Ads

Senin, 08 Februari 2016

Suling Naga Jilid 157

Mereka hendak menerjang, akan tetapi beberapa tamparan dan tendangan dari dua orang itu merobohkan mereka. Sim Houw cepat membikin putus belenggu pada kaki tangan Hong Beng. Melihat tubuh Hong Beng lemas, Sim Houw maklum. Yang penting melarikan pemuda ini, pikirnya. Totokan orang Pek-lian-kauw mungkin berbeda dan harus dicari dulu bagaimana untuk membebaskannya.

Maka setelah dua kali mencoba dan gagal membebaskan totokan, dia lalu menyambar tubuh Hong Beng, memanggulnya dan meloncat keluar dari kamar itu, didahului oleh Bi Lan. Sesuai dengan rencana mereka tadi, yang sudah diatur oleh Sim Houw ketika mereka mendekam di atas wuwungan, Bi Lan membuka jalan keluar. Beberapa orang penjaga yang terkejut melihat keluarnya gadis yang tidak dikenal ini, roboh oleh tamparan Bi Lan.

Keadaan menjadi gempar dan para penjaga berteriak-teriak ketika dua orang yang melarikan tawanan itu mengamuk dan merobohkan banyak penjaga. Mendengar teriakan-teriakan ini, para pimpinan tosu cepat mendatangi tempat itu bersama Agakai, akan tetapi dua orang penculik tawanan itu telah menghilang di dalam gelap, meninggalkan belasan orang penjaga yang tadi mereka robohkan.

Tentu saja para tosu Pek-lian-kauw dan Pat-kwa-kauw menjadi marah. Ada orang berani membebaskan tawanan di depan hidung mereka! Hal ini sungguh membuat mereka merasa malu dan penasaran, maka mereka lalu melakukan pencarian dan pengejaran.

Karena Sim Houw juga menyadari betapa lihainya para tosu yang mampu menawan seorang pemuda seperti Hong Beng, maka dia mengajak Bi Lan berlari terus sampai jauh meninggalkan dusun itu dan akhirnya, pada pagi hari, mereka berhenti di bawah Tembok Besar. Begitu berhenti, Sim Houw lalu mencoba beberapa totokan untuk membebaskan Hong Beng dan akhirnya dia berhasil. Hong Beng terbebas dari totokan dan setelah melemaskan otot-ototnya yang menjadi kaku, dia berdiri berhadapan dengan Sim Houw dan Bi Lan. Dia merasa canggung sekali, tidak tahu harus berkata apa. Dia pernah memusuhi kedua orang ini, bahkan sampai sekarangpun masih ada perasaan tidak suka.

Bagaimanapun juga, dia dan gurunya pernah berkelahi melawan mereka ini yang telah membela Bi-kwi. Kenyataan bahwa dia telah dikelabuhi oleh dua orang tosu Pek-lian-kauw dan Pat-kwa-kauw itu belum melenyapkan sama sekali keraguannya dan dia masih menganggap bahwa dua orang ini setidaknya pernah menyeleweng dan membela Bi-kwi yang jahat, hanya karena Bi-kwi adalah suci dari Bi Lan.

“Sim Houw,” katanya kaku, “aku tidak pernah minta pertolongan kalian, akan tetapi biarlah aku mengucapkan terima kasih atas pertolongan kalian ini, walaupun jangan mengira bahwa terima kasih ini sudah melenyapkan ketidak cocokan di antara kita.”






Sejak tadi Bi Lan memang sudah tidak senang diajak oleh Sim Houw menyelamatkan Hong Beng. Kini mendengar ucapan yang dirasakannya amat menyakitkan hati itu, bangkitlah kemarahannya.

Sambil bertolak pinggang dengan tangan kanan, telunjuk kirinya menuding ke arah hidung Hong Beng dan suaranya terdengar lantang dan galak,

“Gu Hong Beng manusia sombong! Siapa sudi menerima terima kasihmu? Ketahuilah, kalau aku akhirnya menyetujui Sim-koko untuk menalongmu, adalah karena aku tidak ingin melihat engkau mampus di sana. Aku ingin menghajarmu dengan kedua kaki tanganku sendiri. Engkau lancang dan banyak mulut, suka mengadu dan melancarkan fitnah, memburuk-burukkan nama kami di depan suhu dan subo di Istana Gurun Pasir!”

Hong Beng mengerutkan alisnya. Tak dapat disangkal lagi, dia mencinta gadis ini. Akan tetapi Bi Lan tidak membalas cintanya, bahkan agaknya gadis itu bermain cinta dengan Sim Houw dan mengejeknya, menghinanya. Di samping rasa cintanya, timbul perasaan penasaran dan juga kemarahan.

