Ads

Selasa, 02 Februari 2016

Suling Naga Jilid 138

Hong Li terkejut dan kini ia menoleh dan memandang kepada subonya. Wanita cantik itu nampaknya gembira sekali, sepasang matanya berseri mengikuti gerakan lima orang di bawah sana.

“Apa yang subo maksudkan?” tanyanya dengan heran.

“Mereka itu mencari mati karena melakukan pelanggaran daerah kita,” jawab pula gurunya dengan sikap masih gembira dan acuh terhadap pertanyaanpertanyaan muridnya.

“Tapi.... tapi mengapa, subo? Mengapa Subo membiarkan saja mereka melanggar wilayah kita dan memasuki daerah berbahaya itu?”

Kini Sin-kiam Mo-li menoleh kepada muridnya.
“Hemn aku tidak menyuruh mereka melakukan pelanggaran, bukan? Kalau sampai mereka mampus, itu adalah salah mereka sendiri!”

Sejenak Hong Li tidak mampu membantah. Memang tak dapat disalahkan kalau gurunya membiarkan saja lima orang itu memasuki daerah berbahaya dan menghadapi kematian mereka, akan tetapi, mengapa gurunya demikian kejam membiarkan lima orang menghadapi kematian tanpa mencegahnya?

“Subo, kalau begitu biarlah aku yang akan memberi tahu mereka agar mereka mundur dan tidak melanjutkan perjalanan mereka memasuki daerah ini. Mungkin mereka tidak tahu bahwa daerah ini berbahaya,” katanya pula.

Tiba-tiba gurunya tertawa.
“Hemm, Hong Li engkau tidak tahu. Apa kaukira mereka itu tidak tahu? Mereka sengaja memasuki daerah kita karena mereka hendak mencari aku.”

“Eh? Jadi subo mengenal mereka? Mau apa mereka mencari subo?”

“Mereka hendak membunuhku.”

Sepasang mata Hong Li terbelalak kiranya ada permusuhan di antara lima orang itu dan subonya. Pantas subonya membiarkan saja mereka menghadapi bahaya. Akan tetapi ia masih merasa penasaran sekali.

“Subo, kenapa mereka hendak membunuh subo? Dan siapakah sesungguhnya mereka itu?”






“Beberapa pekan yang lalu, seorang teman mereka memasuki daerah ini, mungkin dengan niat jahat, dan tewas di pasir maut. Kematiannya itu adalah kesalahannya sendiri, akan tetapi teman-temannya agaknya kini datang hendak menuntut balas atas kematian kawan mereka. Mereka adalah orang-orang dari perkumpulan Cin-sa-pang (Perkumpulan Sungai Cin Sa), orang-orang sombong tak tahu diri sehingga berani menantangku.” Di dalam suara wanita cantik ini terkandung kemarahan. “Biar mereka tahu rasa sekarang agar tidak memandang rendah kepadaku.”

Hong Li memandang lagi dan melihat betapa dengan cekatan lima orang itu kini berloncatan dan masuk semakin dalam di antara pohon-pohon.

“Gerakan mereka lincah dan cekatan. Bagaimana kalau mereka sampai di rumah subo?”

“Tidak begitu mudah. Tiga orang pelayanku sudah siap menyambut mereka. Lihat!”

Hong Li memandang dan benar saja, ia melihat tiga bayangan orang berlari turun setelah keluar dari dalam rumah mungil. Jaraknya terlalu jauh untuk dapat melihat wajah mereka, akan tetapi melihat baju mereka itu, yang seorang merah, seorang putih dan seorang hitam, iapun tahu bahwa mereka itu adalah Ang Nio, Pek Nio dan Hek Nio. Baru sekarang ia melihat betapa tiga orang pelayan itu berloncatan dengan amat cepatnya.

