Ads

Rabu, 10 Februari 2016

Suling Naga Jilid 170

“Siapakah engkau sesungguhnya, sebelum aku menjawab pertanyaanmu ini?” Hong Beng bertanya.

“Aku adalah anak angkat, juga murid Sin-kiam Mo-li yang kau cari itu.”

Mendengar ini, lemaslah rasanya hati Hong Beng. Celaka, pikirnya, pantas anak ini demikian cerdik dan lihainya, dan harapan untuk memperoleh pertolongan semakin tipis dan jauh.

“Baiklah biar ceritaku ini merupakan pesan terakhir bagi siapa saja melalui engkau. Aku datang ke sini mencari Sin-kiam Mo-li untuk bertanya apakah ia telah menculik seorang anak perempuan dan kalau benar demikian, aku akan merampas kembali anak perempuan yang terculik itu?”

Mendengar ini, Hong Li nampak terkejut dan matanya terbelalak. Mata yang memang sudah lebar itu nampak semakin lebar, seperti matahari kembar.

“Ih, subo tidak pernah menculik orang! Siapakah anak perempuan yang diculiknya itu?”

“Ia puteri dari pendekar Kao Cin Liong, namanya Kao Hong Li. Apakah engkau melihat anak itu di sini?”

Tiba-tiba Hong Li meloncat bangkit dari jongkoknya dan wajahnya berubah, alisnya berkerut.

“Siapakah engkau sesungguhnya? Masih ada hubungan apa antara engkau dan keluarga Kao itu?” Pertanyaannya penuh nafsu dan mendesak sekali.

Pertanyaan aneh, pikir Hong Beng. Akan tetapi karena dia mengharapkan anak ini kelak menceritakan kepada semua orang tentang dirinya, diapun menjawab sejujurnya.

“Isteri pendekar Kao yang bernama Suma Hui adalah bibi guruku karena guruku, Suma Ciang Bun, adalah adik kandungnya.”

“Ahhh....!” Gadis cilik itu berseru kaget dan tiba-tiba ia bertanya, “Apakah engkau mampu mengeluarkan kedua tanganmu?”

“Apa....? Apa.... maksudmu?”






“Cepat keluarkan kedua tanganmu ke atas lumpur agar dapat aku menarikmu keluar dari situ.”

Tentu saja ucapan ini mengejutkan akan tetapi juga mengherankan dan terutama sekali menyenangkan hati Hong Beng yang secara tiba-tiba memperoleh harapan baru. Dia menarik kedua lengannya yang terpendam, akan tetapi walaupun dia berhasil menarik kedua tangannya ke atas, tubuhnya semakin tenggelam dan kini lumpur telah mencapai dagunya, hanya satu senti saja di bawah mulut!

Bau lumpur yang busuk menyengat hidungnya. Akan tetapi Hong Beng tetap bersikap tenang saja walaupun sedikit lagi, kalau lumpur sudah menutup hidungnya, berarti berakhirlah riwayat hidupnya. Dan pada saat itu, dia merasa ada benda yang licin bergerak meraba-raba kakinya. Dia terkejut dan dapat menduga bahwa di dalam lumpur itu terdapat binatang, mungkin semacam belut, ikan atau ular! Teringat akan ini dia cepat mengerahkan sin-kangnya dan mengerahkan hawa panas dari Hui-yang Sin-kang untuk melidungi tubuhnya dari gigitan binatang. Dan untung dia melakukan ini karena pada saat itu, banyak sekali ular dalam lumpur yang siap menggigitnya akan tetapi binatang-binatang itu mundur teratur ketika merasa betapa dari tubuh yang terbenam lumpur itu keluar hawa yang amat panas!

Sementara itu, Hong Li sudah memutar otak, bagaimana untuk menolong Hong Beng yang sebentar lagi tentu tewas kalau tidak cepat ditarik keluar. Tidak ada tali di situ.

Akan tetapi ia seorang gadis yang amat cerdik. Ditumbangkannya sebatang pohon yang tidak berapa besar namun cukup panjang, dan diseretnya batang pohon berikut cabang dan daun-daunnya itu ke tepi kubangan lumpur. Kemudian, ia memotong sebagian ikat pinggangnya yang terbuat dari sutera yang kuat. Diikatnya ujung batang pohon itu dengan ikat pinggang, kemudian ujung ikat pinggang ia ikatkan pada sebatang pohon besar yang kokoh kuat. Setelah itu, ia menyeret batang pohon tadi dan melemparkannya ke tengah kubangan sambil berseru kepada Hong Beng yang kini mulutnya sudah tertutup lumpur!

“Tangkap ini dan tarik keluar dirimu melalui batang pohon!”