Mungkinkah orang mencinta dan sekaligus membenci orang yang sama? Hal ini tidak mungkin sama sekali. Benci timbul dari perasaan tidak suka, dari perasaan dirugikan dan tidak tercapai apa yang diinginkan. Cinta tidak mungkin menimbulkan benci. Yang menimbulkan benci bukan cinta, melainkan nafsu. Nafsu ini ingin memiliki, ingin disenangkan, dan kalau semua keinginan itu gagal, maka muncullah kecewa dan benci.
Baik nafsu maupun benci adalah penonjolan diri pribadi, adalah pakaian badan, adalah pementingan kesenangan dan kepuasan badan. Cinta kasih tidaklah sedangkal segala macam keinginan badan, cinta kasih bukanlah sekedar kesenangan dan kepuasan jasmani.

“Aku tidak memburukkan atau menyebar fitnah, melainkan menceritakan keadaan yang sebenarnya tanpa dibuat-buat. Bagaimanapun juga, Bi Lan, engkau telah melakukan penyelewengan, membela dan melindungi perempuan jahat Bi-kwi, bahkan engkau memusuhi kami orang-orang Pulau Es!”

“Sombong! Orang macam engkau ini mengaku orang Pulau Es? Dan engkau menuduh yang bukan-bukan tanpa menyelidiki kenyataannya. Huh, suci Ciong Siu Kwi jauh lebih baik dari pada engkau. Orang macam engkau ini perlu dihajar!”

Berkata demikian, Bi Lan sudah menerjang dan menyerang Hong Beng. Pemuda yang juga sudah marah ini cepat mengelak dan balas menyerang. Sim Houw memandang bingung. Tadi dia sudah membujuk Bi Lan untuk bersabar, akan tetapi gadis yang sedang marah itu tidak memperdulikannya. Dan melihat sikap Hong Beng, diam-diam Sim Houw juga merasa penasaran. Kenapa pemuda itu juga bersikap demikian kasar? Dia mengerti bahwa di antara mereka itu hanya terdapat kesalahpahaman belaka, dan tetutama karena sama-sama tidak mau mengalah!

Selagi Sim Houw merasa bingung apa yang harus dilakukan menghadapi dua orang yang kini sudah berkelahi dengan seru itu, tiba-tiba terdengar suara orang membentak,

”Kalian ini sungguh tidak tahu diri!”

Dan lenyapnya suara itu dibarengi munculnya seorang laki-laki setengah tua yang gagah dan begitu tiba, laki-laki itu telah menerjang dan menyerang Sim Houw!

Tentu saja Sim Houw terkejut dan cepat melompat ke samping, apa lagi ketika dia mengenal orang ini sebagai Suma Ciang Bun, seorang tokoh keluarga Pulau Es yang pernah pula menyerangnya bersama Hong Beng! Kiranya guru dan murid ini sekarang kembali menyerang dia dan Bi Lan, seolah-olah melanjutkan perkelahian antara mereka yang pernah terjadi tempo hari!

Bagaimana Suma Ciang Bun dapat muncul secara tiba-tiba di tempat itu? Seperti kita ketahui, Suma Ciang Bun meninggalkan rumah encinya, Suma Hui atau nyonya Kao Cin Liong, untuk menyusul muridya yang pergi ke utara, mengunjungi gurun pasir unuk menghadap orang tua Kao Cih Liong, melaporkan tentang hilangnya Kao Hong Li.

Ketika dia tiba di Tembok Besar itu, kebetulan saja dia melihat muridnya berkelahi melawan Bi Lan dan tentu saja kemarahannya timbul seketika ketika dia mengenal Bi Lan dan Sim Houw. Biarpun dulu dia pernah meragukan apakah kedua orang itu bersalah, kini melihat betapa muridnya kembali sudah berkelahi melawan gadis itu, tentu saja hatinya condong untuk membela muridnya dan karena khawatir kalau-kalau muridnya celaka di tangan Pendekar Suling Naga yang lihai itu, dia mendahului dan menyerang Sim Houw.

“Locianpwe, perlahan dulu....!”

Sim Houw kembali mengelak ketika pukulan yang amat dingin menyambar. Dia bergidik. Pukulan ini tentu yang mengandung Soat-im Sin-kang, pikirnya, yang dapat membuat darah lawan menjadi beku kalau terkena pukulan dingin ini.

“Mari kita bicara!” ajaknya, dan kembali dia mengelak karena sebuah tendangan kilat menyambar ke arah lututnya.

