Ads

Jumat, 12 Februari 2016

Suling Naga Jilid 181 (TAMAT)

Wajah Gu Hong Beng berubah merah karena dia merasa tak enak dan malu kalau dia ingat akan sikapnya sendiri di masa lalu terhadap wanita ini, juga terhadap Sim Houw dan Bi Lan.

“Mataku terbuka sekarang dan aku menyadari kesalahanku. Biarlah aku mempergunakan kesempatan ini untuk mohon maaf dari kalian bertiga atas sikapku yang tidak adil dan penuh dengan prasangka dan kecurigaan terhadap kalian. Aku telah dibutakan oleh ketinggian hati dan iri....“ katanya sambil memandang kepada Sim Houw.

Sim Houw tersenyum dan mengangguk.
“Hidup adalah belajar, saudaraku, dan pengalaman merupakan guru yang amat baik. Orang yang menyadari kesalahan langkah di waktu lalu, merupakan orang yang beruntung sekali dan kalau dia dapat merobah kesalahannya itu seketika berdasarkan kesadaran, maka dia seorang yang beruntung sekali.”

Hong Li memegang tangan Hong Beng.
“Suheng, sebenarnya apakah yang telah terjadi dengan aku? Sungguh sampai sekarang aku masih bingung memikirkan tentang subo....eh, Sin-kiam Mo-li itu. Selama ini kuanggap ia seorang yang amat baik kepadaku, bersikap baik dan penuh kasih, seolah-olah aku ini anaknya atau muridnya sendiri yang terkasih. Baru setelah suheng muncul dan aku membela suheng, ia bersikap buruk dan keras kepadaku. Apa sebenarnya yang telah terjadi ketika aku diculik oleh Ang I Lama?”

“Anak yang baik, akulah yang dapat menjelaskan kepadamu karena baru saja aku mendengar sendiri dari Sin-kiam Mo-li. Ketika engkau diculik, yang melakukannya adalah seorang kakek berjubah pendeta Lama yang sudah tua, bukan? Dia mengaku bernama Ang I Lama, akan tetapi sesungguhnya penculikmu itu bukan lain adalah Sin-kiam Mo-li sendiri. Selain memiliki ilmu silat tinggi dan ilmu sihir, juga Mo-li pandai menyamar. Di tengah perjalanan, ia menipumu dan berpura-pura menjadi penolongmu dengan mengusir Ang I Lama.”

“Akan tetapi, mengapa ia harus berbuat demikian, bibi?” Hong Li bertanya penasaran, tidak melihat apa gunanya Mo-li berbuat seperti itu.

“Maksudnya semula adalah untuk sekali bertepuk mendapatkan dua ekor lalat, pertama, menculikmu untuk menghancurkan hati orang tuamu yang dianggapnya musuh besar karena orang tuamu adalah keluarga Pulau Es dan keluarga Gurun Pasir. Dan ke dua, untuk mengadu domba antara orang tuamu dengan Ang I Lama, seorang pendeta Lama di Tibet yang dihormati oleh para pendeta Lama. Sin-kiam Mo-li, adalah anak angkat dan murid terkasih dari mendiang Kim Hwa Nio-nio yang tewas di tangan Pendekar Suling Naga, yaitu Sim-taihiap ini, ketika para pendekar bentrok dengan Kim Hwa Nio-nio dan kawan-kawannya.”






“Kalau begitu, tentu ia amat membenciku. Akan tetapi kenapa setelah menculikku, ia tidak membunuhku, bahkan bersikap baik kepadaku, mengambil aku sebagai murid, bahkan sebagai anak angkat?”

“Tadinya memang ia bermaksud membunuhmu, akan tetapi agaknya ia tertarik dan suka kepadamu, Hong Li,” jawab Bi-kwi atau Ciong Siu Kwi.

“Kukira bukan hanya karena tertarik dan suka,” sambung Bi Lan. “Lebih tepat lagi kalau ia memang merencanakannya, mendidik Hong Li agar kelak dapat diarahkan untuk memusuhi keluarga Pulau Es dan Gurun Pasir!”

Kao Hong Li mengerutkan alisnya.
“Sungguh keji sekali kalau begitu. Akan tetapi kenapa kemudian datang seorang kakek bernama Ang I Lama yang persis dengan kakek yang dulu menculik aku dan terjadi perkelahian antara kakek itu dan subo.... eh, Sin-kiam Mo-li?”

