Ads

Jumat, 12 Februari 2016

Suling Naga Jilid 179

Sudah berulang kali Bi-kwi menerima tendangan dan pukulan. Akan tetapi berkat perlindungan Ilmu Kebal Kulit Baja, ia tidak menderita luka walaupun pakaiannya sudah robek sana-sini dan seluruh tubuh terasa nyeri-nyeri karena biarpun tidak terluka, tetap saja guncangan-guncangan yang diterimanya membuat tubuhnya nyeri semua. Ia semakin terdesak dan agaknya tak lama lagi ia akan kehabisan tenaga dan napas dan akan roboh tak berdaya sehingga ia akan menjadi korban kebencian Sin-kiam Mo-li yang ingin menyiksanya habis-habisan sebelum membunuhnya!

Pada saat ia kembali menerima sebuah tendangan yang kuat dari Ok Cin Cu, tosu yang agaknya juga amat membencinya karena pernah Ok Cin Cu dikecewakan oleh pelayanannya yang dingin, sehingga tubuhnya terbanting dan bergulingan, dan ia terpaksa menangkis dengan kedua lengannya karena ketika ia bergulingan itu datang tendangan bertubi-tubi, muncullah Gu Hong Beng!

Tanpa banyak cakap lagi, Hong Beng menyerbu dan menyerang Ok Cin Cu sehingga tosu ini terpelanting oleh sambaran angin pukulannya yang panas karena dia menyerang dengan pengerahan tenaga Hui-yang Sin-kang, satu di antara ilmu sin-kang dari Pulau Es! Hui-yang Sin-kang (Tenaga Sakti Inti Api) mengeluarkan hawa panas dan amat kuat sehingga biarpun Ok Cin Cu tidak terkena pukulan secara langsung, tetap saja dia terpelanting! Semua orang terkejut dan melihat munculnya pemuda ini, Sin-kiam Mo-li menjadi girang. Kiranya pemuda ini belum melarikan diri! Kini ia akan dapat menangkapnya dan menyiksanya bersama Bi-kwi.

“Tangkap pemuda jahanam ini pula!” bentaknya dan ia sendiri sudah menyerang Hong Beng dengan dahsyatnya. Pemuda ini juga amat membenci Sin-kiam Mo-li, maka diapun mengerahkan tenaganya dan menangkis.

“Desss....!”

Keduanya terdorong ke belakang. Hong Beng merasa lega dan juga kagum melihat betapa Bi-ikwi yang dikeroyok delapan orang lihai itu masih dalam keadaan selamat, walaupun pakaiannya sudah compang-camping dan wajahnya sudah pucat, dengan tubuh basah oleh keringat dan tampaknya wanita itu lelah sekali. Namun, melihat Hong Beng, Bi-kwi terkejut.

“Bagaimana dengan Hong Li?” tanyanya sambil meloncat ke belakang menghindarkan serangan dua orang lawan.

“Harap jangan khawatir, ia sudah selamat,” kata Hong Beng, makin kagum karena dalam keadaan nyawanya sendiri terancam bahaya, wanita itu masih teringat kepada anak itu.

“Kenapa kau mencari penyakit dan tidak pergi saja?” kata pula Bi-kwi, agak menyesal mengapa pemuda ini kembali untuk menyerahkan nyawa.






“Ciong-lihiap, aku masih belum begitu tersesat untuk membiarkan engkau sendiri terancam bahaya. Mari kita hajar iblis-iblis ini!” kata Hong Beng.

Bi-kwi terbelalak dan wajahnya menjadi cerah sekali, sepasang matanya bersinar dan mencorong mendengar betapa ia disebut Ciong-lihiap oleh murid tokoh Pulau Es itu. Ia tertawa.

“He-he-he, engkau benar sekali, Gu-taihiap! Mari kita basmi siluman-siluman jahat ini!”