“Suhu, mereka ini hendak menghajar teecu karena teecu melaporkan tentang mereka ke Istana Gurun Pasir!” teriak Hong Beng yang sudah marah dan yang kini menjadi besar hatinya melihat kemunculan gurunya.

“Hemmm, dua orang muda yang besar kepala!”

Suma Ciang Bun mendengus dan kembali dia sudah menyerang. Seperti juga dalam perkelahian yang pertama melawan guru Hong Beng ini, Sim Houw hanya mengelak dan menangkis, belum pernah membalas karena memang dia tidak ingin bermusuhan dengan pendekar ini, tanpa sebab yang jelas.

Hong Beng sudah terdesak oleh Bi Lan, sedangkan Suma Ciang Bun sebagai seorang pendekar maklum pula bahwa kalau Pendekar Suling Naga itu membalas, belum tentu dia akan mampu mengalahkan orang muda yang perkasa ini. Maka, setelah lewat limapuluh jurus, guru dan murid ini mulai merasa sibuk. Hong Beng sibuk oleh desakan-desakan Bi Lan yang marah, sedangkan gurunya sibuk karena sebegitu jauh, belum sebuahpun dari serangannya dapat menyentuh tubuh Sim Houw!

Tiba-tiba terdengar suara ramai dan bermunculan tosu-tosu di tempat itu. Mereka adalah para tosu Pek-lian-kauw dan Pat-kwa-kauw. Tanpa banyak cakap lagi, paratosu itu kini menyerbu dan menyerang Hong Beng dan Suma Ciang Bun yang mereka kenal sebagai seorang pendekar keluarga Pulau Es! Tentu saja Hong Beng dan Suma Ciang Bun terkejut, dan Hong Beng berseru kepada suhunya,

“Suhu, mereka ini pernah menawan teecu!”

Sementara itu, melihat betapa para tosu yang lihai itu, lima orang pimpinan disertai belasan anak buah, telah mengepung dan menyerang Suma Ciang Bun dan Hong Beng, Sim Houw lalu memberi isarat kekasihnya, dan mereka berduapun segera terjun ke dalam pertempuran, menyerang para tosu! Sikap mereka ini tentu saja membuat Suma Ciang Bun terkejut akan tetapi juga girang. Dia tadi sudah beradu lengan dengan tosu jenggot panjang dan dengan kaget mendapat kenyataan betapa kuatnya lawan.

Tosu-tosu itu lihai bukan main dan agaknya dia dan muridnya belum tentu akan mampu mengalahkan mereka. Akan tetapi kini Pendekar Suling Naga dan gadis yang galak itu telah membantu mereka menghadapi para tosu Pek-lian-kauw dan Pat-kwa-kauw!

Bi Lan mengamuk dengan hebatnya berkelahi melawan Hong Beng, ia masih membatasi serangannya karena ia hanya ingin menghajar pemuda itu, bukan berniat membunuhnya atau melukainya secara berat. Iapun tahu bahwa sikap pemuda itu berbalik tidak suka kepadanya karena cintanya ditolak dan karena cemburu, demikian pendapatnya.

Akan tetapi kini, melihat betapa mereka dikepung oleh tosu-tosu yang lihai, Bi Lan lalu mengeluarkan seluruh kepandaiannya. Biarpun ia tidak memegang Ban-tok-kiam lagi, namun ketika ia mainkan Ban-tok-ciang-hoat yang dipelajarinya dari subonya, diseling dengan Sin-liong-ciang-hoat yang didapatnya dari suhunya Pendekar Naga Sakti Gurun Pasir, maka hebatnya bukan kepalang. Seorang tosu Pat-kwa-pai yang menjadi lawannya adalah Ok Cin Cu. Tosu ini memegang sebatang tongkat hitam berbentuk ular.

Tosu yang mata keranjang dan cabul ini tadi sudah menyerang Bi Lan karena dia tidak dapat melewatkan gadis secantik ini dari pandang matanya. Maksudnya tentu saja agar dia puas dapat mempermainkan gadis ini. Akan tetapi, kalau pada mulanya dia maju dengan tangan kanan saja sambil tertawa-tawa dan tersenyum-senyum, kini dia terkejut dan memainkan tongkatnya untuk melindungi tubuhnya. Tak disangkanya bahwa gadis muda itu lihai bukan main, memiliki serangan pukulan-pukulan yang amat aneh! Tosu ini harus berloncatan ke sana-sini, rambutnya yang putih riap-riapan itu berkibar-kibar, tongkat hitamnya menyambar-nyambar, namun tetap saja dia kewalahan dan terdesak oleh gerakan Bi Lan yang tidak dikenalnya.

