Ads

Rabu, 10 Februari 2016

Suling Naga Jilid 169

Namun, bagi Hong Beng, serangan mereka itu tiada bedanya dengan serangan tiga orang anak kecil saja. Sekali dia memutar tubuh dan menggerakkan tangan, dia telah dapat mengelak dan menangkis tiga serangan itu. Bahkan Hek Nio dan Ang Nio yang terkena tangkisan lengan Hong Beng, hampir saja terpelanting jatuh saking kuatnya tenaga tangkisan pemuda itu.

Kini yakinlah tiga orang wanita itu bahwa pemuda ini memang lihai bukan main, maka merekapun cepat memutar pedang dan menggunakan senjata mereka untuk menyerang.

Setelah mereka bertiga itu menyerang dengan pedang, Hong Beng melihat betapa ilmu pedang mereka hebat dan berbahaya. Teringatlah dia akan julukan majikan mereka, yaitu Sin-kiam Mo-li (Iblis Betina Pedang Sakti). Kalau majikan atau gurunya berjuluk Pedang Sakti, tidaklah mengherankan kalau tiga orang wanita ini memiliki ilmu pedang yang demikian hebat.

Tiga batang pedang itu berubah menjadi tiga sinar bergulung-gulung yang menyerangnya dengan dahsyat dari tiga jurusan. Hong Beng harus mengerahkan gin-kangnya untuk membuat tubuhnya dapat bergerak dengan ringan dan cepat, mengelak ke sana-sini menyelinap di antara sambaran sinar-sinar pedang itu.

Memang dalam hal ilmu pedang, tiga orang gadis pelayan ini sudah mencapai tingkat yang cukup tinggi. Sin-kiam Mo-li telah melatih jurus-jurus ampuh kepada tiga orang pembantunya ini agar mereka menjadi pembantu dan penjaga yang lihai. Jarang ada orang mampu mengalahkan ilmu pedang mereka, apa lagi kalau mereka itu maju bersama seperti sekarang ini.

Tidaklah terlalu aneh kalau kini Gu Hong Beng, murid dari keluarga Pulau Es, merasa repot didesak oleh tiga gulungan sinar pedang yang lihai itu. Hong Beng maklum bahwa kalau dilanjutkan perkelahian ini dengan kedua tangan kosong saja menghadapi tiga batang pedang itu, dia dapat celaka.

Maka, ketika kembali tiga pedang itu menyerangnya dari tiga jurusan, depan, kanan dan kiri, tiba-tiba tubuhnya melayang ke belakang, bukan hanya untuk mengelak, melainkan dia berjungkir balik sampai jauh lalu menyambar sebatang ranting pohon yang dipatahkannya. Kini, dengan ranting yang sebesar lengan sepanjang pedang biasa, dengan terhias daun-daun, dia menghadapi tiga orang lawan itu dan begitu dia memutar ranting, tiga orang lawannya terkejut.

Biarpun hanya sebatang ranting, karena berada di tangan seorang ahli, maka ranting itu dapat menjadi sebuah senjata yang ampuh. Tiga batang pedang itu menyambar dan mencoba untuk membabat ranting itu agar patah. Namun, ranting itu dialiri tenaga sin-kang dari Hong Beng yang mempergunakan tenaga Swat-im Sin-kang (Tenaga Sakti Inti Salju).






“Tak! Tak! Tringgg....!”

Tiga batang pedang itu tertangkis dan akibatnya, tiga orang wanita itu mengeluh dan terhuyung ke belakang. Nampak wajah mereka berubah pucat dan tangan mereka agak menggigil. Hawa dingin yang masuk tulang telah menyusup ke dalam tubuh mereka, terutama bagian lengan kanan yang memegang pedang. Tiga orang pelayan itu merasa kaget dan juga penasaran sekali. Memang tadipun mereka sudah tahu bahwa pemuda ini amat lihai, akan tetapi sungguh sukar mereka dapat percaya bahwa hanya dengan sebatang ranting di tangan, dalam segebrakan saja pemuda itu mampu membuat mereka terhuyung, melalui serangan tenaga sin-kang dingin yang demikian kuatnya!

“Bunuh orang berbahaya ini!” bentak Ang Nio.