Tanpa diberitahupun, Hong Beng sudah maklum apa yang harus dilakukannya. Dia sejak tadi melihat saja dan bukan main kagumnya melihat usaha anak itu. Dia sendiri tentu akan bingung untuk menolong orang keluar dari lumpur tanpa adanya tali. Akan tetapi anak perempuan itu telah memperoleh akal yang amat baik. Dia segera menangkap cabang pohon itu dan segera dengan hati-hati dan perlahan-lahan agar jangan sampai cabang itu putus atau ikat pinggang di ujung sana itu putus, dia mulai menarik tubuhnya ke atas. Dan dia berhasil!

Perlahan-lahan, mulai nampaklah tubuhnya bagian atas yang berlepotan lumpur. Kini, perlahan-lahan, dia merayap melalui batang pohon itu, menarik tubuhnya semakin tinggi keluar dari lumpur dan akhirnya, dengan terengah-engah, dia sampai juga ke tepi dan naik ke tepi kubangan lumpur, lalu menjatuhkan diri ke atas tanah saking lelahnya dan tegangnya.

“Ah, engkau berhasil!” Hong Li berseru gembira.

Hong Beng mencoba untuk membersihkan lumpur dari leher dan mukanya bagian bawah.

“Ya, berkat pertolonganmu, adik yang baik. Engkau telah menyelamatkan nyawaku....”

“Tidak, karena aku yang membuat engkau terperosok tadi. Aku hanya menebus kesalahanku saja!“

Hong Beng tersenyum. Benar juga, dan dia semakin kagum akan kejujuran anak ini.
“Engkau anak angkat dan murid Sin-kiam Mo-li, mengapa menolongku? Siapakah engkau adik yang begini cerdik, lihai dan baik hati?”

“Namaku? Aku.... Kao Hong Li!”

“Ihhh....!” Hong Beng meloncat dan lupa akan kekotoran tubuhnya yang terbungkus lumpur. Dia terbelalak memandang gadis cilik itu, penuh keheranan, penuh kejutan dan kekaguman. “Engkau.... engkau adik Kao Hong Li? Akan tetapi, bagaimana engkau dapat menjadi anak angkat dan murid Sin-kiam Mo-li?”

Hong Li tersenyum manis.
“Panjang ceritanya, suheng. Bukankah engkau menjadi suhengku karena engkau murid paman Suma Ciang Bun?”

“Ya, panjang ceritanya. Akan tetapi engkau telah berani masuk ke sini tanpa ijin, karena itu engkau harus menyerah sebagai tawanan kami,” tiba-tiba terdengar suara orang dan ketika Hong Beng menoleh, di situ telah berdiri seorang wanita cantik, bertubuh tinggi ramping dan matanya mencorong. Yang mengejutkan hati Hong Beng adalah ketika dia melihat betapa di belakang wanita itu nampak pula tujuh orang tosu, di antaranya adalah tosu-tosu yang sudah dikenalnya, yaitu para tokoh Pek-lian-pai dan Pat-kwa-pai yang berilmu tinggi.

“Subo, dia ini suhengku sendiri....!” Hong Li mencoba untuk mencegah subonya.

“Hong Li, masuk kau! Belum juga kapok engkau menolong orang yang hendak mengacau di sini!” bentak Sin-kiam Mo-li dengan marah. Hong Li mengerutkan alisnya, akan tetapi ia tidak berani membantah lagi dan sambil mengepalkan tinju, iapun lari meninggalkan tempat itu, kembali ke dalam bangunan dan mengunci diri di dalam kamarnya sendiri dengan marah.

Sementara itu, Hong Beng berdiri dengan siap siaga, bingung apa yang harus dilakukan karena setelah mendengar bahwa Hong Li adalah anak angkat dan juga murid Sin-kiam Mo-li, tidak mungkin dia menuduh wanita ini menculiknya. Akan tetapi, kenyataan bahwa Sin-kiam Mo-li datang bersama tujuh orang tokoh Pat-kwa-pai dan Pek-lian-pai itu membuat dia semakin ragu karena dia mengenal tujuh orang ini sebagai orang-orang yang datang dari golongan hitam dan sesat, yang mempergunakan agama dan perjuangan untuk menipu rakyat.

“Ha-ha-ha!” Terdengar Thian Kek Seng-jin, tokoh Pek-lian-kauw yang bermuka merah itu tertawa. “Kiranya murid keluarga Pulau Es, Suma Ciang Bun, kini menjadi seekor belut yang suka bermain di dalam lumpur! “

“Mo-li, dia ini murid keluarga Pulau Es, kebetulan dia datang mengantar nyawa, biar pinto membunuhnya untukmu!” kata Thian Kong Cin-jin, wakil ketua Pat- kwa-pai yang sudah menggerakkan tongkatnya yang panjang.

“Nanti dulu, totiang!” Sin-kiam Mo-li berseru dan kakek itupun menahan tongkatnya.

“Dia melanggar daerahku, dan akulah yang berhak untuk menghukumnya! Dia adalah tawananku!”

