Ads

Selasa, 02 Februari 2016

Suling Naga Jilid 132

“Ha-ha, bocah lucu, engkau menodongku dengan setangkai bunga mawar?” tiba-tiba kakek itu berkata sambil tertawa dan tangannya membuat gerakan ke arah pedang dan.... Hong Li, dan belasan orang anak itu, terbelalak ketika melihat betapa yang berada di tangan Hong Li memang benar setangkai bunga mawar, bukan pedang yang tadi dimainkan dengan indahnya!

Akan tetapi, Hong Li adalah keturunan keluarga Pulau Es dan keluarga Gurun Pasir. Ibunya adalah cucu Pendekar Super Sakti, maka tentu saja ia segera dapat mengerti bahwa kakek pendeta jubah merah ini telah main-main dan mempergunakan ilmu sihir.
Hanya sebentar saja ia terkejut dan terbelalak, lalu ia mengerahkan sin-kangnya, memaksa diri untuk bertahan dan tidak hanyut oleh kekuatan sihir.

“Yang kutodongkan adalah pedang baruku! Siapa bilang bunga mawar?” bentaknya dan iapun menggerak-gerakkan pedangnya. Karena tentu saja tenaga batinnya belum kuat benar, matanya melihat betapa yang berada di tangan kanannya itu berubah-ubah, kadang-kadang nampak sebagai pedang, lalu berubah menjadi setangkai bunga lagi.

Namun, ia menjadi nekat, bunga atau pedang, tetap saja ia pergunakan untuk menyerang kakek kurus itu!

Dalam penglihatan belasan orang anak itu, nampak lucu sekali melihat Hong Li menyerang kakek itu kalang kabut dengan menggunakan setangkai bunga mawar! Akan tetapi, kakek itu sendiri kagum bukan main. Anak ini tidak mengecewakan menjadi cucu buyut Pendekar Super Sakti dan ilmu pedangnya memang hebat bukan main. Hatinya semakin tertarik dan suka kepada Hong Li.

Menghadapi serangan-serangan gadis cilik itu, ia mempergunakan kecepatan gerakannya, tubuhnya melayang-layang dengan ringah dan lembutnya, seperti berubah menjadi sehelai bulu yang bergerak ke sana-sini, selalu luput dari terkaman ujung pedang yang dimainkan Hong Li.

“Anak baik, engkau berjodoh dengan Ang I Lama, marilah ikut dengan pinceng!” tiba-tiba belasan orang anak itu mendengar suara ini yang diikuti oleh bunyi ledakan keras.

Semua anak ketakutan karena tempat itu berubah menjadi lautan asap. Mereka tak dapat melihat, bahkan mereka terpaksa mundur karena asap itu tebal sekali dan menakutkan.

Ketika asap itu perlahan-lahan melayang pergi, anak-anak itu menjadi bingung karena mereka tidak melihat Hong Li dan kakek pendeta jubah merah tadi. Mereka berdua telah lenyap tanpa meninggalkan bekas, seolah-olah ikut terbang pergi bersama asap tebal.






Tentu saja anak-anak ini menjadi ketakutan dan bingung. Mereka berlari-larian pulang sambil menangis melapor kepada orang tua masing-masing tentang peristiwa lenyapnya Kao Hong Li bersama kakek pendeta gundul berjubah merah. Para pelayan keluarga Kao yang mendengar laporan inipun menjadi bingung dan ketakutan. Keadaan menjadi gempar dan semua orang mencari-cari ke mana perginya Hong Li, namun tidak dapat menemukan jejak anak itu yang lenyap seperti berubah menjadi asap.

Keadaan menjadi semakin geger ketika Kao Cin Liong dan Suma Hui pulang dari perjalanan mereka ke seberang sungai untuk membeli rempa-rempa. Dua pekan sekali suami isteri itu memang pergi sendiri membeli barang dagangan. Ketika mereka mendengar akan peristiwa aneh yang mengakibatkan lenyapnya anak tunggal mereka, tentu saja sepasang pendekar ini menjadi terkejut dan marah.

