Ads

Senin, 08 Februari 2016

Suling Naga Jilid 153

Dengan hati -berat oleh kegelisahan dan kedukaan, suami isteri pendekar Kao Cin Liong dan Suma Hui terpaksa meninggalkan Tibet dan daerah Himalaya.

Mereka telah gagal menemukan puteri mereka walaupun mereka telah berhasil menjumpai pertapa yang berjuluk Ang I Lama. Mereka masih menggunakan waktu berbulan-bulan untuk melakukan pencarian di daerah itu, namun tak pernah dapat menemukan jejak puteri mereka. Jejak satu-satunya hanyalah bahwa puteri mereka diculik oleh seorang berjuluk Ang I Lama dan ternyata kakek pertapa itu tidak menyembunyikan puteri mereka! Ke mana lagi mereka harus mencari?

Akhirnya Kao Cin Liong berhasil membujuk isterinya yang kini menjadi kurus dan pucat karena selalu merasa gelisah dan berduka memikirkan puteri mereka yang hilang untuk pulang saja ke Pao-teng.

“Jelas bahwa tidak ada jejaknya di barat ini,” katanya kepada isterinya. “Sebaiknya kita pulang saja karena siapa tahu kalau adik Suma Ciang Bun dapat menemukan jejak di sana.”

Merekapun melakukan perjalanan pulang ke Pao-teng dengan hati berat. Mereka merasa lelah lahir batin ketika mereka tiba kembali di rumah mereka, dan kedukaan mereka ditambah lagi oleh kekecewaan karena Suma Ciang Bun yang sudah lama menanti mereka di situ mengabarkan bahwa diapun gagal dalam penyelidikannya.

“Aku telah melakukan penyelidikan ke delapan penjuru berpusat dari Pao-teng, akan tetapi tidak seorangpun pernah melihat kakek berjubah merah membawa seorang anak perempuan tigabelas tahun. Agaknya, penculik itu dapat membawa Hong Li keluar dari Pao-teng dan pergi jauh tanpa ada yang melihatnya. Orang itu tentu lihai sekali.” Suma Ciang Bun menerangkan ketika begitu tiba di rumah dan bertemu dengannya encinya, Suma Hui, mengajukan pertanyaan padanya. “Dan bagaimana dengan hasil penyelidikan kalian?”

Suma Hui lemas tak mampu bercerita, dan Kao Cin Liong yang menceritakan kepada adik isterinya itu tentang kegagalan mereka menemukan Hong Li jauh di daerah Himalaya dan Tibet sana. Suma Ciang Bun ikut merasa kecewa dan berduka, dia mengepal tinju.

“Keparat manakah yang telah berani melakukan penculikan ini? Aku hanya menanti kembalinya Hong Beng dari Gurun Pasir, dan aku akan mengajaknya untuk mencari lagi, entah ke mana.”

“Muridmu itu belum kembali?” Suma Hui ikut bicara. “Kenapa demikian lamanya? Jangan-jangan dia tidak berhasi menemukan Istana Gurun Pasir.”






“Tidak mungkin. Sebelum berangkat sudah kuberi gambaran yang jelas tentang letak tempat itu dan jalan mana yang harus diambil untuk dapat mencapainya dengan mudah,” kata Kao Cin Liong.

“Kalau begitu, aku khawatir kalau terjadi sesuatu dengannya,” kata Suma Ciang Bun.

“Sudah terlalu lama aku menanti kalian kembali di sini, dan sekarang, aku akan menyusul Hong Beng dan bersama dia mencari keponakanku itu sampai dapat.”

Suami isteri itu tidak mencegah, bahkan mereka tidak mampu mengeluarkan pendapat.
Dalam keadaan gelisah dan duka, mereka seperti kehabisan akal, tidak tahu apa yang harus mereka perbuat. Tidak tahu harus ke mana mencari puteri mereka, kepada siapa harus bertanya atau minta bantuan.Dalam keadaan duka dan putus asa, orang berada dalam keadaan kosong atau bening.

