Ads

Rabu, 27 Januari 2016

Suling Naga Jilid 113

Ketahyulan membuat orang dapat melakukan hal yang amat bodoh. Ketahyulan muncul kalau orang mudah percaya kepada diri sendiri, tidak mau melihat kenyataan yang ada melainkan dipermainkan oleh khayal, mengagungkan hal-hal yang dianggap aneh dan berada di luar pengertian mereka. Jelaslah bahwa ketahyulan adalah suatu kebodohan dan orang dapat melakukan segala hal yang tidak masuk akal.

Kakek Yo masih tebal perasaan takut terhadap setan-setan, sebagai akibat dari ketahyulannya. Menghadapi kehadiran Siu Kwi, dia percaya sepenuhnya bahwa wanita itu adalah siluman. Banyak hal yang dianggapnya cukup menjadi bukti bahwa Siu Kwi adalah siluman.

Pertama, asal-usulnya yang tidak jelas, kemunculannya begitu saja. Ke dua, kecantikannya yang menyolok dan betapa orang yang secantik dan sekaya itu, melihat kemewahan pakaiannya, dapat jatuh cinta kepada anaknya, seorang pemuda tani dusun. Ke tiga, kepandaiannya mengobati. Ke empat, kemunculannya kembali yang aneh, tahu-tahu berada di dalam kamar! Sungguh seperti setan!

Karena rasa takutnya, kakek Yo lalu melaporkan kembalinya Siu Kwi kepada kepala dusun Tong secara diam-diam dan mendengar bahwa di rumah kakek Yo telah datang siluman yang ditakuti itu, kepala dusun Tong cepat memberi kabar kepada kepala dusun Lui. Terjadilah persekongkolan antara kakek Yo dan kedua orang pejabat itu untuk bersama-sama menghadapi siluman

Si tosu dusun lalu dihubungi dan tosu inilah yang mendatangkan tosu-tosu lain, tokoh-tokoh yang akan membuat dua orang kepala dusun itu sendiri terkejut setengah mati kalau mengenal mereka karena para tosu itu adalah tokoh-tokoh besar Pek-lian-Liuw (Agama Teratai Putih) dan Pat-kwa-kauw (Agama Segi Delapan) yang condong ke arah golongan sesat dan terkenal pula sebagai pemberontak-pemberontak.

Setelah mereka yang bersekongkol itu mengadakan pertemuan mengatur siasat, kakek Yo lalu mendapat tugas untuk membawa Yo Jin ke rumah kepala dusun Lui yang menjadi sarang pertemuan mereka. Mereka akan melihat gelagat dulu sebelum menggunakan kekerasan karena menurut para tosu, siluman dapat memiliki kesaktian yang sukar dikalahkan.

Demikianlah, setelah Yo Jin kelihatan sembuh benar, ayahnya lalu mengajaknya untuk pergi menghadap ke rumah kepala dusun Lui.

“Kita harus pergi ke sana, anakku. Memang, dengan bijaksana kepala dusun Lui telah memaafkanmu, akan tetapi yang memintakan maaf adalah aku. Kalau engkau sendiri yang datang menghadap dan minta maaf, tentu dia akan lebih senang hatinya dan selanjutnya, kita tidak akan mengalami gangguan lagi.”






Siu Kwi mendengarkan percakapan itu dan ia mengerutkan alisnya.
“Jin-toako, kuharap engkau berhati-hati menghadapi orang-orang seperti Lui-kongcu itu. Orang-orang seperti itu tidak mudah melupakan kekalahan dan selalu menaruh dendam, dan mereka mungkin akan menggunakan siasat untuk menjebakmu. Kurasa lebih baik kalau engkau tidak pergi ke sana.”

Yo Jin tadinya sudah siap mengikuti ayahnya. Mendengar ucapan Siu Kwi, dia menjadi ragu-ragu.