Dan seperti memperoleh tenaga baru, sebuah tendangan kilat mengenai paha Im Yang Tosu, membuat tosu Pek-lian-kauw yang menjadi seorang di antara pengeroyok itu terpelanting dan ketika meloncat bangun, kakinya agak terpincang. Dia menyumpah-nyumpah dan menerjang lagi.

Dengan penuh semangat, dua orang itu mengamuk dan mengerahkan seluruh tenaga dan kepandaian mereka. Namun, delapan orang pengeroyoknya adalah orang-orang pandai yang setingkat dengan mereka, maka perlahan-lahan, mulailah Bi-kwi dan Hong Beng terdesak lagi. Mereka sudah mulai menerima hantaman-hantaman dan hanya karena kekebalan tubuh mereka dan besarnya semangat mereka saja kedua orang gagah ini masih terus melakukan perlawanan seperti dua ekor harimau yang sudah terluka dan tersudut, pantang menyerah sebelum rohoh!

Sementara itu, dengan cepat sekali Hong Li lari menyusup-nyusup keluar dari daerah yang berbahaya karena penuh dengan perangkap-perangkap itu. Berkat kecerdikannya, karena ia sudah hafal benar keadaan di daerah itu, ia mampu berlari keluar di tempat gelap tanpa terancam jebakan dan akhirnya sampai juga ia di luar daerah tempat tinggal gurunya.

Sampai di sini, Hong Li merasa bingung sekali. Ia disuruh mencari dua orang gagah yang hanya diketahui namanya saja, yaitu Sim Houw dan Can Bi Lan. Akan tetapi ia belum pernah bertemu dengan mereka dan tidak tahu bagaimana wajah mereka. Ia tidak akan mengenal mereka dan ke manakah ia harus mencari mereka? Akan tetapi Hong Li adalah seorang anak yang cerdik sekali. Ia membayangkan keadaannya.

Kini ia dapat menduga bahwa kalau suhengnya yang bernama Gu Hong Beng itu datang sendirian untuk menyelamatkannya, maka wanita yang disebut Bi-kwi oleh gurunya itu datang bertiga bersama mereka yang kini harus dicarinya. Dan agaknya Bi-kwi itu mengenal subonya, maka mempergunakan siasat berkunjung kepada gurunya sebagai seorang sahabat dan kemudian bergerak dari dalam. Kalau demikian halnya, sudah pasti kedua orang temannya itu menunggu di luar hutan ini dan kini berada di suatu tempat tersembunyi. Mencari mereka tidaklah mungkin karena mereka bersembunyi, maka iapun lalu mulai memanggil-manggil dengan suara nyaring.

“Orang-orang gagah yang bernama Sim Houw dan Can Bi Lan....! Ji-wi (kalian) keluarlah! Sahabat ji-wi Bi-kwi berada dalam bahaya!”

“Sim Houw dan Can Bi Lan....!”

Hong Li berjalan ke sana-sini sambil berteriak-teriak. Usahanya berhasil. Belum sepuluh kali ia memanggil kedua nama itu. Tiba-tiba berkelebat bayangan orang dan tahu-tahu di depannya berdiri seorang laki-laki dan seorang perempuan yang dapat dilihatnya dalam cuaca remang-remang yang ditimbulkan oleh sinar laksaan bintang di langit.

“Siapakah engkau?” yang wanita menyapanya dengan suara tegas setengah menghardik.

“Aku Kao Hong Li....“

“Ahhh....!” Dua orang itu cepat memegang lengannya dengan lembut.

“Kiranya adik Hong Li....! Apa artinya teriakanmu tadi?” tanya yang wanita. “Aku yang bernama Can Bi Lan, aku sumoi dari Bi-kwi itu, dan aku sumoi dari ayahmu....“

“Sumoi dari ayah?”

“Tidak ada waktu untuk bicara tentang itu. Hong Li, katakanlah, apa yang telah terjadi dan bagaianana engkau dapat sampai ke sini?”