Mereka menggunakan kepandaian mereka untuk melakukan pengejaran dan pencarian. Akan tetapi, sampai semalam suntuk mereka mencari tanpa hasil dan akhirnya, menjelang pagi pada keesokan harinya, dengan lemas mereka pulang ke rumah. Suma Hui menahan tangisnya, akan tetapi kedua matanya merah dan wajahnya membayangkan kedukaan dan kegelisahan yang mendalam. Akan tetapi Kao Cin Liong nampak tenang saja, walaupun tentu saja dia juga merasa bingung dan gelisah.

“Tenangkan hatimu,” katanya kepada isterinya karena dia tidak tega melihat wajah isterinya demikian penuh duka dan kegelisahan. “Setidaknya kita boleh merasa yakin bahwa anak kita masih dalam keadaan selamat. Kalau penjahat atau siapa saja yang menculiknya itu berniat buruk, tentu hal itu sudah dilakukannya, tidak perlu bersusah-susah melarikannya.”

Suma Hui dapat mengerti pendapat ini. Memang, kalau penjahat itu hendak membunuh Hong Li, tidak perlu dibawa pergi. Akan tetapi, siapa yang menculik Hong Li? Dan kenapa? Mereka berdua lalu mendatangi anak-anak yang menyaksikan peristiwa itu dan kagetlah hati mereka ketika mendengar bahwa sebelum Hong Li dan kakek jubah merah itu lenyap berubah menjadi asap, terdengar kakek itu berkata,

“Anak baik, engkau berjodoh dengan Ang I Lama, marilah ikut dengan pinceng!”

Keterangan ini tentu saja amat penting bagi mereka. Jelaslah bahwa pendeta berkepala gundul yang berjubah merah itu adalah Ang I Lama dan dialah yang telah melarikan Hong Li. Kata “berjodoh” yang dipergunakan pendeta itu dapat berarti berjodoh untuk menjadi muridnya, akan tetapi juga untuk maksud yang cabul dan jahat. Mereka berdua tahu betapa banyaknya orang-orang jahat dan keji yang menyembunyikan kejahatannya di balik kedudukan atau pakaian. Betapa banyaknya pencuri-pencuri dan perampok-perampok besar bersembunyi di balik pakaian seorang pembesar, penjahat-penjahat kejibersembunyi di balik pakaian pendeta-pendeta.

“Ang I Lama....?” Suma Hui mengulang nama itu sambil mengepal tinju. “Siapakah dia dan mengapa dia melakukan hal ini kepada keluarga kita?” Ia memandang suaminya dengan harapan suaminya akan mengenal nama itu.

Akan tetapi sejak tadi Kao Cin Liong juga mengerutkan alisnya dan memeras ingatannya, akan tetapi dia merasa tidak pernah mengenal nama itu. Maka, menjawab pertanyaan isterinya, diapun menggeleng kepalanya.

“Aku tidak pernah mengenal nama itu, akan tetapi untung bahwa dia meninggalkan sebuah nama. Karena dia seorang pendeta Lama, maka di mana lagi dia berada kalau bukan di Tibet?”

Tiba-tiba Suma Hui menepuk meja di depannya.
“Brakkk....! Ah, tentu saja!”

“Apa.... maksudmu?” suaminya bertanya sambil memandang penuh perhatian.

Isteri itu memandang suaminya.
“Tentu ada hubungannya dengan Sai-cu Lama! Kita ikut membasmi komplotan Kim Hwa Nio-nio dan Sai-cu Lama dan sekarang muncul seorang pendeta Lama lainnya yang menculik anak kita. Apakah kaupikir tidak ada hubungannya antara kedua orang pendeta Lama itu?”

