Ads

Kamis, 04 Februari 2016

Suling Naga Jilid 144

“Lie Tek San, engkau telah di kepung! Menyerahlah sebelum kami mempergunakan kekerasan!”

Seorang di antara lima penyerbu itu membentak. Di bawah sinar bulan, nampak bahwa lima orang tua berpakaian sebagai perwira-perwira kerajaan, dan tahulah Sim Houw dan Bi Lan bahwa laki-laki itu telah dikepung oleh pasukan pemerintah, entah berapa jumlah mereka. Dan Sim Houw terkejut juga mendengar disebutnya nama Lie Tek San itu.

Dia pernah mendengar bahwa Lie Tek San adalah seorang pendekar gagah perkasa yang melakukan gerakan menentang pemerintahan, menentang penjajah Bangsa Mancu. Dia hanya mendengar bahwa Lie Tek San seorang pendekar dari daerah Hok-kian, seorang tokoh Siauw-lim-pai dan seorang di antara mereka yang dapat lolos ketika pemerintah menyerbu dan membakar kuil Siauw-lim-si. Biarpun dia tidak pernah mencampuri urusan perjuangan menentang pemerintah, namun, diam-diam hatinya sudah merasa kagum terhadap pendekar itu, maka kini dia memandang dengan hati tegang.

Laki-laki tinggi tegap yang disebut Lie Tek San itu kini menghadapi lima orang tadi, sikapnya tenang dan tetap gagah. Sejenak dia memandang mereka, kemudian dia tertawa.

”Ha-ha-ha-ha, kalian minta aku menyerah? Dengarlah, Lie Tek San telah bersumpah untuk menentang-kaum penjajah, melepaskan bangsaku dari cengkeraman kuku penjajah Mancu dan kalian minta aku menyerah? Ha-ha-ha!”

Pemimpin rombongan itu membentak,
”Lie Tek San, berbulan-bulan kami mencarimu. Engkau pemberontak hina, kami harus menangkapmu, hidup atau mati, dan menyeretmu untuk dihadapkan pada pengadilan yang akan menghukum seorang pemberontak hina!”.

Sambil bertolak pinggang, Lie Tek San menjawab, suaranya lantang dan ini saja membuktikan bahwa dia memiliki tenaga khi-kang yang kuat.

“Mendengar suaramu, engkau tentu seorang Han. Akan tetapi engkau merendahkan diri menghamba pada penjajah Mancu! Apakah sudah tidak ada lagi darah Han mengalir di dalam tubuhmu? Apakah engkau tidak melihat betapa bangsa kita diinjak-injak selama berpuluh-puluh tahun oleh orang-orang Mancu? Ingat baik-baik. Bangsa kita adalah bangsa yang besar, dengan jumlah yang amat banyak. Menurut sejarah, karena Bangsa Han dipimpin oleh orang-orang yang hanya mengejar kesenangan, dan karena perpecahan antara bangsa sendiri, maka bangsa kita yang besar sampai dapat ditundukkan dan dikuasai, dijajah oleh Bangsa Mancu, suku bangsa yang jumlahnya kecil itu, suku bangsa yang biadab dan terbelakang.






Ratusan juta Bangsa Han yang mendiami tanah air yang amat luas dapat diperhamba oleh sekelompok orang Mancu sampai seratus tahun lebih! Mengapa bisa demikian? Tak lain karena adanya anjing-anjing penjilat macam engkau inilah yang sudah membantu penjajah Mancu untuk menginjak-injak bangsa sendiri. Tidak malukah engkau kepada nenek moyangmu dan anak cucumu kelak yang akan mengutuk dan memaki-maki namamu?” Suara Lie Tek San penuh semangat dan kemarahan.

Sim Houw dan Bi Lan yang mencuri dengar, merasa betapa bulu tengkuknya meremang, merasa seolah-olah ucapan itu ditujukan kepada mereka,

“Lie Tek San pemberontak hina! Engkau melawan pemerintah yang sah!” Si kumis tebal yang menjadi pemimpin pasukan itu, membentak marah.