Bi Lan yang kini memberi keterangan.
“Gara-gara Mo-li mengaku sebagai Ang I Lama, ayah dan ibumu mencari Ang I Lama ke Tibet dan hampir terjadi bentrokan antara mereka. Akan tetapi orang tuamu tahu bahwa Ang I Lama memang tidak bersalah dan menduga bahwa ada orang lain yang mempergunakan nama kakek pendeta Lama yang saleh itu, maka dengan kecewa dan berduka mereka pulang. Ang I Lama sendiri merasa penasaran karena namanya dipergunakan orang. Dia melakukan penyelidikan dan akhirnya dapat menduga bahwa Sin-kiam Mo-li yang menyamar sebagai dirinya dan datang untuk menegurnya dan membebaskanmu. Akan tetapi dia kalah dan bahkan terluka lalu tewas di depan para pendeta Lama. Karena kata-kata terakhir darinya menyebut nama orang tuamu, para pendeta Lama menyangka bahwa Ang I Lama terbunuh oleh orang tuamu. Di sini, siasat yang dipergunakan Sin-kiam Mo-li hampir berhasil, yaitu mengadu domba antara orang tuamu dengan para pendeta Lama.”

“Jahat sekali....!” Hong Li kembali berseru penasaran.

“Masih ada lagi,” kini Gu Hong Beng yang melanjutkan. “Orang tuamu mengadakan pesta ulang tahun, dengan maksud mengumpulkan semua tokoh kang-ouw agar mereka membantu mendengarkan di mana kau berada dan siapa yang menculikmu. Dan ketika semua orang hadir, Sin-kiam Mo-li menyuruh pembantunya untuk mengacaukan pesta itu dengan mengadu domba antara orang tuamu dengan Ciong-lihiap ini, dengan jalan menukar bingkisan Ciong-lihiap dengan bingkisan lain yang berisi segumpal rambutmu dan hiasan rambutmu. Tentu saja hal itu menggegerkan, dan celakanya, aku sendiri yang tolol percaya sehingga menjatuhkan fitnah kepada Ciong-lihiap....“

“Aih, Gu-taihiap, harap jangan sebut-sebut lagi urusan itu. Melihat betapa kini engkau merobah sikapmu kepadaku saja sudah mendatangkan kebahagiaan besar di dalam hatiku. Siapa orangnya yang takkan curiga kepadaku mengingat akan masa laluku?”

“Suci, jangan bicara seperti itu! Pada akhirnya semua orang akan tahu bahwa engkau benar-benar telah kembali ke jalan benar,” kata Bi Lan.

“Tepat sekali!” Hong Beng berseru. “Aku tadinya lupa bahwa tidak ada seorangpun di dunia ini yang tanpa dosa, dan bahwa orang yang pernah bergelimang dosa sekalipun dapat bertaubat dan menjadi orang yang baik. Aku telah bersikap bodoh dan tidak adil terhadap Ciong-lihiap, saudara Sim Houw dan Bi Lan. Biarlah dalam kesempatan ini aku mengaku salah dan mohon maaf sebesarnya!”

Tanpa ragu-ragu Hong Beng lalu menjura ke arah tiga orang itu yang cepat membalas. Hanya Bi Lan yang membalas agak ragu, karena bagaimanapun juga hatinya masih panas kalau teringat akan sikap Hong Beng kepadanya.

Mereka lalu bersepakat untuk membakar saja sarang Sin-kiam Mo-li itu. Berkobarlah api membakar rumah yang penuh rahasia itu, membakar seluruh isi rumah berikut jenazah tiga orang tosu dan tiga orang pelayan wanita. Api berkobar besar menyambut munculnya matahari pagi dan empat orang gagah itu mengiringkan Kao Hong Li meninggalkan bukit itu dan kembali ke Pao Teng.

Kao Cin Liong dan isterinya, Suma Hui, menyambut kedatangan rombongan yang membawa puteri mereka itu dengan kebahagiaan besar. Suma Hui merangkul puterinya sambil mengucurkan air mata dan suami isteri ini, yang ditemani oleh Suma Ciang Bun, menghaturkan terima kasih kepada Bi-kwi, Bi Lan dan Sim Houw. Pandangan Suma Ciang Bun terhadap Sim Houw dan Bi Lan yang memang sudah meragukan sikap muridnya, kini menjadi cerah, bahkan diapun merasa kagum terhadap Bi-kwi. Juga Kao Cin Liong dan isterinya kini tanpa ragu menganggap Bi-kwi sebagai seorang wanita berjiwa pendekar yang gagah perkasa dan pantas dianggap sebagai rekan.

Setelah menyerahkan Hong Li, Sim Houw dan Bi Lan lalu menceritakan kepada suami isteri itu tentang semua rahasia di balik petistiwa yang menodai nama suami isteri itu, tentang siasat yang dilakukan oleh Sin-kiam Mo-li untuk mengadu domba dan menjatuhkan nama keturunan Pulau Es dan Gurun Pasir.

