Ads

Jumat, 12 Februari 2016

Suling Naga Jilid 172

Seperti orang linglung, Hong Beng mengangkat muka memandang dan melihat betapa cantiknya wajah wanita di sebelahnya itu, yang memandang kepadanya dengan sepasang mata seperti matahari kembar dan senyum yang lebih manis dan hangat dari pada arak yang diminumnya tadi.

Hong Beng merasa betapa jantungnya berdebar keras, jalan darahnya berdenyut-denyut dan belum pernah rasanya dia melihat wanita secantik Sin-kiam Mo-li! Tanpa disadarinya, diapun membalas senyum itu, bahkan dia membalikkan tangan kirinya dan jari-jari tangannya bertemu dengan jari tangan wanita itu, telapak tangan mereka juga bertemu dengan hangatnya.

“Ha-ha-ha, tiba saatnya bagi kita untuk bermesraan!” terdengar suara seorang di antara tosu-tosu itu dan ketika Hong Beng menengok, ternyata Ok Cin Cu telah menangkap pinggang ramping dari Hek Nio dan kini gadis berpakaian serba hitam itu telah ditarik ke atas pangkuannya! Hek Nio hanya terkekeh genit ketika tosu itu meraba-raba dan menciumnya.

“Siancai....!” kata Thian Kong Cin-jin, wakil ketua Pat-kwa-kauw dengan alis berkerut ketika melihat ulah anak buahnya itu. “Kita belum mengadakan rapat pembicaraan tentang perjuangan itu sampat matang. Urusan senang-senang boleh ditunda dulu.”

“Hai, Ok Cin Cu, jangan tamak engkau!” seru Ang Bin Tosu tokoh Pek-lian-kauw kepada tokoh Pat-kwa-kauw itu. “Kita ada bertujuh di sini, dan ceweknya hanya ada tiga orang! Harus dibagi rata!”

“Sebaiknya mereka melayani kita secara bergilir!”

“Diundi dulu, siapa yang paling dulu dan bagaimana cara gilirannya menurut undian!”

Sambil tertawa-tawa, tujuh orang tosu itu memberi usul-usul. Akhirnya Sin-kiam Mo-li yang masih saling berpegang tangan dengan Hong Beng itu berkata,

“Cuwi totiang, harap jangan ribut-ribut. Kita di antara kawan sendiri, bukan? Dengarlah, urusan rapat, sebaiknya dilanjutkan besok siang karena malam ini aku.... ehh,” ia menoleh kepada Hong Beng, “ingin beristirahat dulu. Dan tiga orang pembantuku boleh saja melayani kalian, dan memang sebaiknya diadakan undian sehingga tidak terjadi perebutan.” Ia lalu bangkit berdiri dan menarik Hong Beng bangun. Pemuda ini menurut saja ditarik bangkit seperti orang kehilangan semangat. Memang semangat dan kemauannya telah ditekan dan dikurung oleh kekuatan sihir Sin-kiam Mo-li. “Tentang undian itu, silahkan atur sendiri, nah, aku mengundurkan diri lebih dulu.”






Sin-kiam Mo-li menarik tangan Hong Beng dan seperti seekor kerbau yang diikat hidungnya kini ditarik ke pejagalan, Hong Beng menurut saja walaupun pandang matanya mulai bingung. Apa yang didengar dan dilihatnya di ruangan makan itu membuat bulu tengkuknya berdiri. Dia merasa ngeri dan muak sekali, akan tetapi sungguh aneh, tidak ada kemauan untuk meronta sama sekali ketika Sin-kiam Mo-li menariknya menuju ke kamar nyonya rumah itu!

Sejak kecil Hong Beng menerima gemblengan dari Suma Ciang Bun. Ilmu-ilmu dari Pulau Es adalah ilmu yang tinggi dan cara melatih sin-kang membuat batin Hong Beng kuat sekali sehingga kalau memang dia menyadari dan mengerahkan kekuatan batinnya, tidak mudah dia jatuh ke bawah pengaruh sihir. Akan tetapi, ketika dia makan minum dengan Sin-kiam Mo-li, wanita cantik yang cerdik dan dapat menduga akan kekuatan orang itu telah mempergunakan sihirnya secara perlahan-lahan, sedikit demi sedikit sehingga tanpa disadarinya, Hong Beng tercengkeram olehnya.