Suaminya mengangguk-angguk.
“Sangat boleh jadi, akan tetapi kita tidak mengenal. Ang I Lama itu dan tidak tahu di mana dia berada. Kurasa satu-satunya jalan untuk mencarinya adalah ke Tibet. Di sana tentu kita akan memperoleh keterangan jelas di mana adanya Ang I Lama.”

“Memang agaknya hanya itu jalannya dan marilah kita pergi sekarang saja. Aku tidak tahan berdiam di rumah lebih lama lagi memikirkan nasib anak kita....”

Dan kini Suma Hui tak dapat menahan membanjirnya airmata. Melihatini, suaminya lalu mendekatinya dan merangkulnya. Memecah bendungan air mata itu dan Suma Hui menangis tersedu-seda di dada suaminya yang membiarkannya mengangis untuk melampiaskan segala perasaan marah, khawatir dan duka yang sejak malam tadi ditahan-tahannya.

Setelah kedukaan Suma Hui mereda, suami isteri ini lalu cepat-cepat berkemas untuk menyediakan bekal perjalanan mencari anak mereka ke Tibet! Perjalanan yang amat jauh dan makan banyak waktu.

Selagi mereka sibuk, datanglah tamu yang tidak mereka duga-duga. Dua orang tamu datang dan mereka ini bukan lain adalah Suma Ciang Bun dan Gu Hong Beng! melihat adiknya, datang lagi perasaan duka di hati Suma Hui dan iapun menubruk adiknya sambil menangis.

Tentu saja Suma Ciang Bun terkejut sekali melihat ulah encinya. Encinya, setahunya, adalah seorang wanita yang keras hati dan tabah bukan main, lebih tabah dari pada dia sendiri. Kalau sekarang encinya sampai bersedih dan menangis seperti itu, apa lagi melihat betapa sepasang mata encinya sudah bengkak-bengkak bekas banyak tangis, dia khawatir tentu telah terjadi hal yang luar biasa dan hebat sekali.

“Enci Hui, engkau kenapakah? Apa yang telah terjadi sehingga engkau menjadi begini berduka?”

Karena encinya menangis semakin sedih, Suma Ciang Bun mengangkat muka memandang cihunya (kakak iparnya) dengan alis berkerut.
Kao Cin Liong merangkul isterinya dan dengan lembut menarik tubuh isterinya dari Suma Ciang Bun, lalu mengajak duduk.

“Tenanglah dan kebetulan sekali Ciang Bun datang. Mungkin dia dapat membantu.” Mendengar ini, Suma Hui menghentikan tangisnya dan memandang kepada adiknya.

“Hong Li telah diculik orang....!”

Tentu saja Ciang Bun terkejut sekali.
“Ah! Siapa penculiknya dan kapan terjadinya? Bagaimana dia berani melakukan hal itu?”

Kao Cin Liong yang lebih tenang segera memberi keterangan kepada adik iparnya.
“Kemarin sore, ketika kami berdua pergi membeli rempah-rempah di seberang sungai dan Hong Li berada seorang diri di rumah, datang penculik itu. Dia seorang pendeta Lama yang berjuluk Ang I Lama, dan dia menculik Hong Li denganmempergunakanilmu sihir seperti yang kami dengar dari anak-anak yang menemani Hong Li pada waktu itu.”

Lalu dengan singkat namun jelas, Kao Cin Liong menceritakan tentang peristiwa penculikan itu seperti yang didengarrya jari anak-anak.

“Ang I Lama....?” Suma Ciang Bun mengulang nama itu sambil mengerutkan alis.

“Bun-te, apakah engkau mengenal nama jahanam itu?” tanya Suma Hui penuh harapan.

Suma Ciang Bun yang sudah banyak melakukan perantauan itu termenung.
“Seperti pernah kudengar nama itu,akantetapi entah di mana dan kapan. Nama itu jarang muncul di dunia kang-ouw....”

Pada saat itu Kao Cin Liong melihat betapa Gu Hong Beng, murid adik iparnya itu, memandang dengan sinar mata bercahaya.