“Engkau benar, bibi. Tidak banyak waktu untuk bicara. Kalianlah yang dicari oleh mereka yang kini berada dalam bahaya besar. Mereka berdua terancam bahaya maut. Di sana ada.... Sin-kiam Mo-li dan tujuh orang tosu itu....“

“Berdua? Suci Bi-kwi dengan siapa?”

“Ia bersama suheng Gu Hong Beng. Tadinya suheng tertawan. Lalu muncul bibi Bwi-kwi yang berhasil membebaskan aku dan suheng. Akan tetapi suheng menyuruh aku berlari sendiri dan dia kembali untuk membantu bibi Bi-kwi. Mari, mari cepat, biar aku menjadi penunjuk jalan. Ji-wi harus membantu mereka!”

Tanpa menanti, jawaban, Hong Li sudah melompat ke dalam hutan. Dua orang itu kagum dan merekapun cepat mengikuti jejak Hong Li yang mulai menyusup-nyusup ke dalam hutan itu menuju ke tempat tinggal Sin-kiam Mo-li.

Kedatangan Bi Lan dan Sim Houw sungguh pada saat yang tepat sekali. Ketika mereka tiba di dalam rumah itu, mereka dihadang oleh tiga orang wanita yang bukan lain adalah Pek Nio, Ang Nio dan Hek Nio tiga orang pelayan dan juga pembantu dan murid Sin-kiam Mo-li.

“Mereka adalah pembantu-pembantu Sin-kiam Mo-li,” bisik Hong Li kepada dua orang itu.

“Tunggu! Siapa kalian dan mau apa?” bentak Pek Nio dengan pedang melintang di depan dada.

Bi Lan yang sudah mendengar bisikan Hong Li tadi membentak,
“Menggelinding pergi kalian!”

Dan iapun menerjang ke depan. Tiga orang wanita pelayan itu menyambutnya dengan serangan pedang, akan tetapi begitu Bi Lan menggerakkan kaki tangannya, tiga orang itu berpelantingan ke kanan kiri dan terbanting keras, tak dapat bangkit kembali!

Hong Li kagum bukan main melihat ini. Bibi gurunya! Adik seperguruan ayahnya! Demikian lihai!

“Mari, mari ke sini, bibi!” katanya sambil lari masuk ke dalam rumah itu, diikuti oleh Bi Lan dan Sim Houw.

Hong Li membuka pintu rahasia dan merekapun memasuki terowongan bawah tanah. Kalau tadi Bi Lan dan Sim Houw masih heran dan bingung, belum percaya penuh akan keterangan Hong Li bahwa Bi-kwi berada di situ bersama Gu Hong Beng, kini mereka dapat melihat sendiri. Memang Hong Beng bersama Bi-kwi yang sedang dikurung dan terdesak hebat oleh delapan orang pengeroyok itu! Sejenak mereka merasa kaget dan heran sekali. Hong Beng bekerja sama dengan Bi-kwi menghadapi pengeroyokan delapan orang musuh! Sukar untuk dapat dipercaya karena mereka tahu betapa besarnya perasaan benci dalam hati Hong Beng terhadap Bi-kwi. Agaknya pemuda itu telah sadar sekarang dan hal ini membuat Bi Lan demikian girangnya sehingga ia berteriak nyaring.

“Hong Beng, jangan takut aku datang membantu!”

Sim Houw juga tidak banyak cakap lagi. Begitu tiba di situ, pendekar Suling Naga ini menggunakan pandang matanya yang tajam mencorong itu untuk menelitii keadaan. Dia melihat bahwa baik tingkat kepandaian Hong Beng maupun Bi-kwi tidak kalah oleh tingkat masing-masing pengeroyok, dan dia merasa yakin bahwa Bi Lan akan mampu mengalahkan setiap dari mereka, kecuali wanita cantik itu yang amat lihai. Bi Lan akan mampu menahan dua orang lawan, Hong Beng dan Bi-kwi menghadapi dua orang lawan dan dia sendiri akan menghadapi empat orang lawan termasuk wanita itu yang dia sangka tentulah Sin-kiam Mo-li adanya. Maka diapun sudah mencabut suling naga dari pinggangnya dan bersama dengan Bi Lan dia menyerbu ke dalam arena perkelahian.

