Ads

Kamis, 04 Februari 2016

Suling Naga Jilid 143

Sim Houw dan Bi Lan telah tiba di daerah Tembok Besar. Bi Lan telah bersikap biasa kembali, merupakan seorang gadis yang bagi Sim Houw sukar untuk dijajaki isi hatinya.

Kadang-kadang Sim Houw seperti melihat dengan jelas bahwa gadis itu membalas perasaan hatinya, membalas cintanya. Ada kemesraan hangat dalam senyum dan pandang matanya, namun Sim Houw membantah sendiri kenyataan ini. Tak mungkin, katanya.

Bagaimana mungkin seorang gadis remaja seperti Bi Lan, yang usianya tidak akan lebih dari delapanbelas atau sembilanbelas tahun, jatuh cinta kepada dia yang sudah menjelang tua? Usianya sudah hampir tigapuluh lima tahun! Bi Lan tentu memandang dia sebagai seorang sahabat baik, bahkan mungkin sebagai seorang kakak yang melindunginya!

Kalau dia mempunyai pikiran yang bukan-bukan, bagaimana nanti pendapat Bi Lan?
Bukankah dia scakan-akan menjadi pagar makan tanaman, seorang pelindung yang hendak mengganggu gadis yang dilindunginya? Tidak, dia tidak akan melakukan hal itu, sampai matipun tidak! Kecuali kalau memang Bi Lan cinta padanya, akan tetapi, tak mungkin hal itu terjadi.

Kedukaan kadang-kadang melanda hati Sim Houw, akan tetapi hanya sebentar karena melihat kelincahan dan kegembirian Bi Lan yang jenaka, lenyaplah kedukaannya.

Bagaimanapun juga, melakukan perjalanan bersama gadis itu, pahit maupun manis mengalami bersama Bi Lan, merupakan kebahagiaan yang menghapus segala duka dan keprihatinan hatinya. Dia tidak akan memikirkan hal lain, takkan memikirkan hal yang belum terjadi, apa akan jadinya kelak. Yang penting, sekarang Bi Lan berada di sampingnya selalu dan itu sudah cukup baginya!

Musim salju lewat baru saja dan mereka memasuki bulan musim semi. Biarpun pemandangan amat indah dan bunga-bunga sudah mulai ada yang berkembang, namun musim salju masih meninggalkan hawa dingin menyusup tulang. Seringkali, walaupun sudah mengenakan pakaian tebal dan sudah mengerahkan sin-kang untuk melawan hawa dingin, tetap saja Bi Lan merengek kedinginan sehingga terpaksa Sim Houw yang merasa kasihan menghentikan perjalanan untuk membuat api unggun, biarpun pada tengah hari.

Karena itu perjalanan menjadi amat lambat dan baru setelah mereka tiba di daerah Tembok Besar, hawa tidak begitu dingin seperti ketika mereka melalui puncak-puncak pegunungan yang tinggi. Berkali-kali Bi Lan berhenti untuk menikmati pemandangan yang amat ajaib. Tembok Besar itu nampak seperti seekor naga, memanjang dari barat ke timur seperti tiada habisnya. Nampak indah dan kokoh kuat.






Setelah hari menjadi malam baru mereka mencapai Tembok Besar dan hawa kembali menjadi amat dinginnya di malam hari itu. Mereka berlindung di bawah tembok dan Sim Houw segera membuat api unggun, memanggang bekal makanan yang terdiri dari roti kering dan daging kering. Setelah makan dan minum secara sederhana, mereka lalu duduk beristirahat di dekat api unggun.

“Begini sunyi....“ kata Bi Lan dan tubuhnya agak menggigil, bukan karena kedinginan lagi karena api unggun itu bernyala dengan indahnya, melainkan merasa ngeri juga. Ia berada di dalam alam yang begitu luasnya hanya bersama Sim Houw, seolah-olah mereka berdua sajalah manusia-manusia yang hidup di dunia ini.

Sunyi dan kadang-kadang terdengar suara-suara binatang yang aneh-aneh, yang belum pernah didengar sebelumnya. Ketika terdengar bunyi lolong yang mengerikan dan panjang berkali-kali, seperti saling sahut dari sebelah kanan dan kiri, Bi Lan berbisik.

“Toako.... suara apakah itu?”

Sim Houw menatap wajah yang cantik kemerahan di bawah sinar api unggun itu sambil tersenyum.

“Itulah suara serigala-serigala yang berkeliaran di daerah ini, Lan-moi.”

“Serigala? Aku pernah mendengar namanya akan tetapi belum pernah melihatnya.”

“Seperti seekor anjing biasa, tidak berapa besar, namun dia adalah anjing liar yang buas. Lebih kuat dan tangkas dari pada anjing biasa karena sejak lahir berada di dalam alam bebas yang mempunyai hukum rimba, sudah biasa dengan perkelahian mati-matian, baik untuk membela diri maupun untuk mencari makan.”

