Ads

Rabu, 13 Januari 2016

Suling Naga Jilid 077

“Ha-ha-ha, siapa yang kotor? Sumoi, agaknya adik kecil kita itu belajar asmara dari Pendekar Suling Naga, ha-ha!”

Bhok Gun juga tertawa, padahal di dalam hatinya dia merasa panas melihat betapa Bi Lan yang dirindukannya itu nampak demikian akrab dengan Sim Houw.

“Bhok Gun, Sim-toako bukanlah laki-laki hina dina dan rendah kotor macam kamu!” Bi Lan tiba-tiba membentak dan memandang dengan sinar mata berapi-api. “Jangan kalian ini manusia-manusia cabul menuduh orang-orang lain serupa saja dengan kalian yang tak tahu malu!“

“Cukup, Siauw-kwi!” kini Bi-kwi mulai mempergunakan pengaruhnya sebagai pelatih dan suci. “Bagaimana dengan janjimu dahulu ketika aku membebaskanmu dari Sam Kwi? Engkau berjanji akan membantuku sampai berhasil mendapatkan kembali Liong-siauw-kiam dan membantu aku merebut kedudukan jagoan nomor satu di dunia persilatan!”

“Aku hanya berjanji akan merampaskan kembali Liong-siauw-kiam, dan tentang merebut kedudukan jagoan nomor satu itu, kalau kebetulan aku menyaksikan tentu aku membantumu. Aku tidak akan mengingkari janji. Lihat, Liong siauw-kiam sudah berada di tanganku!”

Gadis itu menyingkap bajunya dan memang benar, Liong-siauw-kiam dengan sarung pedangnya telah terselip di ikat pinggangnya. Memang pedang ini diserahkan oleh Sim Houw kepadanya ketika mereka hendak berangkat tadi, untuk penjagaan kalau sewaktu-waktu Bi-kwi muncul.

Melihat betapa pedang pusaka itu benar-benar telah berada pada Bi Lan, Bi-kwi dan Bhok Gun saling pandang dan mereka nampak terkejut dan heran akan tetapi Bi-kwi menjadi girang sekali.

“Bagus sekali, sumoi! Kiranya engkau memang telah memenuhi janjimu. Berikan Liong-siauw-kiam itu kepadaku, adikku!” Suaranya menjadi manis sekali, dan ia mengulurkan tangan.

“Nanti dulu, suci. Aku akan menyerahkan pedang pusaka Liong-siauw-kiam ini kepadamu, akan tetapi dengan demikian berarti aku sudah terbebas dari ikatan janjiku kepadamu! Aku tidak akan hutang budi apa-apa lagi darimu dan kalau pedang ini sudah kuberikan kepadamu, berarti tidak ada ikatan apa-apa lagi antara kita. Berarti bahwa janji dan sumpahku telah kupenuhi dan kelak engkau tidak berhak untuk menekan aku lagi berdasarkan janji sumpah yang sudah kupenuhi dengan penyerahan pedang pusaka Liong-siauw-kiam ini. Benarkah begitu?”

“Benar, dan mana pedang itu kesinikan!” kata Bi-kwi tak sabar lagi.






“Katakan dulu bahwa kalau engkau sudah menerima pedang ini dariku, maka aku sudah tidak terikat dengan janji apa-apa lagi!” kata Bi Lan sambil mencabut sarung pedang itu dari ikat pinggangnya, akan tetapi belum mau menyerahkannya.

“Baik. kalau pedang itu sudah kuterima, engkau tidak terikat janji apa-apa lagi. Nah, berikan Liong-kiam itu padaku.”

Bi Lan menanti dua detik dan seperti telah direncanakan oleh Sim Houw, tidak ada tanda apa-apa dari Sim Houw. Hal ini berarti bahwa ia sudah boleh menyerahkan pedang itu kepada sucinya. Menurut rencana itu, kalau belum tiba saatnya menyerahkan pedang, Sim Houw tentu akan mengatakan sesuatu. Akan tetapi Sim Houw kini diam saja, hal ini merupakan isyarat dari Sim Houw bahwa pedang itu sudah boleh diberikan kepada Bi-kwi.