“Pemerintah penjajah Mancu kau bilang sah? Siapa yang mengesahkan? Anjing-anjing penjilat macam kau? Tak tahu malu!”

“Tangkap pemberontak ini!”

Si kumis tebal berteriak dan mereka berlima sudah mengurung orang tinggi besar yang gagah itu dengan golok besar ditangan. Mereka mengurung dengan membentuk ngoeng-tin (barisan lima unsur), dengan rapi dan dengan gerakan ringan mereka mengepung dan siap menyerang, menutup semua jalan keluar.

Melihat gerakan dan barisan ini, Lie Tek San berseru nyaring, suaraya penuh teguran dan ejekan.

“Kiranya kalian ini yang terkenal dengan julukan Huang-ho Ngo-liong (Lima Naga Sungai Huang-ho), bukan? Kalian adalah tokoh-tokoh Bu-tong-pai, orang-orang Han aseli yang telah merendahkan diri menjadi anjing-anjing penjilat para penjajah Mancu, menjijikkan sekali! Kalian hanya mengotorkan nama Bu-tong-pai yang besar!”

Lima orang itu memang benar Huang-ho Ngo-liong yang namanya terkenal sekali di sepanjang lembah Huang-ho dan mereka adalah murid-murid Bu-tong-pai yang berilmu tinggi. Mendengar makian itu, mereka menjadi semakin marah.

“Lie Tek San manusia sombong, pemberontak hina! Bu tong-pai tidak ada hubungan apapun dengan kedudukan kami sebagai perwira, dan Bu-tong-pai juga bukan pemberontak macam Siauw-lim-pai!”

Si kumis tebal itu menggerakkan goloknya menyerang, diikuti oleh empat orang pembantunya yan semua masih terhitung sute (adik seperguruan) sendiri.

Laki-laki tinggi besar yang baru saja membasmi serigala-serigala yang menyerbunya dengan kedua tangan kosong, kini menghadapi lima orang itu dengan tangan kosong pula. Dengan geseran-geseran kaki yang kokoh kuat dan cepat, tokoh Siauw-lim-pai ini mengelak dan membalas serangan dengan pukulan dan tendangan kaki. Akan tetapi, lima orang itu dapat bergerak saling bantu dengan rapi sekali merupakan barisan lima orang yang saling melindungi dan saling memperkuat serangan.

Karena maklum bahwa lima orang pengeroyoknya ini sama sekali tidak boleh disamakan dengan segerombolan serigala yang menyerang dengan buas tanpa perhitungan hanya mengandalkan kecepatan dan kekuatan, melainkan merupakan pengeroyok-pengeroyok yang lihai dan berbahaya, Lie Tek San lalu mainkan Ilmu Silat Kong-jiu-jip-pek-to (Dengan Tangan Kosong Memasuki Barisan Seratus Golok). Tubuhnya bergerak dengan amat gesitnya, menyelinap di antara sambar sinar golok dan berusaha untuk masuk ke dalam barisan dan mematahkan lingkaran yang saling melindungi itu.

Namun, lima orang murid Bu-tong-pai itu ternyata lihai bukan main dan betapapun kuatnya Lie Tek berusaha mengacaukan rangkaian lima batang golok itu, usahanya selalu gagal dan barisan lima golok itu menjadi semakin kuat dan berbahaya saja. Berapa kali hampir saja tubuh pendekar Siauw-lim-pai itu tercium golok kalau saja dia tidak cepat melempar diri dan beberapa kali dia harus bergulingan. Akhirnya Lie Tek San meloncat sambil menggekkan tangan dan nampak sinar berkilauan ketika ia sudah mencabut senjatanya, yaitu sebatang pedang panjang.

Terdengar suara berdencingan nyaring ketika pedang itu bergerak menangkisi golok-golok yang datang bagaikan hujan. Nampak bunga api berpijar menyilaukan mata dan kini perkelahian menjadi semakin seru terjadi di atas tembok yang lebar itu.

