Ads

Jumat, 12 Februari 2016

Suling Naga Jilid 177

“Sekarang bagaimana, Bi-kwi?”

“Mo-li, sebaiknya kita lakukan usaha penjinakan pemuda itu malam nanti kalau para tosu sudah sibuk bersenang-senang di kamar masing-masing. Sementara ini, kita beritahukan kepada mereka bahwa pembunuhan atas diri pemuda itu ditunda karena engkau hendak menaklukkan dia terlebih dulu dengan bantuanku.”

Sin-kiam Mo-li merasa agak kecewa bahwa tidak sekarang saja ia dapat mendekap pemuda itu, akan tetapi karena ia tidak mau terganggu oleh para tosu, iapun setuju.

Mereka keluar lagi dari lorong bawah tanah dan memasuki ruangan tamu di mana para tosu masih makan minum sambil mengobrol dan tertawa-tawa. Biarpun mereka mengenakan jubah pendeta, namun sikap mereka jauh dari pada patut untuk menjadi pendeta-pendeta yang hidup saleh.

Melihat munculnya dua orang wanita itu, Ok Cin Cu yang masih mendongkol terhadap Bi kwi segera berkata,

“Wah, kalian nampaknya tidak seperti orang-orang yang baru saja membunuh musuh. Apakah tikus itu sudah dibunuh?”

“Begitu melihat Bi-kwi, dia mencak-mencak dan memaki-maki. Jelaslah bahwa dia amat membenci Bi-kwi.”

“Tentu saja,” kata Bi-kwi, “sudah beberapa kali aku berkelahi melawan dia dan gurunya.”

“Akan tetapi, aku tidak ingin dia mati begitu saja. Terlalu enak dan terlalu mudah baginya. Aku ingin menaklukkannya dulu, mempermainkan dan menghinanya sampat puas, baru aku akan membunuhnya,” sambung Sin-kiam Mo-li.

“Ha-ha-ha, bagaimana mungkin, Mo-li Dengan sihirmupun engkau tidak dapat menundukkan dia malam itu,” kata Thian Kek Seng-jin.

“Akan tetapi kini ada Bi-kwi yang akan membantuku. Ia mempunyai cara untuk menjinakkan pemuda itu untukku. Biarkan aku bersenang-senang, dan jangan khawatir karena sekarang aku sedang memesan beberapa orang gadis cantik dari dusun untuk menemani kalian bertujuh.”

Mendengar ini, tujuh orang tosu itu menjadi gembira dan mereka tidak lagi menyatakan ketidakcocokan atau kecurigaan mereka terhadap rencana Mo-li dan Bi-kwi.






Malam itu, setelah para tosu memasuki kamar mereka bersama para wanita dusun yang didatangkan Ang Nio, Sin-kiam Mo-li dan Bi-kwi memasuki lorong bawah tanah. Bi-kwi memberi tahu kepada Mo-li bahwa ia memiliki minuman yang akan dapat merampas semangat Hong Beng, membuat pemuda itu lupa diri dan tentu akan menuruti semua permintaan Sin-kiam Mo-li.

“Akan tetapi bagaimana engkau akan dapat memaksanya untuk minum?”

“Serahkan saja kepadaku, Mo-li. Aku mempunyai akal dan engkau sebaiknya jangan ikut mendekat agar Hong Beng tidak menjadi curiga. Biarkan aku sendiri menghadapnya dan aku akan dapat membujuknya untuk minum obatku itu.”

“Baik, akan tetapi jangan sampai engkau gagal, Bi-kwi.” Kata-kata ini mengandung ancaman.

“Jangan khawatir, Mo-li, pasti berhasil. Akan tetapi ingat akan janjimu, begitu dia kelihatan menurut, gadis remaja itu harus diserahkan kepadaku.”

“Baik.”

“Nah, kau menanti dan mendengarkan dari sini saja, sebaiknya aku sendiri, yang menghadapinya,” kata Bi-kwi.

Ia lalu memasuki ruangan kamar tahanan dan di bawah sinar lampu lentera yang cukup terang, ia melihat betapa Hong Li rebah terlentang di atas lantai, sedangkan Hong Beng sudah duduk bersila lagi. Di sudut terdapat mangkok-mangkok dan sumpit, sisa makanan yang diberikan kepada mereka oleh Hek Nio.

Melihat munculnya Bi-kwi, Hong Beng mengerutkan alisnya dan tetap saja duduk bersila. Sin-kiam Mo-li yang bersembunyi, mengikuti semua percakapan mereka dengan penuh perhatian. Ia seorang wanita yang cukup cerdik dan tidak ingin dikelabuhi, maka biarpun ia sudah percaya kepada Bi-kwi, tetap saja ia mengikuti semua peristiwa di ruangan tahanan itu dengan penuh perhatian. Ia merasa aman dan yakin bahwa hanya ia seoranglah yang dapat membebaskan Gu Hong Beng maupun Kao Hong Li, karena kunci kedua kamar tahanan itu selalu berada di saku bajunya.