“Nah, terimalah ini sebagai pembayar janji dan sumpahku kepadamu dan aku sudah bebas dari ikatan apapun dengan dirimu,” katanya sambil mengulurkan tangan yang memegang pedang dengan sarungnya itu tanpa melangkah ke depan.

Dengan demikian, terpaksa Bi-kwi yang melangkah ke depan dan ia menerima pedang itu dari tangan sumoinya. Sebagai seorang yang cerdik dan ahli silat yang lihai, cara mengambil pedang itu dari tangan sumoinya dilakukan seperti orang merampas. Disambarnya pedang itu dan begitu sudah berada di tangannya, ia melompat ke belakang. Hal ini untuk menghindarkan kalau-kalau sumoinya bertindak curang dan menyerangnya pada saat ia menerima pedang. Akan tetapi ia kalah cepat, atau memang sama sekali tidak mengira bahwa pada saat ia menerima pedang, tubuh Sim Houw sudah meluncur ke depan.

“Sumoi, awas....!” teriak Bhok Gun yang melihat gerakan Sim Houw dan diapun sudah meloncat ke depan.

Bi-kwi terkejut sekali ketika tiba-tiba tubuh Sim Houw, bagaikan seekor garuda terbang menyambar ke bawah, tangan kanan mencengkeram ke atas ubun-ubun kepalanya sedangkan tangan kiri menyambar ke arah pedang! Serangan itu hebat bukan main dan kalau ia terlambat sedikit saja melindungi tubuhnya, tentu kepalanya menjadi sasaran.
Jangankan sampai dicengkeram, terkena totokan satu kali pada ubun-ubun kepalanya, ia akan mati konyol!

Cepat Bi-kwi membuang diri ke belakang sambil menangkis pukulan itu, kakinya sambil membuang diri menendang ke depan. Akan tetapi, betapapun cepat reaksi gerakannya, tetap saja tiba-tiba ia merasa lengan kanannya lumpuh dan tahu-tahu pedang itu telah terampas oleh Sim Houw.

“Bukkk....!” Pada saat itu, hantaman Bho Gun tiba menimpa punggung Sim Houw.

Dalam usaha membantu sumoinya tadi, Bhok Gun sudah mengerahkan tenaga dan memukul punggung Sim Houw. Sim Houw maklum akan serangan ini, akan tetapi dia mencurahkan seluruh perhatiannya kepada usahanya merampas kembali Liong-siauw-kiam karena kalau sekali serangan itu dia gagal, akan semakin sukarlah untuk mendapatkan kembali pusakanya itu. Maka, sambil melanjutkan usahanya merampas pedang, dia menerima saja hantaman pada punggungnya itu sambil menggunakan sebagian dari sin-kangnya saja untuk melindungi punggung.

Terkena hantaman yang amat kuat itu, tubuh Sim Houw terpelanting dan bergulingan sampai jauh, akan tetapi pedang Liong-siauw-kiam sudah berada kembali ke tangannya.

Dengan marah sekali Bi-kwi dan Bhok Gun mengejar dan mereka berdua sudah menyerang dengan bertubi-tubi untuk merampas kembali pedang itu. Bhok Gun mempergunakan pedangnya, dan Bi-kwi sudah mengeluarkan Ilmu Silat Sam Kwi cap-sha-ciang yang hebat itu.

Baru saja Sim Houw yang terkena hantaman tadi meloncat berdiri dan dari mulutnya mengalir darah segar sebagai bukti bahwa pukulan tadi telah melukainya sebelah dalam tubuh atau setidaknya membuat sebelah dalam tubuhnya terguncang, kini dia sudah diserang lagi dengan dahsyatnya. Dia mengelak dari sambaran pedang Bhok Gun, akan tetapi sebuah tamparan dengan jurus Ilmu silat Cap-sha-ciang yang ampuh itu kembali membuatnya terpaksa melempar diri dan bergulingan.