“Orang tak mengenal kebaikan orang lain!” bentak Pek Nio.

“Engkau sudah bosan hidup!” Hek Nio juga berteriak.

Tiga orang wanita itu lalu menggerakkan tangan kiri mereka dan sinar-sinar kecil menyambar ke arah Hong Beng. Namun pemuda ini tidak merasa gugup. Dengan amat tenangnya, ranting di tangannya digerakkan dan sekaligus jarum-jarum halus yang menyambar dari jarak dekat itu dapat dipukul runtuh semua. Akan tetapi, tiga batang pedang yang gerakannya cepat dan mengandung tenaga sin-kang itu telah menyerangnya dari tiga jurusan karena tiga orang wanita cantik itu telah membentuk barisan segi tiga.

Hong Beng maklum bahwa tiga orang lawannya tidak boleh dipandang ringan, apa lagi dia berada di sarang harimau, di daerah lawan yang amat berbahaya karena tempat itu penuh dengan perangkap dan jebakan-jebakan rahasia. Maka, diapun cepat menggerakkan rantingnya untuk menangkis sambil mengelak ke sana-sini, amat hati-hati karena khawatir kalau-kalau kakinya akan terjeblos.

Diapun tidak berniat membunuh tiga orang wanita yang tidak dikenalnya itu. Mereka ini, menurut dugaannya, tentulah pelayan pribadi atau murid-murid tokoh yang bernama Sin-kiam Mo-li itu. Dan dia belum melihat bukti bahwa Sin-kiam Mo-li benar orang yang telah menculik puteri keluarga Kao, maka tidak baik kalau sampai dia membuat-gara-gara membunuh tiga orang wanita ini.

Ketika dia memperoleh kesempatan, ujung tongkat yang terbuat dari ranting sederhana itu berkelebat dengan kecepatan kilat, tiga kali menyambar dan pedang tiga orang wanita itupun terlepas dari pegangan disusul teriakan mereka karena lengan kanan mereka tiba-tiba menjadi kaku tak dapat digerakkan untuk beberapa detik lamanya. Ujung ranting itu telah menotok jalan darah di lengan mereka secara luar biasa sekali. Maklum bahwa mereka bukan lawan pemuda yang amat lihai itu, tiga orang pelayan cepat berloncatan menghilang di balik semak-semak tanpa memperdulikan pedang mereka. Mereka ingin cepat melapor kepada Sin-kiam Mo-li yang masih bercakap-cakap dengan tujuh orang tosu itu.

Hong Beng hendak mengejar tiga orang wanita itu untuk memaksa seorang di antara mereka mengantarnya bertemu dengan Sin-kiam Mo-li. Tanpa pengantar, dia tentu akan menghadapi jebakan-jebakan rahasia yang berbahaya. Akan tetapi, begitu dia meloncat ke dekat semak-semak, jalan itu buntu dan tidak nampak bayangan tiga orang wanita itu yang sudah menghilang seperti ditelan bumi saja.

Selagi dia kebingungan, tiba-tiba terdengar suara ketawa merdu. Cepat dia bersiap siaga dan memandang. Kiranya di depannya telah berdiri seorang gadis remaja berusia tigabelas atau empatbelas tahun, gadis yang wajahnya manis sekali, sepasang matanya lebar dan sinarnya berkilat dan bergerak-gerak lincah, tanda bahwa ia seorang gadis remaja yang lincah cerdik dan bengal.

“Hi-hik, engkau merasa bangga telah mengalahkan tiga orang tadi, ya? Hemmm, tak perlu menjadi sombong, karena tanpa penunjuk jalan, jangan harap engkau akan dapat memasuki daerah kami ini, hi-hik!”

Setelah berkata demikian, gadis cilik itu lalu meloncat ke kanan di mana terdapat sebuah lorong yang merupakan jalan setapak. Tentu saja Hong Beng tertarik sekali. Dia maklum bahwa ucapan anak itu memang benar, dan kini dia memperoleh seorang penunjuk jalan, yaitu gadis cilik itulah!

“Haiii, berhenti dulu!” teriaknya dan cepat dia mengejar.

