Ads

Kamis, 07 Januari 2016

Suling Naga Jilid 057

“Persetan dengan bujuk rayumu!” Hartawan itu membentak dan dengan kakinya mendorong tubuh Lo Cin sampai terjengkang. “Bayarlah atau kami akan melakukan kekerasan!”

Sementara itu, para tamu menjadi pucat dan mereka tidak mau ikut terlibat, maka mereka lalu menjauhkan diri, keluar dari ruangan itu, berkelompok di luar rumah, bahkan ada sebagian yang cepat pulang karena mereka inipun merasa masih mempunyai hutang kepada Phoa Wan-gwe dan takut kalau-kalau mereka kebagian kemarahan hartawan itu.

Melihat betapa ayah ibunya berlutut di depan hartawan itu dan ayahnya yang kena tendang itu sudah berlutut kembali, pengantin perempuan itupun menangis dan menjatuhkan diri berlutut di belakang ayahnya. Calon suaminya juga berlutut di sampingnya, memandang bingung karena pemuda inipun sudah mengenal akan kekuasaan Phoa Wan-gwe. Dusunnya termasuk wilayah hartawan ini pula. Akan tetapi dia sama sekali tidak tahu dan tidak pernah mengira bahwa hartawan itu menginginkan calon isterinya yang sudah beberapa tahun lamanya menjadi tunangannya.

Sementara itu, kepala pengawal Phoa Wan-gwe yang sudah tahu akan suasana yang menguntungkan bagi majikannya, melihat kesempatan terbuka baginya untuk turun tangan dan membuat jasa baik. Dia lalu mendekati Lo Cin, ikut berlutut dan berkata dengan lirih kepada petani itu.

“Lo Cin, kita semua tahu bahwa tuan Phoa adalah seorang yang murah hati dan bijaksana. Beliau marah karena engkau banyak berhutang kepadanya, sebelum melunasi hutang-hutangmu malah merayakan pernikahan puterimu. Hal ini berarti bahwa engkau kini menghadapi kesulitan karena anak perempuanmu. Karena itu, sudah sepatutnya kalau engkau menyuruh anak perempuanmu membujuk tuan Phoa agar suka mengampunimu. Biarkan anakmu ikut bersama kami dan akan kuatur agar ia dapat menemui dan membujuk tuan Phoa dan aku yakin pasti akan berhasil. Tentang pernikahan, dapat diundurkan untuk beberapa pekan atau beberapa bulan.”

Berkata demikian, kepala pengawal ini memandang dan mengedipkan matanya kepada tuan rumah dengan arti yang tak mungkin disalah tafsirkan lagi.

“Ahh.... ahhh....!”

Lo Cin mengeluh dengan bingung, sebentar menoleh ke arah puterinya yang berlutut di belakangnya, memandang isterinya dan memandang Phoa Wan-gwe yang kelihatannya tidak tahu manahu tentang bisikan kepala pengawalnya itu.

Akan tetapi Cun Si, pengantin wanita yang tadi menangis sambil menundukkan mukanya, ikut memperhatikan ucapan kepala pengawal itu dan iapun mengerti. Ia sudah banyak mendengar tentang hartawan itu yang suka mengganggu anak bini orang, maka iapun tahu apa maksudnya kepala pengawal itu, menyuruh ayahnya mengirim ia untuk pergi membujuk hartawan itu agar suka mengampuni ayahnya. Pernikahan diundur sampai beberapa pekan atau bulan! Ini saja sudah cukup baginya untuk dapat membayangkan atau menduga apa yang harus ia lakukan.






“Tidak....!” Tiba-tiba ia berkata lirih akan tetapi dengan muka pucat, mata terbelalak dan ia memegang lengan calon suaminya. “Tidak, aku tidak mau ke sana....! Ayah, aku tidak mau. Aku lebih baik mati sekarang juga....“

Dan iapun menangis. Calon suaminya segera merangkulnya tanpa malu-malu lagi dan pemuda inipun maklum mengapa calon isterinya begitu ketakutan dan berduka.

