Ads

Senin, 08 Februari 2016

Suling Naga Jilid 158

“Aih, tenangkanlah hatimu, enci Hui. Kami sudah pernah merasakan betapa bingung dan susahnya kehilangan seorang anak. Akan tetapi berduka saja tidak ada gunanya, bahkan kedukaan itu akan mengeruhkan pikiran, melemahkan semangat sehingga kita tidak dapat bertindak bijaksana dan tepat. Tenangkan hatimu, dan kita bicarakan urusan ini dengan teliti,” demikian Suma Ceng Liong, pendekar sakti keturunan keluarga Pulau Es itu menghibur Suma Hui yang datang bersama suaminya, Kao Cin Liong, dan sambil menangis menceritakan akan malapetaka yang menimpa keluarganya dengan lenyapnya Kao Hong Li diculik orang.

“Benar sekali apa yang dikatakan suamiku, enci Hui. Kami dahulu juga merasa amat berduka dan gelisah, apa lagi karena hilangnya anak kami Suma Lian dibarengi dengan tewasnya ibu mertuaku dibunuh orang. Akan tetapi, orang yang benar selalu dilindungi Thian, enci. Aku yakin bahwa keponakanku Hong Li pasti akan dapat ditemukan kemhali dalam keadaan selamat dan sehat,” kata pula Kam Bi Eng, isteri Suma Ceng Liong sambil merangkul kakak iparnya.

Suma Hui menghapus air matanya dan ia memaksa diri tersenyum.
“Maafkan aku atas kelemahanku. Akan tetapi, kami berdua sudah mencari sampai jauh ke Tibet, akan tetapi tidak berhasil, bahkan tidak dapat menemukan jejak anak kami. Bagaimana hatiku tidak akan gelisah?”

“Ceng Liong,” kata Cin Liong yang memang akrab dengan ipar-iparnya. “Kami sengaja datang ke sini mengunjungimu, bukan hanya sekedar menghibur diri, akan tetapi juga kami membutuhkan pendapatmu dan bantuanmu agar anak kami itu dapat segera kami temukan kembali.”

Ceng Liong mengangguk-angguk. Dia dan isterinya adalah suami isteri yang memiliki ilmu kepandaian tinggi. Dia sendiri adalah cucu Pendekar Super Sakti dari Pulau Es sedangkan isterinya adalah murid pewaris Ilmu Suling Emas. Kini Suma Lian, puteri mereka, dibawa oleh Bu Beng Lokai, yang masih terhitung pamannya sendiri karena Bu Beng Lokai yang dulu bernama Gak Bun Beng adalah mantu dari kakeknya, Suma Han.

Suma Lian dibawa Bu Beng Lokai untuk digembleng. Kini mereka berdua hidup di rumah mereka yang nampak sunyi, makakunjunganSuma Hui dan suaminya itu menggembirakan, dan Ceng Liong menganggap sudah menjadi tugasnya untuk bantu memikirkan kehilangan keponakannya, Kao Hong Li itu.
Mereka bercakap-cakap dan suami isteri yang kehilangan puterinya itu lalu menceritakan dengan sejelasnya asal mula terjadinya penculikan terhadap puteri mereka.

“Gambaran tentang penculik itu telah kami dapatkan dengan jelas, bahkan teman-teman Hong Li menceritakan dengan jelas si penculik mengaku bernama Ang I Lama, bertubuh tinggi kurus, pandai silat dan pandai sihir. Akan tetapi ketika kami berhadapan dengan Ang I Lama, ternyata bukan dia penculiknya. Jelas bahwa penculik itu mempergunakan nama Ang I Lama. Akan tetapi siapa dia? Dan ke mana kami harus mencarinya?” Kao Cin Liong menutup penuturannya sambil menarik napas panjang.






Ceng Liong juga menghela napas.
“Hemmm, penculik itu selain lihai pandai ilmu silat dan sihir, juga cerdik sekali. Dia menyamar sebagai Ang I Lama untuk mengelabuhimu, dan untuk melenyapkan jejaknya. Untuk itu, kita harus menggunakan akal, Kao-cihu (kakak ipar Kao).”

“Akal bagaimana, adikku?” tanya Suma Hui dengan penuh harapan dan gairah. Timbul kembali semangatnya mendengar percakapan itu.