“Kurasa benar juga pendapat Kwi-moi, ayah. Mengapa aku harus menghadap ke sana kalau aku tidak bersalah apa-apa terhadap mereka? Pula, mereka sudah diam saja, berarti sudah tidak ada apa-apa. Kuharap saja Lui-thungcu tidak jahat seperti puteranya dan dapat menyadari kesesatan puteranya dan dengan kesadaran itu memaafkan aku. Kalau aku muncul, jangan-jangan dia malah menjadi marah kembali dan melakukan tindakan yang tidak menguntungkan.”

Tentu saja kakek Yo kecewa bukan main dan hatinya mendongkol. Puteranya itu selalu taat kepadanya, akan tetapi setelah siluman itu mencengkeram dan menguasainya, kini berani membangkang terhadap perintahnya.

“Yo Jin....,” bentaknya marah. Dia hanya berani memarahi anaknya, sedangkan terhadap Siu Kwi, dia memandangpun tidak. “Selama ini engkau seorang anak penurut, akan tetapi sekarang engkau berani membantah kehendak ayahmu! Baik, engkau boleh tidak menurut kepadaku, akan tetapi selamanya engkau tidak perlu mentaati aku lagi!” Berkata demikian, kakek itu lalu memutar tubuh dan keluar.

“Ayah....!” Yo Jin berseru dengan kaget, cepat dia lari keluar mengejar ayahnya. Setelah tiba di luar dia menjatuhkan diri berlutut di depan kaki ayahnya. “Ayah, maafkan aku, bukan maksudku untuk membantah....“

“Cukup, cepat berganti pakaian dan ikut aku ke rumah Lui-thungcu atau.... jangan sebut aku ayah lagi!“

Tentu saja Yo Jin tidak berani membantah. Dia masuk lagi ke dalam kamar dan berganti pakaian sambil berkata kepada Siu Kwi,

“Kwi-moi, kau maafkan aku. Aku terpaksa pergi sebentar ikut ayah. Dia marah dan kau tentu maklum bahwa aku tidak mungkin menentang kehendaknya.”

Siu Kwi tersenyum sabar.
“Aku mengerti, toako. Pergilah, aku akan menanti kembalimu di sini dengan sabar hati.”

Lega rasa hati Yo Jin mendengar dan melihat sikap Siu Kwi itu dan diapun segera pergi bersama ayahnya, meninggalkan dusun mereka yang terletak di sebelah selatan itu untuk berkunjung kepada kepala dusun Lui di dusun sebelah timur. Di sepanjang perjalanan itu, kakek Yo memperoleh kesempatan untuk menasihati anaknya. Dia memperingatkan anaknya tentang bahaya yang mengancam dirinya kalau semakin akrab dan dekat dengan wanita cantik yang menjadi tamu mereka.

“Sadarlah engkau, anakku,” demikian dia menutup nasihatnya yang agaknya tidak diperdulikan oleh Yo jin, didengarkan tanpa dijawab. “Engkau sudah berada dalam cengkeramannya, engkau sudah dibikin mabok oleh hawa siluman. Masih untung bahwa selama ini engkau belum tidur bersama siluman itu, karena kalau hal itu terjadi, akan celakalah engkau. Sadar dan mundurlah sebelum terlambat, anakku.”

Biarpun Yo Jin maklum bahwa ayahnya membujuknya untuk menjauhi Siu Kwi terdorong oleh rasa sayang karena ayahnya tidak ingin melihat dia celaka, akan tetapi hatinya terasa panas dan tidak enak mendengar betapa ayahnya yakin bahwa Siu Kwi adalah seorang siluman.

“Ayah, sudah beratus kali kukatakan bahwa Ciong Siu Kwi bukan seorang siluman, melainkan seorang wanita yang patut dikasihani, yang berhati mulia.”