Memang ia sudah menduga bahwa mereka sebagai pelayan-pelayan subonya agaknya pandai pula ilmu silat, akan tetapi tidak disangkanya mereka akan dapat bergerak secepat itu. Dan kini terjadilah tontonan yang memang menegangkan dan mendebarkan hati Hong Li.

Dari tempat yang tinggi itu, ia dapat melihat dengan jelas apa yang terjadi di sana. Mula-mula Ang Nio yang lebih dulu bertemu dengan seorang di antara lima orang penyerbu itu. Tepat di tengah-tengah setelah orang itu mampu naik sampai ke bagian tengah daerah yang penuh pohon-pohon itu, agaknya bingung dan berputar-putar di sekitar tempat itu.

Hong Li tidak tahu apa yang mereka bicarakan, akan tetapi keiihatan betapa laki-laki itu yang lebih dulu menyerang Ang Nio dengan gerakan yang cepat. Dan ia melihat betapa Ang Nio mengelak dan balas menyerang, tak kalah cepatnya gerakan pelayan itu. Ia melihat betapa dua orang itu berkelahi dengan gerakan-gerakan cepat dan kini laki-laki itu mengeluarkan senjata sebatang golok besar. Ang Nio juga mengeluarkan sebatang pedang tipis dan perkelahian menjadi semakin seru dan menegangkan hati Hong Li.

Biarpun ia tidak tahu secara jelas urusannya, akan tetapi mendengar penuturan subonya tadi, tentu saja ia berpihak kepada Ang Nio. Dianggapnya bahwa pria yang menyerbu itu memang tak tahu diri, berani melanggar daerah orang lain, bahkan iapun tadi melihat betapa pria itu yang lebih dulu menyerang Ang Nio.

Perkelahian itu tidak berlangsung lama ketika dari tempat Hong Li menonton, terdengar laki-laki itu berteriak dan tubuhnya roboh. Perkelahian itu paling lama hanya berlangsung tigapuluh jurus dan pedang di tangan Ang Nio telah menembus dada lawannya yang roboh dan tewas. Sementara itu, di bagian lain juga terjadi perkelahian antara Pek Nio melawan seorang penyerbu. Juga di sebelah kiri, nampak Hek Nio melayani seorang penyerbu lain.

Hong Li memandang dengan hati berdebar. Agaknya, baik Pek Nio maupun Hek Nio, dapat mengatasi perkelahian itu dan dengan pedang di tangan, mereka mendesak lawan masing-masing yang bersenjata golok. Seperti juga tadi, kurang lebih tigapuluh jurus kemudian, lawan mereka itu roboh oleh pedang mereka.

Dari tempat yang cukup jauh itu Hong Li tidak melihat darah mengalir, akan tetapi ia melihat betapa tiga orang telah roboh dan tewas. Kini tinggal dua orang lagi yang secara kebetulan dapat saling bertemu di bawah sebatang pohon besar. Mereka bicara dan menuding ke sana-sini, ke kanan kiri, agaknya saling menceritakan bahwa mereka berdua menjadi bingung dan tidak tahu jalan mana yang akan dapat membawa mereka ke rumah kecil mungil yang tadi nampak dari kaki gunung.

Tiba-tiba mereka terkejut dan membalikkan tubuh. Tiga orang wanita pelayan itu, masing-masing menyeret tubuh seorang lawan yang sudah mati, muncul dari balik pohon dan berada di depan mereka! Tentu saja dua orang laki-laki itu menjadi terkejut setengah mati melihat betapa tiga orang kawan mereka tahu-tahu telah menjadi mayat diseret oleh tiga orang wanita cantik itu. Agaknya merekapun tahu bahwa mereka berada dalam keadaan berbahaya sekali. Tiga orang kawan mereka sudah tewas oleh tiga orang wanita ini, dan tentu mereka seperti menyerahkan nyawa saja kalau melawan. Tanpa dikomando lagi, dua orang itu membalikkan tubuh melarikan diri turun gunung.

