Ads

Rabu, 10 Februari 2016

Suling Naga Jilid 163

Setelah tiba di dalam, Bi-kwi lalu cepat memberi keterangan.
“Kao-locianpwe, jelaslah bahwa bingkisan kami tadi ada yang mengambil dan menukarnya dengan bingkisan ini. Hal itu tentu terjadi ketika orang-orang datang merubung meja tempat hadiah dan orang itu tentu pandai sekali sehingga tidak ada yang melihat perbuatannya. Karena kami datang terlambat dan bingkisan kami berada di atas, maka hal itu mudah dia lakukan.”

“Bagaimana engkau dapat mengatakan bahwa bingkisanmu itu ditukar orang? Apa tandanya?” tanya Suma Hui.

“Sutera merah ini berbeda dengan sutera merah yang kami pakai untuk membungkus perhiasan bros itu. Dan pula, sebelum dibungkus sutera merah, kami membungkusnya dengan kertas kuning lebih dulu. Akan tetapi bungkusan ini tidak ada kertas kuningnya. Jelaslah, ada seorang yang sengaja memalsukannya.

“Akan tetapi, apa maksudnya?” tanya Kao Cin Liong.

“Hemm, kalau benar demikian, maksudnya sudah jelas!” kata Suma Ceng Liong.

“Pertama, untuk mengacaukan pesta, ke dua untuk mengadu domba. Kita cari dan tangkap dia selagi masih berada di sini!” Pendekar ini bangkit.

“Nanti dulu!” tiba-tiba Sim Houw berkata.

“Saya harap cuwi tidak tergesa-gesa dalam hal ini. Sudah jelas bahwa di antara para tamu terdapat seorang atau lebih musuh yang bergerak secara rahasia. Di antara sekian banyaknya tamu, bagaimana kita dapat mengetahui yang mana orangnya? Tidak ada bukti apapun padanya dan dia yang menukar bingkisan tadi tentu tidak begitu bodoh untuk membiarkan bingkisan itu masih ada padanya kalau dilakukan penggeledahan. Kita akan gagal, bahkan mungkin sekali menyinggung perasaan para tokoh yang tidak berdosa. Juga berarti kita mengejutkan ular yang berada di dalam rumput dan semak-semak kalau kita menggebrak rumput dan semak-semak itu. Kalau hendak menangkap ular yang bersembunyi di dalam rumput, harus dengan hati-hati jangan sampai dia kaget dan siap siaga.”

Suma Ceng Liong mengangguk-angguk.
“Pendapat ini memang tepat memang, akan tetapi aku tidak melihat lain jalan untuk dapat menangkap penculik Hong Li.”

“Menangkap penculik itu adalah tugas kami berdua dan kami sudah menemukan jejak. Memang sebaiknya kalau orang yang membikin kacau pesta ini dibiarkan saja agar dia tidak membuat laporan kepada atasannya. Saya yakin bahwa yang datang menukar bingkisan itu hanyalah kaki tangan penculik itu, bukan si penculik sendiri karena kalau ia yang muncul, mungkin kami berdua dapat mengenalnya,” kata Bi Lan.






Mendengar ini, Kao Cin Liong dan isterinya terkejut, juga girang.
“Sumoi, siapakah penculik jahanam itu?” tanya Kao Cin Liong.

“Suheng, kami memperoleh petunjuk ketika melakukan perjalanan dari Gurun Pasir, tentang seorang wanita berjuluk Sin-kiam Mo-li. Ia adalah anak angkat dari mendiang Kim Hwa Nio-nio, dan menurut pendengaran kami, ia selain amat lihai dalam ilmu silat, juga pandai ilmu sihir. Kami hendak menyelidik ke sana dan mudah-mudahan kami berhasil. Sebaiknya, urusan penukaran bingkisan ini tidak dibikin ribut agar penculik itu tidak menjadi terkejut dan siap siaga sehingga menyusahkan kita serdiri untuk mencarinya.”

“Hemmm, kalau begitu, aku akan ikut membantumu, sumoi!” kata Bi-kwi. “Urusan ini sekarang menjadi urusanku pula karena aku telah dilibatkan orang sehingga namaku dicemarkan dan aku yang dituduh menculik. Untuk membersihkan ini, tidak ada jalan lain kecuali aku bertindak menangkap si penculik.” Lalu ia berkata kepada Yo Jin,

“Suamiku, kuharap engkau pulang sendiri terlebih dulu, aku harus membantu sumoi dan Sim-taihiap untuk menangkap penculik.”

Yo Jin mengerutkan alisnya, menarik napas panjang dan menggeleng kepala, lalu berkata,

“Sebenarnya hatiku amat berat melepas engkau pergi, isteriku, akan tetapi aku melihat bahwa memang fitnah itu membuat engkau terpaksa bertindak. Inilah jadinya kalau mendekati keramaian kota , ada saja urusan menyusahkan diri!”

