Ads

Jumat, 12 Februari 2016

Suling Naga Jilid 173

Tentu saja Thian Kek Seng-jin girang sekali. Dia bukanlah seorang pengejar wanita cantik seperti Ok Cin Cu dan yang lain, akan tetapi baginya jauh lebih menyenangkan menjadi teman tidur nyonya rumah yang biarpun sudah lebih tua namun jauh lebih cantik menarik dari pada tiga orang gadis pelayan itu, apa lagi kalau dia memperoleh giliran paling akhir! Dia lalu menyambar tubuh Hong Beng, sekali mencokel dengan tongkatnya, tubuh pemuda itu terangkat naik dan dikempitnya.

“Ke mana dia harus dilempar?” tanyanya sambil menyeringai. Wajahnya yang kemerahan memang tidak begitu buruk seperti para tosu lainnya, maka tidak mengherankan kalau Sin-kiam Mo-li menerimanya.

“Mari ikuti aku,” kata wanita itu yang memasuki sebuah pintu rahasia di ruangan belakang.

Pintu ini tersembunyi di balik sebuah almari yang digeser ke kiri dan di belakang pintu terdapat sebuah terowongan yang menuju ke bawah tanah. Kiranya rumah besar itu selain terjaga di sekelilingnya oleh tempat-tempat rahasia penuh jebakan, juga memiliki ruangan bawah tanah yang cukup luas!

Ia memasuki sebuah kamar tahanan di bawah tanah itu, kamar tahanan yang kuat karena dindingnya dilapisi baja dan pintunya juga dari baja dengan ruji-ruji sebesar lengan yang amat kokohnya pada jendela kamar itu. Dengan kasar Thian Kek Seng-jin melempar tubuh Hong Beng ke dalam kamar ini yang berlantai batu.

Tubuh yang sudah lumpuh kaki tangannya dan tidak mampu bergerak itu terbanting ke atas lantai, kemudian daun pintunya ditutup dan dikunci dari luar oleh Sin-kiam Mo-li. Kebetulan Hong Beng terjatuh dengan muka menghadap keluar, maka Sin-kiam Mo-li memandang kepadanya, lalu tersenyum dan berkata,

“Gu Hong Beng, kalau aku menghendaki, saat ini engkau tentu sudah menjadi mayat.”

“Bunuhlah, tak perlu banyak cerewet. Siapa takut mati?” Hong Beng menjawab. Yang lumpuh hanya kaki dan tangannya, sedangkan anggauta tubuh lainnya tidak.

Sin-kiam Mo-li tidak marah, hanya tertawa. Kini ia sudah dapat mengatasi kekecewaan dan kemarahannya. Menghadapi seorang pemuda gagah perkasa dan keras hati seperti murid keluarga Pulau Es ini tak boleh menggunakan kekerasan seperti terhadap pemuda lain yang pernah diculiknya, hal ini ia tahu benar. Maka, iapun ingin berganti siasat.

“Justeru karena engkau tidak takut mati maka aku merasa sayang untuk membunuhmu. Nah, kuberi waktu kepadamu untuk merenungkan semua keadaanmu dan kuharap engkau tidak begitu tolol untuk mempertahankan kekerasan hatimu dan memilih mati secara konyol.”






Setelah berkata demikian, Sin-kiam Mo-li tersenyum dan menggandeng tangan Thian Kek Seng-jin yang tertawa-tawa ketika mereka berdua bergandeng tangan meninggalkan ruangan bawah tanah itu.

Hong Beng menggeletak di lantai kamar tahanan itu. Sunyi bukan main di situ, tak terdengar suara apapun dan tidak terlihat sesuatu yang bergerak. Dia merasa seperti berada di dunia lain! Untung masih ada sebuah lampu lentera tergantung di luar kamar tahanan dan sinarnya memasuki kamar melalui jendela beruji baja. Hong Beng maklum bahwa dia tidak dapat mengharapkan bantuan dari luar.