“Hik-hik!” Hong Li mendengar suara subonya terkekeh. “Mereka kira akan dapat lolos begitu saja? Bodoh!”

Hong Li memandang kepada dua orang itu yang melarikan diri cerai berai karena lorong itu sempit dan banyak sekali cabang-cabangnya. Ia yang sudah mempelajari rahasia lorong itu segera tahu bahwa mereka berdua mngambil jalan yang keliru! Mereka bukan menuju turun gunung, melainkan akan terputar-putar saja melalui tempat-tempat yang amat berbahaya. Tentu mereka berdua itu akhirnya akan terperangkap di tempat berbahaya, tak mungkin lolos seperti kata-kata subonya tadi, pikirnya.

Dugaannya memang tepat karena tak lama kemudian terdengar seorang di antara mereka mengeluarkan teriakan mengerikan, walaupun hanya terdengar lapat-lapat dari tempat Hong Li berdiri itu. Ia cepat memandang dan Hong Li mengerutkan alis, jantungnya berdebar tegang penuh kengerian. Kiranya seorang di antara dua laki-laki yang melarikan diri tadi, kini salah langkah menginjak padang rumput dan segera tubuhnya tersedot karena di bawah rumput yang hijau subur dan indah itu terdapat lumpur yang dapat menyedot mahluk yang bergerak, dan yang terjatuh ke tempat itu. Dan walaupun dari tempat ia menonton tidak nampak, Hong Li tahu bahwa tentu nampak di permukaan padang rumput itu ekor-ekor ular yang seperti belut, yang tentu kini sudah mengeroyok orang yang terjatuh ke situ.

Teriakan-teriakan itu masih susul-menyusul, kemudian sunyi dan padang rumput itu sudah nampak hijau dan indah kembali. Orang itu sudah tenggelam dan kalau digali, agaknya hanya akan ditemukan tulang rangkanya saja! Hong Li bergidik. Ia sudah melihat kedahsyatan tempat itu ketika ia mempelajari tempat itu dan rahasianya, diberi petunjuk oleh tiga orang pelayan, dan Ang Nio melempar seekor kelenci ke tempat itu. Ia melihat betapa kelenci itu yang bergerak mencoba untuk lari, disedot semakin dalam dan iapun melihat pula ekor-ekor ular tersembul ketika mereka memperebutkan kelenci yang disedot ke bawah dan lenyap!

Kini Hong Li yang wajahnya menjadi agak pucat karena merasa ngeri, mengikuti larinya orang ke dua dengan pandang matanya. Jantungnya berdebar penuh ketegangan. Ia merasa kasihan kepada orang itu dan diam diam ia mengharapkan agar orang terakhir itu akan berhasil menyelamatkan diri turun gunung. Kalau saja saat itu ia berada di bawah dan dekat dengan orang itu, tentu, tanpa ragu-ragu lagi ia aksn meneriakkan petunjuk agar orang itu dapat menemukan jalan yang benar dan dapat meninggalkan tempat itu dengan selamat.

Dengan jantung berdebar penuh kekhawatiran dan ketegangan, Hong Li memandang ke arah orang terakhir yang tersaruk-saruk mencari jalan keluar itu. Terdengar pula suara gurunya menahan ketawa. Mau tak mau Hong Li merasa tak senang dan melirik.
Dilihatnya betapa wajah cantik gurunya itu tampak berseri, matanya penuh kegembiraan mengikuti gerakan orang terakhir itu dan tiba-tiba Hong Li merasa ngeri. Sikap gurunya ini tiada bedanya sikap seekor kucing yang menanti dan melihat seekor tikus yang sudah tersudut! Iapun kembali menujukan pandang matanya ke bawah.

Orang yang berlari-larian itu kini tubuhnya sudah penuh keringat karena beberapa kali dia menghapus keringat dari muka dan lehernya, memandang ke kanan kiri mencari jalan keluar, lalu lari lagi setelah memilih satu di antara lorong yang bercabang-cabang itu.