Si kumis tebal mengeluarkan aba-aba dan kini pasukan yang tadinya hanya mengepung dan menonton, mulai memperketat kepungan, bahkan banyak yang sudah naik ke atas tembok dan menggunakan bermacam senjata mereka, ada tombak, golok atau pedang, untuk mengeroyok Lie Tek San.

Pendekar Siauw-lim-pai itu mengamuk dengan pedangnya. Namun, jumlah pengeroyok terlalu banyak. Pasukan itu terdiri lebih dari limapuluh orang, merupakan pasukan istimewa yang bertugas mengadakan pembersihan di perbatasan. Akan tetapi yang membuat Lie Tek San terdesak adalah Ngo-heng-tin yang dilakukan oleh Huang-ho Ngo-liong itu. Barisan lima orang ini ganas sekali, setelah kini dibantu oleh pasukan, gerakan mereka menjadi semakin tangkas dan kuat sehingga dua kali Lie Tek San tercium ujung golok pada pundak dan pahanya sehingga dua bagian tubuh itu terobek kulit dagingnya dan berdarah. Akan tetapi, biarpun dia telah terluka, Lie Tek San masih mengamuk terus dan sedikitnya sudah ada sepuluh orang anggauta pasukan yang roboh oleh pedangnya.

Sementara itu, Sim Houw dan Bi Lan sejak ia nonton perkelahian itu dengan hati tegang. Sejak tadi, mereka berdua mengadakan perundingan sambil mata mereka tak pernah meninggalkan perkelahian itu.

“Tidak semestinya kita mencampuri urusan perjuangan atau pemberontakan,” kata Sim Houw yang maklum betapa hati Bi Lan condong untuk membantu Lie Tek San. “Sangat tidak enak kalau sampai dicap pemberontak dan menjadi orang buruan pemerintah. Kehidupan kita tidak akan leluasa lagi.”

“Tapi.... betapa mungkin kita memeluk tangan saja melihat orang sedemikian gagahnya terbunuh? Lihat, dia mulai terdesak, terlalu banyak lawan dan terlalu banyak darah keluar dari luka pahanya itu.” Bi Lan berkata.

Sim Houw tak dapat menjawab. Bagaimanapun juga, semua ucapan Lie Tek San yang penuh semangat tadi telah membakar hatinya dan menyentuh perasaan halusnya. Dia dapat melihat kebenaran dalam ucapan itu. Memang, Bangsa Han kini dijajah dan dipermainkan oleh orang-orang Mancu yang sesungguhnya adalah bangsa biadab yang datang jauh dari utara, dari luar Tembok Besar. Andaikata semua orang Han seperti Lie Tek San ini sikapnya dan bangkit, akan bisa apakah orang-orang Mancu itu? Perbandingan rakyat mereka mungkin satu lawan seratus. Sayangnya, banyak di antara orang Han yang mabok kesenangan dan kemuliaan, tidak segan-segan untuk membantu orang-orang Mancu, memperkuat pemerintah penjajah.

“Sim-ko, lihat.... dia terluka lagi. Apakah kita harus membiarkan seorang gagah terbunuh begitu saja oleh gerombolan anjing itu?”

Sim Houw melihat betapa tubuh Lie Tek San terhuyung karena sebatang tombak di tangan seorang perajurit telah mengenai punggungnya. Dia masih mampu melindungi punggung itu dengan sin-kang, namun mata tombak itu sudah terlanjur melukainya dan masuk setengah jari dalamnya. Dia membalik dan dengan tendangan kilat dia merobohkan perajurit itu, mencabut tombaknya dan melontarkan tombak itu ke depan, menyerang si kumis tebal.

“Tranggg....!”

Si kumis tebal menangkis dan tombak itu melesat ke samping, mengenai dada seorang perajurit sehingga perajurit itupun roboh berkelojotan!

“Mari kita bantu dia!”

