Ads

Jumat, 12 Februari 2016

Suling Naga Jilid 176

Sin-kiam Mo-li mengangguk.
“Bukti itupun baik sekali. Bi-kwi, mari ikut bersamaku!”

Bi-kwi menahan guncangan hatinya dan dengan sikap dibuat tenang iapun mengikuti Sin-kiam Mo-li, diikuti pandang mata dan tawa tujuh orang tosu itu. Sin-kiam Mo-li membawa Bi-kwi menuruni lorong di bawah tanah.

“Hemm, menjemukan sekali tosu-tosu tua bangka itu!” Bi-kwi mengomel. “Mereka masih tidak percaya bahwa aku adalah musuh besar keluarga Pulau Es dan Gurun Pasir. Pada hal, tiga orang guruku tewas di tangan para pendekar itu. Berilah orang-orang dari keluarga itu kepadaku dan akan kubunuh semua mereka!”

Sin-kiam Mo-li menghentikan langkahnya di jalan tangga yang menuruni lorong itu.
“Ketahuilah bahwa aku mempunyai dua orang tawanan dan keduanya adalah anggauta keluarga dan murid dari para pendekar Pulau Es dan Gurun Pasir”

“Ahh....! Benarkah itu, Mo-li? Siapakah mereka?” tanya Bi-kwi terkejut bukan dibuat-buat.

Sin-kiam Mo-li tersenyum bangga akan keberhasilannya.
“Pertama-tama, aku telah berhasil menculik puteri keturunan Pulau Es dan Gurun Pasir.”

“Benarkah? Hebat! Siapa ia?”

Bi-kwi pura-pura bertanya pada hal jantungnya berdebar tegang karena ternyata dugaan Bi Lan dan Sim Houw benar, perempuan iblis inilah yang telah menculik Kao Hong Li itu.

“Ia benama Kao Hong Li, puteri dari pendekar Kao Cin Liong keturunan Gurun Pasir dan Suma Hui keturunan Pulau Es. Akan tetapi tak seorangpun yang menyangka padaku, dan baru-baru ini malah kukirim potongan rambutnya dan hiasan rambutnya kepada keluarga Kao yang mengadakan pesta ulang tahun!”

“Ihhh! Jadi engkaukah yang melakukan hal itu, yang melempar fitnah kepadaku?”

Bi-kwi berseru kaget sekali, dan diam-diam ia waspada. Kalau wanita ini yang melakukan penukaran bingkisan di dalam pesta ulang tahun Kao Cin Liong itu, berarti Mo-li sudah tahu akan kehadirannya dan tentu menaruh curiga akan hubungannya yang baik dengan para pendekar!






“He-he, kau kira aku begitu bodoh untuk pergi sandiri ke sana? Ketika mendengar bahwa Kao Cin Liong mengadakan pesta ulang tahunnya aku lalu mengirimkan dua benda itu untuk membuat mereka gelisah dan berduka, dan aku menyuruh seorang teman yang boleh dipercaya untuk mengirim sumbangan itu tanpa diketahui siapa pengirimnya. Dia adalah Sai-cu Sin-touw (Copet Sakti Kepala Singa), seorang kawan baik yang ahli untuk mencuri atau mencopet dengan kecepatan luar biasa. Dan dia sendiripun membenci para pendekar karena seringkali dia bentrok dengan mereka dan pernah beberapa kali dihajar.”

“Ah....!“

Bi-kwi bernapas lega. Tahulah ia kini siapa orang brewok yang menurut para pelayan dalam pesta telah masuk ke dalam dapur pura-pura mabok, kemudian menaruh racun dalam arak. Kiranya itu adalah Sai-cu Sin-touw kaki tangan Sin-kiam Mo-li. Pantas saja dapat menukar bingkisannya tanpa ada yang mengetahuinya, karena dia memang ahli copet sesuai dengan julukannya.

“Dalam satu dua hari ini tentu dia kembali dan ingin aku mendengar laporannya, hi-hi-hik!”

Celaka, pikir Bi-kwi. Kini ia harus mengubah sikapnya, tidak mungkin lagi ia dapat berpura-pura tidak tahu akan penculikan itu.

“Aihh, kiranya dia itu orangmu!” katanya lagi dengan sikap kaget dan memandang kepada nyonya rumah dengan mata terbelalak.

“Sungguh suatu hal yang amat kebetulan sekali. Apakah barangkali engkau pula yang menyuruh Sai-cu Sin-touw itu melempar fitnah kepadaku?”

Sin-kiam Mo-li memandang tajam.
“Dua kali engkau mengatakan melempar fitnah. Apa maksudmu?”