Mati hidupnya tergantung kepada dirinya sendiri dan selagi dia masih bernapas, dia tidak akan putus harapan. Akan tetapi, bagaimanapun juga, kalau jalan keselamatannya harus melalui penyerahan diri kepada Sin-kiam Mo-li seperti yang dikehendaki wanita cabul itu, dia tetap menolak dan memilih mati! Dia sudah banyak mendengar dari suhunya dan juga dari pengalamannya di dunia kang-ouw tentang wanita cabul macam Sin-kiam Mo-li. Kalau sudah bosan kepada seorang laki-laki, tentu akan dibunuhnya.

Yang terpenting adalah membebaskan totokan ini, pikirnya. Maka Hong Beng lalu memejamkan kedua matanya, mengatur pernapasan dan perlahan-lahan mulai mengerahkan hawa murni di tubuhnya untuk membobolkan bendungan jalan darah yang tertotok. Totokan di punggung oleh tongkat tokoh Pek-lian-kauw tadi memang hebat dan melumpuhkan kedua kaki tangannya.

Akhirnya, setelah dia mulai dapat mengumpulkan tenaga dan daya totokan itupun mulai melemah, dia mampu membebaskan diri dari totokan itu dan mampu menggerakkan kembali kaki tangannya. Hong Beng lalu bangkit duduk dan bersila, bersamadhi beberapa lamanya sampai tenaganya pulih kembali. Diperiksanya luka di pundak. Hanya luka lecet, tidak berbahaya dan darahnya sudah berhenti. Dengan robekan ikat pinggang, dibalutnya pundak itu. Kemudian dia bangkit berdiri berjalan-jalan sebentar untuk memulihkan kekakuan kedua kakinya, baru dia mulai memeriksa kamar tahanan itu.

Dicobanya ruji baja dan pintu, namun dia mendapat kenyataan bahwa dengan tenaga biasa, tak mungkin dia akan mampu lolos dari kamar baja ini seperti yang sudah diduga.

Orang macam Sin-kiam Mo-li tak mungkin demikian ceroboh dalam membuat kamar tahanan. Tidak ada jalan lain baginya kecuali menanti apa yang akan datang menimpanya. Yang penting, dia sudah dapat bergerak dan masih hidup! Maka diapun kembali duduk bersila di tengah kamar itu, di atas lantai batu yang dingin.

Entah berapa lamanya dia bersamadhi, Hong Beng tidak tahu karena di dalam kamar tahanan itu tak pernah dapat didengar suara apa-apa, juga hanya lentera itu yang menerangi cuaca sehingga dia tidak mengenal waktu. Tiba-tiba telinganya yang terlatih mendengar langkah kaki lirih menghampiri kamarnya dan tak lama kemudian, dari jendela terdengar suara mendesis.

“Sssttt....!”

Hong Beng mengangkat muka dan melihat wajah gadis cilik yang mengaku bernama Kao Hong Li itu telah menjenguk dari luar ruji jendela. Cepat dia bangkit dan menghampiri.

“Suheng, aku menyesal sekali bahwa gara-gara aku engkau sampai tertangkap dan ditawan di sini” kata Hong Li.

“Nona.... eh, sumoi Kao Hong Li, apakah engkau dapat membuka pintu ini dari luar?”
Gadis remaja itu menggeleng kepalanya.

“Penyimpan kunci adalah subo sendiri dan pintu ini tak mungkin dibuka tanpa kunci.”

Hong Beng mengerti.
“Sumoi, kalau begitu, selagi ada kesempatan, ceritakanlah kepadaku semua pengalamanmu secara singkat saja. Bagaimana engkau yang katanya dahulu diculik seorang pendeta Lama, tahu-tahu dapat menjadi anak angkat dari murid Sin-kiam Mo-li.”