“Tenanglah, tidak ada seorangpun yang akan dapat mengganggumu seujung rambut saja selama aku masih hidup!”

Sungguh gagah sekali ucapan itu, terdorong oleh tanggung jawab untuk melindungi dan membela isterinya. Akan tetapi ucapan itu membuat merah muka si kepala pengawal. Dia meloncat berdiri dan dengan alis berkerut dia menghampiri mempelai pria.

“Apa kau bilang? Engkau menjadi pembela gagah berani, ya? Kalau begitu, hayo keluarkan uang, dan bayar semua hutang mertuamu. Itu baru gagah namanya!”

Dan kakinya menendang ke depan. Pemuda itu hanyalah seorang pemuda tani biasa, walaupun tubuhnya kuat karena pekerjaannya yang kasar, namun dia tidak pandai ilmu silat. Ketika ditendang, tangannya menangkis begitu saja, akan tetapi tetap saja tendangan itu mengenai punggungnya.

“Bukkk....!” Tubuh mempelai pria itu terguling-guling.

“Jangan....!”

Mempelai wanita menjerit dan menubruk tubuh calon suaminya yang kini berusaha untuk bangkit itu. Ada darah keluar dari mulut pemuda itu.

“Bocah lancang ini perlu dihajar!” kata pula kepala pengawal yang agaknya mendapatkan pikiran baru. “Atau akan kubunuh sekali di sini! Bagaimana nona? Kubunuh saja dia atau engkau bersedia untuk menolong keluarga ayahmu?”

Agaknya dia memperoleh sasaran lain untuk membantu majikannya, bukan lagi sekedar janji pembebasan hutang atau ampunan, akan tetapi kini dia mengancam akan membunuh pengantin pria kalau gadis itu tidak mau menuhi kehendak majikannya.

“Tidak, aku tidak mau lebih baik kau bunuh saja kami berdua!” Mempelai perempuan meratap sambil memeluk calon suaminya.

“Ya, bunuh saja kami. Kami rela mati bersama dari pada mengalami penghinaan,” sambung pemuda itu.

“Jangan bunuh mereka....!” Ayah pengantin perempuan meratap dan memohon sambil berlutut dan menyembah-nyembah.

“Hemm, tidak mau memenuhi permintaan akan tetapi minta diampuni. Mana bisa!” bentak pula kepala pengawal.

Sejak tadi, di antara para tamu yang kini bergerombol di luar sebagai penonton, terdapat seorang gadis bersama seorang pemuda. Mereka itu bukan tamu, melainkan dua orang yang kebetulan lewat di dusun itu, melihat ramai-ramai, tertarik dan mendekat. Mereka berdua itu adalah Gu Hong Beng dan Can Bi Lan yang seperti kita ketahui, melakukan perjalanan bersama menuju ke kota raja. Mereka sejak tadi diam saja dan merasa kagum kepada sepasang pengantin itu yang demikian berani menentang maut walaupun mereka itu hanya sepasang muda mudi dusun yang lemah. Jelas nampak betapa mereka itu saling mencinta dan rela mati bersama Baik Hong Beng maupun Bi Lan belum pernah melihat atau mendengar pernyataan cinta yang demikian mendalam, dan diam-diam mereka merasa terharu sekali.

Melihat betapa kini kepala jagoan itu hendak menyiksa bahkan mengancam hendak membunuh, Bi Lan mengerutkan alisnya. Ia tadi sudah mendengar semuanya dan seperti juga Hong Beng, ia dapat menduga bahwa hartawan itu tentu menginginkan pengantin wanita dan kini mempergunakan kekuasaanya untuk merampas pengantin wanita. Akan tetapi sebelum ia atau Hong Beng meloncat ke dalam untuk membela keluarga pengantin, tiba-tiba terdengar bentakan nyaring.