“Tapi tosu itu....“

“Persetan dengan tosu tahyul itu, ayah! Dengar, ayah. Sudah beberapa lama aku mengenal Siu Kwi dan belum pernah satu kalipun ia melakukan hal yang bukan-bukan. Ia selalu sopan dan merawatku dengan teliti dan tekun. Ia suka kepadaku, hal itu amat kuharapkan dan nampaknya begitu, dan aku.... cinta padanya, ayah, akan tetapi selama ini belum pernah ia memperlihatkan perasaannya dengan perbuatannya yang melanggar susila. Ia seorang wanita baik-baik, ayah, seorang wanita yang sudah banyak menderita.”

Kakek itu mengerutkan alisnya. Agak ragu-ragu juga hatinya setelah mendengar ucapan anaknya itu. Memang tidak ada bukti nyata bahwa Siu Kwi seorang siluman. Akan tetapi keganjilan-keganjilan yang terjadi bersama kemunculannya ia meragu dan hanya menggeleng kepala. Biarlah, biarlah Lui-thungcu yang akan menangani persoalan ini. Dia sudah berunding dengan kepala dusun itu.

Ajakannya kepada puterannya untuk menghadap kepala dusun Lui ini juga termasuk pelaksanaan dari rencana mereka. Dia harus mengajak Yo Jin ke sana agar para tosu sakti yang sudah berada di rumah Lui-thungcu dapat mengobati dan membersihkan diri Yo Jin dari hawa siluman itu. Hal ini akan lebih mudah kalau dilakukan sewaktu Yo Jin tidak berada di rumah.

Ayah dan anak ini disambut oleh kepala dusun Lui yang didampingi Lui-kongcu dan juga dua orang tosu tua yang memegang tongkat. Tosu pertama memakai pakaian yang longgar berwarna putih dan di dadanya terdapat lukisan bunga teratai putih di atas dasar biru yang berbentuk bulat. Tosu ini usianya sudah tujuh puluhan tahun, mukanya merah sekali seperti berdarah dan tangannya memegang sebatang tongkat berbentuk naga berwarma hitam. Tubuhnya kecil kurus seperti tulang-tulang dibungkus kulit saja.

Adapun tosu ke dua, tinggi besar dan perutnya gendut. Pakaiannya berwarna kuning dengan lukisan pat-kwa (segi delapan) di dadanya, Berbeda dengan tosu pertama yang rambutnya digelung ke atas, tosu ke dua ini rambutnya dibiarkan riap-riapan dan karena rambutnya sudah putih semua, maka nampaklah dia seperti seorang yang suci. Juga dia memegang tongkat hitam berbentuk ular, lebih kecil dari pada tongkat tosu pertama. Tosu ke dua ini bermuka pucat kekuningan, seperti orang berpenyakitan.

Begitu menghadap kepala dusun ini, kakek Yo yang di tengah perjalanan tadi sudah memberi tahu kepada anaknya apa yang diakukan kalau sudah berhadapan dengan kepala dusun Lui, menyentuh lengan anaknya memberi isyarat.

Yo Jin mengerutkan alisnya. Begitu menghadap kepala dusun itu dan melihat betapa kepala dusun memandangnya dengan sinar mata marah, terutama sekali Lui-kongcu yang jelas sekali kelihatan marah kepadanya dan memandangnya penuh kebencian, hatinya sudah merasa menyesal mengapa dia datang ke tempat ini. Akan tetapi, untuk menyenangkan hati ayahnya, dia lalu melangkah maju dan memberi hormat kepada kepala dusun itu bersama puteranya, sambil berkata dengan suara lantang.

“Lui-thungcu dan Lui-kongcu, mentaati perintah ayah, maka saya datang menghadap ji-wi untuk mohon maaf atas segala hal yang telah terjadi antara saya dan Lui-kongcu.”

Ayah dan anak yang biasanya dihormati orang dan diagungkan seperti keluarga raja kecil itu, mengerutkan alis lebih dalam karena mereka merasa tidak puas melihat sikap Yo Jin.

“Kenapa tidak dari dulu engkau datang mohon maaf?” bentak Lui-kongcu dengan suara marah.

