Ads

Rabu, 30 Desember 2015

Suling Naga Jilid 021

Hui Lan merasa terkejut sekali. Baru melawan si tinggi kurus seorang diri saja sudah terasa berat, apa lagi kalau lawannya dibantu oleh anak buahnya yang amat banyak. Tidak disangkanya bahwa si baju merah itu dapat memainkan sepasang goloknya sedemikian lihainya. Ia tidak tahu bahwa Tee Kok itu adalah bekas anak buah Hek-i-mo (Iblis Pakaian Hitam), yaitu perkumpulan yang dipimpin oleh Hek-i Mo-ong, datuk besar kaum sesat yang duapuluh tahun lebih yang lalu pernah menggemparkan dunia persilatan. Hek-i-mo telah dihancurkan oleh para pendekar, terutama oleh para pendekar Pulau Es.

Perkumpulan Hek-i-mo atau Hek-i Mo-pang sudah tidak ada, akan tetapi masih ada belasan orang anggauta yang dapat meloloskan diri, dipimpin oleh Tee Kok. Dia ini pernah menerima pelajaran ilmu-ilmu silat tinggi langsung dari mendiang Hek-i Mo-ong, maka tentu saja ilmu silatnya cukup tinggi.

Dan Tee Kok ini lalu mendirikan sebuah perkumpulan lain yang diberi nama Ang-i Mo-pang dan semua anggautanya mengenakan pakaian seragam merah dan dia mengangkat diri menjadi ketuanya. Belasan tahun lamanya dia dan anak buahnya merajalela sampai pada suatu hari mereka berjumpa dengan Bi-kwi dan dikalahkan oleh wanita cantik ini! Karena mereka itu segolongan maka ada kecocokan di antara mereka. Bi-kwi tidak membunuh mereka, bahkan meraih mereka menjadi teman dan anak buah.

Kini duapuluh lebih anak buah Ang-i Mo-pang serentak bergerak mengepung, membantu Bi-kwi dan Tee Kok. Tentu saja Beng-san Siang-eng dan Hui Lan menjadi terkepung dan terdesak hebat. Mereka berada dalam keadaan gawat dan terancam sekali. Akan tetapi dengan semangat meluap-luap, guru dan murid ini melawan mati-matian dan mengambil keputusan untuk melawan sampai napas terakhir.

Pada saat yang amat berbahaya bagi keselamatan nyawa Hui Lan dan dua orang gurunya itu, tiba-tiba terdengar suara suling melengking nyaring. Semua orang yang sedang berkelahi terkejut bukan main karena suara suling itu seperti menusuk telinga mereka dan langsung menyerang jantung sehingga jantung mereka terguncang. Bahkan beberapa orang anak buah Ang-i Mo-pang sudah terpelanting jatuh dan mengeluh sambil menutupi kedua telinga mereka dengan tangan.

Beng-san Siang-eng dan Souw Hui Lan juga cepat meloncat ke belakang, lalu mengerahkan tenaga sin-kang untuk melindungi jantung mereka. Tidak terkecuali Bi-kwi dan Tee Kok yang juga terkena serangan suara melengking itu sehingga merekapun terpaksa meloncat ke belakang dan menengok ke arah suara suling seperti yang dilakukan semua orang yang berada di situ.

Kiranya yang mengeluarkan bunyi melengking menyakitkan jantung dan menusuk-nusuk anak telinga itu adalah Sim Houw. Pemuda itu kini sudah duduk bersila dan menyuling sambil memejamkan kedua matanya, mengerahkan khi-kang kuat sekali ke dalam tiupan sulingnya untuk membubarkan perkelahian yang tidak adil itu.






Melihat suling berbentuk naga yang ditiup pemuda itu, Bi-kwi terkejut dan tak tertahan lagi ia berteriak,

“Suling Naga!”

Semua orang terkejut mendengar teriakan ini, termasuk Hui Lan dan dua orang gurunya. Merekapun memandang ke arah Sim Houw dengan perasaan tegang dan penuh keheranan.