Sayang bahwa keheningan itu merupakan keheningan di luar sadar, keheningan sebagai akibat terseret oleh duka, keheningan yang lumpuh. Pada hal, justeru kita amat membutuhkan keheningan, karena dari sumber atau dasar keheningan dan kekosongan inilah kita dapat memandang dengan penuh kewaspadaan! Batin kita tidak pernah mengendap, tidak pernah kosong dan hening, selalu penuh dengan prasangka, pendapat dari keinginan.

Karena itu, panca indera kita tidak pernah bekerja dengan sempurna dan hidup, melainkan hanya bergerak karena dorongan batin yang sarat oleh beban itulah. Kalau batin sudah berprasangka, mana mungkin pandang mata kita dapat memandang dengan waspada dan awas? Semua panca indera kehilangan kepekaannya karena selalu diselubungi oleh prasangka, pendapat, atau keinginan. Kita tidak lagi melihat kenyataan apa yang ada, melainkan selalu ingin melihat sesuatu seperti yang kita kehendaki, yang kita inginkan sehingga segala kenyataan, kalau tidak cocok dengan keinginan kita, nampak buruk, bahkan amat mengganggu mata.

Demikian pula dengan pendengaran, penciuman, perasaan dan semua alat tubuh yang sudah menjadi budak dari pada nafsu kita. Hilanglah semua ketajaman dan kepekaan yang pernah kita miliki ketika kita masih kanak-kanak, ketika pikiran kita belum sarat oleh beban, ketika “aku” kita belum membesar dan merajalela menguasai seluruh diri lahir batin.

Lihatlah mata orang yang baru saja bangun tidur, ketika pikirannya masih mengendap, akan nampak sinar mata yang bening dan cemerlang. Namun, begitu batinnya disibukkan kembali oleh isi pikiran yang bermacam-macam, lenyap pula keheningan mata, kembali menjadi muram dan hampa, hanya dipermainkan suka duka, puas kecewa. Hanya melihat benda-benda yang disuka atau tidak disuka, mendengarkan dengan dasar senang dan benci, mata seolah-olah menjadi buta dan tidak pernah melihat segala sesuatu seperti keadaan yang sebenarnya, seperti apa adanya.!

Ada pula orang yang ingin mempertajam kembali panca indera, melahirkan kembali kepekaannya dengan jalan membius diri dengan candu dan obat-obat pembius lainnya.
Memang, untuk sesaat baban akan menjadi kosong dan bebas, dan panca indera akan bebas pula sehingga kita akan dapat menikmati keadaan apa adanya, akan nampak betapa indahnya setangkai bunga, sehelai daun, sekelompok awan, atau wajah seorang manusia, indah tanpa batasan antara bagus dan jelek, indah yang bukan berarti bagus.

Telinga akan menangkap suara-suara yang luar biasa indahnya, bukan bagus melainkan seperti apa adanya dengan segala nada dan iramanya, dengan segala gaungnya, gemanya, antara kosong dan isi dari serangkaian suara itu. Akan tetapi, semua itu hanya ditimbulkan oleh keadaan kosong atau hening yang dipaksakan, yang timbul karena pembiusan! Bagaikan orang minum anggur, baru menjilat percikannya saja. Dan akibatnya, orang akan menjadi kecanduan, orang akan selalu lari kembali kepada obat bius untuk dapat memasuki alam yang indah itu lagi! Dan kalau sudah begitu, maka hal itu menjadi kesenangan dan seperti biasanya, untuk mengejar kesenangan orang rela berkorban apapun juga, dalam hal ini, mengorbankan tubuhnya yang menjadi rusak oleh pengaruh obat bius.

