Ads

Selasa, 02 Februari 2016

Suling Naga Jilid 133

Kao Hong Li membuka kedua matanya dan ia merasa seperti dalam mimpi. Ia terbangun dan tidak menggerakkan badan terlebih dahulu. Setelah membuka kedua matanya, anak yang cerdik ini memutar otaknya,mengingat-ingat. Ia lalu teringat akan peristiwa aneh yang dialaminya.

Mula-mula yang teringat olehnya adalah ketika ia bermain silat pedang di antara kawan-kawannya, di dalam kebun, disambut pujian para kawannya. Lalu munculnya kakek gundul berjubah merah yang lalu melawannya. Tiba-tiba terdengar ledakan itu, dan nampak asap tebal, dan tubuhnya melayang-layang di antara asap yang membuat ia merasa seperti terbang di angkasa, di antara awan-awan. Lalu iapun lemas tak ingat apa-apa lagi. Ia diculik!

Ingatan inimengejutkannya. Ia telah dilarikan oleh kakek aneh itu! Kini Hong Li, masih belum menggerakkan tubuhnya, mulai memperhatikan keadaan sekelilingnya. Ia rebah terlentang di atas sebuah dipan kayu yang keras dan kasar dan dipan itu terletak di sudut ruangan ini. Sebuak kamar dari empat dinding yang berlumut dan kotor, dengan daun pintu rusak terbuka di sebelah kanan. Tidak kecil juga tidak berdaun di sebelah kanan.

Tidak nampak ada orang di situ, hanya ia sendiri saja di atas dipan. Ia telah dilarikan oleh kakek itu ke sini, pikirnya. Entah di mana ini. Kakek yang aneh dan sakti itu tidak ada.

Inilah kesempatan baik baginya untuk melarikan diri. Hong Li mulai menggerakkan kaki tangannya. Lega rasa hatinya karena kaki tangannya dapat digerakkan dengan mudah dan ketika ia bangkit duduk, kepalanyapun tidak terasa pening. Ia dalam sehat.

Dicarinya pedangnya. Tidak nampak di situ. Ia lalu dengan hati-hati turun dari pembaringan itu, perlahan-lahan agar jangan mengeluarkan suara, lalu berindap-indap melangkah menuju ke pintu yang daunnya terbuka lebar karena memang sudah bobrok itu. Agaknya di luar, senja telah mendatang, namun matahari masih meninggalkan sisa cahayanya sehelum dia menghilang sama sekali. Dengan hati-hati Hong Li mengintai ke luar. Tidak ada orang. Dan di luar sana nampak pohon-pohon lebat. Sebuah hutan! Ia berada di dalam sebuah rumah tua, agaknya bekas kuil, di dalam sebuah hutanlebat. Iaharus cepat melarikan diri!

Akan tetapi, tiba-tiba terdengar suara orang, suara yang halus dan sudah pernah didengar, suara Ang I Lama yang menculiknya!

“Aha, anak baik, engkau sudah bangun?”

Hong Li cepat membalikkan tubuhnya dan ternyata kakek itu berada di dalam kamar itu!
Pada hal tadi tidak nampak seorangpun di situ. Ah, tentu kakek ini telah mempergunakan ilmu sihirnya pula, pikirnya. Hong Li menjadi marah dan ia meraba-raba pinggangnya, lupa bahwa tadi sia-sia saja ia mencari pedangnya, pedang barunya yang indah.






“Aha, mencari pedangmu? Inilah pedangmu, terimalah!”

Dia mengeluarkan sebatang pedang dari balik jubah merahnya dan menyerahkan kepada Hong Li. Gadis cilik itu cepat menyambar pedangnya, pedang barunya, lalu mengambil sikap untuk menyerang.

“Anak baik, untuk apa engkau mencari pedangmu?”

“Untuk membunuhmu, kakek jahat!” bentak Hong Li dan iapun menggerakkan pedangnya, menyerang dengan marah dan dengan pengerahan seluruh tenaganya.

“Ha-ha, pedang itu tidak ada gunanya, sudah kukatakan ini kepadamu. Lihat, kauboleh tusuk perutku ini, aku takkan menangkis atau mengelak.”

Hong Li menerjang maju, menggerakkan pedangnya untuk menusuk ke arah perut. Ia melihat kakek itu berdiri tegak saja, membiarkan perutnya ditusuk! Ketika ujung pedangnya hampir menyentuh jubah merah, Hong Li menahan tenaganya dan bahkan menghentikan tusukannya. Tidak bisa ia menusuk begitu saja perut orang yang tidak melawan! Tidak mungkin ia melakukan pembunuhan dengan hati dingin seperti itu.

“Oho, kenapa tidak kau lanjutkan tusukanmu?” kakek itu tertawa.

“Lawanlah, jangan diam saja!” bentak Hong Li.