Mendengar teriakan ini, Sim Houw menghentikan tiupan sulingnya dan membuka matanya lalu bangkit berdiri. Suling itu masih dipegangnya, dipegang pada bagian ekor naga seperti kalau menyuling.

Bi-kwi sudah dapat menekan guncangan hatinya. Ia melangkah maju menghampiri Sim Houw, pandang matanya tajam penuh selidik, wajahnya berseri karena ada rasa girang di dalam hatinya bahwa akhirnya ia dapat berhadapan dengan orang yang telah menerima Liong-siauw-kiam dari mendiang Pek-bin Lo-sian. Suara suling yang menusuk telinga dan mengguncangkan jantungnya tadi dianggapnya sebagai keampuhan suling itu, bukan karena peniupnya yang memiliki kepandaian tinggi.

Bi-kwi termasuk orang yang terlalu mengandalkan kepandaian sendiri dan selalu meremehkan orang lain. Ia sudah mendapat gambaran yang jelas dari Sam Kwi tentang macamnya Pedang Suling Naga, maka melihat suling di tangan pemuda itu ia tidak merasa ragu lagi.

“Hemm, jadi engkau inikah yang berjuluk Pendekar Suling Naga? Engkaukah orangnya yang menerima suling pusaka itu dari tangan mendiang Pek-bin Lo-sian di Himalaya?” tanya Bi-kwi dengan suara lantang.

Pertanyaan ini menarik perhatian semua orang yang berada di situ sehingga mereka semua seakan-akan telah lupa akan perkelahian tadi dan semua orang memandang kepada Sim Houw.

Sim Houw mengamati suling di tangannya dan alisnya berkerut.
“Benar, akan tetapi tidak kusanga bahwa Pek-bin Lo-sian telah meninggal dunia.”

“Siapa namamu?” Tiba-tiba Bi-kwi bertanya sambil menatap wajah yang tampan itu.

“Aku she Sim bernama Houw, dan secara kebetulan saja Pek-bin Lo-sian memberikan suling ini kepadaku dengan suka rela. Mengapa engkau mencari-cari aku?”

“Orang she Sim, dengarlah baik-baik. Lion siauw-kiam itu adalah milik nenek moyang tiga orang guruku yang dikenal dengan julukan Sam Kwi. Pek-bin Lo-sian adalah susiok-kongku sendiri. Orang tua yang tak tahu diri itu secara lancang telah memberikan pusaka keluarga perguruan guru-guruku kepada engkau, seorang asing. Karena itu, dia layak mati di tanganku. Sekarang, serahkan pusaka itu kembali kepadaku yang berhak memilikinya, dan baru aku akan mempertimbangkan apakah engkau harus dibunuh ataukah tidak.”

Diam-diam Sim Houw terkejut dan marah. Kiranya kakek itu telah dibunuh oleh wanita kejam itu dan tentu saja dia sudah mendengar tentang Su Kwi. Justeru karena tidak ingin pusaka itu terjatuh ke tangan Sam Kwi, murid-murid keponakan Pek-bin Lo-sian itu, maka kakek itu memberikan pusaka itu kepadanya dan berpesan agar dia berhati-hati menghadapi Sam Kwi. Sekarang murid dari Tiga Iblis itu telah muncul dan memang benar gadis ini memiliki kepandaian yang tinggi, belum lagi duapuluh empat orang pembantunya itu.

“Bi-kwi, julukanmu itu tepat sekali. Memang engkau cantik, akan tetapi watakmu seperti iblis yang kejam. Engkau Iblis Cantik bahkan telah membunuh susiok-couw sendiri. Pusaka ini diberikan kepadaku oleh mendiang Pek-bin Lo-sian memang dengan maksud agar jangan sampai terjatuh ke tangan Sam Kwi. Aku menerimanya dari Pek-bin Lo-sian dan hanya kakek itu seorang yang berhak memintanya dari tanganku. Baik engkau, maupun Sam Kwi tidak berhak.”

“Keparat, berani engkau menentang Bi-kwi?” bentak Bi-kwi dan pedang di tangannya tergetar sampai mengeluarkan suara berdengung.

“Ciong Siocia, biar kurebutkan pusaka itu untukmu!”