Ruangan di depan kamar-kamar tahanan itu cukup luas sehingga daa dapat menggerakkan pedangnya yang luar biasa itu dengan leluasa.

Munculnya dua orang ini mengejutkan Sin-kiam Mo-li dan kawan-kawannya. Akan tetapi tidak membuat mereka menjadi gentar. Bagaimanapun juga, mereka berjumlah delapan orang, merupakan kekuatan yang sukar dilawan. Mo-li maklum bahwa kawan-kawannya adalah tokoh-tokoh pilihan dari Pek-lian-pai dan Pat-kwa-pai, maka munculnya dua orang yang membantu Bi-kwi dan Gu Hong Beng tidak membuat ia menjadi gentar. Ia sudah menyambar pedangnya dan meloncat ke depan menyambut Sim Houw dan karena ia ingin cepat-cepat menyelesaikan perkelahian ini, tangan kirinya juga sudah melolos kebutan bulu merah bergagang emas dan begitu tubuhnya menerjang ke depan, pedangnya menusuk dada Sim Houw dan kebutannya menyambar ke arah muka pendekar itu.

“Tranggg! Trakkk!”

“Aihhhh....!” Sin-kiam Mo-li menjerit ketika tubuhnya terhuyung ke belakang seperti di sambar petir.

“Dia Pendekar Suling Naga....!” teriak Thian Kek Seng-jin yang pernah kalah oleh pendekar ini.

Demikian pula Ok Cin Cu terkejut melihat munculnya pendekar yang membuatnya gentar itu.

Mendengar ini, Sin-kiam Mo-li terkejut. Ia sudah mendengar nama besar pendekar yang baru muncul ini dan kini ia memandang ke arah pedang berbentuk suling naga itu. Akan tetapi ia tidak merasa gentar karena ia dibantu oleh teman-temannya dan bersama tiga orang tosu iapun menerjang lagi ke depan, sekali ini lebih berhati-hati agar jangan bentrok senjata secara langsung karena ia tahu bahwa tenaga sin-kangnya masih kalah jauh dibandingkan pendekar ini.

Bi Lan sudah menghadapi dua orang tosu, yaitu Ok Cin Cu dan sutenya, yaitu Lam Cin Cu, dua orang tokoh Pat-kwa-pai. Bi-kwi melawan Im Yang Tosu sedangkan Hong Beng berkelahi melawan Ang Bin Tosu, keduanya dari Pek-lian-pai. Adapun Sim Houw dikepung oleh Sin-kiam Mo-li yang dibantu oleh Thian Kek Seng-jin dan Coa-ong Seng-jin dari Pek-lian-pai, dan Thian Kong Cin-jin yang merupakan tosu paling tangguh di antara mereka bertujuh, karena tosu ini adalah wakil ketua Pat-kwa-pai.

Hong Li berdiri agak jauh, nonton perkelahian itu dengan pandang mata penuh kagum ditujukan kepada Sim Houw dan Bi Lan. Dan kini, sungguh amat mengejutkan pihak Mo-li, pertempuran itu berjalan dengan seimbang! Andaikata Bi-kwi tidak demikian lelah dan nyeri-nyeri tubuhnya karena tadi menerima banyak pukulan, seperti juga halnya Hong Beng, tentu ia dan Hong Beng sudah mampu merobohkan lawannya yang hanya seorang saja. Bi Lan yang tadi sudah melihat kelihaian para tosu, kini mengerahkan tenaga dan kepandaiannya, membuat kedua orang pengeroyoknya cukup repot walaupun kedua orang pengeroyok itu mempergunakan tongkat untuk menyerangnya dan gadis itu hanya bertangan kosong saja.

Suling Naga