“Hong Beng, apakah engkau mengenalnya?”

Dia bertanya. Suami isteri ini pernah mengenal Hong Beng, bahkan bersama pemuda ini dan para pendekar lainnya, pernah membantu untuk menghancurkan persekutuan yang meudukung Thai-kam Hou Seng.

“Ang I Lama.... apakah tidak ada hubungannya dengan Sai-cu Lama....?” Hong Beng berkata.

“Akupun berpendapat demikian,” Suma Hui berkata, “akan tetapi, di manakah adanya Ang I Lama dan mengapa dia melakukan hal ini kepada kami?”

“Ahhh....! Sekarang aku ingat, enci Hui!” kata Suma Ciang Bun. “Aku pernah mendengar nama Ang I Lama dan tentu saja ada hubungan antara dia dan Sai-cu Lama, karena Ang I Lama adalah searang di antara para pimpinan pendeta Lama di Tibet. Akan tetapi.... menurut yang pernah kudengar, Ang I Lama termasuk pendeta Lama yang bersih dan tidak sudi melakukan kejahatan, apa lagi menculik keponakanku Hong Li.”

“Siapa tahu hati orang? Mungkin saja dia mendendam atas kematian Sai-cu Lama, karena bukankah mereka sama-sama dari Tibet dan sama-sama pendeta Lama? Mungkin atas dasar dendam itulah, dan mengingat bahwa kami berdua juga membantu usaha menghancurkan persekutuan Sai-cu Lama, maka kini Ang I Lama datang membalas dendam dengan cara yang curang, yaitu menculik dan melarikan anak kami,” kata Suma Hui.

“Benar, akan tetapi kita harus bertindak hati-hati, enci. Hal ini harus diselidiki lebih dulu secara cermat agar jangan sampai enci menuduh orang yang tidak berdosa.”

“Tentu saja. Sekarangpun kami sedang berkemas untuk segera berangkat ke Tibet, melakukan penyelidikan tentang Ang I Lama itu!”

“Perjalanan yang amat jauh dan sukar,” kata Suma Ciang Bun.

“Jangankan baru ke Tibet, biar Ang I Lama melarikan diri ke neraka sekalipun, pasti akan kami kejar sampai dapat!” kata Suma Hui dengan gemas.

“Kalau begitu, biarlah kita membagi tugas,” kata Suma Ciang Bun. “Enci dan cihu mencari ke Tibet, dan aku akan mencari di sekitar sini. Siapa tahu yang namanya Ang I Lama itu masih bersembunyi di dekat dan di sekitar daerah ini. Sedangkan Hong Beng biarlah ke Istana Gurun Pasir untuk melapor.”

“Eh? Ada urusan apa ke sana?”

Kao Cin Lion bertanya sambil memandang heran mendengar bahwa adik iparnya itu hendak menyuruh muridnya mengunjungi tempat kediaman orang tuanya yang jarang dikunjungi orang. Dia sendiri merasa tidak suka kalau ketenangan dan ketenteraman kehidupan ayah ibunya terganggu.

Suma Cang Bun menarik napas panjang.
“Sebenarnya kedatanganku ini untuk melapor kepada cihu tentang perbuatan sumoimu.”

“Sumoiku? Sumoi yang mana?” Cin Liong bertanya heran.

“Bukankah cihu mempunyai seorang sumoi? Murid Sam Kwi yang diambil murid oleh ayah ibumu.”

“Ah, maksudmu gadis yang bernama Can Bi Lan itu? Mengapa ia? Bukankah ia pantas sekali menjadi murid ayah ibuku karena sepak terjangnya menghadapi persekutuan Sai-cu Lama membuat kagum?”

