Ads

Jumat, 12 Februari 2016

Suling Naga Jilid 178

Sementara itu, melihat pintu kamar tahanannya terbuka dan melihat Sin-kiam Mo-li masuk, sukar sekali bagi Hong Beng untuk menahan dirinya untuk tidak menerjangnya. Akan tetapi dia teringat akan pesan Bi-kwi. Dia harus berhati-hati karena Bi-kwi bermaksud untuk menyelamatkan Hong Li. Kalau dia sembrono dan menurutkan nafsu hati lalu menyerang Mo-li, jangan-jangan dia membuat kapiran semua rencana Bi-kwi yang belum diketahuinya bagaimana.

Karena itu, ketika Mo-li menyentuh lengan dan pundaknya untuk meyakinkan diri, dia membuat tubuhnya lumpuh dan jalan darahnya berjalan lambat sehingga wanita itu percaya bahwa dia benar-benar berada dalam pengaruh bius yang amat kuat. Diapun membiarkan saja wanita itu merangkulnya, menciumnya lalu tertawa kecil dan menuntunnya keluar dari dalam kamar penjara. Ia bertemu dengan Bi-kwi di luar kamar tahanan, dan melihat Hong Li sudah terkulai lemas dipanggul oleh Bi-kwi. Bi-kwi tersenyum kepadanya.

“Bagaimana Mo-li? Tidak manjurkah obatku?”

“Memang ampuh, dan aku berterima kasih kepadamu, Bi-kwi,” kata Sin-kiam Mo-li sambil merangkul pinggang Hong Beng.

“Gu Hong Beng....“ kata Bi-kwi dan Mo-li mengira bahwa rekannya itu akan mengejek tawanannya, akan tetapi ternyata panggilan itu oleh Bi-kwi disambung dengan seruan,
“.... serbuuu....!”

Dan ia sendiri mengirim tamparan keras ke arah kepala Mo-li! Tentu saja Sin-kiam Mo-li terkejut bukan main. Cepat ia miringkan tubuhnya mengelak dan tamparan yang amat berbahaya itu, akan tetapi pada saat itu, Hong Beng juga sudah menyerangnya. Pemuda ini tadi dirangkul pinggangnya, maka hantaman Hong Beng yang amat dekat itu sukar sekali dielakkan dan biarpun ia sudah membuang diri, tetap saja punggungnya terkena pukulan tangan Hong Beng.

“Bukk!“

Tubuh Sin-kiam Mo-li terpelanting keras dan ketika ia meloncat berdiri, dari mulutnya keluar darah segar! Wanita ini ternyata kuat sekali karena hantaman itu tidak membuatnya lemah. Ia bahkan mencabut pedangnya dan memandang dengan mata penuh kemarahan kepada Bi-kwi dan Hong Beng.

“Bi-kwi.... manusia hina, khianat dan curang!” bentaknya.

“Hong Beng, bawa ia keluar dari sini, suruh ia menjadi penunjuk jalan. Cepat.... biar kuhadapi siluman ini!” kata Bi-kwi sambil melemparkan tubuh Hong Li yang diam-diam telah ia bebaskan totokannya kepada Hong Beng.






Pemuda itu cepat menangkap Hong Li dan dipondongnya gadis cilik itu, kemudian maklum bahwa yang terpenting adalah menyelamatkan Hong Li, dia meloncat keluar dari tempat tahanan itu.

Mo-li hendak mengejar, akan tetapi Bi-kwi sudah menghadang di depannya dan Bi-kwi juga mencabut pedangnya, menghadang Mo-li sambil tersenyum mengejek.

“Nah, sekarang kita boleh mengadu kepandaian, Mo-li. Akulah lawanmu!”

Saking marahnya, Sin-kiam Mo-li tidak mampu mengeluarkan suara, bahkan saking marahnya, ia tidak ingat untuk berteriak minta bantuan para pelayan dan juga para tamunya untuk mencegah Hong Beng dan Hong Li melarikan diri. Mulutnya menyeringai penuh kebencian, sepasang matanya mencorong seolah-olah ia hendak menelan Bi-kwi bulat-bulat. Kemudian ia mengeluarkan suara melengking nyaring dan pedangnya berubah menjadi sinar berkelebat, tahu-tahu pedang itu telah menyambar dan menusuk ke arah dada Bi-kwi.