Akan tetapi sambil bergulingan dia mencabut pedang Liong-siauw-kiam dan begitu dia meloncat bangun dan memutar pedangnya, terdengar suara berkerintingan dan beberapa belas buah paku beracun yang disambitkan Bhok Gun berjatuhan tertangkis oleh sinar pedang.

Setelah pedang Liong-siauw-kiam berada di tangannya, kini Sim Houw menghadapi mereka berdua dan terdengarlah bunyi senjatanya itu yang melengking-lengking seperti suling ditiup, akan tetapi mengandung ketajaman pedang pusaka yang sakti, bahkan sinar pedang itu saja bersama suaranya sudah mampu membuat lawan menjadi repot.
Terjadilah perkelahian mati-matian.

Tanpa diperintah lagi, duapuluh lebih anak buah Bhok Gun itu sudah mengurung arena perkelahian itu dengan senjata golok atau pedang di tangan. Melihat ini, sejak tadi Bi Lan sudah memperhatikan.

“Siauw-kwi, hayo kau bantu kami!” bentak Bi-kwi dengan suara penuh wibawa kepada adik seperguruannya itu.

Akan tetapi dengan tenang Bi Lan menjawab,
“Bi-kwi, ingat bahwa sejak kau terima pedang itu, di antara kita sudah tidak terdapat ikatan apa-apa!”

Berkata demikian, gadis ini lalu menerjang maju dan menyerang duapuluh lebih anak buah Bhok Gun itu!

“Kau pengkhianat....!”

Bhok Gun berteriak marah melihat betapa dua orang anak buahnya roboh terguling oleh serangan Bi Lan yang segera dikeroyok oleh semua anak buah itu.

“Bukan pengkhianat macam engkau yang curang!” balas Bi Lan dan gadis ini dengan enaknya membagi-bagi pukulan dan tendangan kepada duapuluh lebih pengeroyok yang bukan merupakan tandingan yang berat baginya.

“Celaka! Kita tertipu....!” Tiba-tiba Bi-kwi berseru. ”Mereka sudah merencanakan ini....!”

Menghadapi lawan seperti Sim Houw, walaupun mengeroyok dua, sama sekali tidak boleh membagi perhatian. Begitu Bi-kwi berteriak demikian sambil melirik ke arah sumoinya, sinar pedang Suling Naga menyambar dibarengi lengkingan mengerikan. Ia menangkis dengan lengannya, akan, tetapi ternyata ujung suling pedang itu berkelebat ke atas dan terdengar kain robek disusul jerit tertahan Bi-kwi yang terluka pada pundaknya!

Melihat betapa Bi-kwi terluka dan anak buahnya kocar-kacir diamuk Bi Lan, Bhok Gun menjadi gugup dan diapun berseru nyaring

”Mari kita pergi....!”

Betapa dongkol rasa hatinya, terpaksa Bi-kwi menuruti nasihat suhengnya itu dan bersama Bhok Gun, iapun meloncat dan melarikan diri, diikuti terpincang-pincang oleh duapuluh lebih anak buah Ang-i Mo-pang yang saling menopang kawan yang terluka.

Bi Lan berdiri sambil bertolak pinggang, tertawa terbahak-bahak melihat mereka. Sim Houw juga tersenyum, akan tetapi tiba-tiba dia mengeluh dan cepat dia duduk bersila, sambil memejamkan kedua matanya.

Melihat kawannya itu diam saja dengan tiba-tiba lalu duduk bersila, Bi Lan teringat bahwa Sim Houw tadi terkena pukulan Bhok Gun pada punggungnya sampai mulutnya mengeluarkan darah. Ia cepat mendekati pemuda itu dan melihat betapa Sim Houw mengatur pernapasan untuk mengumpulkan hawa murni mengobati lukanya sendiri, iapun lalu duduk agak menjauh.

Ingin sekali ia membantu pemuda itu dengan penyaluran tenaganya, akan tetapi ia tidak berani melakukannya dan tidak mau mengganggu Sim Houw yang sedang samadhi. Ia kagum bukan main kepada pemuda itu. Tadi ia melihat cara Sim Houw merampas kembali pedang pusaka dan karena itu iapun melihat bahwa Sim Houw sengaja membiarkan punggungnya terpukul karena dia memaksa diri harus dapat merampas pedang itu dalam satu serangan, dan ternyata usahanya itupun berhasil dengan baik!

