Ads

Rabu, 10 Februari 2016

Suling Naga Jilid 165

Biarpun ia bukan seorang yang gila laki-laki, namun kehidupan yang kesepian dari wanita ini membuat ia sekali waktu suka mencari hiburan dan setiap kali bertemu dengan pria yang menarik hatinya, tentu ia mempergunakan kecantikan dan kepandaiannya untuk memikat hati pria itu dan memaksanya menjadi kekasihnya untuk beberapa hari, beberapa minggu atau beberapa bulan saja. Setelah ia merasa bosan, ia akan membunuh pria itu agar jangan mengabarkan hal-hal yang memalukan tentang dirinya. Demikianlah, ketika melihat Louw Heng Siok, Sin-kiam Mo-li merasa tertarik dan tanpa kesukaran ia berhasil memikat hati pemuda itu karena Louw Heng Siok juga bukan seorang pemuda alim.

Bagaikan seekor laba-laba berhasil menangkap seekor lalat, Sin-kiam Mo-li membawa pemuda itu ke sarangnya dan seperti biasa, setelah ia kekenyangan mengisap darahnya dan menjadi bosan, pemuda itu dibunuhnya dan dilemparkannya ke dalam lumpur maut sehingga lenyap tanpa bekas. Hal itu terjadi beberapa bulan sebelum ia menculik Hong Li.

Biarpun pembunuhan itu tidak meninggalkan jejak, namun akhirnya Louw Pa yang kehilangan puteranya, merasa curiga. Lima orang anak buahnya melakukan penyelidikan dan merekapun lenyap di tempat yang penuh rahasia itu. Louw Pa sudah melakukan penyelidikan dan mendengar bahwa di bukit yang berada di kaki Pegunungan Heng-tuan-san itu tinggal seorang wanita cantik yang berjuluk Sin-kiam Mo-li, dan dia merasa yakin bahwa wanita inilah yang telah melenyapkan puteranya.

Apa lagi ketika lima orang anak buahnya yang melakukan penyelidikan juga lenyap, hatinya penuh dengan kemarahan dan diapun mengumpulkan semua anak buahnya yang berjumlah tigapuluh orang termasuk dia dan dua orang pembantunya. Bahkan dia lalu minta bantuan dua orang temannya yang menjadi bajak di Sungai Lan-cang (Me-kong), yaitu dua kakek yang kini sudah datang bersama dia dan anak buahnya.

“Kalau kau ingin nonton pertunjukan, kau tinggallah saja di sini menjadi penonton,” kata Sin-kiam Mo-li kepada muridnya. “Aku akan mengajak tiga pelayanku untuk menyambut para penyerbu itu!”

Berkata demikian, Sin-kiam Mo-li lalu meloncat turun dari atas menara. Gerakannya demikian ringan seperti seekor burung yang terbang saja, diikuti pandang mata muridnya penuh kagum. Hong Li merasa amat kagum kepada wanita yang menjadi ibu angkatnya dan juga gurunya itu, menganggapnya seorang wanita cantik jelita, lemah lembut, dan berhati baik di samping ilmu kepandaiannya yang amat tinggi.

Kadang-kadang ia suka membandingkan gurunya dengan orang tuanya. Ia tidak tahu siapa yang lebih lihai antara gurunya dengan mereka.






Kini ia melihat betapa gurunya diikuti oleh Ang Nio, Pek Nio dan Hek Nio keluar dari dalam rumah menuju ke pantai di mana para penyerbu itu tadi berkumpul. Dari menara itu ia dapat melihat dengan jelas apa yang terjadi di bawah sana. Orang-orang Cin-sa-pang itu ternyata kini dibagi menjadi dua kelompok dan masing-masing kelompok dipimpin oleh seorang di antara dua kakek itu. Kelompok pertama yang disertai oleh pimpinan Cin-sa-pang menyerbu dari arah sungai itu, yaitu dari timur sedangkan kelompok ke dua mengambil jalan memutar, dan memasuki daerah berbahaya itu dari arah selatan.