Kakek itu terbelalak, memandang heran, lalu tertawa.
“Ha-ha, keturunan keluarga Pulau Es dan Gurun Pasir memang aneh luar biasa. Nah, aku melawan sekarang, hendak kutangkap kepalamu dan akan kubuktikan betapa pedangmu itu tidak ada gunanya!“

Kakek itu kini menggerakkan kedua tangannya, hendak mencengkeram kepala Hong Li dari kanan kiri. Melihat ini, gadis cilik itu menyuruk ke depan, mendahului dengan tusukan pedangnya ke arah perut. Kini ia tidak ragu-ragu lagi menusuk karena bukankah musuh menyerangnya dengan hebat pula. Kalau ia tidak mendahului, tentu kepalanya akan remuk oleh kedua tangan yang kuat itu.

“Wuuutt.... krekkk....!”

Kao Hong Li terkejut bukan main. Pedangnya telah menusuk perut, akan tetapi rasanya seperti menusuk segumpal baja saja dan pedangnya kini patah-patah menjadi tiga potong!

Ia membuang gagangnya dan memandang kakek itu dengan mata terbelalak, dan melihat betapa kakek itu tersenyum-senyum dan memandang sambil mengejek, ia marah sekali dan dengan nekat kini ia menyerang dengan kedua tangannya yang terkepal.

“Heh-heh-heh, engkau setan cilik yang nakal!”

Dan kini Hong Li mengalami hal yang membuatnya semakin terkejut dan heran. Tubuhnya terhalang sesuatu yang tidak nampak, seolah-olah ada tenaga yang menahannya dari depan sehingga gerakannya terhalang dan ia tidak dapat mendekati kakek itu! Betapa kuatnya ia menerjang, selalu ia bertemu dengan tenaga itu dan tubuhnya bahkan terdorong ke belakang. Setelah beberapa kali mencoba dan tidak berhasil, akhirnya Hong Li berdiri diam dan hanya menatap kakek itu dengan sinar mata tajam dan penuh kemarahan. Ia tahu bahwa kakek itu sakti sekali dan ia tidak berdaya, namun Hong Li tidak merasa takut sedikitpun juga.

“Kakek jahat, engkau pengecut besar!” tiba-tiba ia membentak.

Kakek itu yang sedang tersenyum, tiba-tiba menghentikan senyumnya dan memandang kepadanya dengan alis berkerut dan ada kemarahan membayang pada mata yang tajam mencorong itu.

“Hemm. setan cilik, kenapa engkau berani memaki aku pengecut besar?”

“Kalau engkau bukan pengecut, tentu engkau tidak akan memusuhi aku, seorang anak kecil! Kalau engkau memang gagah dan memiliki kepandaian, tentu engkau akan menantang ayahku atau ibuku, bukan menculik dan melarikan diriku. Beranimu hanya mengganggu anak kecil, akan tetapi terhadap ayah dan ibuku, engkau melarikan diri sampai terkencing-kencing. Huh, pengecut besar tak tahu malu!”

Akan tetapi kini kakek itu tertawa bergelak.
“Haha-ha, dan engkau setan cilik amat gagah berani, sungguh mengagumkan sekali. Engkau memang berjodoh dengan pinceng, anak baik. Namamu Kao Hong Li, bukan? Heh-heh, dan aku bernama Ang I Lama. Engkau lihat sendiri, kepandaianku setinggi langit dan engkau beruntung sekali dapat ikut bersamaku!"

“Huh, kepandaianmu tidak ada artinya kalau engkau berani melawan ayah dan ibuku!”

Hong Li berseru mengejek, pada hal di dalam hatinya ia meragu apakah ayah dan ibunya akan mampu menandingi kakek yang selain lihai ilmu silatnya, juga lihai ilmu sihirnya ini.

Menurut penuturan ibunya, kakek buyutnya yang bernama Suma Han berjuluk Pendekar Super Sakti atau Pendekar Siluman, selain sakti juga memiliki ilmu sihir yang amat hebat. Juga nenek Teng Siang In, isteri dari paman kakeknya yang bernama Suma Kian Bu dijuluki Pendekar Siluman Kecil, memiliki juga kekuatan sihir. Sayang ibunya sendiri tidak pernah mempelajari ilmu sihir dan hanya ahli dalam hal ilmu pawang ular yang pernah ia pelajari sedikit itu.

Karena kakek itu hanya tertawa saja dan tidak menjawab, Hong Li lalu bertanya, suaranya masih terdengar ketus akan tetapi sedikitpun ia tidak memperlihatkan perasaan takut,

“Kakek jahat, engkau bernama Ang I Lama, seorang pendeta yang mestinya melakukan kebaikan di dunia ini. Akan tetapi kenapa engkau menculik aku tanpa sebab?”

“Ha-ha, sebabnya karena aku suka kepadamu, Kao Hong Li. Engkau akan menjadi muridku dan menemani hidupku yang sunyi.”

“Hemm, kakek jahat, ke mana engkau hendak membawaku?”