Akhirnya Sim Houw mengambil keputusan sedangkan Bi Lan yang sejak tadi sudah merasa gatal tangan akan tetapi belum mau mencampuri perkelahian sebelum Sim Houw menyetujuinya, begitu mendengar ucapan ini langsung saja meloncat ke depan dan melayang naik ke atas Tembok Besar. Karena ia maklum betapa lihainya Huang-ho Ngo-liong (Lima Naga Sungai Huang-ho) yang mengeroyok Lie Tek San, sambil meloncat Bi Lan sudah mencabut pedang Ban-tok-kiam dan iapun mengamuk. Begitu pedangnya berkelebat, empat lima batang senjata para pengeroyok patah-patah dan kakinya yang terayun ke kanan kiri merobohkan empat lima orang pengeroyok. Kemudian Bi Lan menyerbu lima orang pemimpin pasukan yang mulai mendesak Lie Tek San dengan hebatnya.

“Lan-moi, jangan bunuh orang!”

Sim Houw masih mengingatkan Bi Lan dan gadis inipun ingat bahwa ia memegang Ban-tok-kiam dan tidak boleh sembarangan membunuh orang. Dan iapun naik ke situ bukan untuk membunuh orang. Ia tidak pernah bermusuhan dengan anak buah pasukan itu ataupun lima orang perwira yang mengeroyok Lie Tek San. Ia naik hanya untuk menyelamatkan pendekar Siauw-lim-pai yang gagah perkasa itu.

“Larikan dia, toako, biar aku yang menahan mereka!” teriaknya dan pedangnya diputar menyerang lima orang itu.

Huang-ho Ngo-liong terkejut sekali melihat munculnya seorang gadis yang memutar sebatang pedang yang mengandung hawa yang mengerikan, apa lagi melihat betapa dengan mudahnya gadis itu merobohkan beberapa orang perajurit. Juga kemunculan gadis ini disusul munculnya seorang laki-laki yang dengan tangan kosong merampasi senjata para perajurit, dan merobohkan banyak perajurit hanya dengan dorongan tangan yang nampaknya tidak menyentuh lawan! Mereka lalu bersatu menyambut gadis berpedang yang menyerang mereka.

Terdengar bunyi nyaring dan lima orang itu terkejut bukan main. Dua batang golok di antara mereka patah menjadi dua, sedangkan tiga yang lain merasa betapa telapak tangan mereka panas seperti dibakar oleh gagang golok mereka sendiri! Ketika mereka meloncat ke belakang, Sim Houw lalu meloncat ke depan, menyambar tangan Lie Tek San yang masih terhuyung dan agaknya nanar karena luka-lukanya.

“Lie-enghiong, mari kita pergi saja!”

Sim Houw menariknya dan membantunya meloncat turun dari tembok. Lie Tek San maklum bahwa dalam keadaan luka-luka itu, melanjutkan perkelahian berarti bunuh diri. Kini muncul dua orang yang menolongnya, maka diapun tidak banyak cakap, lalu membiarkan dirinya ditarik dan diajak lari oleh laki-laki tampan yang tangannya lembut namun mengandung tenaga besar itu.Sementara itu, Bi Lan memutar pedangnya melindungi dari belakang. Huang-ho Ngo-liong berteriak memberi aba-aba dan mereka sendiripun lalu melakukan pengejaran, namun sinar pedang Ban-tok-kiam membuat mereka bergidik dan gentar. Sementara itu, Lie Tek San yang melihat betapa gadis itu memutar pedang yang mengandung sinar menyilaukan dan hawa yang mengerikan, terkejut dan kagum bukan main.

Akhirnya lima orang Huang-ho Ngo-liong tidak melanjutkan pengejarannya karena selain mereka sendiri jerih menghadapi pedang di tangan Bi Lan, juga anak buah mereka sudah merasa gentar dan hanya melakukan pengejaran dari jauh dengan ragu-ragu saja.

Sementara itu, malam telah tiba dan cuaca menjadi gelap.
“Sebaiknya kita berhenti dulu untuk mengobati luka-lukamu, Lie-enghiong,” kata Sim Houw ketika mereka melihat bahwa pasukan itu tidak mengejar lagi dan mereka sudah tiba agak jauh dari tempat itu di kaki sebuah bukit.

Suling Naga