Suma Ciang Bun diserang oleh tosu berjenggot panjang yang merupakan pemimpin para tosu dan yang bersenjata tongkat naga hitam. Pendekar ini mengeluarkan senjatanya yang ampuh, yaitu siang-kiam (sepasang pedang) dan mainkan Siang-mo Kiam-sut (Ilmu Pedang Sepasang Iblis) dan dengan ilmu pedang yang hebat ini barulah dia dapat mengimbangi serangan lawan. Namun harus diakui bahwa untuk mendesak diapun tidak mampu karena kakek berjenggot panjang itu memang lihai bukan main.

Di samping itu, Suma Ciang Bun juga harus melindungi muridnya. Hong Beng juga memainkan pedangnya, melawan Thian Kek Seng-jin tokoh Pek-lian-kauw yang juga bersenjata tongkat naga hitam. Kakek ini bersama Ok Cin Cu pernah menipunya dan mengadunya dengan Bi Lan ketika kedua kakek itu terluka dan menyembunyikan keadaan mereka yang sebenarnya. Dalam, perkelahian ini, Hong Beng terdesak oleh tongkat naga hitam.

Akan tetapi, karena kadang-kadang suhunya datang membantu, dia dapat pula bertahan dan perkelahian ini menjadi perkelahian keroyokan antara guru dan murid itu melawan dua orang tosu.

Sim Houw sendiri melayani dua orang tosu Pek-lian-kauw yang tingkat kepandaiannya sama dengan yang lain. Sim Houw sudah mencabut sulingnya. Melihat senjata ini, para tosu itu terkejut.

“Pendekar Suling Naga....!” teriak seorang di antara dua tosu yang mengeroyoknya, sambil memutar pedangnya dengan cepat.

Temannya yang juga berpedang, menghujankan serangannya kepada Sim Houw. Namun dengan tenang Sim Houw memutar sulingnya. Terdengar suara suling melengking-lengking dibarengi sinar berkelebatan dan dua orang itu segera terdesak hebat! Bukan main kuatnya gerakan pedang suling itu dan dua orang tosu itu sampai terhuyung ke belakang dan mereka mengeluarkan seruan kaget. Belum pernah mereka bertemu lawan sehebat ini dan kalau mereka tadinya hanya mendengar saja nama besar Pendekar Suling Naga yang dianggap berlebihan, maka baru sekarang mereka menyaksikan bahkan mengalami sendiri kehebatan senjata aneh itu!

Bi Lan juga mengamuk hebat dan lawannya sudah dua kali terkena pukulannya. Karena pukulan itu mempergunakan jurus dari Ilmu Silat Sin-liong Cianghoat, maka tenaganya membuat lawan itu terpelanting, sedangkan pukulan ke dua yang memakai Ilmu Silat Ban-tok Ciang-hoat membuat lawannya merasa pundaknya yang terpukul seperti terbakar, terasa gatal-gatal dan nyeri bukan main. Itulah pukulan beracun yang amat ampuh. Ok Cin Cu menjadi gentar dan diapun cepat melompat jauh ke belakang, hampir berbareng dengan dua orang tosu yang mengeroyok Sim Houw yang juga sudah berlompatan ke belakang. Keduanya terluka sedikit pada bahu mereka terkena sambaran angin pedang suling itu!

Melihat ini, gentarlah hati lima orang tosu itu dan mereka berteriak mengerahkan anak buah mereka, sedangkan dari jauh datang pula rombongan orang Mongol yang akan membantu.

“Moi-moi, mari kita pergi saja!”

Sim Houw berseru dengan nyaring dan kepada Suma Ciang Bun dia menjura sambil berkata, “Locianpwe, maafkan kami. Semua ini hanya merupakan salah paham belaka!” Dan diapun bersama Bi Lan cepat meloncat jauh dan berlari cepat meninggalkan tempat itu, melewati Tembok Besar menuju ke selatan.

Melihat ini, Suma Ciang Bun juga mengajak muridnya untuk pergi saja, melewati Tembok Besar pula dan menuju ke selatan, tidak ingin menghadapi pengeroyokan banyak orang itu. Biarpun mereka berempat telah bekerja sama menghadapi orang-orang Pek-lian-kauw dan Pat-kwa-kauw, namun di dalam hatinya, Hong Beng masih belum merasa puas. Dia belum yakin akan kebersihan Bi Lan dan Sim Houw, sedangkan Suma Ciang Bun diam-diam kagum bukan main akan kelihaian Pendekar Suling Naga.

**** 157 ****
Suling Naga