Akan tetapi, begitu melihat suasana yang dianggapnya memuakkan di ruangan makan tadi, di mana para tosu memperebutkan tiga orang pelayan wanita itu, keheranan dan kemuakan menyelinap di dalam benak Hong Beng dan membuat dia bercuriga. Walaupun kemauannya sudah lemah dan dia membiarkan dirinya ditarik oleh Sin-kiam Mo-li menuju ke dalam kamarnya, namun diam-diam Hong Beng mulai mengerahkan kekuatan batinnya.

Begitu masuk kamar, Sin-kiam Mo-li menendang daun pintu tertutup dan ia menarik Hong Beng ke tempat tidur, lalu menerkam pemuda itu, mendekap dan menciuminya seperti seekor harimau menerkam domba, penuh dengan nafsu berahi. Akau tetapi, hal ini bahkan mempercepat kesadaran Hong Beng yang biarpun tadi dipengaruhi sihir, masih belum disentuh deh nafsu berahi.

“Ihhh....!” Dia membentak, meronta dan meloncat turun dari atas pembaringan.

Sin-kiam Mo-li mengembangkan kedua lengannya ke arah Hong Beng sambil bangkit duduk, sepasang matanya berminyak, mulutnya merintih-rintih akan tetapi ia masih mencoba untuk mengerahkan kekuatan sihirnya.

“Gu Hong Beng, kekasihku.... kita.... saling mencinta, ke sinilah, sayang, marilah kita bersenang-senang, bukankah kita telah menjadi sahabat yang amat mesra dan akrab? Ke sinilah, taihiap, kekasihku tercinta....“

Akan tetapi, mendengar ucapan penuh rayuan yang amat asing baginya ini, kesadaran Hong Beng semakin pulih dan dia mengerutkan alisnya, lalu menudingkan telunjuknya dengan marah.

“Sin-kiam Mo-li, sungguh engkau perempuan yang tidak tahu malu, tidak mengenal kesusilaan. Apa yang telah kaulakukan? Aku bukanlah laki-laki pelacur seperti yang kaukira! Aku.... aku akan pergi dari sini, mengajak pergi nona Kao Hong Li!” Berkata demikian, Hong Beng hendak keluar dari dalam kamar itu.

“Berhenti....!”

Tiba-tiba suara Sin-kiam Mo-li sudah berubah, dan ketika ia berkelebat menghadang di depan pintu, Hong Beng melihat betapa wajah yang tadi nampak cantik manis itu kini nampak seperti wajah iblis betina yang beringas, sepasang mata itu mencorong penuh kekejaman dan mulut itu menyeringai mengerikan!

“Gu Hong Beng, laki-laki tak mengenal budi, tak tahu dicinta orang! Engkau sudah menentukan pilihanmu sendiri. Bukankah engkau memilih antara dua, yaitu menjadi tamu atau menjadi tawanan? Engkau memilih menjadi tamu dan aku memperlakukanmu seperti seorang tamu agung, akan tetapi apa balasanmu? Engkau malah menghinaku! Jangan harap engkau dapat keluar dari sini, apa lagi membawa muridku!” Berkata demikian, wanita yang marah itu maju menghampiri. “Masih kuberi kesempatan sekali lagi. Engkau mau melayani aku dan bersenang-senang dengan aku selama sebulan ini, ataukah engkau menjadi tawananku dan mungkin akan kubunuh?”

“Cih, perempuan tak tahu malu! Siapa takut mati? Lebih baik mampus dari pada menyerah kepadamu melakukan perbuatan hina dan rendah!”