“Ketahuilah, Mo-li. Kao Cin Liong mengirim undangan dan membolehkan siapa saja mendatangi ulang tahunnya. Aku mendengar akan hal itu dan aku ingin sekali tahu apa yang terjadi dan ingin pula melihat-lihat keadaan semenjak tiga orang suhuku tewas. Maka aku nekat mendatangi pesta itu. Dan terjadilah fitnah itu. Orangmu itu telah menukar bingkisanku dengan bungkusan terisi rambut dan hiasan rambut itu. Dan tentu saja akulah yang dituduh menculik puteri mereka dan mereka menyerangku! “

“Ehh? He-he-he, sungguh lucu. Aku belum tahu akan hal itu karena Sin-touw belum kembali. Akan tetapi usahanya itu baik pula karena dia hendak mengacaukan pesta itu, dan karena iseng dan karena tahu pula bahwa engkau musuh mereka, maka dia sengaja menukar bingkisan itu. Hi-hik, sungguh lucu.”

“Memang dia telah berhasil mengacaukan pesta dengan menaburkan racun ke dalam arak. Lagi-lagi aku yang menjadi pelampiasan amarah mereka. Tentu saja aku terpaksa melarikan diri menghadapi demikian banyaknya pendekar yang marah kepadaku. Dan akupun lalu lari ke sini untuk berlindung dan bersekutu denganmu.”

Sin-kiam Mo-li terkekeh geli, sedikitpun tidak menaruh curiga kepada Bi-kwi karena wanita ini demikian berterus terang dan tidak nampak khawatir sama sekali. Kalau nanti utusannya itu pulang, tentu ia akan mendengar laporannya dan ia akan tahu apakah Bi-kwi membohong ataukah tidak.

“Ah, sungguh lucu sekali. Sai-cu Sin-touw memang pandai berulah. Kalau dia pulang aku akan memberi banyak hadiah kepadanya.”

“Akan tetapi kenapa engkau menahan anak itu dan tidak kaubunuh saja?”

Bi-kwi bertanya, sengaja bertanya dengan sikap kejam untuk memperlihatkan betapa bencinya ia kepada keluarga para pendekar itu.

“Aku suka kepadanya. Ia anak manis dan berbakat. Dan aku menculiknya dengan menyamar sebagai Ang I Lama sehingga aku muncul sebagai penolong bagi anak itu. Maka aku lalu mengambil ia sebagai muridku, agar aku dapat lebih lama menikmati kemenangan ini dan kelak baru aku akan memukul benar-benar, entah dengan cara bagaimana.”

“Akan tetapi, kenapa sekarang kau tawan?” Bi-kwi mendesak, heran.

“Ia mulai memberontak dan berpihak kepada seorang tawanan lain yang baru saja datang menyerahkan diri. He-heh, kau tentu tidak akan mampu menduga siapa orang itu. Dialah yang akan kami minta agar kau membunuhnya. Dia datang untuk mencari Hong Li, akan tetapi aku berhasil menangkapnya. Dia tampan dan gagah, dan aku..... hemm, aku suka padanya. Akan tetapi pemuda tak tahu diri itu berani menolak cintaku! Mestinya sudah kubunuh dia, akan tetapi entah bagaimana, aku sayang untuk membunuhnya, Bi-kwi. Kau tentu tahu bagaimana rasanya hati kalau sudah tergila-gila. Dia bernama Gu Hong Beng, murid dari musuhmu, Suma Ciang Bun tokoh Pulau Es itu.”

“Aihh! Dia memang musuh besarku! Sudah beberapa kali dia bentrok dengan aku, bahkan ketika terjadi keributan di pesta, dialah yang menyerangku paling hebat, bahkan dia yang mengejar-ngejarku. Kiranya dia sudah tiba di sini? Tentu dalam usahanya mengejarku!”

“Aku percaya padamu, Bi-kwi. Akan tetapi para tosu itu tidak percaya, maka sebaiknya engkau bunuh saja dia.”

“Apa sukarnya membunuh seekor harimau sekalipun kalau dia sudah berada di dalam kandang. Mari kita lihat.”

Bi-kwi memutar otaknya untuk mencari akal karena tentu saja ia tidak mau membunuh Hong Beng, walaupun untuk menyelamatkan dirinya dan menyelamatkan Hong Li sekalipun.

Moli mengajaknya memasuki ruangan tahanan dan di sana, di dalam dua kamar tahanan yang berdampingan, Bi-kwi melihat seorang anak perempuan berusia kurang lebih tigabelas tahun yang manis sedang duduk bersandar dinding, dan di kamar lain nampak Hong Beng duduk bersila! Bi-kwi menahan perasaannya lalu ia menghampiri dan tertawa mengejek.

“Hi-hik, kiranya Gu Hong Beng manusia sombong itu kini telah tak berdaya, di dalam kerangkeng seperti seekor monyet!” Ia tertawa dan suaranya penuh sindiran.

Mendengar suara ini, Hong Beng membuka matanya memandang dan ketika dia melihat bahwa yang mengejeknya itu bukan lain adalah Bi-kwi yang datang bersama Sin-kiam Mo-li, mukanya menjadi merah sekali dan matanya memancarkan sinar berapi. Dia meloncat berdiri, bagaikan seekor harimau ingin dia dapat keluar dari kerangkeng untuk menerjang wanita itu. Dia bertolak pinggang dan menuding dengan telunjuk kirinya ke arah muka Bi-kwi.