Girang hatinya melihat gadis cilik itu tidak begitu cepat larinya. Hong Beng bersikap cerdik. Tak perlu menyusul dan menangkap gadis itu, pikirnya, karena siapa tahu kalau ditangkap dan dipergunakan kekerasan untuk menjadi penunjuk jalan, gadis cilik itu malah tidak mau. Kini, mengikuti saja di belakang gadis itu tentu dia akan sampai juga ke tempat tinggal Sin-kiam Mo-li.

Maka diapun pura-pura mengejar sambil berseru menyuruh berhenti, akan tetapi sengaja bergerak perlahansehinggaselalu berada di belakang gadis itu, mengikuti jejak kakinya, seolah-olah dia tidak pernah dapat menangkapnya! Gadis itu berlari terus, berloncatan ke sana-sini dan selalu diikuti jejaknya oleh Hong Beng.

“Haii, tunggu! Aku mau bicara denganmu!” teriak Hong Beng berkali-kali, teriakan yang merupakan siasatnya untuk membuat gadis itu berlari terus agar dia dapat mengikuti di belakangnya dengan aman.

Tentu saja gadis ini sudah hafal akan jalan rahasia di tempat berbahaya ini dan mengikuti jejak gadis itu berarti aman. Gadis cilik itu bukan lain adalah Kao Hong Li. Tadi ia melihat munculnya pemuda itu dan melihat pula betapa pemuda itu mengalahkan Ang Nio, Pek Nio, dan Hek Nio.

Timbul kekhawatirannya karena pemuda itu ternyata lihai sekali. Tentu seorang musuh, mungkin seorang tokoh Cin-sa-pang yang amat lihai, yang berani datang seorang diri, tanpa senjata, hanya bersenjata ranting kayu namun dapat mengalahkan tiga orang pelayan yang lihai itu. Melihat ini, Hong Li merasa bahwa ia tak boleh tinggal diam saja.

Sebagai murid dari subonya ia harus bertindak mencegah musuh ini. Akan tetapi, iapun maklum bahwa ilmu silatnya belum banyak selisihnya dengan tingkat para pelayan tadi sehingga menghadapi musuh ini dengan ilmu silat tidak akan ada artinya. Ia harus mempergunakan siasat dan akal, pikirnya. Maka muncullah gadis cilik itu mengejek dan memancing Hong Beng.

Hong Beng merasa girang dan mengira bahwa tentu kini tempat tinggal Sin-kiam Mo-li sudah dekat. Tiba-tiba gadis yang dikejarnya itu berhenti di depannya karena di depan gadis itu membentang sebuah kubangan lumpur yang amat lebar. Kiranya tidak mungkin untuk melompati kubangan yang demikian lebarnya, akan tetapi di sana-sini terdapat batu-batu menonjol. Batu-batu itu cukup untuk dipergunakan sebagai loncatan, pikir Hong Beng, sama sekali tidak khawatir. Dan dugaannya memang tepat. Gadis cilik itu melompat ke atas sebuah di antara batu-batu itu, akan tetapi agaknya batu itu licin sekali sehingga tubuh gadis cilik itu nampak terhuyung dan bergoyang, hampir jatuh.

“Aduh, tolong....!” Gadis itu berseru.

“Jangan takut, aku menolongmu!” kata Hong Beng dan tanpa ragu lagi diapun meloncat ke arah sebuah batu besar yang menonjol pula, tak jauh dari batu yang diinjak gadis itu, yang nampak ketakutan dan berdiri tegak di atasnya.

Akan tetapi pada saat kaki Hong Beng hinggap di atas batu itu, tiba-tiba saja tubuh anak perempuan itupun melesat dengan cepatnya ke atas batu lain di dekat seberang. Dan dapat dibayangkan betapa kaget rasa hati Hong Beng ketika batu yang diinjaknya itu terjeblos ke dalam lumpur bersama tubuhnya. Dia hendak meloncat, namun terlambat karena kedua kakinya sudah terbenam ke dalam lumpur yang seolah-olah memiliki kekuatan menyedot. Dia mengerahkan sin-kang, meronta.

