Ads

Sabtu, 23 Januari 2016

Suling Naga Jilid 092

Pao-teng merupakan kota yang cukup besar dan ramai, terletak di sebelah selatan kota raja. Kemelut yang terjadi di kota raja karena persaingan antara Hou Seng dan para pembesar yang menentangnya, tentu saja menjadi sumber berita dan berita itu sudah tiba di Pao-teng. Apa lagi akhir-akhir ini, di kota dikabarkan bahwa Pouw Taijin dan keluarganya bersekutu dengan orang-orang kang-ouw, bahkan kemudian Pouw Taijin dan isterinya dikabarkan terbunuh oleh orang kang-ouw, sedangkan keluarganya ditangkap pemerintah dengan tuduhan pemberontak! Semenjak terjadinya peristiwa itu, seringkali di kota raja, di pasar-pasar, di rumah-rumah makan dan di hotel-hotel, juga di pintu-pintu gerbang, diadakan pembersihan dan penangkapan-penangkapan bagi mereka yang dicurigai.

Yang amat ditakuti oleh orang-orang yang merasa pernah belajar silat adalah munculnya pasukan berpakaian preman yang dipimpin oleh orang-orang pandai. Banyak sudah orang-orang kang-ouw ditangkap dan diperiksa. Mereka yang bersikap anti pemerintah atau anti pembesar Hou Seng, segera dijebloskan penjara dan bahkan banyak pula yang terbunuh dalam pembersihan dan penangkapan-penangkapan itu. Dunia kang-ouw menjadi gelisah.

Orang-orang yang tinggal di kota Pao-teng mendengar pula akan kemelut itu dan mereka khawatir bahwa pembersihan-pembersihan dan penangkapan-penangkapan yang dilakukan pasukan itu akan menjalar sampai ke Pao-teng. Apa lagi melihat betapa banyak keluarga orang kang-ouw meninggalkan kota raja dan lari mengungsi ke selatan. Tentu saja setibanya di Pao-teng mereka itu menyebar berita yang simpang-siur dan membuat penduduk menjadi semakin gelisah.

Berita seperti itu, yang menyangkut keamanan rakyat dan pergolakan di kalangan atas, tentu saja menarik perhatian Kao Cin Liong yang di waktu mudanya pernah menjabat sebagai seorang panglima muda. Setelah mengundurkan diri dari jabatannya, Kao Cin Liong bersama keluarganya tinggal di kota Pao-teng dan berdagang rempa-rempa. Sejak itu dia sama sekali tidak pernah mencampuri urusan pemerintahan, bahkan jarang-jarang menonjolkan diri di dunia kang-ouw. Bekas jenderal yang juga seorang pendekar perkasa itu kini berusia kurang lebih lima puluh tahun, tinggal di sebuah rumah yang cukup besar dengan isterinya yang tercinta, yaitu Suma Hui yang sekarang juga sudah berusia empatpuluh tahun, dan puteri mereka yang merupakan anak tunggal, bernama Kao Hong Li, berusia tigabelas tahun.

Apa lagi ketika terdengar berita yang mengatakan bahwa keluarga Pouw Tong Ki yang masih menjadi seorang menteri telah terbunuh, bahkan keluarganya ditangkap dengan tuduhan mengusahakan pemberontakan dengan mengadakan persekutuan dengan orang-orang jahat yang berilmu tinggi, Kao Cin Liong terkejut dan berduka sekali. Dia mengenal sahabatnya itu, sebagai orang yang setia aan jujur terkadap kaisar, seorang yang bijaksana dan tidak mau menggunakan kedudukannya untuk mencari keuntungan diri sendiri. Sukar dia dapat percaya bahwa seorang yang begitu setia seperti Pouw Tong Ki berusaha mengadakan pemberontakan! Kecuali kalau keadaan sudah terpaksa sekali dan di istana terjadj hal-hal yang luar biasa. Tentu ada sebabnya, atau kalau tidak, tentu sahabatnya ini hanya kena fitnah saja. Dia mengemukakan rasa penasaran di hatinya itu di depan isterinya.






“Ingin sekali aku menyelidiki kematian sahabatku itu. Tentu ada rahasia di balik peristiwa itu. Dia dan isterinya terbunuh, puterinya diculik orang dan putera-puteranya ditangkap pemerintah dan dihukum! Tak mungkin nssibnya seburuk itu. Dia orang baik sekali!”

“Aihh!” Isterinya yang bernama Suma Hui, seorang cucu dari Pendekar Super Sakti dari Pulau Es, mengerutkan alisnya. “Sudah belasan tahun kita hidup dengan tenteram tanpa mencampuri urusan pemerintah maupun dunia kang-ouw. Kalau sekali kita terjun, kita tentu akan terlibat dan kesulitan-kesulitan, pertentangan dan permusuhan tentu akan datang bertubi-tubi menghancurkan ketenteraman kehidupan kita. Engkau sudah mengundurkan diri, mengapa sekarang hendak mencari penyakit? Biarkanlah mereka yang masih haus akan kekuasaan itu bekerja. Aku yakin bahwa urusan yang terjadi di kota raja itu tidak lain hanyalah masalah perebutan kekuasaan belaka. Perlukah kita mencampurinya?”