“Bi-kwi, setan perempuan yang busuk! Perempuan busuk macam engkau ini selamanya akan tetap jahat dan busuk! Ternyata benar dugaanku bahwa engkau bekerja sama dengan Sin-kiam Mo-li untuk menculik adik Hong Li. Terkutuk engkau, Bi -kwi!”

Bi-kwi juga terkekeh mengejek.
“Heh-heh, engkau seorang pemuda yang sombong dan goblok!” Kemudian setelah memandang ke arah Hong Li yang juga memandang tanpa bangkit dari duduknya, Bi-kwi berkata kepada Sin-kiam Mo-li, “Hemm, keenakan dia kalau dibunuh begitu saja, Mo-li. Membunuh dia apa sih sukarnya? Akan tetapi dia terlalu enak. Mari kita bicara di sana.” Ia lalu mengajak Mo-li keluar dari tempat tahanan itu sampai tidak nampak oleh Hong Beng.

“Mo-li, sebetulnya sayang kalau dia dibunuh begitu saja. Aku sudah sering bentrok dengan dia dan tahu betul bahwa dia adalah seorang perjaka emas!”

“Perjaka emas? Apa maksudmu?”

“Aih, kiranya engkau belum banyak pengalaman dalam hal ini walaupun kita tadinya memiliki kesukaan yang sama, Mo-li. Dia seorang perjaka aseli yang bertulang baik dan berdarah bersih. Siapa yang pertama kali melakukan hubungan dengan seorang perjaka emas, tentu ia akan menjadi awet muda dan tak pernah dapat kelihatan tua!”

“Hemm, memang tadinya aku sayang kepadanya. Akan tetapi walaupun aku tadinya telah mempergunakan sihir, dia tetap menolak keinginanku.”

“Hemm, mudah saja, Mo-li. Aku dapat menggunakan akal sehingga dia akan berubah menjadi seperti seekor kuda jantan yang jinak dan akan melayani segala keinginanmu dengan senang hati.”

“Ah, benarkah itu, Bi-kwi? Aku akan berterima kasih sekali kalau benar engkau mampu membuatnya jinak untukku!” kata Sin-kiam Mo-li dengan wajah berseri.

“Akan tetapi, aku mempunyai satu permintaan yang kuharap akan kausetujui sebagai upahku. Aku melihat anak perempuan itu.... hemm, ia hanyalah anak dari musuh-musuh kita dan ia sudah tidak mentaatimu lagi. Sudah kukatakan tadi bahwa aku tidak mempunyai selera lagi terhadap pria, akan tetapi melihat seorang gadis remaja.... hemm, bolehkah aku meminjam tawananmu itu untuk semalam saja, Mo-li? Dengan demikian, kita berdua dapat bersenang-senang, engkau bersama pemuda yang ganteng dan gagah itu, dan aku bersama gadis remaja itu.”

Mo-li sudah terlalu bernafsu untuk memikirkan hal lain. Apa lagi kini muridnya itu telah berubah, mungkin telah membencinya.

“Baik, begitu pemuda itu mau memenuhi keingtnanku, anak perempuan itu boleh kaumiliki semalam. Lakukanlah cepat, aku sudah tidak sabar lagi untuk melihatnya.”

“Mo-li, engkau tahu bahwa tujuh orang tosu itu seperti anjing-anjing yang mengilar melihat kita berdua. Mereka itu seperti hendak berebut dan akan menerkamku kalau saja aku mau melayani mereka. Kalau mereka melihat kita berdua bersenang-senang dan tidak memperdulikan mereka, tentu membuat mereka iri dan marah, mungkin mereka akan menyatakan tidak setuju dengan niat kita. Karena itu, sebaiknya hal ini kita lakukan di luar pengetahuan mereka dan caranya terserah kepadamu untuk mengaturnya.”

Sin-kiam Mo-li mengerutkan alisnya dan melihat kebenaran ucapan Bi-kwi. Memang tujuh orang tosu itu sudah dilayani oleh tiga orang pelayannya, akan tetapi agaknya tiga orang itu untuk mereka masih kurang dan mereka memang selalu mengincarnya dan juga mengincar Bi-kwi seperti yang dapat ia lihat dari pandang mata mereka terhadap Bi-kwi tadi.

“Jangan khawatir, dapat diatur,” katanya dan iapun menarik sehelai tali yang tergantung di sudut lorong. Tak lama kemudian, muncullah Ang Nio yang mendengar suara panggilan rahasia itu.

“Engkau cepat cari perempuan secukupnya untuk menemani tujuh orang tosu tamu kita itu. Berikan bayaran secukupnya. Aku dan Bi-kwi tidak ingin diganggu malam ini,”

Ang Nio tersenyum girang. Ia dan dua orang kawannya sudah merasa muak dengan tujuh orang tosu yang terpaksa harus mereka layani itu. Kini, Mo-li menyuruh ia mencari tujuh orang perempuan dari dusun di kaki bukit. Kalau ia membayar mahal, tentu banyak yang mau dan hal ini berarti ia dan kawan-kawannya akan bebas dari cengkeraman tosu-tosu tua yang rakus itu.

Suling Naga