Ads

Rabu, 10 Februari 2016

Suling Naga Jilid 167

Dua orang pendekar itu lalu turun dan mulai melakukan penyelidikan di sekitar tempat itu. Dalam penyelidikan inilah mereka melihat belasan anak buah Pek-lian-pai yang bergerombol dan menanti kembalinya para pimpinan mereka yang kini menjadi tamu Sin-kiam Mo-li. Juga mereka melihat lima buah perahu kosong yang tadi dipergunakan orang-orang Cin-sa-pang untuk menyerbu tempat itu.

“Lihat itu,” Sim Houw tiba-tiba menunjuk ke sebuah jalur air yang berkelak-kelok seperti ular. “Itu merupakan jalan air yang mengalir dari bukit menuju ke Sungai Cin-sa ini. Tentu air hujan yang turun ke atas bukit itu mengalir melalui jalan air itu dan kiranya jalan itulah yang paling aman.”

“Akan tetapi, perlukah kita demikian berhati-hati sehingga kita harus masuk melalui jalan yang aman dan tersembunyi seperti pencuri? Koko, mengapa kita tidak masuk saja melalui jalan biasa, menghadapi semua jebakan dan terang-terangan minta bertemu dengan Sin-kiam Mo-li, dan kita minta dikembalikannya Hong Li?”

Sim Houw menggeleng kepala tidak setuju.
“Lan-moi, kita berurusan dengan pembebasan seorang tawanan, maka kita harus berlaku hati-hati agar jangan sampai kita gagal menyelamatkan nona Hong Li. Kalau kita masuk berterang, maka terdapat banyak bahaya. Sin-kiam Mo-li dapat saja lebih dahulu menyembunyikan anak itu sehingga tidak terdapat bukti bahwa ia yang menculiknya. Bahkan dapat saja ia membunuh anak itu untuk menghilangkan jejak., Pula, dengan adanya tujuh orang tokoh Pek-lian-kauw dan Pat-kwa-kauw itu, lawan kita akan menjadi semakin berat.”

“Akan tetapi kita dibantu oleh suci! Ah, mana suci Siu Kwi? Kenapa ia belum juga muncul?”

“Aku di sini, sumoi!” Sesosok bayangan berkelebat dan Bi-kwi telah berdiri di depan mereka. Wajah wanita ini menjadi agak pucat. “Apakah kalian melihat apa yang kusaksikan tadi?”

Ia bergidik ngeri. Ia tadi memang sengaja berpencar dengan Bi Lan dan Sim Houw. Kalau kedua orang itu melakukan penyelidikan dengan jalan memutar dari barat ke selatan, lalu ke timur, Bi-kwi melakukan penyelidikan dari barat ke utara lalu ke timur dan kini mereka bertemu di sebelah timur tempat itu.

“Pembantaian yang dilakukan oleh tujuh orang tosu itu terhadap belasan orang yang menyerbu?” tanya Bi Lan.






Bi-kwi mengangguk.
“Bukan cuma itu, juga di dekat sungai telah dibantai pula belasan orang. Sedikitnya tigapuluh orang yang tewas di tangan Sin-kiam Mo-li dan kawan-kawannya. Ihhh, wanita itu sungguh lihai bukan main, juga memiliki kekejaman yang mengerikan!”

Diam-diam Bi Lan merasa heran di dalam hatinya. Sucinya memang benar telah berubah kalau dibandingkan dengan dahulu. Dahulu, sebelum sucinya bertemu dengan Yo Jin, perbuatan yang dilakukan oleh Sin-kiam Mo-li itu belum tentu membuat matanya berkedip, apa pula merasa ngeri! Agaknya kini perasaan hati Bi-kwi juga sudah berubah sama sekali sehingga menyaksikan perbuatan kejam dilakukan orang, wajahnya sampai menjadi pucat dan suaranya agak gemetar.

“Dan tujuh orang pendeta itupun memiliki kepandaian tinggi. Tadi kami sempat menyaksikan ketika mereka membunuh belasan orang itu. Gerakan mereka jelas membuktikan bahwa mereka adalah ahli-ahli silat tingkat tinggi yang sama sekali tidak boleh dipandang ringan,” kata Sim Houw.