Hong Li mulai merasa ngeri, membayangkan bahwa ia selanjutnya harus hidup bersama kakek mengerikan ini.

“Ke mana lagi kalau tidak ke Tibet?”

“Tidak, aku tidak mau!” kata Hong Li. “Biar engkau akan membunuhku sekalipun, aku tidak sudi menjadi muridmu, tidak sudi ikut bersamamu!”

Setelah berkata demikian, Hong Li lalu meloncat keluar dari ruangan itu melalui pintu yang terbuka. Ia bermaksud melarikan diri dengan nekat.

Akan tetapi, tiba-tiba terdengar suara kakek itu berkata di depannya,
“Hong Li, aku di sini!”

Dan tahu-tahu kakek itu telah menghadang di depannya. Hong Li menengok dan dengan mata terbelalak melihat bahwa kakek tadi masih berada di dalam ruangan itu.

Bagaimana mungkin kakek itu berubah menjadi dua orang? Ia lalu memutar tubuh ke kiri untuk melarikan diri melalui lorong di depan kamar, akan tetapi kembali terdengar suara kakek itu.

“Hong Li, aku berada di sini!” Dan di depannya kembali sudah menghadang kakek itu.

Ketika ia menengok, ternyata kakek yang berada di dalam kamar maupun yang pertama kali menghadangnya masih berada di tempat masing-masing. Dengan demikian, kini ada dua orang kakek yang sama! Ia memutar tubuh lagi dan kembali melihat munculnya seorang kakek lain yang sama sehingga sebentar saja ia sudah dikepung oleh banyak orang kakek yang sama!

Hong Li dapat menduga bahwa ini tentu permainan sihir, maka dengan nekat ia menerjang ke depan.

“Ha-ha-ha, anak keras kepala berhati baja. Engkau memang nakal!”

Dan tiba-tiba Hong Li merasa banyak tangan menangkapnya sehingga ia tidak mampu bergerak lagi. Kemudian, kakek itu mengikat kaki tangannya dengan ikat pinggang, lalu memondong tubuhnya dan melemparkannya pula ke atas dipan yang tadi dan sama sekali tidak mampu bergerak karena ikatan kaki tangannya itu kuat sekali. Dan kini ia melihat bahwa kakek yang tadinya banyak itu kembali menjadi seorang saja.

Kakek itu berdiri di dekat dipan, menyeringai.
“Heh-heh, bagaimana, anak nakal. Apakah engkau sekarang sudah menyerah dan mau ikut bersamaku dengan suka rela?”

“Tidak sudi!” Hong Li membentak, masih galak walaupun kaki tangannya tidak mampu bergerak lagi.

“Engkau memilih mati?”

“Ya! Aku tidak takut mati!” kata Hong Li dengan gagah. Kakek itu memandang kepada Hong Li dengan sinar mata-penuh kagum.

“Bagaimana kalau sebelum mati kusiksa dulu? Engkau berani menghadapi siksaan?”

“Tak perlu cerewet lagi! Mau bunuh, mau siksa, terserah, akan tetapi aku tidak sudi menyerah!”

“Huh, bocah tak tahu disayang! Biar kuberi engkau waktu semalam lagi untuk berpikir panjang. Besok aku datang lagi dan kalau engkau tetap menolak, aku akan menyiksamu sampai engkau merasa menyesal telah dilahirkan di dunia ini!” Setelah berkata demikian, sekali berkelebat kakek itupun lenyap dari situ.

Hong Li rebah seorang diri dan setelah kakek itu pergi, barulah ia merasa ngeri membayangkan betapa ia akan disiksa sampai mati pada besok hari kalau ia tidak mau menyerah. Tidak, ia harus dapat melarikan diri, pikirnya. Ia tidak sudi menyerah, juga tidak ingin mati konyol.

Mulailah ia berusaha menggerakkan kaki tangannya untuk melepaskan ikatan, namun sia-sia saja. Ikatan itu terlalu kuat sehingga kedua kaki tangannya sama sekali tidak mampu berkutik. Ia teringat kepada ayah ibunya dan tak terasa lagi, dua titik air mata membasahi pelupuk matanya. Sekarang, setelah ditinggalkan kakek itu, ia mulai merasa ketakutan.

Keringat dingin membasahi seluruh tubuhnya kalau ia membayangkan siksaan yang tak dapat ia perkirakan. Kakek itu terlalu kejam, terlalu jahat. Entah siksaan apa yang akan diterimanya. Kalau ia dibunuh seketika, hal itu tidak ditakutinya, akan tetapi kalau ia disiksa perlahan-lahan, sungguh hal ini amat menakutkan. Akan tetapi menyerah menjadi murid kakek itu? Tidak, ia tidak sudi! Kakek itu terlalu jahat. Dan kalau ia menolak, ia akan di siksa sampai mati. Tidak, ia belum ingin mati, tidak mau mengalami derita siksaan.

Suling Naga