Bi Lan menarik napas lega.
“Suaranya demikian mengerikan, ternyata hanya seperti seekor anjing biasa, sama sekali tidak berbahaya.”

Kembali Sim Houw tersenyum dan suaranya terdengar lembut, bukan untuk menakut-nakuti ketika dia memperingatkan,

“Moi-moi, biarpun serigala hanya merupakan seekor anjing biasa, namun dia jauh lebih berbahaya dari pada anjing. Selain kuat dan tangkas, yang paling berbahaya adalah karena dia licik dan cerdik, juga biasanya hanya menyerbu dengan gerombolan yang cukup banyak. Karena itu, binatang lain yang lebih besar dan kuat, takut menghadapi serigala. Bahkan harimaupun akan lari menjauhkan diri, takut dikeroyok.”

Bi Lan terbelalak dan kembali ia menoleh ke kanan kiri dengan sikap ketakutan. Hal ini menggelikan hati Sim Houw dan diapun berkata,

“Lan-moi, kalau serigala-serigala itu mengenalmu, tentu mereka yang akan menggigil ketakutan.”

“Aku ngeri membayangkan kelicikan mereka. Mereka itu seperti segerembolan orang jahat yang curang dan licik, yang beraninya hanya melakukan pengeroyokan.”

“Memang, dan di dunia kang-ouw, orang-orang macam itu memang ada yang disebut sebagai gerombolan serigala.”

Tiba-tiba suara lolong serigala itu berubah menjadi suara menyalak-nyalak dan menggonggong yang riuh, seolah-olah ada banyak anjing yang marah-marah dan menggonggong secara berbareng, tidak seperti tadi, melolong saling saut. Mendengar ini, Sim Houw mengerutkan alisnya. Sebagai keturunan ahli-ahli pemburu binatang buas diapun dapat menduga apa artinya suara riuh rendah itu.

“Celaka, mereka telah menyerbu sesuatu. Mari kita lihat!” kata Sim Houw.

“Ih, untuk apa melihat? Paling-paling mereka itu mengeroyok seekor binatang buas yang lebih besar.”

“Siapa tahu? Aku khawatir kalau-kalau mereka itu mengeroyok manusia yang perlu kita tolong. Lihat, bulan sudah muncul dan cuaca tidak begitu gelap. Kita dapat mencari ke arah suara hiruk-pikuk itu.”

“Mana ada manusia di tempat seperti ini, toako?”

“Engkau tidak tahu. Biarpun jarang, kadang-kadang ada saja rombongan saudagar yang berlalu-lalang di sini, yaitu mereka yang membawa barang dagangan keluar dan masuk Tembok Besar. Marilah.”

Mereka lalu menggendong buntalan pakaian mereka dan memadamkan api unggun.
Dengan Sim Houw berada di depan dan Bi Lan di belakangnya, mereka lalu berloncatan dengan hati-hati, menuju ke arah suara hiruk-pikuk yang terdengar di sebelah timur.

Mereka menyusuri sepanjang Tembok Besar karena suara ribut-ribut itu terdengar di sebelah dalam tembok, bukan di luar.

Akhirnya, setelah mendengar betapa suara gonggongan serigala itu kini bercampur dengan suara menguik dan ketakutan sehingga Sim Houw menduga tentu binatang-binatang itu mengeroyok seekor binatang lain yang kuat, mereka tiba di tempat terbuka, di kaki tembok. Masih nampak ada api unggun kecil menyala di dekat kaki tembok, dan tak jauh dari situ, di atas rumput yang kuning dan baru bersemi setelah layu selama berbulan-bulan karena musim salju, nampak seorang laki-laki sedang dikepung dan dikeroyok oleh gerombolan anjing serigala yang jumlahnya tidak kurang dari duapuluh ekor! Melihat betapa di sekitar tempat itu terdapat bangkai-bangkai serigala berserakan, dapat diketahui bahwa pengeroyok itu tadinya jauh lebih banyak lagi!

Bi Lan hendak meloncat untuk membantu, akan tetapi Sim Houw memegang lengannya.

“Sssttt.... lihat betapa gagahnya dia. Dia tidak membutuhkan bantuan....”

Bi Lan memandang dan iapun menjadi kagum. Laki-laki itu bertubuh tinggi tegap, berdiri kokoh, kuat di atas tanah, lengan kanan ditekuk dengan tangan di bawah pinggang, jari-jari tangan terbuka dan terlentang, lengan kiri diangkat dengan tangan di depan dada, juga terbuka, kedua kaki terpentang lebar ke kanan kiri, sedikitpun tidak bergerak walaupun serigala-serigala itu mengepungnya sambil menyalak-nyalak dan meringis memperlihatkan taring-taring yang runcing dan memandang dengan mata yang merah beringas dan buas.