Ia percaya bahwa pendekar itu sudah membuat perhitungan dengan masak sehingga pukulan yang mengenai punggung itu, biarpun mengguncang hebat dan menimbulkan luka dalam sampai muntahkan sedikit darah, namun tentu tidak berbahaya.

Buktinya, dalam keadaan terluka tadi Sim Houw telah mampu mendesak dan melukai pundak Bi-kwi, biarpun sucinya tadi mempergunakan Ilmu Cap-sha-kun dan Bhok Gun yang tingkat kepandaiannya sama dengan Bi-kwi mempergunakan pedangnya. Bahkan membuat kedua orang itu kemudian terpaksa melarikan diri!

Sambil menunggui Sim Houw yang sedang mengobati luka dalam di tubuhnya, Bi Lan kini mulai memperhatikan pria itu. Bukan pemuda remaja lagi, melainkan seorang laki-laki, seorang jantan yang berwatak lemah lembut dan sederhana, tak pernah tinggi hati dan tidak suka berlagak walaupun jelas bahwa ilmu kepandaiannya tinggi sekali dan namanya terkenal sebagai seorang pendekar sakti. Seorang yang pada wajahnya membayangkan bekas kedukaan yang membuatnya menjadi pendiam dan lebih suka menyendiri di tempat-tempat sunyi. Dan tiba-tiba saja hatinya merasa kasihan sekali. Laki-laki yang baik budi ini, agaknya juga tidak mempunyai siapapun di dunia ini, seperti dirinya.

Ah, mengapa ia mendadak saja termenung? Mengapa membiarkan pikiran dikelabukan awan yang hanya akan membuatnya bersedih? Wataknya yang gembira dan jenaka sudah sejak lama terlatih untuk mengatasi segala duka. Bahkan ketika ia menderita sakit keracunan yang membuatnya seperti orang gila, hanya sebentar saja ia menangis, kemudian ia sudah bergembira kembali, dengan alam, dengan sekitarnya. Iapun sudah melenyapkan kesedihan yang tadi terseret oleh rasa kasihan yang timbul terhadap Sim Houw dan kini wajahnya sudah berseri kembali.

Tugas pertama sudah dilaksanakannya dengan baik. Ia sudah berhasil menemukan kembali Liong-siauw-kiam dan membebaskan dirinya dari ikatan janjinya terhadap Bi-kwi. Budi kebaikan Sam Kwi telah lunas ketika Sam Kwi hampir saja memperkosa dirinya. Budi kebaikan itu telah ditebus dengan perbuatan mereka yang hina itu. Ia tidak akan mendendam sakit hati atas perbuatan Sam Kwi yang terakhir terhadap dirinya, biarlah perbuatan itu sebagai pembayar semua budi mereka terhadap dirinya sejak ia bertemu dengan mereka.

Kemudian, iapun tidak lagi berhutang budi kepada Bi-kwi karena sudah ditebusnya dengan menyerahkan Liong-siauw-kiam tadi. Soal ia tidak mampu mempertahankan pusaka itu ketika dirampas kembali oleh Sim Houw, itu adalah masalah Bi-kwi sendiri dan ia tidak perlu mencampurinya.

Kini tinggal satu tugas lagi. Mencari Ban-tok-kiam! Dan Sim Houw telah berjanji untuk membantunya. Ia percaya kepada pria ini. Ia merasa aman, merasa begitu pasti akan berhasil karena ada Sim Houw di sampingnya. Bahkan ia hampir merasa yakin, begitu besar percayanya kepada sahabat baru ini, bahwa ia akan mampu mendapatkan kembali Ban-tok-kiam untuk dikembalikan kepada subonya di Istana Gurun Pasir. Setelah berhasil, ia akan mengunjungi suhu dan subonya itu di sana!

Suling Naga