“Perempuan iblis jahanam terkutuk! Mau apa engkau masuk ke sini? Mau membunuhku? Silahkan, aku tahu bahwa engkau hanyalah seorang pengecut yang beraninya hanya terhadap orang yang sudah tidak berdaya!” terdengar Hong Beng membentak dengan suara marah dan mengandung penuh kebencian sehingga hati Sin-kiam Mo-li menjadi kecil. Bagaimana mungkin Bi-kwi dapat membujuk pemuda yang demikian membencinya?

“Gu Hong Beng, engkau laki-laki yang sama sekali tidak mengenal budi,” terdengar Bi-kwi berkata. “Butakah matamu, tidak dapatkah engkau melihat betapa Sin-kiam Mo-li telah jatuh cinta kepadamu? Kalau engkau seorang pemuda yang berakal sehat, tentu engkau memilih hidup dengan menemani Sin-kiam Mo-li bersenang-senang. Mengapa engkau demikian keras kepala, bukankah engkau adalah seorang laki-laki yang dewasa dan normal?”

Sambil berkata-kata dengan suara membujuk ini, di luar tahunya Sin-kiam Mo-li karena Bi-kwi memegang kertas bertulis itu di depan perutnya sehingga Hong Beng saja yang dapat membacanya, Bi-kwi memberi tanda dengan kedipan mata kepada pemuda itu sementara mulutnya terus membujuk.

Sejenak Hong Beng tertegun. Tulisan itu mudah dibaca karena tulisannya besar dan jelas. Dia cepat membaca

“Aku datang untuk membebaskan engkau dan Hong Li. Bersikaplah bermusuhan denganku, kemudian minum obat yang kuberikan, lalu pura-pura mabok terbius. Selanjutnya, pura-pura lemas saja dan serahkan kepadaku, jangan bergerak sebelum kuberitahukan.”

Hong Beng selesai membaca dan biarpun dia masih belum percaya benar, namun dia tahu bahwa tentu wanita ini datang bersama Sim Houw dan Bi Lan yang hendak menyelamatkan Hong Li.

“Sudahlah, perempuan siluman, jangan membujuk, percuma saja!” katanya sambil memberi isarat dengan matanya bahwa dia mengerti. “Lebih baik bunuh saja aku dari pada harus tunduk dan melakukan perbuatan hina itu!”

“Gu Hong Beng, pemuda tolol! Engkau masih muda belia, tampan dan gagah. Apakah kau lebih suka mati konyol dan menolak kesenangan yang dapat kaunikmati? Sekali lagi, maukah engkau menyerah dan menuruti semua keinginan Sin-kiam Mo-li? Ingat, kalau engkau menolak, aku sudah menerima perintah untuk membunuhmu sekarang juga.”

Tanpa menanti sebentarpun, tanpa keraguan sedikitpun, Hong Beng membentak, sesuai dengan suara hatinya, juga sesuai dengan permintaan Bi-kwi dalam surat agar dia bersikap bermusuhan.

“Keparat, tulikah engkau? Aku tidak sudi, sekali tidak sudi dan selamanyapun tidak sudi. Mau bunuh, lekas bunuh, siapa takut mati?”

Tiba-tiba terdengar suara halus dari kamar tahanan di sebelah,
“Hemm, suara Gu-suheng demikian gagah perkasa, sedangkan suara perempuan ini seperti siluman tukang bujuk yang tak tahu malu!” Itulah suara Hong Li yang ikut merasa tegang dan marah.

“Aih, adik manis, jangan terlalu galak, nanti kemanisanmu berkurang! Engkau tunggu saja, engkau akan menikmati kesenangan luar biasa dengan aku.” kata Bi-kwi, sengaja berkata demikian untuk lebih meyakinkan hati Mo-li yang mengintai dan mendengarkan.

“Siluman jahat, tak perlu engkau membujuk dan merayu aku!” Hong Li membentak marah dan Bi-kwi mengeluarkan suara ketawa mengejek.

“Siluman jahat, tak perlu banyak cakap lagi. Kalau engkau datang hendak membunuhku, lakukanlah. Aku akan menghadapi kematian dengan kedua mata terbuka! Jangan harap engkau akan dapat membuat aku ketakutan dengan bujukan dan ancaman!”

“Hemm, jadi engkau tetap memilih mampus? Engkau tidak takut mati? Hemm, aku masih belum mau percaya. Engkau tentu ingin mempergunakan kepandaianmu untuk mencoba menipuku dan membuat aku lengah. Kalau memang benar engkau memilih mati, nah, ini aku membawakan sebotol kecil racun. Beranikah engkau meminumnya? Engkau akan mati dengan tenang, seperti orang pergi tidur saja. Ataukah engkau memilih mati kuserang dengan jarum-jarum beracun dari luar kamar tahanan? Nah, minumlah ini kalau memang benar engkau tidak takut mati, bukan hanya bualan sombong belaka!”