Dapatkah kita memasuki keindahan itu tanpa bantuan obat bius? Pertanyaan ini berarti, dapatkah kita membersihkan semua debu yang mengotorkan batin kita? Dapatkah kita membuang semua beban pikiran kita? Dapatkah kita membiarkan pikiran hening dan kosong tanpa mengisinya dengan segala kesibukan yang bukan lain adalah si aku yang ingin segala itu? Dapat atau tidaknya, mari kita MENGAMATI saja. Mengamati diri sendiri, pikiran sendiri, batin sendiri. Kita amati tanpa menentangnya, tanpa berusaha menenangkan atau mengosongkannya, karena kalau ada usaha mengosongkannya, berarti TIDAK KOSONG.

Kalau kita berusaha membuatnya hening, itu berarti bahwa batin kita tidak hening lagi karena terisi kesibukan INGIN HENING. Dapatkah kita mengamati saja, tanpa pro dan kontra, seperti nonton sandiwara yang terjadi di dalam pikiran kita, tanpa komentar? Yang ada hanyalah pengamatan, bukan “aku” yang mengamati, karena kalau aku yang mengamati, tentu karena aku ingin batin ini hening, aku ingin begini dan begitu. Jadi, yang ada hanya pengamatan, yang ada hanya kewaspadaan.

Kao Cin Liong dan isterinya adalah orang-orang gagah perkasa, pendekar-pendekar budiman, namun mereka juga manusia-manusia biasa dengan segala kelemahannya.
Mereka tak dapat menghindarkan diri dari pada ikatan, dan ikatan dengan puteri merakalah yang membuat mereka kehilangan akal, membuat mereka berduka sekali ketika puteri mereka itu dipisahkan dari mereka. Mereka kehilangan akal, tak sedap makan tak nyenyak tidur, selalu gelisah dan akhirnya keduanya bersepakat untuk meninggalkan rumah lagi, pergi mengunjungi Suma Ceng Liong di dusun Hong-cun, di luar kota Cin-an.

Kepergian mereka mengunjungi Suma Ceng Liong itu, selain untuk menghibur diri, juga untuk mengabarkan tentang kehilangan puteri mereka agar Suma Ceng Liong yang memiliki ilmu kepandaian tinggi itu dapat membantu mereka mencari Hong Li, atau setidaknya minta pendapatnya.

Gu Hong Beng melakukan perjalanan seorang diri dengan cepat. Dia telah meninggalkan gurun pasir dan kini tiba di luar sebuah dusun yang letaknya di sebelah utara Tembok Besar. Tidak jauh dari tembok itu karena tadi, ketika dia menuruni sebuah bukit, dia telah melihat tembok itu melingkar-lingkar seperti seekor naga di antara pegunungan di selatan.

Melihat sebuah dusun yang berada di tempat terpencil ini, hati Hong Beng tertarik sekali. Siapa tahu dia bisa mendapatkan arak atau makanan di dalam dusun itu, pikirnya. Setiap hari makan bekal makanannya, yaitu roti kering dan daging kering, amat menjemukan. Juga dia ingin sekali minum arak setelah berpekan-pekan hanya minum air saja.

Selagi dia hendak memasuki dusun itu melalui pintu gerbangnya yang rusak tiba-tiba dia mendengar teriakan suara wanita. Hong Beng melihat seorang laki-laki berbangsa Mongol sedang memondong tubuh seorang gadis Mongol dan agaknya gadis inilah yang tadi mengeluarkan teriakan. Hanya teriakan pendek karena kini gadis itu tak dapat berteriak lagi. Sebuah tangan pemondongnya menutup mulutnya dan biarpun gadis itu meronta-ronta, namun sama sekali ia tidak mampu melepaskan diri dari pelukan laki-laki yang bertubuh besar itu, bagaikan seekor kijang dicengkeram seekor harimau yang buas.

Orang Mongol itu lari keluar dari dusun, langkahnya lebar dan agaknya dia telah menculik gadis itu tanpa ada yang mengetahuinya. Biarpun Hong Beng tidak tahu apa yang telah terjadi, namun melihat seorang gadis dilarikan seorang pria secara paksa, jiwa pendekarnya bergolak dan diapun cepat meloncat dan menghadang.

“Berhenti!” bentaknya dalam Bahasa Mongol yang sudah dipelajarinya dengan baik.

