Ads

Rabu, 27 Januari 2016

Suling Naga Jilid 114

Angin yang kuat sekali keluar dari gerakan tangan itu dan tubuh Yo Jin terpelanting seperti didorong oleh tenaga yang amat keras! Pemuda itu terkejut, mencoba bangkit kembali, akan tetapi setiap kali tosu Patkwa-kauw itu menggerakkan tangan, diapun terbanting dengan keras. Sampai beberapa kali Yo Jin jatuh bangun dan terbanting keras di atas lantai, bergulingan di depan kepala dusun Lui dan puteranya yang tertawa girang melihat betapa musuh yang dibencinya itu kini menjadi bulan-bulan kesaktian dua orang kakek itu.

Sementara itu, kakek Yo terkejut sekali melihat betapa anaknya disiksa. Diapun cepat maju berlutut di depan kepala dusun Lui.

“Lui-thungcu, maafkan anakku. Perjanjian antara kita tidak begini! Harap jangan pukul lagi puteraku!”

Kepala dusun Lui menjadi marah.
“Usir tua bangka yang tidak mampu mengajar anak ini keluar dan penjarakan Yo Jin!”

Empat orang pengawal itu maju, memegang lengan kakek Yo dan menariknya bangun. Kakek itu menjadi marah sekali.

“Aturan mana ini? Kita berjanji untuk bersama-sama menghadapi siluman, akan tetapi mengapa anakku disiksa dan aku diusir? Lui-thungcu, apakah engkau sudah melupakan perjanjian antara kita....?”

“Usir dia! Seret dan pukul agar dia tidak banyak cerewet lagi!” bentak kepala dusun Lui.

Memang benar bahwa kakek Yo pernah bersekutu dengannya untuk menghadapi siluman yang berada di rumah keluarga Yo, Akan tetapi, kepala dusun itu yang kini dibantu oleh dua orang kakek tosu yang sakti, masih tidak melupakan dendamnya ketika puteranya dipukuli Yo Jin sehingga pulang dengan muka bengkak-bengkak. Kakek Yo hanya melaporkan tentang adanya siluman dan dia akan membasmi siluman itu bersama dua orang tosu sakti. Kakek Yo tidak dibutuhkannya sama sekali, bahkan perlu dihajar karena keluarga Yo pernah menghina puteranya.

Kini kakek Yo menjadi marah. Dia meronta dan melepaskan pegangan, mengamuk dan memukul roboh seorang pengawal. Akan tetapi tiga orang pengawal itu mengeroyoknya dan tubuhnya yang tua dihujani pukulan. Kakek Yo yang tinggi besar dan biasa bekerja berat dan kasar ini, melawan mati-matian dan ternyata tubuhnya memang kuat. Empat orang pengawal itu sampai kewalahan untuk dapat menangkap dan menyeretnya keluar.






“Ha-ha, biar aku yang melemparnya keluar” kata tosu Pit-kwa-kauw yang membiarkan Yo Jin yang tadi terbanting-banting itu kini mendekam lemas dan pusing, lalu dia turun dari atas kursinya, menghampiri kakek Yo. Kakek Yo yang sudah menjadi marah sekali, menyambutnya dengan pukulan keras!

“Dukk!” tongkat berbentuk ular itu menotok dan seketika tubuh kakek Yo roboh lemas.

Kembali tongkat itu bergerak, mengungkit dan seperti orang melempar kulit pisang menggunakan sebatang tongkat, sekali tangannya bergerak, tubuh kakek yang tinggi besar itu terlempar keluar pintu dan terbanting roboh dengan keras sekali di luar pintu!

Kakek Yo merangkak bangun, dari mulut dan hidungnya keluar darah. Totokan tongkat yang mengenai dadanya tadi membuat dadanya terasa seperti akan pecah dan kekuatan dalam tubuhnya habis. Dia merangkak, tertatih-tatih bangkit.

“Ayahhh....”

Yo Jin berteriak melihat betapa ayahnya disiksa. Akan tetapi, empat orang pengawal itu telah menangkapnya, mengikat kedua lengannya ke belakang dan menyeretnya dari ruangan itu untuk dijebloskan dalam kamar tahanan.

“Ayah peringatkan Kwi-moi....!”

Yo Jin masih sempat berteriak dan teriakan ini didengar oleh kakek Yo. Kini baru kakek Yo teringat akan semua ucapan puteranya, betapa jahatnya keluarga Lui dan betapa Siu Kwi adalah seorang wanita yang amat baik, seorang janda yang patut dikasihani dan yang agaknya saling mencinta dengan Yo Jin.

Timbul penyesalan di dalam hatinya dan kakek ini maklum kini bahwa perlakuan keluarga Lui kepada dia dan puteranya adalah karena Lui-kongcu ingin mendapatkan wanita cantik itu! Wanita itu bukan siluman dan kini terancam bahaya! Dia merasa menyesal sekali telah memusuhi Siu Kwi dan dialah yang mendorong puteranya sehingga kini Yo Jin ditangkap dan Siu Kwi terancam bahaya. Penyesalannya mendatangkan kekuatan baru pada diri kakek ini dan biarpun dia telah menderita luka parah di dalam tubuhnya, namun dia masih mampu mengeluarkan tenaga terakhir untuk berlari pulang secepatnya. Tenaga kakek Yo habis ketika dia tiba di depan rumahnya dan diapun roboh terguling.