“Keparat sombong! “

Sin-kiam Mo-li membentak dan wanita ini sudah menerjang maju dengan pukulan dahsyat, menggunakan tangan kirinya menampar ke arah pelipis kepala Hong Beng. Pemuda ini sudah nekat. Bagaimanapun juga, tidak sudi dia memenuhi permtntaan wanita iblis cabul itu dan biarpun dia tahu bahwa dia berada di tempat berbahaya, namun dia lebih baik mati dari pada harus menyerah. Melihat datangnya pukulan dahsyat itu, diapun menangkis dengan tangan kanannya sambil mengerahkan tenaga Soat-im Sin-kang yang amat dingin, sedangkan tangan kirinya membarengi tangkisan itu, mendorong ke arah lambung lawan yang terbuka.

“Dukkk....!”

Dua lengan bertemu dan wanita itu cepat meliukkan tubuh menghindarkan dorongan ke arah lambungnya. Ia dapat merasa betapa tangkisan itu mengandung hawa amat dingin yang menyusup ke dalam tubuhnya. Cepat ia mengerahkan sin-kang melawan dan iapun tahu bahwa pemuda ini benar -benar tangguh, hal yang tidak aneh kalau diingat bahwa pemuda ini adalah murid keluarga Pulau Es yang terkenal memiliki sin-kang dahsyat, yaitu Hui-yang Sin-kang yang panas dan Soat-im Sin-kang yang amat dingin.

Maklum bahwa menghadapi pemuda ini dengan tangan kosong akan memakan waktu lama dan tidak mudah baginya untuk merobohkannya, Sin-kiam Mo-li lalu meloncat ke dekat meja dan menyambar sebatang kebutan bergagang emas yang bulunya merah, dan begitu dikelebatkannya kebutan ini, nampak sinar merah bergulung-gulung menyambar ke arah Hong Beng.

Pemuda ini melawan sekuat tenaga. Untuk menangkis dan menghindarkan diri dari kebutan berbulu merah yang mengandung racun itu, dia mengeluarkan ilmu silat Hong In Bun-hoat yang gerakan-gerakannya halus namun mengandung kekuatan sin-kang hebat sehingga dapat mendorong pergi ujung kebutan setiap kali ujung kebutan mengancam tubuhnya.

Akan tetapi, karena dia tidak mempunyai kesempatan untuk balas menyerang, sebuah tendangan kaki kiri Sin-kiam Mo-li yang dibarengi dengan menyambarnya kebutan itu, menyerempet pinggang pemuda itu sehingga dia terpelanting dan terhuyung. Marahlah Hong Beng. Dia lalu nekat dan dengan mengeluarkan suara melengking nyaring, dia menyerang dengan Ilmu Silat Cui-beng Pat-ciang yang hebat. Ilmu ini adalah ilmu sesat dari Pulau Neraka, dimiliki oleh guru Hong Beng dari nenek Lulu dan biarpun ilmu ini hanya terdiri dari delapan jurus, namun dahsyatnya bukan kepalang. Begitu Hong Beng menyerang, diam-diam Sin-kiam Mo-li terkejut karena kebutannya dapat terpukul membalik, bahkan dadanya nyaris terkena pukulan. Untung ia masih sempat membuang diri ke belakang sambil berjungkir balik lalu memutar kebutan di depan tubuh untuk menghalau serangan berikutnya.

Akan tetapi Hong Beng tidak mau memberi kesempatan lagi kepada lawannya. Dia mendesak maju dengan jurus berikutnya dari Cui-beng Pat-ciang (Delapan Jurus Pengejar Arwah)! Kembali kebutan merah itu terpukul membalik dan dua pukulan tangan dari kanan kiri mengancam Sin-kiam Mo-li. Wanita ini terkejut bukan main. Tak disangkanya bahwa murid keluarga Pulau Es memiliki pukulan yang demikian mengerikan, yang sifatnya ganas dan lebih tepat kalau dimiliki golongan sesat. Karena tidak mengenal jurus-jurus ini, maka ia terdesak dan terpaksa ia kembali melempar tubuh ke belakang, mendekati dinding dan sekaligus ia mencabut sebatang pedang yang tergantung di situ.