Suma Ceng Liong yang mendengarkan sejak tadi, mengangguk-angguk.
“Mudah-mudahan saja dugaan semua itu benar. Memang jelaslah bahwa penculik itu sengaja hendak menyusahkan keluarga kita. Pertama dengan menculik Hong Li, kemudian berusaha mengadu domba dan mengacau pesta. Karena Hong Li merupakan keturunan dari Pulau Es dan Gurun Pasir, maka si penculik itu tentulah seorang yang memusuhi kedua keluarga itu, atau setidaknya satu di antaranya. Kalau yang disebut Sinkiam Mo-li itu anak angkat mendiang Kim Hwa Nio-nio, memang kuat alasannya kalau ia memusuhi kita. Akan tetapi, sebaiknya kalau kita semua turun tangan menyerbu ke tempat tinggalnya.”

“Saudara Suma Ceng Liong, saya kira hal itu tidak perlu karena kami baru menduga saja, belum ada bukti-bukti nyata bahwa Sin-kiam Mo-li penculiknya. Biarlah kami menyelidiki lebih dulu, kalau kami cukup kuat, kami akan merampas kembali nona Kao Hong Li, kalau kami melihat bahwa pihak musuh terlalu kuat, baru kami akan mohon bantuan cu-wi.”

Kao Cin Liong mengangguk-angguk. Tentu saja sebagai ayah, dia menyetujui setiap usaha untuk menemukan kembali puterinya.

“Aku percaya kepada kalian berdua,” katanya kepada Sim Houw dan Bi Lan, “dan kalau nona Ciong suka membantu, itu lebih baik lagi agar hati kami tidak ragu-ragu lagi terhadap namanya.”

“Agar tidak menimbulkan kecurigaan, sebaiknya kalau saya dan suami saya meninggalkan tempat ini dari belakang saja, agar para tamu mengira bahwa memang sayalah yang bersalah dan pihak tuan rumah telah mengambil tindakan. Hal ini penting agar orang yang melakukan penukaran bingkisan tadi merasa telah berhasil dan melapor ke atasannya,” kata Bi-kwi. “Dan aku menunggumu di luar kota sebelah barat, sumoi,” tambahnya kepada Bi Lan.

Kao Cin Liong dan isterinya setuju. Kam Hong yang sejak tadi hanya menjadi pendengar saja, diam-diam merasa kagum dan bangga akan sepak terjang orang-orang muda itu.

Terutama sekali sikap Sim Houw yang demikian tenang, dan demikian teguh pendiriannya sehingga tidak ragu-ragu bersama Bi Lan yang menjadi calon isterinya berjanji tidak akan menikah sebelum menemukan kembali. Hong Li, dan pembelaan mereka terhadap Bi-kwi walaupun wanita ini pernah menjadi tokoh sesat karena mereka yakin bahwa Bi-kwi kini telah merobah cara hidupnya dan kembali ke jalan benar.

“Pendapat dan keputusan kalian memang tepat,” kata Kam Hong. “Akan tetapi kalian harus berhatihati karena ingat, kalau ada musuh yang sengaja menyerang keluarga Pulau Es dan Gurun Pasir dengan perbuatan rahasia dan fitnah, juga adu domba, berarti bahwa mereka itu telah siap siaga menyusun kekuatan. Karena itu, Sim Houw, dalam melakukan penyelidikan, berhati-hatilah dan kalau sekiranya keadaan pihak musuh terlalu kuat, jangan segan-segan untuk minta bantuan kedua keluarga itu.”

Sim Houw memberi hormat kepada kakek perkasa itu.
“Baiklah, suhu, teecu akan mentaati semua pesan suhu.”

Akhirnya Bi-kwi dan suaminya lebih dahulu pergi melalui pintu belakang, tanpa diketahui oleh para tamu. Baru kemudian tuan rumah dan keluarganya keluar ke tempat ruangan pesta. Akan tetapi baru saja mereka keluar, terjadi keributan lain. Terdengar teriakan-teriakan para pelayan dan ketika keluarga itu lari ke dalam, mereka melihat seorang di antara para pelayan telah mati dengan tubuh kaku dan muka hitam. Keracunan!

“Tahan semua hidangan! Jangan dikeluarkan lagi sebelum kami periksa!”

Kemudian Kao Cin Liong yang mengeluarkan perintah ini dibantu oleh para keluarga yang gagah perkasa untuk melakukan penyelidikan. Semua makanan bersih, akan tetapi ternyata guci-guci arak yang masih belum dihidangkan, telah keracunan! Ada sepuluh guci arak yang keracunan, dan agaknya pelayan itu tadi minum secawan arak dari guci yang keracunan. Jelaslah bahwa ada orang yang sengaja menaruh racun ke dalam guci-guci arak itu.

“Apakah tadi ada di antara tamu yang masuk ke sini?” tanya Kao Cin Liong.

Para pelayan itu saling bertanya dan akhirnya seorang di antara mereka teringat bahwa memang ada seorang tamu yang bercambang bauk lebat masuk ke situ, setengah mabok sambil membawa cawan dan sambil tertawa-tawa memuji lezatnya masakan dan harumnya arak, dia minta arak karena guci di depan sudah kosong.