Tadi ketika diusir pergi oleh gurunya, Hong Li memasuki kamarnya dan anak ini mulai memutar otaknya. Hatinya merasa tidak senang kepada subonya dan timbul rasa penasaran, heran dan juga curiga terhadap subonya yang menjamu tujuh orang tosu yang kelihatan begitu kurang ajar, kasar dan ganas. Apalagi ketika ia teringat kepada Gu Hong Beng, orang yang bahkan menjadi utusan ayah ibunya untuk mencarinya, hatinya dipenuhi rasa khawatir.

Malam itu, diam-diam ia keluar dari tempat tidurnya melakukan pengintaian dan dapat dibayangkan betapa kaget rasa hatinya ketika ia melihat Gu Hong Beng dikempit oleh seorang tosu kurus kering yang berjalan menuju ke lorong bawah tanah bersama subonya. Ia menanti sampai dua orang itu yang tertawa-tawa sambil bergandeng tangan keluar dari lorong bawah tanah. Hong Li bersikap hati-hati sekali, tidak berani segera memasuki lorong itu karena ia khawatir kalau-kalau subonya akan kembali. Ia menanti sampai jauh malam. Setelah suasana sunyi, tidak nampak tiga orang gadis pelayan yang ia tidak tahu entah berada di mana, tidak nampak seorangpun di luar kamar, ia lalu menyelinap dan memasuki lorong bawah tanah melalui pintu rahasia yang sudah dikenalnya. Seperti yang dikhawatirkannya, ia melihat pemuda itu telah berada di dalam kamar tahanan yang kokoh kuat itu.

“Aku memang diculik orang, suheng,” Hong Li mulai bercerita. “Penculikku adalah seorang kakek bernama Ang I Lama. Akan tetapi, di tangah perjalanan, aku ditolong dan dilarikan oleh subo yang kemudian mengangkatku sebagai anak dan mengambil aku sebagai murid, setelah minta aku berjanji untuk menjadi muridnya selama lima tahun. Karena aku merasa berhutang budi, maka akupun berjanji dan aku menjadi muridnya sampai sekarang.”

Hong Beng mengerutkan alisnya. Kalau begitu, benar bahwa wanita iblis itu bukan penculik Hong Li, bahkan penolongnya! Lalu dia teringat akan kematian Ang I Lama yang kemudian dikabarkan bahwa pembunuhnya adalah ayah ibu gadis remaja ini.

“Adik Hong Li, apakah engkau tahu apa yang selanjutnya terjadi dengan Ang I Lama, penculikmu itu?”

“Ah, dia telah datang ke sini untuk merampasku kembali, akan tetapi dalam perkelahian yang amat hebat, akhirnya dia terkena tusukan pedang subo dan dia melarikan diri, sampai sekarang tidak ada kabar ceritanya lagi.”

Hong Beng mengangguk-angguk, mengerti bahwa pembunuh Ang I Lama adalah Sin-kiam Mo-li pula.

“Dengar, adik Hong Li, engkau telah terjatuh ke tangan orang yang amat jahat. Engkau tahu, orang yang menjadi gurumu itu bersekongkol dengan para tosu Pat-kwa-pai dan Pek-lian-pai, orang-orang yang amat jahat walaupun mereka berpakaian pendeta. Karena itu sekarang engkau pergilah meninggalkan tempat ini. Selagi ada kesempatan, sumoi. Mereka semua sedang bersenang-senang dan engkau tentu akan mampu keluar dari daerah ini dengan selamat.”

“Pergi? Tapi.... ke mana....?” Gadis remaja itu memandang dengan mata terbelalak.

“Aku tidak tahu jalan pulang....“

“Pergilah, ke mana saja asal tidak di sini. Perlahan-lahan engkau dapat mencari jalan pulang. Percayalah kepadaku, demi keselamatanmu, pergilah dari sini malam ini juga....“

“Akan tetapi engkau sendiri menjadi tawanan....”

“Jangan hiraukan aku, sumoi. Yang penting engkau harus bebas dari neraka ini sebelum terjadi hal yang lebih buruk atas dirimu. Aku akan menanti kesempatan dan berusaha menyelamatkan diri.”

