata runtuh dari matanya yang berlinang-linang. Pemuda ini belum pernah menyatakan cinta, akan tetapi setiap katanya, setiap pandang mata, selalu penuh dengan sinar cinta yang mendalam.

Kakek itu menghela napas dan memutar otaknya. Dia tentu saja tidak setuju, akan tetapi tidak berani mengaku terus terang di depan siluman itu. Akhirnya dia memperoleh akal dan berkata,

“Baiklah, biar ia merawatmu sampai engkau sembuh. Setelah engkau sembuh, baru kita bicara tentang itu.” Setelah berkata demikian, kakek Yo lalu meninggalkan kamar itu.

Setelah kakek itu memberi perkenan, bukan main lega dan girang rasa hati Siu Kwi. Ia melepaskan tangan Yo Jin dan berkata,

“Nah, sekarang engkau harus tidur lagi. Aku akan membuatkan bubur untukmu, engkau harus makan yang banyak, selalu minum obat, dan banyak tidur....“

“Akan tetapi, aku ingin bercakap-cakap denganmu, Kwt-moi....”

“Hsshhh, belum waktunya mengobrol. Ingat, aku perawatmu dan kau harus mentaati semua permintaanku!”

Ia mengangkat telunjuknya seperti orang mengancam, dengan sikap yang manja dan genit saking girang hatinya.

Yo Jin tertawa.
“Baiklah, baiklah. Aku akan mentaatimu dan menutup mulutku.”

“Heii, jangan ditutup terus. Tidak enak kalau kau kelihatan marah dan tidak mau mengajak bicara padaku.”

Mereka tertawa dan di dalam suara ketawa mereka terkandung keriangan. Keadaan hatinya saja sudah merupakan obat yang amat mujarab bagi penyakit Yo Jin.

Selama tiga hari, Siu Kwi merawat Yo Jin dengan amat tekunnya. Ia juga mencucikan pakaian Yo Jin. Kakek Yo tetap tidak mau dibantunya dan bahkan tidak membolehkan Siu Kwi mencucikan pakaiannya yang kotor! Pendeknya, dia tidak mau bersentuhan dengan siluman! Juga segala yang dimasak oleh Siu Kwi, kakek itu tidak mau menyentuhnya. Dia selalu makan di luar, di rumah teman-teman atau di warung nasi selama Siu Kwi berada di rumahnya.

**** 112 ****

Suling Naga