Dengan jantung berdebar Hong Li melihat dari atas menara betapa gurunya dan tiga orang pelayannya itu menyelinap dan menuju ke bagian timur, menyelinap di antara pohon dan semak-semak belukar. Gurunya memberi petunjuk, jari tangannya menuding ke sana-sini dan tiga orang pembantu itu lalu berpencaran, menyelinap di antara pohon-pohon. Pedang telanjang mengkilat di tangan tiga orang wanita pembantu yang cantik-cantik akan tetapi juga lihai itu.

Diam-diam Hong Li merasa ngeri. Ia tahu bahwa akan terjadi pembunuhan-pembunuhan lagi dan melihat demikian banyaknya jumlah lawan yang datang menyerbu, ia dapat membayangkan betapa tempat itu akan menjadi tempat pembantaian dan banyak sekali darah akan mengalir dan mayat bertumpuk-tumpuk walaupun semua mayat dapat dilempar ke dalam kubangan lumpur atau pasir dan akan lenyap tanpa meninggalkan bekas. Ia bergidik.

Tiba-tiba terdengar suara teriakan dan Hong Li melihat seorang di antara anggauta rombongan penyerbu, terperosok ke dalam pasir berputar! Nah, sudah mulai, pikirnya dengan hati penuh kengerian. Dari menara itu ia melihat betapa orang yang terperosok itu meronta-ronta dan sebentar saja tubuhnya sudah tersedot pasir sampai ke dada.

Akan tetapi, kakek yang memimpin rombongan itu ternyata cerdik juga. Ia telah mengambil segulung tali yang agaknya memang sudah dipersiapkan dan melemparkan ujung tali ke arah orang yang terperosok. Orang itu menangkap ujung tali dan diapun ditarik keluar dari kubangan pasir maut. Hong Li menarik napas lega. Betapapun jahatnya orang-orang itu, hati kecilnya tidak menyetujui niat subonya yang agaknya hendak membunuh mereka semua. Biarpun ia suka sekali mempelajari ilmu silat, namun ia tidak suka melihat pembunuhan, apa lagi kalau pembunuhan itu dilakukan hanya karena urusan sepele saja.

Kalau para penyerbu itu memang jahat, ia lebih suka melihat gurunya menghajar mereka saja tanpa membunuh. Pembunuhan mendatangkan suatu rasa ngeri dalam hatinya.

Kini kakek yang memimpin rombongan itu, yang jenggotnya putih panjang, memberi aba-aba kepada anak buahnya untuk menyerbu terus dan jangan takut menghadapi jebakan-jebakan! Kini melihat betapa seorang temannya yang tadi terjebak dapat ditolong keluar, anak buah Cin-sa-pang itu menjadi berani dan mereka menggunakan golok untuk membabati semak-semak yang menghadang di depan mereka. Berhamburanlah daun-daun dan semak-semak dan Hong Li mengerutkan alisnya. Celaka, pikirnya, orang-orang itu merusak tumbuh-tumbuhan dan tempat tinggal gurunya akan menjadi buruk dan rusak keindahannya.

Akan tetapi, tiba-tiba terdengar teriakan-teriakan dan empat orang di antara rombongan itu roboh, berkelojotan dan tidak mampu bangun kembali. Kakek berjenggot panjang dan anak buahnya yang lain terkejut, cepat memeriksa dan mereka terkejut melihat bahwa empat orang itu ternyata telah tewas dan di leher mereka nampak luka kecil menghitam dan di dalam luka itu masih nampak ujung sebatang jarum yang telah seluruhnya masuk ke dalam leher! Jelaslah bahwa empat orang itu tewas karena serangan senjata gelap, jarum-jarum beracun yang amat berbahaya.

“Awas senjata rahasia!” teriak kakek itu dan sisa anak buahnya yang tinggal sebelas orang itu bersiap siaga dengan golok di tangan. Akan tetapi yang muncul bukan senjata rahasia, melainkan empat orang wanita yang tadi melepas jarum-jarum beracun itu.

Sin-kiam Mo-li dan tiga orang pembantunya sudah berloncatan keluar dari balik semak-semak. Sin-kiam Mo-li marah bukan main melihat rombongan itu membabati tumbuh-tumbuhan di situ.

Kakek berjenggot putih panjang, bajak tunggal yang lihai dari Lan-cang itu segera berseru,

“Inilah siluman itu!” Dan diapun sudah menggerakkan pedangnya menyerang Sin-kiam Mo-li.