Orang Mongol itu memandang dengan mata merah dan beringas, apa lagi ketika dia melihat bahwa yang menghadangnya adalah seorang pemuda Bangsa Han, bangsa yang dianggapnya sebagai musuh besar semenjak bangsanya kehilangan kekuasaannya di selatan, setelah penjajah Mongol berakhir.

“Keparat orang Han, minggir dan jangan mencampuri urusanku!” bentaknya dalam Bahasa Han yang cukup baik!

Memang, Bangsa Mongol banyak yang pandai berbanasa Han, hal ini tidak mengherankan kalau diingat bahwa mereka menjajah Tiongkok selama duaratus tahun!

“Lepaskan gadis itu! Tidak pantas seorang laki-laki memaksa seorang gadis yang lemah!” kata pula Hong Beng sambil mengamati orang Mongol itu.

Seorang pemuda yang usianya sekitar tigapuluh tahun, memiliki tubuh raksasa yang membayangkan kekuatan raksasa pula. Otot-otot menonjol keluar dan mengembang di bawah kulit yang kemerahan karena terbakar matahari. Dadanya bidang dan kedua lengannya yang berotot itu nampak mengandung tenaga luar biasa. Hal ini mudah dilihat karena pemuda Mongol itu telah menanggalkan baju atasnya yang kini diikatkan di pinggangnya. Tubuhnya yang kokoh kuat itu penuh dengan keringat yang membuat kulit tubuhnya mengkilat.

Wajahnya membayangkan kekerasan hati dan keberanian, namun matanya yang agak kemerahan itu memandang beringas dan liar, dan ada sesuatu yang tidak wajar pada pandang matanya itu.

Karena marah menghadapi Hong Beng, pemuda Mongol itu lupa akan gadis yang berada dalam pondongannya dan menjadi lengah. Tangannya yang menutup mulut gadis itu mengendur dan kesempatan ini dipergunakan oleh gadis itu untuk menggigit tangan itu.

“Ughhhh....!”

Orang Mongol itu terkejut dan kesakitan, lalu melemparkan tubuh gadis itu ke atas tanah. Demikian kuat lemparannya sehingga gadis itu terbanting dan bergulingan.

Hong Beng cepat menangkap dan mengangkatnya bangun. Gadis itu sejenak merasa nanar, akan tetapi ketika melihat bahwa ia telah ditolong oleh seorang pemuda Han yang tampan, ia merasa lega dan berbisik.

“Dia.... dia itu gila....“

Setelah berkata demikian, gadis ini lalu melarikan diri secepatnya kembali ke dalam dusun. Hong Beng melihat betapa gadis Mongol itu cantik dan manis sekali, akan tetapi diapun terkejut mendengar bisikan itu. Kiranya orang Mongol seperti raksasa ini adalah seorang yang gila, dan hal ini memperbesar bahaya. Melawan seorang gila amat berbahaya, karena tentu saja seorang gila berada di luar kesadarannya, dapat menjadi kuat bukan main, dan juga nekat dan tidak mengenal takut.

Melihat gadis itu melarikan diri, orang Mongol itu berseru keras dan mengejar, akan tetap Hong Beng sudah melompat di depannya dan menghadang.

“Engkau tidak boleh kejar gadis itu!” kata Hong Beng.

Orang itu berhenti, menatap wajah Hong Beng dengan matanya yang merah lalu mengeluarkan suara gerengan dari kerongkongannya seperti suara binatang buas, kemudian diapun menubruk dengan kedua lengan dipentang lebar, jari-jari tangan terbuka.

Serangan itu datang dengan mendadak dan cepat sekali, akan tetapi Hong Beng sudah siap sejak tadi. Dengan mudah dia mengelak dan menyelinap dari bawah lengan kanan lawannya. Akan tetapi orang itu membalik dan dengan kecepatan luar biasa, kini tangan kirinya menyambar untuk mencengkeram ke arah kepala Hong Beng!

Suling Naga