“Dia datang sendiri ke tempat di mana ditaruh guci-guci itu, kemudian dia keluar sambil membawa seguci arak sambil tertawa-tawa dan terhuyung-huyung setengah mabok,” demikian antara lain pelayan itu menerangkan. Kini ada beberapa orang pelayan lain yang juga teringat akan tamu berjenggot dan berkumis brewok itu yang memasuki dapur dalam keadaan setengah mabok.

“Cepat ikut aku dan tunjukkan yang mana tamu itu!” kata Kao Cin Liong mengajak empat orang pelayan itu keluar. Akan tetapi, mereka tidak menemukan orang brewokan itu di antara para tamu.

“Tentu dia sudah pergi,” kata Kam Hong yang ikut pula mengadakan pemeriksaan dengan teliti terhadap semua makanan. “Agaknya setelah melihat bahwa usahanya yang pertama untuk mengadu domba itu tidak memperlihatkan hasil seperti yang diharapkan, dia lalu menaruh racun ke dalam guci-guci arak itu. Aih, masih untung racun itu hanya mengorbankan nyawa seorang pelayan. Kalau sampai dihidangkan dan banyak tamu kang-ouw tewas oleh arak beracun, tentu namamu akan menjadi rusak dan keadaan benar-benar akan menjadi kacau balau.”

Kao Cin Liong bergidik dan Suma Hui mengepal tinju.
“Keparat jahanam!” kata Suma Hui. “Siapakah orangnya yang demikian membenci kami sehingga melakukan perbuatan kejam dan terkutuk secara bertubi terhadap kami? Kalau saja aku tahu siapa orangnya!”

Kematian pelayan karena keracunan itu dirahasiakan dan tidak diketahui para tamu sehingga pesta itu berakhir dengan tenang. Para tamu mulai berpamit meninggalkan tempat itu dan tidak lupa Kao Cin Liong selain menghaturkan terima kasih, juga mengharapkan agar para tamu ikut bantu mendengarkan kalau-kalau ada di antara mereka dapat mengetahui di mana adanya Kao Hong Li yang lenyap itu. Dengan adanya pesta ini, nama Kao Hong Li segera terkenal di seluruh dunia kang-ouw karena menjadi pokok percakapan dan perbincangan.

Sim Houw dan Bi Lan segera berpamit dari keluarga itu dan memperoleh doa restu, kecuali, tentu saja, dari Hong Beng dan Suma Ciang Bun yang bagaimanapun juga masih merasa tidak puas. Hong Beng masih merasa tidak puas dan masih tetap saja ada keraguan akan kebersihan Bi-kwi, sedangkan Suma Ciang Bun yang biarpun mulai meragukan kesalahan Bi-kwi, Bi Lan dan Sim Houw karena dia tahu betapa muridnya diracuni iri hati dan cemburu, tetap saja terseret oleh sikap muridnya yang memusuhi Bi-kwi tadi.

Memang tadi diapun mempunyai dugaan bahwa Bi-kwi bersalah, apa lagi karena dia pernah diserang oleh Bi-kwi yang bersekongkol dengan tosu-tosu Pek-lian-kauw dan Pat-kwa-kauw sehingga hampir saja dia tewas. Kini, kembali ternyata bahwa agaknya dugaan muridnya itu keliru dan Bi-kwi bahkan telah diterima oleh kedua keluarga para pendekar itu untuk bantu mencari Hong Li sampai dapat. Namun, hati pendekar ini tidak merasa puas.

Setelah Bi Lan dan Sim Houw pergi, Suma Ciang Bun lalu mengajak muridnya untuk bicara dengan Ceng Liong dan isterinya. Tentu saja Suma Ceng Liong dan Kam Bi Eng merasa heran ketika Ciang Bun minta kepada mereka untuk bicara di antara mereka berempat sendiri. Mereka memilih sebuah kamar kosong dan begitu mereka duduk di dalam kamar tertutup itu, Suma Ceng Liong tersenyum memandang kepada kakak misannya.

“Bun-ko, engkau sungguh aneh dan membikin kami merasa heran dan ingin tahu sekali! Ada urusan apakah maka engkau bersikap begini penuh rahasia dan mengajak kami bicara tertutup seperti ini?”

Suma Ciang Bun juga tersenyum dan legalah hati Suma Ceng Liong dan isterinya. Sikap Ciang Bun yang santai itu tidak membayangkan adanya urusan yang amat gawat, walaupun kakak itu mengajak mereka dalam kamar tertutup.

“Ah, hanya urusan kekeluargaan, Liong-te, akan tetapi kurang enak kalau didengar anggauta keluarga lain karena hal ini hanya menyangkut keluargamu dan keluargaku saja,” jawab Ciang Bun.

Kini Kam Bi Eng tak dapat menahan ketawanya. Sungguh aneh kakak misan ipar ini. Jelas bahwa Suma Ciang Bun tidak pernah menikah, maka tentu saja tidak mempunyai keluarga selain keluarga suaminya juga.

“Aih, Bun-ko, bukankah keluargamu juga berarti keluarga kami? Mana ada keluarga kami dan keluarga Bun-ko!”

Suling Naga