Sedangkan Louw Pa yang berjuluk Cin-sa Pa-cu, sudah memberi aba-aba kepada anak buahnya untuk menyerbu. Dia sendiri juga menggerakkan sepasang goloknya, membantu si kakek berjenggot panjang untuk mengeroyok Sin-kiam Mo-li. Anak buahnya yang tinggal sepuluh orang lagi itu kini menerjang tiga orang wanita cantik yang berpakaian merah, putih, dan hitam dan segera terjadi perkelahian yang amat seru.

Melihat serangan pedang kakek berjenggot putih, Sin-kiam Mo-li mengeluarkan suara mendengus penuh ejekan dari hidungnya. Biarpun kakek itu termasuk seorang bajak tunggal yang lihai, namun melihat gerakan pedangnya, Sin-kiam Mo-li maklum bahwa kepandaian kakek itu tidak ada artinya baginya. Dengan amat mudahnya iapun mengelak dari sambaran pedang. Louw Pa, ketua Cin-sa-pang sudah menggerakkan sepasang goloknya. Juga menghadapi serangan sepasang golok ini, Sin-kiam Mo-li dengan mudahnya meloncat mundur untuk mengelak. Ketika dua orang lawannya itu menerjang lagi, Sin-kiam Mo-li sudah mencabut pedangnya dan begitu sinar pedang ini berkelebat, terdengar suara nyaring dan sepasang golok di tangan Louw Pa patah-patah!

Louw Pa menjadi pucat sekali dan dia sudah siap untuk meloncat ke belakang, namun terlambat. Ada sinar terang menyambar dan tahu-tahu tubuhnya sudah terjungkal dengan kepala terpisah dari tubuhnya dan darah muncrat-muncrat dari leher yang terbabat putus oleh pedang di tangan Sin-kiam Mo-li itu! Melihat ini, tentu saja kakek berjenggot putih terkejut bukan main. Tingkat kepandaian Louw Pa hanya sedikit selisihnya dengan kepandaiannya dan dalam segebrakan saja Louw Pa tewas dengan leher putus!

Maklumlah dia bahwa wanita itu sungguh lihai bukan main, akan tetapi hal ini sudah terlambat diketahuinya dan tidak ada lain jalan baginya kecuali memutar pedangnya dan menyerang dengan dahsyat.

“Tranggg.... krekkk!”

Kembali pedang di tangan bajak laut itu patah dan sebelum dia sempat mengelak, pedang di tangan Sin-kiam Mo-li sudah terbenam ke dalam dadanya!

Sin-kiam Mo-li mencabut pedangnya sambil menendang tubuh di depannya itu. Tubuh kakek itu terlempar diikuti ceceran darah dari dadanya dan tubuhnya terlempar masuk ke dalam kubangan lumpur. Sebentar saja ular-ular sudah menyeretnya tenggelam ke dalam lumpur itu.

Melihat betapa tiga orang pelayannya dikepung oleh sepuluh orang anak buah Cin-sa-pang, dengan geram Sin-kiam Mo-li menerjang maju, pedangnya berkelebatan dan berturut-turut terdengar orang menjerit dan empat orang di antara para pengeroyok itu roboh mandi darah terkena sambaran pedang Sin-kiam Mo-li. Menggiriskan sekali memang gerakan pedang wanita ini, dahsyat dan panas sehingga tidak mengherankan kalau ia dijuluki Iblis Betina Pedang Sakti.

Pada saat itu, di bagian selatan nampak ada asap tebal bergulung-gulung. Melihat ini, Sin-kiam Mo-li terkejut dan tahulah ia bahwa rombongan ke dua telah beraksi. Melihat bahwa jumlah pengeroyok tinggal enam orang dan tiga orang pelayannya cukup kuat untuk mengatasi enam orang itu, Sin-kiam Mo-li berkata kepada mereka,

“Bunuh mereka semua, jangan sampai ada yang lolos!” Setelah berkata demikian iapun meloncat dan berlari cepat menuju ke tempat kebakaran di selatan.