“Cihu harus dapat mengumpulkan orang-orang kang-ouw terkemuka dengan alasan tertentu yang masuk akal. Cihu mengirim undangan agar mereka itu dapat datang dan lebih baik lagi kalau mengirim undangan secara terbuka. Siapa saja yang merasa dirinya orang kang-ouw, orang-orang di dunia persilatan, dipersilahkan datang. Nah, kalau sudah banyak orang kang-ouw berkumpul, cihu dapat mengumumkan tentang lenyapnya Hong Li diculik orang. Dengan demikian, tentu peristiwa itu akan tersebar luas dan kalau di antara mereka ada yang mengetahui tentang siapa penculik Hong Li dan di mana anak kita itu sekarang, tentu dia akan memberi tahu kepada cihu. Kalaupun tidak, tentu mereka akan membuka mata lebih lebar dan dengan demikian, harapan untuk menemukan kembali Hong Li lebih besar.”

“Ah, bagus sekali usul itu!” Cin Liong berseru dan wajahnya berseri, matanya berkilat membayangkan kegirangan. “Tidak sampai dua bulan lagi adalah hari kelahiranku yang ke limapuluh! Hal ini tentu merupakan alasan yang baik sekali dan tidak dicari-cari untuk mengumpulkan orang-orang kang-ouw.”

“Tepat sekali, cihu! Kita membuat undangan dan juga undangan terbuka ditujukan kepada seluruh orang kang-ouw. Aku akan membantu penyebaran surat undangan itu ke seluruh dunia kang-ouw, cihu!”

Gembiralah hati Cin Liong dan isterinya. Mereka segera kembali ke Pao-teng dan membuat persiapan. Pesta ulang tahun itu tentu makan banyak biaya, apa lagi kalau yang datang benkunjung nanti banyak sekali orang. Akan tetapi mereka berdua siap untuk menghabiskan semua harta simpanan mereka untuk keperluan itu, karena apa artinya semua harta itu kalau anak mereka tidak dapat ditemukan kembali? Setelah kehilangan Hong Li, barulah suami isteri ini merasa betapa pentingnya anak itu bagi mereka, dan betapa hal-hal lainnya tidak ada artinya lagi!

Hidup merupakan gabungan dari segala macam hal yang multi kompleks. Kebutuhan hidup bermacam-macam yang bergabung menjadi satu. Ada kebutuhan harta, kebutuhan sandang, pangan, kesehatan, kerukunan keluarga, dan seterusnya. Tidak mungkin mementingkan yang satu saja dan meremehkan yang lain. Karena kekurangan satu saja di antaranya, hidup akan menjadi pincang. Apa artinya mempunyai segala itu kalau anaknya hilang seperti halnya suami isteri itu? Sama saja susahnya kalau yang ditiadakan itu satu di antara kebutuhan-kebutuhan itu. Apa artinya semua ada, keluarga lengkap, kalau badan selalu menderita penyakit? Apa pula artinya kalau sehat, berharta, cukup segala kebutuhan, akan tetapi tidak rukun dengan keluarganya? Masih banyak contoh-contoh lain lagi, namun kesemuanya itu merupakan akibat kepincangan yang serupa.

Karena suami isteri di Pao-teng itu kehilangan anak mereka, tentu saja yang terasa hanyalah hal itu saja. Mereka mau mengorbankan yang lain asal anak mereka dapat ditemukan kembali.

Dengan cepat, undanganpun disebar dan dalam hal ini, Suma Ceng Liong membantu dengan sekuat tenaga. Tentu saja tidak mungkin mengundang semua orang, akan tetapi yang penting, demikian keluarga Pulau Es dan Gurun Pasir itu berpendapat, dari delapan penjuru harus ada tokoh-tokoh yang mewakili daerah masing-masing. Juga disebar undangan terbuka, tidak untuk nama tertentu, melainkan ditujukan kepada semua orang kang-ouw yang suka datang, dipersilahkan untuk datang pula meramaikan pesta hari ulang tahun bekas panglima yang amat terkenal itu, bukan saja terkenal sebagai bekas panglima besar, juga terkenal sebagai seorang pendekar sakti bersama isterinya yang juga pendekar keturunan keluarga Pulau Es.