Dengan pedang di tangan kanan dan kebutan di tangan kiri Sin-kiam Mo-li kini menyerang Hong Beng. Hebat memang wanita ini kalau sudah memainkan dua buah senjatanya. Pedangnya menyambar-nyambar ganas dan kebutannya membantu gerakan pedang, bahkan kedua senjata itu selain saling bantu dalam serangan, juga saling melindungi. Kalau pedang menangkis, kebutan menyerang dan sebaliknya. Dan Hong Beng yang bertangan kosong itu terdesak hebat! Ketika dia tersudut dan tidak ada jalan keluar lagi, pemuda ini menjadi nekat hendak mengadu nyawa. Sambil mengeluarkan pekik dahsyat, dia mengerahkan tenaganya dan memukul dengan Ilmu Silat Toat-beng Bian-kun, yang membuat kedua tangannya menjadi lemas seperti kapas, namun mengandung tenaga dahsyat yang dapat mencabut nyawa lawan dengan sekali pukul.

Namun, pedang di tangan Sin-kiam Mo-li menyambar sedangkan kebutannya menotok ke arah pergelangan tangan yang memukul, Hong Beng tentu saja menarik tangannya karena maklum bahwa ujung kebutan itu beracun dan biarpun dia sudah miringkan tubuh, tetap saja pundaknya tercium pedang sehingga bajunya robek berikut kulit dan sedikit daging di pangkal lengan kirinya! Sebuah tendangan yang menyusul, membuat tubuhnya terlempar ke arah pintu kamar.

“Tukk!”

Tubuh itu disambut oleh seorang tosu yang sudah menotoknya dengan ujung tongkat sehingga Hong Beng roboh dengan kaki tangan lumpuh dan tidak mampu bergerak lagi.

“Ha-ha-ha, apakah pengantinmu ini banyak bertingkah, Mo-li?” kata Thian Kek Seng-jin, tokoh Pek-lian-kauw yang tadi menggunakan tongkat naga hitamnya menotok Hong Beng yang sudah terluka.

Tosu ini sedang menanti gilirannya karena ketika menarik undian, gilirannya adalah yang terakhir. Tiga orang tosu memasuki kamar bersama tiga orang gadis pelayan, sedangkan yang tiga orang lagi termasuk Thian Kek Seng-jin, menanti giliran mereka. Karena iseng, Thian Kek Seng-jin berjalan-jalan menuju ke kamar Sin-kiam Mo-li sehingga dia dapat merobohkan Hong Beng yang kebetulan terlempar, ke pintu ketika dia membuka daun pintu karena mendengar suara perkelahian di dalam kamar itu.

“Biar kubunuh saja tikus ini!” kata pula Thian Kek Seng-jin sambil menggerakkan tongkatnya.

“Jangan!“ teriak Sin-kiam Mo-li. “Dia menjadi sandera yang berharga bagi kita.”

Memang wanita itu cerdik. Mendapat tawanan murid keluarga Pulau Es merupakan modal yang baik, karena pemuda itu dapat menjadi sandera yang tentu akan dihargai oleh keluarga Pulau Es. Selain itu, juga diam-diam ia masih mengharapkan untuk dapat mematahkan semangat pemuda ini dan suatu saat dapat menjatuhkan hati pemuda itu dan menariknya ke dalam pelukannya.

“Ha-ha-ha, pendapat itu boleh juga,” kata Thian Kek Seng-jin sambil tertawa. “Dan bagaimana kalau pinto saja menggantikan pemuda ini untuk menghibur hatimu yang kecewa?”

Sin-kiam Mo-li mengangkat muka memandang tosu itu. Seorang tosu yang biarpun sudah tua, namun nampak penuh semangat. Tubuhnya kurus kering, akan tetapi mukanya merah darah dan gerak-geriknya masih tangkas dan gesit, sepasang matanya bercahaya seperti mata kucing. Boleh juga, pikirnya, karena selain hatinya kesal atas penolakan Hong Beng dan ia membutuhkan teman untuk menghiburnya, juga ia melihat keuntungannya kalau berbaik dengan tosu Pek-lian-kauw yang lihai dan mempunyai pengaruh besar di perkumpulannya itu.

Sin-kiam Mo-li tersenyum.
“Baiklah, totiang. Akan tetapi bantu dulu aku melempar orang keras kepala ini ke dalam kamar tahanan karena tiga orang pelayanku sedang sibuk melayani para tosu lainnya.”

Suling Naga