Pada saat itu, Siu Kwi yang melihat dia pulang berlari-lari sendirian saja, sudah cepat keluar menyambut. Dapat dibayangkan betapa kaget rasa hati Siu Kwi melihat kakek itu roboh dan mukanya cepat sekali, napasnya terengah-engah dan dari mulut dan hidungnya keluar darah. Cepat ia berlutut an ketika ia mengangkat tubuh atas kakek itu untuk didudukkan, wanita ini terkejut. Dengan pengalaman dan kepandaiannya, ia dapat melihat bahwa kakek ini telah menderita luka dalam yang amat hebat dan tidak akan dapat disembuhkan lagi! Kakek ini telah menerima serangan orang yang menggunakan ilmu kepandaian tinggi, mungkin totokan atau tamparan. Hatinya mulai merasa gelisah, apalagi karena Yo Jin tidak pulang bersama kakek itu.

“Yo-lopek, kau kenapakah? Apa yang telah terjadi dan mana Jin-toako?”

Kakek itu membuka mulut untuk bicara, akan tetapi yang keluar hanya suara menggelogok diikuti tumpahan darah! Siu Kwi cepat menekan bagian dada kakek itu dan menotok beberapa jalan darah. Kakek itu kini berhasil mengeluarkan suara.

“YO Jin.... ditangkap.... Lui-thungcu.... dua tosu sakti....aaahhh....” kakek itu menghentikan kata-katanya, matanya terbelalak, lalu terpejam dan kepalanya terkulai lemas.

Siu Kwi maklum bahwa kakek itu telah tewas. Ia mengangkat tubuh kakek itu dan membawanya ke dalam rumah. Setelah merebahkan mayat itu di dalam kamar kakek Yo, ia lalu melompat keluar dan seperti terbang saja Siu Kwi sudah berlari menuju ke dusun timur. Hatinya gelisah sekali, akan tetapi juga marah. Yo Jin ditangkap dan ayahnya dibunuh!

Hari telah sore ketika Siu Kwi tiba di dusun timur dan ia langsung mencari rumah kepala dusun, Setelah tiba di depan pintu gerbang pekarangan rumah besar itu, Siu Kwi langsung saja masuk. Dua orang penjaga menghadangnya dan dua orang ini senyum-senyum kurang ajar ketika melihat bahwa tamu yang datang adalah seorang wanita cantik.

“Nona hendak mencari siapakah?” tanya seorang di antara mereka sambil melintangkan tombaknya dengan lagak galak, namun sinar matanya seperti hendak menelanjangi wanita yang berdiri di depannya.

“Apakah ini rumah kepala dusun Lui?”

“Benar,” jawab orang ke dua yang perutnya gendut.

“Dan kalian ini penjaga-penjaga di sini?”

Siu Kwi bertanya lagi. Dua orang itu mengangguk. Siu Kwi menahan diri agar tidak sembarangan membunuh orang. Kepala dusun itulah yang harus dihadapi, bukan segala macam penjaga rendahan. Maka ia lalu melangkah maju lagi untuk masuk ke dalam rumah itu, mencari kepala dusun Lui.

“Hei, nona, tunggu dulu!”

“Kau tidak boleh masuk begitu saja! Beritahukan nama dan keperluan, dan kami akan lebih dulu melapor ke dalam!”

Siu Kwi memandang kepada dua orang penjaga yang sudah melintangkan tombak di depannya itu. Kesabarannya hilang dan ia membentak,

“Pergilah!”

Kedua tangannya dipentang seperti orang membuka daun pintu dan tubuh dua orang penjaga itupun terpelanting ke kanan kiri dan terguling-guling sampai jauh! Siu Kwi tidak memperdulikan lagi dua orang yang merangkak bangun dengan mata terbelalak dan kepala nanar itu, dan ia terus melangkah maju sampai ke ruangan depan.

Lima orang pengawal mengejar keluar ketika mendengar suara ribut-ribut dan mereka tadi sempat melihat betapa dua orang rekan mereka terguling-guling dan seorang wanita cantik berjalan memasuki ruangan itu. Cepat mereka mengepung wanita itu.

“Aku tidak mau berurusan dengan kalian. Suruh kepala dusun Lui keluar, atau aku akan mencarinya sendiri dan menyeretnya keluar!” kata Siu Kwi, suaranya dingin sekali karena ia sudah marah.

Kalau saja ia masih Siu Kwi sebulan yang lalu, tentu ia tidak akan banyak cakap lagi dan membunuh lima orang ini. Jaga dua orang penjaga tadi tentu kini tak dapat bangun lagi. Akan tetapi sekarang ia menjaga diri dengan ketat agar jangan sampai ia sembarangan saja membunuh orang.