“Ia telah melakukan penyelewengan sekarang! Bayangkan saja, ia membela dan membantu Bi-kwi yang melakukan kecabulan dan membunuhi banyak pemuda. Padahal, Bi-kwi bekerja sama dengan tosu-tosu Pek-lian-kauw dan Pat-kwa-kauw untuk mengeroyokku sehingga nyaris aku tewas di tangan mereka. Bi Lan itu telah mempergunakan pedang pusaka ibumu, Ban-tok-kiam untuk bersekongkol dengan tosu-tosu jahat itu, melakukan kejahatan, dan membela Bi-kwi. Dan dalam hal ini, ia dibantu pula oleh Pendekar Suling Naga yang lihai.”

Mendengar ini, Kao Cin Liong mengerutkan alisnya.
“Hemm, berbahaya sekali kalau begitu. Iamembawa po-kiam (pedang pusaka) dari ibuku, kalau dipergunakan secara keliru, akan merusak nama baik keluarga kami.”

Suma Hui diam saja tidak berani memberi komentar karena menyangkut nama baik keluarga suaminya.

“Sayang kita harus pergi ke Tibet untuk mencari anak kita, kalau tidak tentu kita dapat mencarinya dan meminta kembali pedang pusaka itu,” kata Suma Hui dengan hati-hati karena ia khawatir kalau suaminya akan membatalkan niatnya mencari Hong Li untuk mencari Bi Lan berhubung dengan terancamnya nama baik keluarganya.

“Biarlah seya yang akan pergi menghadap Kaolocianpwe di Istana Gurun Pasir, untuk melaporkan tentang penyelewengan Can Bi Lan dan sekalian mengabarkan tentang diculiknya adik Kao Hong Li oleh Ang I Lama,” kata Hong Beng dengan cepat.

“Ah, kalau begitu baik sekali!” Suma Hui berseru girang, memandang kepada suaminya.

Cin Liong juga mengangguk dan memandang kepada Hong Beng dengan sinar mata berterima kasih. Tak disangkanya bahwa kehidupannya yang selama ini tenang dan tenteram, dalam satu hari saja berubah menjadi keruh, penuh dengan persoalan yang mendatangkan duka dan kekhawatiran.

Biarpun baru pagi hari itu bertemu, mereka terpaksa harus berpisah lagi pada siang harinya karena mereka harus mulai dengan tugas masing-masing. Kao Cin Liong dan Suma Hui berangkat menuju ke Tibet untuk mencari Ang I Lama dan puteri mereka, sedangkan Suma Ciang Bun pergi mencari jejak pendeta Lama yang melarikan keponakannya. Hong Beng sendiri juga berangkat menuju ke utara, untuk berkunjung ke Istana Gurun Pasir menghadap Pendekar Naga Sakti Gurun Pasir dan isterinya. Kedukaan dan kekhawatiran terbayang di wajah mereka, terutama sekali di wajah Kao Cin Liong dan Suma Hui.

Di dalam hati yang selalu mengejar kesenangan, pasti akan sering kali dikunjungi oleh kesusahan. Tidak mungkin merangkul suka tanpa menyentuh duka, karena suka dan duka adalah sama. Sama-sama menjadi ciptaan pikiran sendiri. Yang mengandung suka atau duka bukanlah si peristiwa, melainkan pikiran kita sendiri dalam menanggapi peristiwa yang terjadi.

Kalau kita menghadapi segala macam peristiwa seperti apa adanya tanpa menghendaki lain, tanpa menjangkau kesenangan atau mengelak kesusahan, maka yang ada hanyalah kewajaran yang tidak mendatangkan duka apapun. Seperti orang menghadapi panas terik matahari, tanpa mengeluh kita lalu mempergunakan akal budi untuk berteduh, dan seperti orang menghadapi malam gelap dan dingin, kita pun tidak mengeluh melainkan mempergunakan kebijaksana untuk membuat penerangan di dalam gelap dan mempergunakan sarana untuk berlindung dari kedinginan. Tanpa susah atau senang dan kalau sudah begitu, di dalam kegelapan maupun kepanasan malam dan siang kita dapat melihat keindahan di luar penilaian.

**** 132 ****
Suling Naga