Beberapa hari sebelum pesta ulang tahun itu tiba, Suma Ceng Liong dan Kam Bi Eng telah berada di rumah Cin Liong di Pao-teng. Juga ayah dan ibu Kam Bi Eng yang merupakan suami isteri terkenal sekali dan pernah menggemparkan dunia persilatan dengan ilmu-ilmu dari Suling Emas dan merupakan tokoh ke tiga sesudah keluarga Pulau Es dan keluarga Gurun Pasir yang terkenal, hadir pula atas undangan puteri mereka, Kam Bi Eng. Mereka itu bukan lain adalah pendekar sakti Kam Hong yang kini sudah berusia enampuluh tiga tahun, sedangkan isterinya, Bu Ci Sian telah berusia empatpuluh delapan tahun. Mereka berdua ini tinggal tak begitu jauh dari kota Pao-teng, di puncak Bukit Nelayan, yaitu sebuah puncak di antara puncak-puncak Pegunungan Tai-hang-san.

Mereka berdua ikut merasa prihatin ketika mendengar cerita tentang hilangnya Kao Hong Li yang diculik orang yang masih belum diketahui jelas siapa adanya.

Selain keluarga Suma Ceng Liong dan keluarga Kam Hong ini, juga telah hadir di rumah itu Suma Ciang Bun dan muridnya, Gu Hong Beng. Pemuda ini sudah banyak mendengar tentang suami isteri pendekar dari istana Khong-sim Kai-pang, yaitu Kam Hong, akan tetapi baru sekarang sempat bertemu. Hatinya merasa kagum dan dengan girang dia memperkenalkan diri. Karena para keluarga berkumpul, suasana sudah meriah sekali dan banyak hal mereka percakapkan, dan tentu saja terutama sekali tentang hilangnya Kao Hong Li yang diculik orang. Karena Hong Beng merupakan murid dari Suma Ciang Bun, maka diapun diterima oleh keluarga Kao sebagai anggauta keluarga sendiri.

Selagi tokoh-tokoh keturunan keluarga Pulau Es, keluarga Gurun Pasir dan keluarga Suling Emas ini saling berbincang-bincang sebagai sekelompok keluarga, tiba-tiba pembantu memberitahukan bahwa di luar datang dua orang tamu laki-laki dan perempuan yang masih muda. Kao Cin Liong dan isterinya tidak menanyakan siapa dua orang tamu itu, akan tetapi karena mereka berada dalam suasana berpesta, sehingga mereka mengharapkan munculnya banyak tamu, segera mereka menyuruh pembantu mereka untuk mempersilahkan dua orang tamu itu masuk saja ke ruangan besar di mana mereka tadi bercakap-cakap.

Ketika dua orang itu masuk, semua orang memandang, ingin tahu siapakah tamu yang datang agak terlalu pagi itu. Biasanya, yang datang lebih pagi dari hari pesta yang ditentukan, hanyalah anggauta keluarga sendiri yang datang dengan maksud membantu tuan rumah mempersiapkan pesta ulang tahun itu.

Ketika melihat munculnya Sim Houw dan Bi Lan, sebagian besar dari mereka yang hadir di situ mengerutkan alisnya. Terutama sekali Hong Beng dan gurunya, Suma Ciang Bun.

Mereka berdua sudah bangkit berdiri dan mengepal tinju, akan tetapi ketika teringat bahwa di situ terdapat orang-orang tingkatan lebih tua seperti Kam Hong dan isterinya, guru dan murid ini menahan diri dan duduk kembali. Juga Kao Cin Liong dan Suma Hui memandang marah. Mereka sudah mendengar dari Hong Beng dan gurunya tetapa Bi Lan yang diambil murid suami isteri dari Istana Gurun Pasir, telah menyeleweng, membela iblis betina Bi-kwi dan bahkan menentang Suma Ciang Bun dan muridnya. Perasaan tidak senang membayang di wajah tuan rumah dan nyonya rumah. Baru satu kali Kao Cin Liong dan isterinya bertemu dengan Sim Houw dan Bi Lan, yaitu ketika mereka semua di bawah pimpinan Tiong Khi Hwesio menentang dan membasmi Sai-cu Lama dan kawan-kawannya. Demikian pula Suma Ceng Liong dan isterinya, Kam Bi Eng yang juga membantu dalam pertempuran hebat itu.

Sim Houw juga merasa girang sekali dapat bertemu dengan sekalian orang gagah itu, dan kini dia dapat memandang Kam Bi Eng yang telah menjadi nyonya Suma Ceng Liong dengan wajah cerah dan ternyata setelah ada pertalian cinta antara dia dan Bi Lan, kini tidak terjadi sesuatu di dalam hatinya ketika dia bertemu dengan Kam Bi Eng, wanita yang pernah dikasihinya itu. Akan tetapi, yang membuat Sim Houw menjadi semakin girang dan terharu adalah ketika dia melihat Kam Hong dan Bu Ci Sian di tempat itu.