“Cringgg....!”

Bunga api berpijar menyilaukan mata ketika dua batang pedang bertemu dan Bi-kwi merasa betapa telapak tangannya panas dan lengan kanannya tergetar hebat.

Maklumlah ia bahwa Sin-kiam Mo-li memang sesuai dengan julukannya, Iblis Betina Berpedang Sakti, amat hebat ilmu pedangnya. Oleh karena itu, sambil melawan dengan pedang, Bi-kwi mengeluarkan ilmu-ilmu tangan kosongnya yang tak kalah hebatnya. Ia mengisi tangan kirinya dengan ilmu yang disebut Kiam-ciang (Tangan Pedang), ilmu dari Sam Kwi yang amat terkenal.

Dengan ilmu ini, tangan kirinya kalau dipergunakan untuk menyerang, tiada ubahnya sebatang pedang pula, yang selain amat kuat, juga dapat membabat anggauta tubuh lawan sampai buntung, bahkan lengan kiri ini berani menangkis senjata tajam karena telah dilindungi kekebalan Kiam-ciang. Di samping ini, ia juga merobah-robah ilmu pedangnya karena memang wanita ini telah mewarisi semua ilmu dari ketiga orang gurunya, yaitu mendiang Hek Kwi Ong si Raja Iblis Hitam, Im kan-kwi si Iblis Akhirat dan Iblis Mayat Hidup yang ketiganya merupakan datuk sesat yang terkenal dengan julukan Sam Kwi (Tiga Iblis).

Akan tetapi sekali ini Bi-kwi bertemu lawan yang amat tangguh pula. Sin-kiam Mo-li adalah anak angkat mendiang Kim Hwa Nio-nio, sudah mewarisi semua ilmu dari nenek sakti itu dan ditambah dengan pengalamannya yang luas, ia merupakan seorang wanita yang amat lihai, bukan saja dalam ilmu silat, melainkan juga memiliki kekuatan batin yang hebat karena ia pernah mempelajari ilmu sihir.

Kalau saja ia tidak menghadapi seorang yang juga sudah matang seperti Bi-kwi, tentu ia dapat menjatuhkan lawan dengan ilmu sihirnya. Bahkan kinipun, dengan mengeluarkan lengkingan-lengkingan tajam yang mengandung kekuatan batin, beberapa kali Bi-kwi merasa jantungnya tergetar dan terguncang hebat yang hampir saja melumpuhkannya. Namun, maklum akan kesaktian lawan, Bi-kwi mengerahkan segala tenaga dan kemampuannya untuk melakukan perlawanan dengan amat gigihnya.

Hong Beng yang memondong Hong Li keluar dari kamar tahanan itu menurutkan petunjuk Hong Li. Ternyata lorong yang membawa mereka ke atas itu tidak terjaga. Tiga orang pelayan agaknya sedang asyik melayani tujuh orang tosu bersama wanita-wanita dusun. Hong Li minta turun dari pondongan karena tubuhnya sudah terasa segar kembali dan gadis inilah yang menjadi petunjuk jalan untuk keluar dari daerah berbahaya itu.

Akan tetapi, tiba-tiba Hong Beng teringat akan Bi-kwi. Bagaimana dia dapat melarikan diri meninggalkan Bi-kwi di tempat berbahaya itu? Selama ini dia telah salah sangka terhadap Bi-kwi, bahkan terhadap Bi Lan dan Sim Houw! Dia telah menganggap bahwa Bi-kwi seorang wanita iblis yang tak mungkin menjadi baik kembali. Akan tetapi, kini dia melihat kenyatan betapa keliru pendapatnya itu, pendapat yang dulu didorong oleh perasaan iri dan cemburu karena cintanya terhadap Bi Lan gagal. Kini baru nampak olehnya,

Bi-kwi telah menjadi seorang wanita yang gagah perkasa. Hal ini telah dibuktikannya. Bi-kwi rela mengorbankan diri, menghadapi Sin-kiam Mo-li yang demikian lihainya, yang masih dibantu tujuh orang tosu. Bi-kwi mengorbankan diri demi menyelamatkan dia dan Hong Li. Dan bagaimana mungkin dia sekarang melarikan diri meninggalkan wanita itu begitu saja diancam bahaya maut?