Tiba-tiba dua ekor serigala menubruk dari belakang sambil mengeluarkan suara gerengan dahsyat. “Licik....!” Bi Lan memaki lirih.

“Bukk! Desss!”

Laki-laki itu memutar tubuh seolah-olah di belakang kepalanya ada matanya yang melihat gerakan dua ekor binatang itu, kakinya menendang dan tangannya menyambar. Robohlah dua ekor binatang itu, berkelojotan dan berkuik-kuik seperti anjing-anjing kena gebuk.

“Bagus....!” Bi Lan memuji.
“Kau melihat gerakan itu? Dia murid Siauw-lim-pai atau setidaknya menguasai ilmu silat Siauw-lim-pai,” kata Sim Houw, juga kagum.

Laki-laki yang tak dapat dilihat jelas mukanya karena cuaca tidak cukup terang itu memang gagah sekali. Sedikitpun dia tidak nampak gugup, tenang-tenang saja dia menanti serigala-serigala yang mengepungnya menyerang dari berbagai arah. Namun, setiap kali ada serigala yang menerjangnya, tentu disambut pukulan tangan miring atau tendangan dan sekali pukul atau satu kali tendang saja sudah cukup untuk membuat seekor serigala roboh dan tidak mampu bangun kembali.

Serigala-serigala itu agaknya tidak menjadi jera, mereka ini menerjang dari empat penjuru. Laki-laki itu nampak menggerakkan tubuh ke sana-sini sambil menendang dan menampar dan kini ada delapan ekor serigala yang terpelanting ke sana-sini. Barulah sisa gerombolan itu menjadi jerih, mereka mengeluarkan suara seperti menangis dan mundur-mundur, lalu melarikan diri sambil melolong-lolong, seolah-olah merasa kecewa dan menangisi kesialan mereka malam itu.

Laki-laki itu tidak mengejar, sejenak berdiri tegak memandang ke sekeliling. Tidak kurang dari limabelas ekor anjing serigala yang berserakan menjadi bangkai di sekitar tempat itu, ada pula yang masih berkelojotan lemah. Laki-laki itu lalu melompat dan memanjat naik ke atas tembok sambil menatap bulan yang sudah naik agak tinggi di timur.

Sim Houw dan Bi Lan hanya memandang dengan kagum. Betapa gagahnya laki-laki itu, seperti sebuah patung seorang pendekar yang gagah perkasa berdiri di tempat sunyi itu, diterangi sinar bulan. Tiba-tiba laki-laki itu bicara dengan suara nyaring, kata-katanya jelas dan satu-satu, teratur seperti sajak.

“Melihat kejam dan buasnya serigala
mengganggu dan membunuh orang tak berdosa
kenapa tidak turun tangan dan membasminya?

Penjajah lebih kejam dari pada serigala
mencekik dan menindas rakyat jelata
mengapa orang-orang gagah
tidak bangkit dan mengusirnya?”

Mendengar ucapan itu, Sim Houw dan Bi Lan merasa disindir. Jangan-jangan laki-laki itu memang sengaja menyindir mereka! Memang selama ini Sim Houw mendengar akan adanya orang-orang gagah, terutama dari Siauw-lim-pai, yang mengadakan gerakan, bangkit menentang pemerintah penjajah yang mereka namakan “berjuang untuk kemerdekaan rakyat”.

Tentu saja pihak pemerintah menganggapnya sebagai pemberontakan-pemberontakan kecil dan semua gerakan itu ditindas oleh pasukan besar sehingga sampai demikian jauh, belum ada gerakan yang berhasil. Mereka berdua, Sim Houw dan Bi Lan, tidak pernah mencampuri urusan itu. Dan kalau baru-baru ini mereka membantu para pendekar untuk membasmi komplotan Sai-cu Lama yang menjadi kaki tangan pembesar lalim Hou Seng, maka hal itu mereka lakukan tanpa ada hubungannya sama sekali dengan pemerintahan, melainkan semata-mata karena mereka memusuhi komplotan jahat itu.

Selagi Bi Lan hendak keluar dari tempat persembunyiannya, tiba-tiba Sim Houw memegang lengannya dan memberi tanda agar gadis itu tidak bergerak, kemudian dia menuding ke depan. Bi Lan mengikuti arah yang ditunjuk dan kini iapun dapat melihat bergeraknya beberapa bayangan orang ke arah tembok. Kemudian, nampak lima sosok tubuh yang bergerak dengan gesitnya, berloncatan ke atas tembok besar itu dan di tangan mereka nampak pula senjata tajam berkilauan tertimpa sinar bukan. Akan tetapi bukan itu saja, masih nampak bayangan banyak orang di bawah tembok. Sim Houw dan Bi Lan mengintai dan memandang dengan hati tertarik.

Suling Naga