Dari tempat persembunyiannya, Mo-li mengintai dengan jantung berdebar. Maukah pemuda itu minum obat yang akan membuatnya tunduk dan jinak seperti yang dijanjikan oleh Bi-kwi kepadanya?

“Gu-suheng, jangan percaya omongan siluman itu! Dari suaranya saja aku tahu bahwa ia seorang manusia siluman yang jahat, kata-katanya penuh dengan bujuk-rayu dan tipu. Jangan mau minum racun itu!” terdengar suara Hong Li yang merasa khawatir sekali.

Ia tidak dapat melihat apa yang terjadi di kamar tahanan sebelah, akan tetapi dapat mendengar percakapan mereka.

Akan tetapi Hong Beng, setelah bertemu pandang yang penuh arti dengan Bi-kwi, menerima botol kecil berisi cairan bening itu, dan berkata dengan lantang karena diapun tahu bahwa sikap Bi-kwi yang penuh rahasia itu menunjukkan bahwa ada orang lain, tentu iblis betina Sin-kiam Mo-li, yang melakukan pengintaian.

“Hemm, siapa takut mati?”

Dan diapun membuka tutup botol dan meminumnya sampai habis. Diam-diam dia merasa geli karena tahu bahwa yang diminumnya itu hanyalah air putih biasa saja, tidak mengandung apa-apa yang mencurigakan! Dan kini Bi-kwi yang bermain sandiwara.

Suaranya terdengar girang sekali.
“Hi-hik, kau kira aku pura-pura dengan ancaman kosong? Ha, lihat betapa wajahmu telah menjadi pucat, tubuhmu menjadi lemas. Ha-ha, ya, engkau boleh berusaha mengerahkan sin-kangmu, Gu Hong Beng, akan tetapi percuma saja. Semua kemauanmu telah lenyap, dan engkau menjadi penurut. Engkau akan mendengarkan semua perintah dan mentaatinya tanpa melawan sedikitpun. Ha-ha-ha!”

Dan Hong Beng yang sebetulnya tidak merasakan sesuatu, kini melakukan apa yang dikatakan Bi-kwi. Dengan ilmu sin-kangnya, dia dapat menahan dan memperlambat jalan darah dan membuat mukanya tampak pucat, lalu tubuhnya terhuyung dan kalau dia tidak berpegang kepada jeruji, tentu dia sudah roboh. Kepalanya menunduk dan tergantung seolah-olah kepala itu terasa berat dan pening, matanya terpejam.

“Mo-li, ke sinilah dan lihat hasilnya!”

Bi-kwi berseru ke belakang dan Sin-kiam Mo-li cepat berlari mendekati kamar tahanan itu. Ia menemukan Hong Beng dalam keadaan tak berdaya, bergantung ke jeruji jendela dan nampak pucat dan lemas. Giranglah harinya melihat ini.

“Dia akan melakukan apa saja yang kau perintahkan, Mo-li.”

“Ah, terima kasih, Bi-kwi. Aku akan membawanya ke kamarku sekarang juga.”

“Aih, jangan lupa membuka kamar tahanan sebelah, Mo-li.”

“Jangan khawatir. Nih kuncinya, kaubuka sendiri. Akan tetapi, jangan sampai ia terluka atau terbunuh, engkau hanya boleh meminjamnya saja untuk memuaskan seleramu yang gila. Aku masih belum selesai dengan anak itu!”

“Baiklah, siapa mau mencelakakannya? Aku.... aku sayang pada anak-anak seperti itu, bagaikan kuncup bunga yang mulai mekar, hi-hik!”

Kedua orang wanita itu membuka pintu kamar tahanan. Melihat masuknya seorang wanita yang tidak dikenalnya, akan tetapi yang diketahuinya adalah wanita yang dimakinya siluman tadi, yang tentu telah membius atau meracuni Gu Hong Beng seperti yang didengarnya tadi, Hong Li menjadi marah sekali. Begitu pintu kamar tahanan itu dibuka dari luar, dara cilik ini menyambut Bi-kwi dengan makian.

“Siluman betina keparat!” dan iapun sudah menerjang dan menyerang dengan nekat, bagaikan seekor anak harimau yang marah.

Akan tetapi, tentu saja serangannya itu tidak ada artinya bagi seorang wanita selihai Bi-kwi. Dengan cekatan, wanita ini menyambut tubuh kecil yang menyerangnya itu dengan tangkapan tangan kiri sedangkan tangan kanannya sudah menotok pundak Hong Li. Anak itu terkulai lemas dan segera dipondongnya sambil tertawa kecil.

Suling Naga