“Anjing-anjing srigala bermuka manusia sungguh menjemukan sekali!”

Dan dari kerumunan orang-orang itu meloncat masuk seorang pemuda yang gagah perkasa. Bi Lan dan Hong Beng memandang dan keduanya kagum. Pemuda itu memang mengagumkan sekali. Tubuhnya tinggi besar dan gagah perkasa. Mukanya yang berkulit agak gelap nampak jantan dan gagah. Usianya sebaya dengan Hong Beng, mungkin hanya lebih tua satu dua tahun, akan tetapi karena tubuhnya tinggi besar dia nampak lebih tua. Di punggungnya terdapat buntalan pakaian seperti halnya Bi Lan dan Hong Beng, dan hal ini menunjukkan bahwa dia adalah seorang yang sedang melakukan perjalanan jauh sehingga membawa bekal pakaian.

Akan tetapi ada benda sepanjang kurang lebih tiga kaki di dalam buntalan itu, kelihatan menonjol kecil dan Bi Lan dapat menduga bahwa tentu benda itu sebatang pedang dalam gagangnya.

Pemuda gagah perkasa itu memang bukan pemuda sembarangan. Dia adalah Cu Kun Tek, puteri tunggal pendekar sakti Cu Kang Bu dan isterinya Yu Hwi, pendekar dari Lembah Gunung Naga Siluman di Himalaya!

Seperti telah diceritakan di bagian depan cerita ini, ketika pendekar Sim Houw mengunjungi paman kakeknya, Cu Kang Bu, di lembah itu, pendekar ini telah menerima pedang pusaka Suling Naga dari kakek Pek-bin Lo-sian dan karena senjata itu sudah cukup ampuh baginya, maka pendekar Sim Houw lalu menyerahkan kembali pedang pusaka Koai-liong Po-kiam yang berasal dari lembah itu kepada paman kakeknya. Bahkan dia juga menyerahkan sebatang suling emas kepada keluarga Cu. Ketika itu, tujuh tahun yang lalu, Cu Kun Tek baru berusia duabelas tahun.

Kini dia telah menjadi seorang muda perkasa berusia sembilanbelas tahun, telah mewarisi ilmu-ilmu yang tinggi dari ayah bundanya! Dia mendapat anjuran dari ayah bundanya untuk turun gunung dan menuju ke dunia ramai di timur, untuk meluaskan pengetahuan dan menambah pengalaman. Sebelum berangkat, ayah ibunya memperkenalkan nama-nama deretan pendekar yang mereka kenal, terutama sekali keluarga para pendekar Pulau Es dan lain-lain. Juga ayah bundanya memperingatkan dia akan nama-nama beberapa orang tokoh dunia hitam yang mereka kenal.

“Ingatlah selalu, Kun Tek, bahwa kepandaian silat yang kau pelajari selama ini hanya merupakan sekelumit saja dari ilmu-ilmu yang tinggi yang dimiliki tokoh-tokoh dunia persilatan. Oleh karena itu jangan sekali-kali menonjolkan ilmu silatmu, apa lagi menyombongkannya. Engkau masih harus banyak belajar dan engkau hanya akan dapat belajar dan menambah pengetahuanmu kalau engkau bersikap kosong dan tidak memiliki kepandaian apa-apa. Hannya periuk yang selalu kosong dapat menampung tambahan air dari luar, sebaliknya periuk yang selalu penuh takkan mampu menampung apapun dari luar. Jadilah seperti periuk yang selalu kosong.”

“Akan tetapi, kalau engkau melihat peristiwa yang tidak adil, melihat kesewenang-wenangan dilakukan orang terhadap yang lemah, engkau harus turun tangan membela yang lemah tertindas, menentang yang kuat dan jahat. Engkau harus berwatak sebagai seorang pendekar budiman yang gagah perkasa dan pantang mundur untuk membela kebenaran dan keadilan!” kata ibunya.