Bi-kwi mengangguk.
“Kita harus mengatur siasat, tidak boleh bertindak sembrono karena tempat ini penuh dengan jebakan-jebakan berbahaya. Dulu, tiga orang suhu Sam Kwi pernah bicara tentang lorong rahasia yang mempergunakan bentuk pat-kwa. Sayang aku belum pernah mempelajarinya karena ketika itu kuanggap tidak perlu. Siapa kira sekarang kita dihadapkan dengan tempat yang dilindungi oleh lorong-lorong rahasia pat-kwa yang sulit dan berbahaya.”

“Sebaiknya kalau kita berunding dulu di tempat penginapan kita. Besok saja kita turun tangan karena sebentar lagi tentu hari menjadi gelap dan lebih berbahaya lagi masuk ke tempat seperti ini. Mudah-mudahan besok para tosu itu telah pergi sehingga gerakan kita akan berhasil tanpa banyak kesukaran,” kata Sim Houw.

Dua orang wanita itu setuju dan merekapun cepat meninggalkan tempat itu, menuju ke kota Teken di sebelah barat, kota yang kecil akan tetapi cukup ramai dan mereka bermalam di satu-satunya rumah penginapan yang ada di kota itu. Setelah tiba di tempat penginapan dan makan sore, malam itu mereka bertiga mengadakan perundingan dan mengatur siasat.

“Tidak ada lain jalan yang lebih baik,” akhirnya Bi-kwi berkata setelah mendengarkan pendapat Sim Houw dan Bi Lan, “kecuali menggunakan siasat bersahabat. Kalau kita mempergunakan kekerasan menyerbu, tentu anak itu akan disingkirkan lebih dulu dan kalau sudah demikian, sukarlah bagi kita untuk mencarinya. Tanpa bukti adanya anak itu, kita tidak mampu berbuat apa-apa terhadap Sin-kiam Mo-li. Maka, mengingat bahwa ia adalah anak angkat dari mendiang Kim Hwa Nio-nio, paling baik kalau aku datang berkunjung sebagai seorang sahabat, sebagai seorang dari satu golongan.”

“Akan tetapi, suci! Siapa bilang engkau satu golongan dengan orang macam Sin-kiam Mo-li yang kini bergabung dengan para pemberontak Pek-lian-kauw dan Pat-kwa-kauw? Mereka adalah orang-orang jahat, dari golongan sesat, sedangkan engkau....“
Bi-kwi melambaikan tangan.

“Sudahlah, sumoi. Lupakah engkau siapa aku ini dahulu? Memang aku telah mencuci tangan dan hatiku, akan tetapi semua ini hanya dipergunakan sebagai siasat saja. Mengingat bahwa aku adalah murid Sam Kwi, tentu ia mau menerimaku sebagai tamu, apa lagi mengingat bahwa aku pernah bekerja sama dengan ibu angkatnya. Tentu ia ingin sekali mendengar dari mulutku sendiri yang dulu bekerja sama dengan Kim Hwa Nio-nio, tentang perkelahian itu dan bagaimana ibu angkatnya tewas. Nah, sebagai tamu, aku tentu akan dapat bertemu dengan anak itu kalau memang benar anak itu berada di sana. Ia tentu tidak akan merahasiakan adanya anak itu di sana terhadapku yang sama sekali tidak akan dicurigainya. Kalau sudah demikian, berarti kita memperoleh dua keuntungan. Pertama, akan ada kepastian apakah anak itu berada di sana dan ke dua, aku sudah mengenal jalan yang aman memasuki daerah itu.”

Sim Houw mengangguk-angguk dan Bi Lan merasa girang sekali.
“Ah, bagus sekali, suci. Agaknya memang itulah jalan terbaik bagi kita. Untung sekali bahwa engkau telah ikut membantu kami, suci.”

“Aih, sumoi, jangan memuji dulu. Ini baru rencana, simpanlah pujianmu sampai kita berhasil.”

Mereka bercakap-cakap sampai jauh malam dan diam-diam Sim Houw maupun Bi Lan melihat kenyataan betapa wanita yang dulunya menjadi iblis betina itu kini benar-benar telah berubah. Apalagi ketika Bi-kwi bercerita tentang Yo jin, di dalam kata-katanya itu penuh berhamburan nada cinta kasih yang mendalam terhadap suaminya itu sehingga Bi Lan merasa terharu sekali.