Teriak Tee Kok dan pria tinggi kurus bermuka pucat ini sudah menerjang maju, sepasang goloknya membuat gerakan bersilang, yang satu membacok ke arah pergelangan tangan Sim Houw yang memegang suling sedangkan yang ke dua menyambar ke arah pundak kiri pemuda itu. Sungguh merupakan serangan maut yang berbahaya, sekaligus hendak merampas suling dengan membacok tangan kanan lawan sambil berusaha membunuhnya!

Akan tetapi, Sim Houw kelihatan tenang saja menghadapi serangan maut ini. Dengan sedikit gerakan tubuh dan geseran kaki, dua serangan itu telah meluncur lewat dan mengenai tempat kosong, dan di detik berikutnya, ujung suling itu telah membalik di tangannya, kini yang dipegangnya adalah bagian kepala suling naga yang menjadi gagangnya dan kini ekor naga itu yang merupakan ujung mata pedang telah menusuk ke arah paha Tee Kok dengan kecepatan kilat. Tee Kok terkejut dan cepat menarik kakinya, akan tetapi pada saat itu, angin keras menyambar dan ternyata angin itu keluar dari lengan baju kiri Sim Houw yang sudah menyusulkan tamparan ke arah kepala lawan. Tee Kok mengelebatkan goloknya yang kanan untuk membacok tangan kiri lawan, akan tetapi kembali tangan itu mengelak dan melanjutkan serangan dengan totokan jari ke arah dada.

“Eh....!”

Tee Kox terkejut sekali. Demikian cepat gerakan lawan sehingga dalam segebrakan saja dia sudah dihujani serangan. Sebagai bekas murid mendiang Hek-I Mo-ong yang lihai tentu saja dia masih dapat menghindarkan diri dari totokan itu degnan cara meloncat ke belakang. Kemarahan membuat dia lupa diri, lupa bahwa yang dihadapinya adalah seorang lawan yang amat tangguh. Dia mengeluarkan suara menggereng dan kedua goloknya diputar-putar membentuk dua lingkaran sinar bergulung-gulung yang menyerang ke arah Sim Houw.

Karena agaknya kini sadar akan kelihaian lawan, Tee Kok mengerahkan seluruh tenaga dan mengeluarkan jurus ilmu sepasang goloknya yang paling ampuh. Untuk dapat merebut suling pusaka itu seperti yang dijanjikannya kepada Bi-kwi, dia harus terlebih dahulu dapat membunuh pemuda ini.

“Hemm,”

Sim Houw mengeluarkan seruan dari hidungnya dan tiba-tiba sulingnya itu mengeluarkan suara melengking-lengking seperti ditiup ketika dia memutarnya.

Mendengar suara melengking tajam ini, entah bagaimana tahu-tahu dua gulungan sinar golok itu terhenti sebentar seperti tertahan sesuatu dan saat itu, ujung ekor suling naga telah meluncur dan menusuk ke arah Tee Kok, tepat di antara kedua matanya. Tee Kok mengeluh kaget dan sepasang goloknya bergerak ke depan untuk menangkis dan menggunting suling lawan, akan tetapi suling itu telah bergerak ke belakang dan pada saat yang sama, sebuah tendangan mengenai dada Tee Kok.

“Bukk!”

Tee Kok tidak melihat datangnya tendangan ini karena tadi matanya terancam tusukan pedang suling sehingga seluruh perhatiannya tercurah untuk menyelamatkan kedua matanya. Kini tendangan itu mengenai dadanya yang sudah dilindungi dengan kekebalan, akan tetapi tetap saja tubuhnya terjengkang dan terbanting keras. Tee Kok merasa betapa tulang pinggulnya seperti remuk, akan terapi dia sudah dapat terus bergulingan seperti seekor trenggiling dan sudah meloncat bangun lagi dengan muka semakin pucat dan mata berapi-api.

Tentu saja Hui Lan dan dua orang gurunya terkejut bukan main, terkejut dan penuh rasa kagum. Pemuda tukang suling yang tadinya mereka pandang rendah, mereka remehkan sebagai seorang pemuda lemah, ternyata dalam dua tiga gebrakan saja mampu menendang jatuh Tee Kok yang tadi dirasakan sebagai lawan yang amat tangguh oleh Hui Lan.