Legalah hati Kao Cin Liong. Selain puterinya telah dapat ditemukan kembali, juga sekaligus nama keluarganya dapat dibersihkan. Diapun cepat membuat surat penjelasan dan mengirimkan surat kepada para pendeta Lama di Tibet, menerangkan tentang perbuatan Sin-kiam Mo-li menculik puterinya dengan menyamar sebagai Ang I Lama dan kemudian melukai pendeta itu sampai tewas.

Sim Houw dan Bi Lan lalu berpamit untuk pergi ke Gurun Pasir, menghadap Pendekar Naga Sakti Gurun Pasir, yaitu kakek Kao Kok Cu dan nenek Wan Ceng, mohon doa restu mereka karena mereka telah berhasil melaksanakan tugas yang dibebankan kepada mereka oleh kakek dan nenek suami isteri yang sakti itu, dan mohon doa restu agar mereka dapat melangsungkan perjodohan antara mereka.

Beberapa bulan kemudian, pernikahan antara Can Bi Lan dan Pendekar Suling Naga Sim Houw dilangsungkan dengan sederhana, dihadiri oleh keluarga Pulau Es dan Gurun Pasir, dan para pendekar dan sahabat mereka sehingga cukup meriah. Ketika mereka menikah, Bi Lan berusia duapuluh tahun dan Sim Houw berusia tigapuluh lima tahun.

Bi-kwi atau Ciong Siu Kwi bersama suaminya, Yo Jin, datang hadir dan karena semua pendekar telah mendengar belaka akan semua jasa Bi-kwi, dan mereka mendengar bahwa kini Bi-kwi benar-benar telah menjadi seorang pendekar wanita yang gagah perkasa dan menentang kejahatan, maka semua orang bersikap ramah dan hormat kepadanya, melupakan masa lalunya.

Juga kedua saudara kembar, Gak jit Kong dan Gak Goat Kong, datang bersama isteri mereka, Souw Hui Lan, dan putera mereka yang masih kecil. Hadir pula kakek Cu Kang Bu dan isterinya, Yu Hwi, dan putera mereka, Cu Kun Tek yang pernah pula jatuh cinta kepada Bi Lan. Gu Hong Beng dan gurunya, Suma Ciang Bun, membantu Kao Cin Liong dan Suma Hui yang menjadi tuan rumah dan wali karena pernikahan itu dilangsungkan di Pao-teng, di rumah suami isteri ini.

Bahkan kakek Kao Kok Cu dan nenek Wan Ceng hadir pula di dalam pesta perayaan itu. Suma Ceng Liong dan Kam Bi Eng juga hadir. Bahkan Tiong Khi Hwesio juga hadir. Dan yang mendatangkan kegembiraaan besar adalah hadirnya kakek sakti Bu Beng Lokai atau Gak Bun Beng, bersama dua orang muridnya, yaitu Suma Lian dan Pouw Li Sian! Tidak ketinggalan pula pendekar sakti Kam Hong dan isterinya, Bu Ci Sian. Di antara para tamu, terdapat pula wakil-wakil dari partai-partai persilatan dan pendekar-pendekar yang terkenal di waktu itu.

Dan peristiwa yang menggembirakan ini menjadi penutup dari cerita Suling Naga ini, agar tidak terlalu panjang dan bertele-tele. Tentu saja kisah ini masih ada kelanjutannya yang akan menceritakan keadaan keturunan para pendekar itu setelah menjadi dewasa, seperti Suma Lian, Pouw Li Sian, Kao Hong Li, putera Gak kembar dan lain-lain.

Juga menceritakan kembali tokoh-tokoh dalam cerita ini, terutama sekali Gu Hong Beng dan Cu Kun Tek yang semenjak ditolak cinta mereka oleh Can Bi Lan, belum juga menemukan penggantinya. Dan munculnya tokoh-tokoh baru akan membuat cerita lanjutan Suling Naga menjadi kisah yang tidak kalah seru dan menariknya dibandingkan dengan kisah lain, dan semua itu akan memadatkan kisah baru “PEK HO COAN” (Kisah Si Bangau Putih ) yang menjadi lanjutan dari kisah Suling Naga ini.

Seperti biasa, pengarang menutup kisah ini dengan harapan semoga di samping menjadi bacaan penghibur, ada pula manfaat yang dapat dipetik dari kisah ini, dan sampai jumpa di dalam karangan mendatang.

T A M A T
Solo, awal 1981.
Suling Naga