“Jangan ke sana....!”

Tiba-tiba Hong Li berseru, akan tetapi seruannya tentu saja tidak terdengar orang itu. Dan orang itupun sudah sampai di tempat yang amat berbahaya itu.

Tak lama kemudian, orang itu sudah mengeluarkan suara jeritan menyayat hati dan tubuhnya sudah tenggelam sampai ke pinggang di pasir maut! Pasir maut itu adalah sebuah kolam pasir, akan tetapi pasir itu dapat berputar dan menyedot seperti lumpur tadi. Pasirnya licin dan mudah bergerak, sedangkan kolam itu dalam sekali. Sedikit saja orang yang terjatuh ke situ bergerak, maka tubuhnya akan tenggelam semakin dalam!
Hong Li merayap turun melalui tihang-tihang yang menyangga menara itu, tihang-tihang bambu yang besar.

“Hong Li, hendak ke mana engkau?” Gurunya menegur heran.

“Subo, aku harus menolong orang itu!” kata Hong Li dan ia merasa heran bahwa gurunya diam saja, tidak menghalangi dan juga tidak menegurnya lagi. Ia terus merayap turun dan setelah tiba setengah lebih tinggi menara itu, iapun berani meloncat turun, kemudian ia lari menuju ke tempat oarang itu tenggelam di pasir maut.

“Diam, jangan bergerak sedikitpun!” Hong Li berseru setelah tiba di tepi kolam. “Aku akan menolongmu, jangan bergerak sedikitpun. Makin engkau bergerak, tubuhmu akan semakin tenggelam!”

Laki-laki itu berusia empatpuluh tahun lebih. Setelah dekat, kini Hong Li melihat betapa wajah itu kasar dan buruk, sepasang matanya liar akan tetapi pada saat itu, dia berada dalam keadaan putus asa dan ketakutan. Melihat munculnya seorang gadis cilik yang usianya baru belasan tahun di tepi kolam dan mendengar bahwa gadis itu akan menolongnya, laki-laki itu memandang dengan penuh harapan.

“Tolonglah aku.... ah, selamatkanlah aku....”

Suaranya lirih dan gemetar penuh rasa takut. Ngeri dia membayangkan kematian di depan matanya, kematian yang mengerikan. Ketika tadi dia menginjak pasir, kakinya terjeblos sebatas lutut. Dia berusaha untuk mengangkat kakinya, akan tetapi semakin dia berusaha, semakin dalam tubuhnya tenggelam sampai kini dia tenggelam sebatas dada, hanya kedua lengannya saja yang mampu bergerak.

Begitu mendengar peringatan Hong Li, diapun tidak berani bergerak dan benar saja. Setelah dia tidak bergerak sama sekali, tubuhnya berhenti tenggelam semakin dalam. Akan tetapi, napasnya sesak dan tubuhnya dari dada ke bawah yang tertanam di pasir itu terasa panas bukan main.

“Tenanglah dan jangan bergerak,” kata pula Hong Li. Ia lalu melepaskan ikat pinggangnya yang panjang, hanya meninggalkan sedikit saja secukupnya untuk mengikat celananya dan mempergunakan ikat pinggang itu untuk menyelamatkan orang itu. Ujung ikat pinggang itu diganduli sebuah batu dan dilemparnya ke arah orang yang tenggelam.

“Tangkap ujung ikat pinggang ini dan jangan bergerak, biar aku yang akan menarikmu keluar! Ingat, jangan bergerak agar tubuhmu tidak tenggelam semakin dalam!”

Orang itu menangkap ujung ikat pinggang, akan tetapi karena dia terlalu bergairah untuk segera dapat keluar, dia menarik ikat pinggang itu dan tubuhnya bergerak maka tubuh itu segera tersedot semakin dalam sampai ke leher!

Suling Naga