“Sumoi, tentu engkau tahu jalan keluar, bukan?”

“Tentu saja, aku sudah hafal jalan di sini dengan semua rahasianya, jangan khawatir, suheng. Aku akan membawamu keluar dari sini dengan aman.”

“Bukan itu yang kukhawatirkan, sumoi. Engkau sekarang larilah secepatnya keluar dan di luar daerah ini, carilah sepasang pendekar yang bernama Sim Houw dan Can Bi Lan, lalu bawalah mereka masuk untuk membantu kami. Aku harus cepat kembali untuk membantu nona Ciong Siu Kwi.”

“Siapakah itu?”

“Wanita tadi....”

“Ah,.... siluman itu?”

“Tidak, sumoi. Ia hanya pura-pura, termasuk siasatnya agar dipercaya oleh Sin-kiam Mo-li. Ia datang untuk menyelamatkan engkau dan ia datang bersama Sim Houw dan Bi Lan itulah. Sudah, aku tidak dapat bicara banyak, engkau cepatlah lari mencari bantuan mereka. Kalau terlambat, mungkin nona Ciong dan aku akan tewas di tangan Mo-li dan tujuh orang tosu itu!”

Tanpa menanti jawaban, Hong Beng melompat dan lari kembali ke arah bangunan besar di tengah hutan dan rawa itu.

Sejenak Hong Li berdiri bingung, akan tetapi iapun dapat menangkap apa yang terjadi menurut cerita Hong Beng tadi, maka iapun cepat melompat dan melanjutkan larinya keluar dari daerah itu. Ia merasa khawatir sekali akan keselamatan pemuda yang menjadi suhengnya itu, dan ia harus dapat cepat menemukan sepasang pendekar seperti yang dikatakan oleh Hong Beng tadi. Juga kini Hong Li baru melihat kenyataan betapa gurunya, Sin-kiam Mo-li, yang selama ini dianggapnya menjadi ibu angkat dan gurunya, amatlah jahatnya. Maka iapun tidak ragu-ragu untuk membantu Gu Hong Beng, kalau perlu ia bahkan siap untuk menentang kejahatan subonya sendiri.

Perkelahian antara Bi-kwi dan Mo-li berjalan dengan amat serunya dan selama itu, keduanya masih nampak seimbang. Biarpun Mo-li lebih kuat dalam tenaga sin-kang, namun kekurangan Bi-Kwi diimbangi dengan kemenangannya dalam ilmu silat yang banyak ragamnya, terutama sekali Sam-kwi Cap-sha-kun ciptaan terakhir yang merupakan ciptaan gabungan dari ketiga orang tokoh sesat itu.

Akan tetapi, setelah berkelahi selama empatpuluh jurus lebih, tiba-tiba bermunculan tujuh orang tosu Pek-lian-pai dan Pat-kwa-pai yang menjadi tamu di rumah itu. Akhirnya mereka mendengar juga akan perkelahian itu ketika seorang di antara tiga pelayan yang kebetulan mempunyai keperluan ke belakang, mendengar suara denting pedang beradu yang keluar dari lorong rahasia bawah tanah.

Ang Nio, pelayan ini, cepat memasuki lorong dan melihat betapa Mo-li berkelahi mati-matian melawan Bi-kwi, sedangkan dua orang tawanan telah kosong, Ang Nio cepat berlari ke atas memberi tahu kepada tujuh orang tosu itu dan minta bantuan. Tujuh orang tosu itu cepat berlompatan keluar dari dalam kamar sambil membetulkan pakaian mereka dengan tergesa-gesa, lalu mereka memasuki lorong bawah tanah.

Melihat betapa Mo-li berkelahi dengan mati-matian melawan Bi-kwi, merekapun tanpa diminta sudah maju mengepung. Melihat munculnya tujuh orang musuh baru ini, Bi-kwi maklum bahwa ia terancam bahaya maut, namun ia sudah nekat. Ia rela mati, namun hatinya lega karena Hong Beng dan Hong Li tentu sudah dapat keluar dengan selamat. Ia tidak takut mati, apa lagi mati sebagai seorang gagah yang menentang kejahatan.