Gadis ini teringat betapa tadi ia pernah mendorong Sim Houw sampai terguling-guling dan teringat akan hal itu, mukanya berobah merah sekali. Tahulah ia kini bahwa tadi Sim Houw hanya berpura-pura saja dan baru sekarang terpaksa pemuda itu memperkenalkan diri hanya karena melihat ia dan dua orang gurunya tadi terancam bahaya maut.

Sementara itu, melihat mereka berkelahi dalam dua tiga gebrakan saja dan melihat pembantunya tertendang roboh, Bi-kwi juga terkejut. Baru terbuka matanya bahwa pemuda yang menerima benda pusaka itu, yang dijuluki orang Pendekar Suling Naga,
ternyata adalah seorang yang amat lihai. Ia mengenal tingkat kepandaian Tee Kok yang
pernah dikalahkannya itu. Cukup tangguh. Ia sendiri baru akan mampu mengalahkan Tee Kok setelah bertanding sedikitnya limapuluh jurus. Akan tetapi pemuda ini dalam tiga gebrakan saja sudah mampu membuat pembantunya itu terjatuh.

“Kembalikan Liong-siauw-kiam kepadaku!” bentaknya dan Bwi-kwi juga menerjang ke depan, menyerang Sim Houw untuk membantu Tee Kok yang sudah siap pula dengan sepasang goloknya.

Melihat betapa Bi-kwi yang diandalkan itu maju, besarlah hati Tee Kok dan diapun sudah maju lagi, memutar sepasang goloknya mengeroyok Sim Houw.

Akan tetapi tiba-tiba badan pemuda itu lenyap dan yang nampak hanya bayangannya saja yang terbungkus gulungan sinar hitam dari sulingnya. Dan dari dalam gulungan sinar itu muncul suara berdengung-dengung dan melengking-lengking yang membuat dua orang pengeroyoknya terpaksa harus mengerahkan sin-kang, kalau tidak mau roboh oleh serangan suara mujijat itu.

Terjadilah perkelahian yang amat menarik. Hui Lan dan dua orang gurunya terbelalak penuh kagum dan ketegangan. Tak mereka sangka bahwa pemuda itu sedemikian lihainya sehingga akan mampu menghadapi pengeroyokan dua orang tangguh itu. Padahal tadi, dikeroyok oleh Beng-san Siang-eng saja, Bi-kwi dapat menandinginya tanpa merasa kewalahan. Dan ini, wanita sakti itu bersama pembantunya yang lihai pula, mengeroyok Sim Houw!

Begitu Bi-kwi memasuki gelanggang perkelahian, Sim Houw terpaksa harus mengeluarkan kepandaiannya. Suara sulingnya semakin dahsyat, gerakannya semakin cepat dan tiba-tiba terdengar suara nyaring ketika suling itu menghantam pedang Bi-kwi dilanjutkan dengan menangkis sepasang golok Tee Kok. Suara nyaring itu disusul teriakan kaget dua orang pengeroyok itu dan Semua orang yang melihat perkelahian itu menjadi terheran-heran melihat betapa Bi-kwi terhuyung ke belakang sampai lima langkah sedangkan Tee Kok untuk kedua kalinya terjengkang dan terbanting keras! Padahal, perkelahian itu baru berlangsung paling banyak limabelas jurus saja.

Hampir berbareng, Bi-kwi dan Tee Kok mengeluarkan seruan rahasia dan duapuluh tiga orang anak buah Tee Kok itu serentak maju mengeroyok, dipimpin oleh Bi-kwi dan Tee Kok yang sudah menyerang lagi.

Sepasang saudara kembar Gak saling pandang dengan penuh keheranan. Baru sekarang ini mereka menyaksikan kepandaian yang demikian hebatnya seperti yang dimiliki pemuda itu. Akan tetapi melihat betapa kini semua anak buah pasukan baju merah itu maju mengeroyok, mereka menjadi marah.

Suling Naga