Kebaikan tidak mungkin dilatih atau dipelajari. Kebaikan tidak mungkin dilakukan dengan sengaja karena kalau kebaikan dilakukan dengan sengaja, dengan kesadaran bahwa perbuatan itu merupakan kebaikan, maka itu bukan lagi kebaikan namanya, melainkan perbuatan yang sudah teratur dan karenanya berpamrih. Dan perbuatan apapun yang mengandung pamrih, dapatkah dinamakan kebaikan? Yang dinamakan pamrih adalah harapan untuk mencapai sesuatu demi keuntungan diri pribadi, baik itu keuntungan lahir maupun keuntungan batin.

Segala bentuk perbuatan, yang dinamakan baik maupun buruk, adalah akibat dari pada keadaan pikiran, keadaan batin. Baik buruknya setiap perbuatan ditentukan oleh keadaan batin. Oleh karena itu, bukan perbuatan yang harus dirobah, yang harus dilatih atau dipelajari karena perbuatan hanya merupakan akibat dari keadaan batin. Yang perlu dirobah adalah batin sendiri, keadaan batin itu sendiri. Bukan dirobah oleh kita, karena kalau demikian, hal itu merupakan suatu perbuatan berpamrih yang lain. Bukan dirobah, melainkan BEROBAH!

Jadi, perbuatan yang dinamakan perbuatan baik tidak terpisah dari keadaan batin, demikian perbuatan yang dinamakan buruk atau jahat. Batinlah yang menentukan, keadaan batin yang mendorong setiap perbuatan. Kalau batin tenang dan bersih, dapatkah kita melakukan perbuatan yang buruk dan jahat? Sebaliknya, kalau batin keruh dan kacau, mana mungkin kita dapat melakukan perbuatan bersih dan baik?

Dan batin baru dalam keadaan hening, tenang, bersih, berimbang, tegak dan lurus, bersih dan bening, kalau tidak dikeruhkan dan disibukkan oleh pikiran! Pikiranlah yang membentuk AKU dan si aku inilah yang merajalela mengaduk batin, dengan segala keinginannya, mengejar dan mengulang kesenangan, mengelak dan menjauhi yang tidak menyenangkan.

Si aku menyeret batin ke dalam lingkaran setan yang tiada berkeputusan antara baik dan buruk, senang dan susah, puas dan kecewa, suka dan duka, dan setiap saat batin menjadi keruh, menjadi sumber dari segala rasa takut, marah, benci, iri, tamak, prasangka yang menjadi permainan si aku dan akhirnya hanya duka dan sengsara yang menjadi bunga kehidupan kita.

Untuk dapat menyelami semua ini, kita hanya tinggal menjenguk isi batin sendiri, mengamati batin kita sendiri saat demi saat, hidup dalam keadaan sekarang ini, menghapus yang lalu dan menyingkirkan yang akan datang agar kita dapat sepenuhnya hidup di saat ini. Pengamatan terhadap diri sendiri lahir batin sajalah yang akan membuat kita waspada, tidak lagi menjadi boneka permainan nafsu, tidak ada lagi si aku merajalela dan yang ada hanyalah kewaspadaan dan kesadaran.

Belum lama setelah Sim Houw, Bi Lan dan Siu Kwi (Bi-kwi) pergi meninggalkan daerah tempat tinggal Sin-kiam Mo-li, menjelang sore, nampaklah seorang pemuda datang ke tempat itu seorang diri saja. Pemuda berusia duapuluh satu tahun kurang lebih, bertubuh tegap dengan muka bersih cerah, tampan, dengan pakaian sederhana berwarna biru. Pemuda ini adalah Gu Hong Beng! Bagaimana pemuda itu tiba-tiba saja dapat muncul di sini?

Kiranya Hong Beng mendengar ketika Kao Cin Liong bercerita kepada Suma Ciang Bun tentang Sin-kiam Mo-li seperti yang diceritakan oleh Bi Lan betapa Bi Lan dan Sim Houw hendak melakukan penyelidikan kepada wanita iblis itu yang mencurigakan dan mengingat bahwa wanita itu adalah anak angkat mendiang Kim Hwa Nio-nio maka patut dicurigai sebagai penculik Hong Li untuk membalas dendam atas kematian ibu angkatnya.