Mendengar nasihat isterinya kepada putera mereka, Cu Kang Bu tersenyum. Memang isterinya berwatak keras dan gagah perkasa.

“Benar kata ibumu, Kun Tek, akan tetapi engkau harus waspada dan kalau tidak perlu sekali, jangan melibatkan diri dalam perkelahian. Ingat, engkau turun gunung untuk mencari pengalaman, bukan mencari permusuhan dengan siapapun juga.”

Ketika Kun Tek berangkat pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali, baru saja dia tiba di lereng pertama, ibunya menyusulnya. Ibunya menyerahkan pedang Koai-liong Po-kiam kepadanya.

“Bawalah pedang pusaka ini, anakku. Di dunia ramai banyak sekali orang jahat yang lihai. Pedang ini boleh kau pergunakan kalau engkau berada dalam ancaman bahaya. Hanya untuk melindungi dirimu, kalau tidak perlu jangan kau keluarkan, simpan saja dalam buntalan pakaian.”

Kun Tek merasa girang sekali. Memang dia amat sayang kepada pedang pusaka pemberian Sim Houw itu, pedang pusaka yang memang berasal dari keluarga mereka.
Ketika dia mempelajari ilmu pedang dari ayahnya, pedang pusaka itulah yang dia pakai untuk berlatih sehingga dia dapat memainkan pedang itu dengan baiknya. Kini ibunya memberikannya untuk bekal, tentu saja dia merasa girang sekali. Hatinya menjadi lebih besar dan tabah kalau membawa pedang pusaka itu.

Setelah dia berangkat meninggalkan ibunya yang berdiri mengikuti bayangan putera tercinta itu dengan mata basah, tiba-tiba terdengar suara lembut di belakang wanita itu.

“Hemm, kau menyerahkan pedang pusaka itu kepadanya? Sungguh besar sekali resikonya.”

Yu Hwi membalikkan tubuhnya dan memandang suaminya.
“Dia memerlukan pusaka itu untuk membela diri. Banyak sekali penjahat-penjahat lihai di sana.”

“Tapi pedang itu adalah pusaka keluarga kita sejak dahulu, sudah seharusnya disimpan dan dipuja oleh Lembah Naga Siluman. Bagaimana kalau sampai pedang pusaka itu hilang dirampas orang?”

“Aih, apakah engkau kurang percaya kepada putera sendiri? Kun Tek cukup kuat untuk menjaga pedang itu, dan pedang itupun amat berguna untuk melindunginya dari ancaman bahaya, kalau kaki tangannya sudah tidak mampu lagi melindungi dirinya. Pula, pedang itu adalah pedang pusaka keluarga Cu, dan bukankah Kun Tek merupakan keturunan terakhir dari keluarga Cu? Dia berhak memilikinya.”

Cu Kang Bu menarik napas panjang. Dia maklum bahwa percuma saja berbantah dengan isterinya yang keras hati. Pula, perbuatan isterinya itu terdorong rasa cinta dan khawatir terhadap keselamatan Kun Tek. Dengan pedang itu di tangan, memang keadaan putera mereka lebih kuat.

Demikianlah, pada hari itu, seperti juga Bi Lan dan Hong Beng, Kun Tek kebetulan lewat di dusun itu dan melihat peristiwa yang membuat mukanya yang agak kehitaman itu menjadi lebih gelap karena marah. Dia marah sekali dan tidak dapat menahan gejolak hatinya untuk membela keluarga pengantin yang sedang ditekan oleh hartawan dan anak buahnya itu.

Mendengar dirinya dimaki anjing srigala, kepala pengawal itu marah sekali. Dia menoleh dan melihat kegagahan pemuda tinggi besar itu, kepala pengawal ini bersikap hati-hati.

Pemuda ini nampak tegap dan kuat, dan kalau sudah berani memaki dia, tentu pemuda ini memiliki kepandaian yang diandalkan.

Suling Naga