Akan tetapi gadis cilik itu menggeleng kepalanya.
“Tidak mungkin, suheng. Aku tidak mungkin pergi dari sini meninggalkan subo.”

“Eh? Kenapa tak mungkin?” Hong Beng memandang heran.

“Lupakah kau akan ceritaku tadi? Aku telah diselamatkan subo dari tangan penculikku dan aku sudah berjanji dengan sumpah untuk menjadi muridnya selama lima tahun. Sebelum lewat waktu itu, tak mungkin aku pergi meninggalkannya.”

“Akan tetapi, ia bukan orang baik-baik. Iaseorang yang jahat sekali, iblis betina yang kejam, ahh, engkau tidak dapat membayangkan betapa kejam dan jahatnya....“ Hong Beng bergidik membayangkan gadis cilik ini menjadi murid seorang wanita seperti Sin-kiam Mo-li. “Engkau pergilah dari sini!”

“Tidak, suheng, bagaimanapun juga aku tidak akan pergi, kecuali kalau subo yang menyuruh aku pergi atau.... kalau subo sudah tidak ada lagi. Selama ia masih hidup dan tidak menyuruh aku pergi, aku tidak akan melanggar janji dan sumpahku sendiri!”

Hong Beng memandang kagum. Bagaimanapun juga, anak ini sungguh mengagumkan dan pantas menjadi puteri keluarga Kao, keturunan dari Pulau Es dan Gurun Pasir! Masih kecil namun sudah demikian gagah dan teguh memegang janji.

“Baiklah kalau begitu, pergilah keluar dari sini, sumoi, jangan sampai ketahuan orang lain bahwa engkau masuk ke sini.”

“Nanti dulu, suheng, aku harus mencari akal bagaimana untuk dapat membebaskan engkau dari sini. Kalau engkau dapat keluar dari kamar ini, lalu aku mengantarkan kau keluar dari daerah kami, tentu kau akan selamat.” Anak itu mengerutkan alisnya, berpikir mencari akal. Akan tetapi ia tidak dapat menemukan akal itu. “Aihh....“ ia mengeluh dan menggeleng kepala. “Satu-satunya jalan adalah mencuri kunci itu dari subo. Akan tetapi betapa mungkin kalau kunci itu selalu dikantonginya?”

“Memang tidak mungkin, murid murtad!”

Tiba-tiba terdengar suara Sin-kiam Mo-li dan wanita itu telah berdiri di ambang pintu! Hong Li membalikkan tubuhnya menghadapi subonya, sedikitpun tidak nampak takut! Bukan kebetulan saja Sin-kiam Mo-li memasuki lorong bawah tanah itu. Tadi sebagai pengganti Hong Beng yang menolaknya ia mengajak Thian Kek Seng-jin ke dalam kamarnya.

Akan tetapi ia sama sekali tidak memperoleh kepuasan atau kesenangan bersama tosu ini, bahkan ia merasa muak dan akhirnya ia menyuruh tosu itu pindah ke kamarnya sendiri dengan alasan bahwa kepalanya pusing dan ia mau istirahat dan tidur sendiri. Dengan sikap penuh kemenangan Thian Kek Seng-jin meninggalkan kamar nyonya rumah itu, tidak merasa bahwa dia telah diusir oleh wanita cantik itu karena sikap Sin-kiam Mo-li yang halus.

Setelah tosu itu pergi, Sin-kiam Mo-li gelisah tak mampu pulas karena ia masih teringat kepada Hong Beng dan merasa penasaran. Akhirnya, ia tidak tahan lagi dan keluar dari kamarnya, memasuki lorong bawah tanah dan ia mendengar ucapan terakhir dari muridnya. Tentu saja ia marah sekali melihat muridnya berada di situ dan bercakap-cakap dengan tawanannya, apa lagi mendengar ucapan terakhir muridnya yang menyatakan ingin mencuri kunci kamar tahanan itu.

Suling Naga