Mendengar cerita tentang Sin-kiam Mo-li ini, yang menurut penuturan dalam percakapan itu tinggal di kaki Heng-tuan-san di tepi Sungai Cin-sa tapal batas Propinsi Se-cuan, hati Hong Beng tertarik sekali. Penculik itu telah diketahui, dan kini Bi Lan, Bi-kwi dan Sim Houw pergi ke sana! Hatinya merasa tidak puas dan bahkan tidak enak. Bagaimana keluarga Kao percaya kepada tiga orang itu, terutama kepada Bi-kwi? Tidak sepatutnya dan tidak semestinya kalau tugas menyelamatkan diserahkan kepada tiga orang yang masih amat meragukan itu. Siapa tahu mereka itu bahkan akan bersekutu dengan Sin-kiam Mo-li, maklum sama-sama sesat! Dan timbul pula rasa iri di dalam hatinya.

Sepantasnya dialah yang pergi menyelamatkan Hong Li dan mempertaruhkan nyawa untuk membela keluarga itu! Bukan orang orang macam Sim Houw, Bi Lan dan Bi-kwi!
Pikiran inilah yang mendorong Hong Beng untuk berpamit kepada gurunya setelah mereka meninggalkan Pao-teng. Kepada suhunya dia hanya mengatakan bahwa dia ingin merantau meluaskan pengetahuannya dan minta waktu selama satu tahun, baru dia akan menyusul suhunya.

Suma Ciang Bun menyetujui dan merekapun saling berpisah. Setelah melakukan perjalanan seorang diri, Hong Beng mempergunakan ilmu berlari cepat menuju ke barat. Dia ingin mendahului Sim Houw, Bi Lan dan Bi-kwi untuk lebih dulu di tempat tujuan dan lebih dahulu menyelamatkan Kao Hong Li.

Maka ketika pada siang hari menjelang sore itu dia tiba di tempat tujuan, dia segera akan memulai dengan usahanya mencari Hong Li, tidak tahu bahwa baru beberapa jam yang lalu, tiga orang yang hendak didahuluinya itu baru saja meninggalkan tempat itu. Juga dia tidak tahu bahwa kini di rumah Sin-kiam Mo-li terdapat tujuh orang tosu Pek-lian-kauw dan Pat-kwa-kauw yang amat lihai. Kalau saja Hong Beng bertindak lebih hati-hati, tentu dia akan memeriksa keadaan sekeliling dan akan melihat belasan anak buah Pek-lian-kauw yang berada di sebelah selatan hutan.

Dengan penuh semangat, penuh keberanian akan tetapi cukup berhati-hati, Hong Beng memasuki hutan pertama di kaki Pegunungan Heng-tuan-san itu. Dari jauh tadi dia sudah melihat genteng rumah besar di antara gerombolan pohon di lereng itu dan menduga bahwa itulah rumah Sin-kiam Mo-li yang dicarinya. Diapun melihat hutan yang pohon-pohonnya tumbuh teratur, bukan seperti hutan biasa dan dia dapat menduga bahwa hutan ini adalah hutan buatan, maka dia harus bersikap hati-hati sekali.

Dia memasuki daerah itu dari bagian yang belum pernah didatangi orang, dan jebakan-jebakan di sini berbeda sifatnya dengan yang pernah menjebak orang-orang Cin-sa-pang, walaupun ada pula persamaannya. Ketika Hong Beng memasuki hutan pertama, dia melihat pohon-pohon besar dan tempat itu nampak gelap akan tetapi seperti tak pernah ada bahaya apapun.

Dengan santai namun cukup waspada Hong Beng melangkah di antara pohon-pohon besar itu, melalui lorong yang agaknya, membawanya ke tengah hutan, menuju ke rumah yang pernah dilihat gentengnya tadi. Akan tetapi setelah melewati belasan pohon, tiba-tiba lorong itu terhenti dan tertutup oleh pohon besar yang memenuhi jalan. Hong Beng melihat bahwa di belakang pohon itu penuh semak-semak belukar berarti bahwa lorong itu memang berhenti sampai di situ saja!

Tentu saja dia menjadi penasaran. Melanjutkan perjalanan melalui lorong itu tak mungkin lagi karena semak-semak belukar di belakang pohon itu penuh dengan duri. Pasti ada jalan lain, pikirnya. Dengan hati-hati Hong Beng lalu meloncat ke atas pohon, dengan maksud untuk mencari jalan dengan mengintai dari atas pohon.

Suling Naga