Sin-kiam Mo-li mencegah wakil ketua Pat-kwa-pai itu turun tangan, bukan semata-mata untuk mempertahankan kekuasaannya di daerahnya sendiri, melainkan karena dia telah melihat wajah dan bentuk tubuh yang tertutup lumpur itu dan dia merasa amat tertarik.

Pemuda ini amat tampan dan gagah! Inilah yang membuatnya menangani sendiri pemuda itu, membuatnya tunduk dan tidak membunuhnya. Kini ia melangkah maju menghadapi Hong Beng.

“Nah, orang muda. Apakah engkau sudah tahu akan dosamu, ataukah aku harus mengingatkanmu dengan kekerasan?” tanya Sin-kiam Mo-li, suaranya lembut dan pandang matanya berkilat.

Tujuh orang tosu itu bukan orang bodoh dan merekapun tersenyum-senyum maklum, akan tetapi Sin-kiam Mo-li tidak perduli akan sikap mereka itu.

Hong Beng maklum bahwa kalau dia mempergunakan kekerasan, dia akan kalah. Baru menghadapi wakil ketua Pat-kwa-pai yang bermuka merah itu saja dia akan menemui lawan tangguh yang sukar dikalahkan, apa lagi di situ terdapat tujuh orang tosu dan agaknya wanita ini sendiri memiliki kepandaian yang tinggi. Melawan dengan kekerasan berarti mengantar nyawa.

Pula, apa gunanya melawan? Bukankah anak perempuan yang dicarinya telah berada di situ dan ternyata sama sekali bukan menjadi tawanan, bahkan menurut pengakuan Hong Li, tidak pernah anak itu diculik oleh Sin-kiam Mo-li? Apa alasannya untuk mengamuk di situ?

Diapun menjura dengan sikap hormat.
“Aku telah melakukan kesalahan, memasuki daerah kekuasaan orang lain tanpa ijin. Semua ini terjadi karena salah sangka. Aku sedang mencari puteri bibi guruku yaitu Kao Hong Li yang kabarnya diculik orang. Ternyata ia berada di sini sebagai muridmu, oleh karena itu, aku kecelik dan mengaku salah. Terserah kepadamu, Sin-kiam Mo-li, kalau hendak menawan aku karena kesalahanku.”

Wanita itu tersenyum dan biarpun usianya sudah empatpuluh tahun, akan tetapi ia kelihatan masih muda dan masih cantik menarik. Memang wanita ini luar biasa, dapat menjaga kemudaannya sehingga ia kelihatan seperti baru berusia kurang dari tigapuluh tahun, masih cantik dengan sepasang matanya yang tajam penuh gairah dan semangat, mulutnya yang manis dengan bibir yang merah, kulit mukanya yang masih halus kemerahan belum ada keriput, sedangkan tubuhnya masih padat dan langsing, tinggi ramping dan padat.

“Engkau murid keluarga Pulau Es, seorang pendekar yang gagah perkasa. Kesalahanmu tidak kausengaja, maka tentu saja aku dapat memaafkan. Akan tetapi sebagai balasannya, engkau harus bersikap bersahabat dengan kami. Sekarang tinggal engkau pilih, eh, siapa namamu, orang muda?”

“Namaku Gu Hong Beng.”

“Nah, Gu-taihiap....”

“Ah, harap tidak berlebihan, aku bukan seorang pendekar besar” kata Hong Beng, merasa malu karena baru saja dia tidak berdaya dan bahkan nyawanya diselamatkan oleh seorang anak perempuan, bagaimana kini dia dapat menerima sebutan taihiap (pendekar besar)?

“Engkau memang patut disebut taihiap sebagai pewaris ilmu-ilmu yang hebat dari keluarga Pulau Es,” kata Sin-kiam Mo-li sambil memainkan matanya yang tajam dan jeli.

Kalau menurut keinginan hatinya, ia ingin membasmi semua keluarga pendekar Pulau Es. Akan tetapi kini dipaksanya mulutnya untuk memuji-muji keluarga itu karena ia ingin sekali merayu dan menjatuhkan hati pemuda yang telah membuatnya mengilar dan tergila-gila ini.

“Sekarang tinggal engkau pilih. Kalau memang engkau menyesali kesalahanmu dan beriktikad baik, jadilah engkau tamuku yang terhormat selama satu bulan dan engkau boleh ikut berunding bersama kami mengenai urusan perjuangan yang amat penting. Sebaliknya, kalau engkau memilih menjadi tawananku untuk menerima hukuman atas kesalahanmu, terserah.”

Hong Beng mengerutkan alisnya. Andaikata di situ tidak ada tujuh orang tosu itu, agaknya ada keberatan baginya untuk memilih yang pertama, yaitu menjadi tamu wanita aneh ini. Akan tetapi, tujuh orang tosu pemberontak itu berada di situ dan mereka hendak bicara tentang perjuangan! Dia tahu benar apa artinya perjuangan itu bagi para tosu Pek-lian-pai dan Pat-kwa-pai.

Suling Naga