Sebelum memberi hormat kepada yang lain, Sim Houw mengajak Bi Lan untuk menjatuhkan diri berlutut di depan suami isteri ini.

“Suhu dan subo.... telah bertahun-tahun teecu tidak pernah menghadap ji-wi, harap ji-wi sudi memaafkan teecu. Teecu harap selama ini suhu dan subo selalu dalam keadaan sehat dan dilimpahi berkah oleh Thian.”

Melihat muridnya, diam-diam Kam Hong dan Bu Ci Sian merasa kasihan akan tetapi juga girang. Mereka masih merasa kasihan mengingat betapa murid yang baik ini, yang tadinya mereka jodohkan dengan puteri mereka, Kam Bi Eng, kemudian ternyata ditolak oleh Bi Eng yang jatuh cinta kepada Suma Ceng Liong.

Akan tetapi dengan jiwa besar murid mereka itu dengan suka rela mengundurkan diri dan memberi kebebasan kepada Kam Bi Eng untuk berjodoh dengan pria yang dipilihnya, sedangkan dia sendiri lalu merantau dan baru sekarang guru itu bertemu dengan murid yang pernah menjadi calon mantu itu. Yang membuat suami isteri pendekar ini prihatin adalah karena mereka mendengar bahwa sampai sekarang murid mereka itu belum juga menikah. Hal ini bagi mereka menjadi tanda bahwa hati murid mereka itu telah terluka karena kegagalan cinta dan pernikahannya dengan Kam Bi Eng, dan mereka berdua ikut merasa berdosa atas penderitaan pemuda itu.

“Sim Houw, selama ini engkau ke mana sajakah maka tidak pernah datang menjenguk kami? Dan kami mendengar bahwa engkau mendapatkan julukan Pendekar Suling Naga! Sungguh kami ikut merasa bangga dan.... eh, siapakah nona ini?” Kam Hong memandang kepada Bi Lan yang berlutut di dekat Sim Houw.

“Locianpwe, nama saya Can Bi Lan....“ jawab Bi Lan dengan sikap hormat. Ia sudah sering kali mendengar penuturan Sim Houw tentang suami isteri yang sakti ini, yang agaknya hanya boleh disejajarkan dengan suhu dan subonya di Istana Gurun Pasir, atau dengan para pendekar Pulau Es!

“Suhu dan subo, adik Can Bi Lan adalah.... tunangan teecu dan ia adalah murid dari Kao-locianpwe di Istana Gurun Pasir dan isterinya....”

“Juga murid mendiang Sam Kwi!”

Tiba-tiba terdengar suara Hong Beng memotong kata-kata yang diucapkan oleh Sim Houw itu.

Semua orang terkejut dan diam-diam Suma Ciang Bun menyesalkan ucapan muridnya yang lancang itu, namun dia maklum bahwa perasaan dongkol di dalam hati muridnya yang membuat muridnya bersikap lancang seperti itu. Keadaan menjadi kaku dan tegang, akan tetapi Kam Hong yang menoleh kepada Hong Beng, kini tersenyum.

“Aihh, seorang yang sakti dan bijaksana seperti Kao-locianpwe, Pendekar Naga Sakti Gurun Pasir dan isterinya, tidak mungkin salah memilih murid. Dan ia menjadi tunanganmu, Sim Houw. Selamat! Sungguh kami ikut merasa gembira sekali.”

“Tunanganmu ini cantik dan gagah, Sim Houw. Selamat!” kata pula Bu Ci Sian, lega hatinya karena dengan adanya pertunangan ini, berarti iapun terlepas dari beban batin yang merasa bersalah terhadap Sim Houw yang patah hati.

“Terima kasih, suhu dan subo,” kata Sim Houw, Barulah dia dan Bi Lan menghadap takoh-tokoh lain dan memberi hormat.

Ketika memberi hormat kepada Kao Cin Liong, tanpa ragu-ragu lagi Bi Lan menyebutnya “suheng” (kakak seperguruan). Mendengar sebutan ini, wajah Cin Liong menjadi merah dan hatinya tidak senang sekali.

Suling Naga