Suaminya yang amat dicinta tentu maklum, dan akan merasa bangga pula dengan kematiannya. Maka, dengan penuh semangat, pedang di tangan dan tubuh basah oleh peluh, ia siap untuk mempertahankan nyawanya sampai titik darah terakhir.

Sementara itu, Sin-kiam Mo-li sudah marah sekali kepada Bi-kwi. Demikian besar rasa marah dan bencinya sehingga ia berseru kepada tujuh orang tosu yang membantunya,

“Jangan bunuh perempuan keparat ini! Boleh buntungi kaki tangannya, akan tetapi jangan buntungi lehernya. Aku ingin menangkapnya hidup-hidup, menyiksanya sepuas hatiku. Pengkhianat keji ini harus mengaku mengapa ia membalik dan membela para pendekar!”

Seruan yang timbul dari kebencian dan kemarahan yang bergelora ini bahkan menolong nyawa Bi-kwi. Kalau saja tidak ada larangan itu, para tosu maju mengeroyok, agaknya tidak sampai sepuluh jurus Bi-kwi akan roboh dan tewas! Akan tetapi, karena dilarang membunuh oleh Mo-li, tujuh orang tosu itupun menyerang tanpa menggunakan senjata dan mereka tidak melakukan serangan maut, melainkan berusaha merobohkan saja dan menangkapnya. Dan tidaklah mudah menangkap seorang yang demikian lihainya seperti Bi-kwi tanpa membunuhnya!

Bi-kwi yang hendak mempertahankan nyawanya sampai napas terakhir, menggunakan seluruh kepandaiannya. Baru sakarang inilah selama hidupnya ia menghadapi lawan yang demikian kuatnya. Delapan orang yang rata-rata memiliki tingkat yang tinggi, dan melawan seorang saja dari mereka sudah sukarlah baginya untuk keluar sebagai pemenang. Apa lagi dikeroyok delapan! Ia merobah-robah ilmu silatnya, bahkan ketika dalam benturan pedang yang amat dahsyatnya pedangnya dan juga pedang di tangan Sin-kiam Mo-li terlempar dan jatuh, ia melanjutkan perlawanan dengan kedua tangan kosong.

Mo-li juga tidak mengambil pedangnya karena ia merasa yakin bahwa dibantu oleh tujuh orang tosu itu, tanpa pedangnyapun ia akan mampu menangkap Bi-kwi.

Dalam usahanya untuk membela diri dan kalau mungkin merobohkan para pengeroyoknya, Bi-kwi mempergunakan Hek-wan Sip-pat-ciang (Delapan Belas Jurus Silat Lutung Hitam) yang merupakan ilmu khas dari mendiang Raja Iblis Hitam. Dengan ilmu silat ini, kedua lengan Bi-kwi dapat mulur sampai dua kali lipat ukuran biasa! Tentu saja ilmu ini hebat bukan main dan para pengeroyoknya kadang-kadang berseru kaget dan hampir celaka oleh serangan ilmu ini. Untung mereka itu berdelapan sehingga yang lain cepat membantu kalau ada yang terdesak.

Juga dalam menghadapi sambaran pukulan atau tendangan lawan, Bi-kwi melindungi dirinya dengan Ilmu Kebal Kulit Baja yang dipelajarinya dari mendiang Iblis Akhirat, juga tendangan Pat-hong-twi yang dapat dilakukan ke arah delapan penjuru dengan susul-menyusul dan cepat serta kuat sekali.

Pernah pula ia mengeluarkan pukulan Hun-kin-tok-ciang (Tangan Beracun Putuskan Otot) dari mendiang Iblis Mayat Hidup. Di samping semua ilmu ini, Ilmu Pukulan Kiam-ciang (Tangan Pedang) masih terus dipergunakannya sehingga menggiriskan para pengeroyoknya, walaupun para pengeroyok itu memiliki ilmu yang tinggi.

Suling Naga