Yo Jin menoleh kepada ayahnya. Sikap pemuda itu sama sekali tidak diduganya, karena menurut ayahnya, keluarga Lui sudah memaafkannya, akan tetapi mengapa Lui-kongcu masih bersikap demikian keras? Dia melihat ayahnya hanya menunduk, maka dia lalu mengangkat muka menentang pandang mata Lui-kongcu. Dilihatnya kongcu itu memandang kepadanya dengan sikap yang amat angkuh. Bangkitlah rasa penasaran di dalam hati pemuda ini.

“Saya baru saja sembuh dari sakit, dan baru hari ini ayah mengajak saya datang ke sini,” jawabnya, singkat dan suaranya juga sama sekali tidak merendah.

“Brakkk!” Tangan kepala dusun Lui menggebrak meja di depannya. “Yo Jin, engkau sungguh seorang pemuda yang keras kepala! Di depan kami engkau berani bersikap seperti ini? Hayo lekas berlutut!”

Wajah Yo Jin menjadi marah karena penasaran. Ayahnya kembali menyentuh lengannya.

“Anakku, taatilah perintah Lui-thungcu.”

Akan tetapi Yo Jin tidak mau.
“Tidak, ayah. Aku tidak bersalah, mengapa aku harus berlutut minta ampun dan mohon dikasihani? Tidak, aku mau pulang saja!”

Berkata demikian, Yo Jin lalu membalikkan tubuhnya dan melangkah pergi tanpa pamit dari depan kepala dusun itu.

“Eh, bocah laknat, berani kau kurang ajar kepadaku? Kembali kau!” bentak kepala dusun itu dengan marah.

“Henmm, Yo Jin, kembalilah kau!” tiba-tiba terdengar suara parau dan yang mengeluarkan ucapan ini adalah tosu bermuka merah, tokoh Pek-lian-kauw itu.

Dia berkata sambil menggerakkan tangan kiri ke arah Yo Jin Dan terjadilah keanehan! Tiba-tiba saja Yo Jin yang sudah melangkah pergi itu menghentikan langkahnya, menoleh dan memutar tubuh lalu kembali ke depan kepala dusun Lui! Pemuda itu sendiri terkejut bukan main. Mendengar suara parau tadi, seolah-olah ada kekuatan aneh yang memaksanya, bahkan kemauannya seperti membeku dan kedua kakinya, seluruh tubuhnya bergerak sendiri di luar kehendaknya

Dia kini berdiri di depan kepala dusun itu, berdiri tegak dan mukanya menunjukkan kekerasan hatinya yang enggan tunduk. Kembali tokoh Pek-lian-kauw itu menggerakkan tangan kirinya seperti orang melambai.

“Yo Jin, berlututlah di depan Lui-thungcu!”

Sungguh luar biasa sekali. Yo Jin tidak sudi berlutut, akan tetapi tiba-tiba saja kakinya terasa lemas dan diapun jatuh bertekuk-lutut! Terdengar kakek Pek-lian-kauw itu terkekeh girang. Yo Jin mengangkat mukanya memandang, dan terkejut melihat betapa sepasang mata kakek itu mencorong seperti mata kucing.

“Kau.... kau.... bukan manusia, kaulah yang siluman!” bentaknya dan suara ini baru bisa dikeluarkannya setelah dia menguatkan hatinya dan memaksa mulutnya untuk meneriakkan kata-kata ini.

“Bocah kurang ajar kau!” bentak Lui-thungcu sambil menggapai empat orang perajurit pengawal yang berjaga tak jauh dari situ. “Hajar dia!”

“Ha-ha, tak perlu pakai banyak orang, Lui-thungcu. Biar pinto yang menghajarnya!” yang bicara adalah kakek tokoh Pat-kwa-kauw yang bertubuh tinggi besar itu dan sebelum si kepala dusun menjawab, tangan kirinya sudah menyambar ke depan.

Suling Naga