Akan tetapi karena tidak ada lagi tempat kokoh untuk berpijak, kekuatannya ini malah memberatkan tubuhnya dan diapun ambles sampai dada! Maklumlah Hong Beng bahwa dia telah terjeblos ke dalam lumpur yang berbahaya sekali dan makin kuat dia meronta, makin dalam pula dia terbenam. Maka diapun bersikap tenang, tidak lagi meronta dan tubuhnya tetap saja terbenam sampai ke dada, tidak turun lagi, akan tetapi juga sama sekali tidak ada jalan untuk menarik tubuhnya ke luar dari lumpur!

Dia memandang ke arah gadis cilik itu dan tahulah dia bahwa dia telah terpancing dan terjebak oleh gadis cilik yang amat cerdik itu karena kini dia melihat gadis itu tadi hanya bersandiwara dan ternyata dia terjebak! Tiga orang wanita dewasa yang lihai tidak mampu menangkapnya, juga perangkap-perangkap berbahaya dapat dihindarkannya. Siapa kira sekarang dia jatuh oleh seorang anak perempuan yang menggunakan akal bulus! Diam-diam Hong Beng merasa penasaran sekali, juga memaki kebodohan dirinya sendiri, juga kagum akan kecerdikan anak itu.

Masih begitu muda akan tetapi telah memiliki kecerdikan luar biasa. Agaknya anak itu telah memperhitungkan segalanya sehingga dia dengan mudah dapat ditipunya. Hong Li tertawa-tawa kecil di tepi kubangan lumpur. Melihat lawannya telah terbenam sampai ke dada dan kini diam saja, sama sekali tidak bergerak, ia menggoda,

“Hayo berontaklah! Makin kau meronta, semakin dalam kau tersedot, dan sebentar lagi lumpur akan menutupi mulutmu, hidungmu, matamu!”

Hong Beng merasa panas.
“Hemm, bocah setan, jangan mengira aku takut mati! Aku hanya menyesalkan kebodohanku, mudah saja tertipu oleh bocah setan macam engkau!”

“Eh? Kau tidak takut? Tidak merasa ngeri? Kenapa engkau tidak minta ampun padaku dan minta pertolonganku agar aku menarikmu keluar?”

Hong Beng maklum bahwa anak setan itu hanya menggodanya, maka tentu saja dia tidak sudi memberi kepuasan kepada anak itu dengan memperlihatkan rasa takutnya.

“Sudah kukatakan, aku tidak takut mati. Akan tetapi, siapakah engkau ini dan masih ada hubungan apa antara engkau dan Sin-kiam Mo-li?”

“Hemm, siapa aku tidak penting. Yang penting siapa engkau dan mau apa engkau memaksakan kehendakmu memasuki daerah ini?”

Kembali Hong Beng kagum. Anak ini masih amat muda, akan tetapi sikapnya sudah dewasa dan cukup berwibawa. Seorang anak yang cerdik sekali, dan juga mempunyai sepasang mata yang tajam dan bening, sama sekali tidak nampak bayangan watak jahat dari sepasang mata seperti itu.

“Namaku Gu Hong Beng dan aku datang untuk bertemu dengan Sin-kiam Mo-li. Karena menghalangi keinginanku bertemu dengan Sin-kiam Mo-li, maka aku berkelahi dengan tiga orang wanita itu.”

“Mau apa engkau minta bertemu dengan Sin-kiam Mo-li?” tanya pula Hong Li dan dia makin kagum karena kini tubuh pemuda itu sudah terbenam semakin dalam, sampai ke pundak, akan tetapi orangnya masih tetap nampak tenang saja.

Hong Beng mempertimbangkan pertanyaan ini. Perlukah dia berterus terang kepada anak perempuan ini? Akan tetapi, nyawanya tergantung di sehelai rambut, dan agaknya dia tidak akan terbebas dari cengkeraman maut ini, maka apa salahnya kalau dia berterus terang? Setidaknya, dia tidak akan lenyap begitu saja dan gadis ini menjadi saksi kematian dan kehilangannya. Siapa tahu, dari mulut gadis cilik ini kelak, suhunya dan semua orang akan mengetahui akan nasibnya. Biar mereka semua tahu bahwa dia tewas dalam usahanya menyelamatkan puteri keluarga Kao yang diculik orang.

Suling Naga