Dari atas menara, Hong Li nonton semua itu dan mukanya berubah agak pucat, alisnya berkerut dan hatinya diliputi kengerian. Ia tadi melihat betapa gurunya menyebar maut dan masih bergidik ia melihat orang tinggi kurus yang memegang sepasang golok itu dibabat buntung lehernya oleh pedang subonya.

Melihat pembantaian itu, beberapa kali ia memejamkan matanya dan hatinya terasa kacau dan gelisah. Rasa sayang yang mulai tumbuh di dalam hatinya terhadap subonya kini menjadi dingin. Tak disangkanya, subonya yang demikian ramah tamah, lemah lembut dan nampaknya penuh kasih sayang, dapat bertindak sekejam itu, membunuhi orang seperti membunuh nyamuk saja!

Padahal, sejak kecil ayah dan ibunya selalu mengajarnya agar menjadi seorang pendekar yang membela kebenaran dan keadilan, bukan menjadi pembunuh manusia mengandalkan ilmu silat yang dipelajarinya. Bahkan ayah bundanya selalu mencela perbuatan orang yang menggunakan ilmu silat sembarangan membunuh orang lain. Antara lain ayahnya pernah berkata bahwa mungkin sekali kita membunuh orang lain dalam usaha membela diri dan membasmi kejahatan, akan tetapi bukan membunuh dengan tangan dingin terhadap lawan yang tidak mampu melawan. Membunuh untuk menghindarkan diri dari ancaman maut dan membunuh untuk menghindarkan perbuatan jahat dilakukan orang, berbeda dengan membunuh lawan yang tidak berdaya atau tidak mampu melawan.

Dan subonya tadi membunuhi lawan yang jelas bukan menjadi lawannya. Baru segebrakan saja subonya telah membunuh tujuh orang berikut yang diserang dengan jarum beracun, dan kini tiga orang pelayan itu sedang berusaha keras untuk membunuh enam orang lagi, setelah merekapun sudah membunuh tiga orang lawan dengan jarum mereka.

Akan tetapi perhatian Hong Li tertarik oleh gerakan subonya yang berlari cepat menuju ke selatan. Di sana ia melihat rombongan yang lain dari orang-orang Cin-sa-pang sedang membabati semak-semak, bahkan menumbangkan pohon-pohon dan sebagian malah membakar semak-semak! Ada pula tadi di antara mereka yang terperosok ke dalam kubangan lumpur dan pasir maut, namun teman-temannya, dipimpin oleh kakek berkepala botak, menyelamatkan mereka yang terperosok itu dengan tali. Dan kini, sambil membabat dan membakar sana-sini, rombongan ini terus maju menuju ke rumah yang nampak gentengnya dari tempat mereka merusak tumbuh-tumbuhan itu.

Akan tetapi tiba-tiba nampak bayangan berkelebat dan tahu-tahu seorang wanita cantik yang memegang pedang telah berada di depan mereka. Wanita cantik itu mengerutkan alisnya dan memandang dengan sepasang mata berkilat-kilat.

Akan tetapi hal lain yang menarik perhatian Hong Li. Agaknya hanya ia seorang yang dapat melihat munculnya belasan orang dari arah selatan. Belasan orang ini berpakaian putih-putih dan di depan mereka berjalan tujuh orang yang berpakaian seperti pendeta dengan jubah panjang, rambut panjang digelung tinggi di atas kepala dan dari jauh saja Hong Li dapat menduga bahwa tujuh orang itu, yang bentuk tubuhnya berbeda-beda, tentulah pendeta-pendeta To sedangkan belasan orang berpakaian seragam putih itu berjalan berpasangan seperti sebuah pasukan kecil!

Ketika tiba di luar hutan yang menjadi batas daerah tempat tinggal subonya, rombongan orang itu berhenti, kemudian hanya tujuh orang pendeta itu yang terus memasuki hutan dan diam-diam Hong Li terkejut melihat betapa tujuh orang pendeta itu amat lihainya, meloncati begitu saja tempat-tempat jebakan dan kubangan-kubangan maut seolah-olah mereka telah hafal akan keadaan di tempat itu. Dan tak lama kemudian tujuh orang pendeta itu telah mendekati tempat di mana subonya sedang berhadapan dengan rombongan orang Cin-sa-pang.

Suling Naga