Tentu saja lima orang pengawal itu tidak sudi memenuhi permintaannya. Mereka tadi sudah melihat betapa wanita ini merobohkan dua orang rekannya, hal ini saja sudah menunjukkan bahwa wanita ini datang sebagai musuh majikan mereka. Betapapun juga, lima orang pengawal ini masih memandang rendah kepada Siu Kwi. Mereka yang sudah mengepung itu langsung mengulurkan tangan dan menubruk, seperti hendak berlumba menangkap dan memeluk perempuan cantik itu.

“Pergilah kalian!” bentak Siu Kwi dan tiba-tiba tubuhnya bergerak dengan kecepatan luar biasa.

Terdengar lima orang pengeroyok itu mengaduh dan tubuh merekapun terpelanting ke kanan kiri, roboh berserakan. Sejenak mereka menjadi nanar dan terheran-heran. Mereka tidak tahu bagaimana mereka tadi sampai roboh. Kedua tangan wanita itu bergerak membagi-bagi tamparan seperti kilat menyambar-nyambar saja. Kini merekapun sadar bahwa mereka berhadapan dengan seorang wanita yang memiliki ilmu silat tinggi, maka mereka bangkit lagi sambil mencabut golok dari pinggang. Mereka mengepung lagi dengan besar hati karena keributan itu telah menarik perhatian orang dan kini dari dalam muncul pasukan pengawal berjumlah belasan orang, mengiringkan Lui-thungcu yang datang bersama Lui-kongcu dan dua orang tosu.

Akan tetapi, serangan golok lima orang itupun tidak ada artinya sama sekali bagi Siu Kwi. Ketika melihat lima orang itu menyerang serentak dengan golok mereka, Siu Kwi mendahului mereka. Tubuhnya bergerak cepat dan tahu-tahu lima orang itu sudah berpelantingan kembali, golok mereka beterbangan dan kini mereka terbanting lebih keras dari pada tadi sehingga mereka tidak dapat serentak bangun seperti tadi melainkan merangkak-rangkak sambil mengeluh seperti segerombolan anjing kena gebuk!

“Itulah siluman itu!” tiba-tiba Lui-kongcu berseru sambil menudingkan telunjuknya ke arah Siu Kwi.

Mendengar ini, kepala dusun Lui segera memberi isyarat kepada tigabelas orang pengawalnya untuk maju.

“Tangkap siluman ini, hidup atau mati!” perintahnya.

Tigabelas orang pengawal itu merupakan pengawal-pengawal pribadi yang pilihan dan rata-rata memiliki ilmu silat yang cukup tinggi, tidak seperti lima orang pengawal biasa yang sudah dirobohkan itu tadi. Mereka bergerak hati-hati, mencabut pedang dan perisai baja, lalu mengepung Siu Kwi.

Wanita ini melihat bahwa ruangan itu terlampau sempit untuk menghadapi pengeroyokan, maka iapun meloncat turun ke pekarangan yang lebar. Tigabelas orang itu mengejarnya tanpa meninggalkan gerakan barisan yang teratur. Ternyata tigabelas orang pengawal ini bukan orang-orang sembarangan dan mereka bergerak dalam gaya barisan Cap-sha Kiam-tin (Barisan Pedang Tigabelas) yang berubah-ubah seperti garis perbintangan. Karena itu, biarpun Siu Kwi melompat ke pekarangan, tetap saja wanita itu dalam keadaan terkepung. Kini Siu Kwi berdiri tegak sambil bertolak pinggang. Kegembiraannya timbul kembali.

Sudah terlalu lama ia menganggur dan tak pernah menghadapi perkelahian. Kini, dikepung tigabelas orang yang berpedang, timbul gairahnya untuk berkelahi. Akan tetapi, kesadarannya akan kesesatan yang dimasukinya dalam kehidupannya yang lalu tak pernah meninggalkan batinnya sehingga kini ia menghadapi mereka tanpa ada perasaan benci. Perasaan benci inilah yang membuat orang dapat berbuat kejam, dapat membuat orang membunuh orang lain dengan mudah saja. Tidak, ia tidak akan membunuh orang, biarpun untuk menyelamatkan Yo Jin ia mau berbuat apa saja.

Melihat orang yang mereka kepung itu hanya berdiri tegak sambil bertolak pinggang, tigabelas orang itu menjadi penasaran. Wanita ini sungguh memandang rendah kepada mereka. Orang yang memimpin barisan itu, yang berkumis panjang, mengeluarkan aba-aba dan tiga orang yang berada di belakang Siu Kwi sudah menyerang dengan pedang mereka. Seorang membacok ke arah leher, seorang lagi menusuk ke punggung dan orang ke tiga membabat ke arah kaki! Sungguh merupakan serangan dari belakang yang amat berbahaya karena semua barisan tubuh lawan, atas, tengah dan bawah diserang dengan berbareng. Dan yang diserang masih kelihatan enak-enakan saja.

“Ia akan mampus sekarang! kata kepala dusun Lui melihat serangan itu.”

“Heh-heh, dugaanmu keliru, thungcu. Orang-orangmu yang akan kalah!”

Ucapan ini keluar dari mulut tosu tokoh Pek-lian-kauw yang berada di dekatnya sehingga kepala dusun itu terkejut bukan main.

Suling Naga