Kao Cin Liong mengangguk-angguk dan menyentuh lengan isterinya.
“Engkau benar, benar sekali. Kadang-kadang rasa penasaran membuat batinku memberontak! Akan tetapi apakah kalau aku bercampur tangan lalu keadaan akan menjadi baik? Apakah aku akan mampu mengatasi semua kemelut yang sedang terjadi di kota raja? Ah, aku yakin tidak mungkin bisa. Jangan-jangan pencampurtanganan dariku bahkan menambah besarnya kemelut. Engkau benar. Urusan pemerintahan bukan urusanku, dan sahabatku Pouw Tong Ki itu menjadi korban karena dia masih menjabat menteri. Andaikata dia tidak menjadi pembesar dan hidup seperti kita, kurasa dia pun tidak akan mengalami nasib sedemikian buruknya.”

Pada saat itu, seorang anak perempuan yang bermata lebar dan berwajah manis berlari masuk. Anak perempuan berusia tigabelas tahun yang lincah ini adalah Kao Hong Li, puteri dan anak tunggal suami isteri pendekar itu.

“Ayah, ada seorang tamu ingin bertemu dengan ayah. Seorang pemuda berpakaian serba biru, bernama Gu Hong Beng.”

“Hemm, ada keperluan apakah orang muda itu datang?” tanya Kao Cin Liong, merasa terganggu karena dia sedang membicarakan urusan yang penting dan serius dengan isterinya.

“Dia tidak mengatakan keperluannya. Orangnya pendiam dan kelihatan malu-malu. Mungkin dia datang untuk minta pekerjaan, ayah.”

Dengan gerakan tangan tidak sabar karena merasa terganggu, Kao Cin Liong berkata kepada Hong Li,

“Kau tanya apa keperluannya, kalau benar dia datang minta pekerjaan, katakan saja bahwa pada waktu ini aku belum memerlukan bantuan tenaga baru.”

Hong Li lalu berlari ke luar. Gadis cilik yang lincah ini melihat betapa sikap ayah ibunya kaku dan wajah mereka keruh. Tentu ada sesuatu yang mengganggu ayah ibunya dan hatinya ikut merasa tidak senang. Ia menganggap kemunculan pemuda itu hanya menggangu saja!

Ia kini berhadapan dengan Hong Beng yang masih berdiri di luar pintu depan. Melihat betapa anak perempuan itu kini muncul lagi dan tidak nampak orang lain, Hong Beng memandang dengan heran. Akan tetapi, Hong Li dengan nada suara kesal segera berkata,

“Ayah dan ibu sedang sibuk, tidak dapat menerima tamu!“

Hong Beng mengerutkan alisnya. Menurut penuturan suhunya, Kao Cin Liong adalah seorang pendekar yang gagah perkasa dan budiman. Kenapa keluarga ini sekarang bersikap begitu angkuh? Apakah ada sesuatu yang terjadi? Dia merasa penasaran. Anak perempuan ini kelihatan galak dan pandang mata yang tajam itu mengandung kenakalan.

Jangan-jangan ulah anak perempuan ini saja yang hendak mempermainkannya.
“Akan tetapi, penting sekali bagiku untuk bertemu dengan Kao-locianpwe!”

“Hemm, mungkin penting bagimu, akan tetapi tidak ada artinya bagi kami. Ada keperluan apakah engkau hendak menghadap ayah dan ibu?”

Hong Beng menganggap bahwa sikap anak perempuan ini tinggi hati sekali, maka diapun menjawab singkat,

“Keperluan banyak. Aku singgah di sini dan ingin menghadap adalah untuk memenuhi pesan guruku.”

“Siapa sih gurumu?” tanya Hong Li sambil memandang pemuda itu dengan teliti, dari kepala sampai ke kaki.

“Guruku bernama Suma Ciang Bun....!”

“Bohong!” Hong Li membentak keras sampai Hong Beng menjadi kaget. “Enak saja engkau mengaku murid pamanku. Kalau benar muridnya, tentu engkau dapat menyambut seranganku ini!”

Tanpa banyak cakap lagi gadis cilik yang galak dan lincah itu sudah menerjang maju, memukul ke arah dada Hong Beng.

Tentu saja Hong Beng mengenal sebuah jurus dari Ilmu Cui-beng Pat-ciang itu, maka diapun mengelak dengan mudahnya. Bahkan karena mendongkol dan menganggap anak perempuan ini terlalu galak, ketika Hong Li menyerang lagi dengan tendangan kilat, dia mengelak sambil memutar langkahnya dan tiba-tiba saja tangannya sudah menampar ke arah pinggul anak perempuan itu, dengan maksud untuk menghajarnya agar tidak terlalu nakal dan bersikap sopan kepada tamu.

“Plakk!” Pinggul itu kena ditampar, cukup keras sehingga mendatangkan rasa panas dan nyeri.

Marahlah Hong Li. Sepasang matanya terbelalak dan mukanya menjadi merah saking marahnya.

“Haiiiittt....!”

Ia berteriak dan kini ia menghujankan pukulan-pukulan ke arah tubuh Hong Beng, mempergunakan ilmu-ilmu silat yang pernah dipelajarinya dari ayah ibunya. Kalau tadi ia sengaja menyerang dengan jurus dari Cui-beng Pat-ciang yang dilatihnya dari ibunya, kini ia menggunakan ilmu yang didapat dari ayahnya yang tentu tidak akan dikenal oleh seorang murid pamannya karena kalau ibunya merupakan keturunan keluarga Pulau Es, ayahnya adalah keturunan majikan Istana Gurun Pasir!

Akan tetapi, Hong Li yang baru berusia tigabelas tahun ini, tentu saja belum menguasai ilmu-ilmu silat tinggi itu dengan matang dan bukan merupakan lawan berat bagi Hong Beng. Kalau pemuda ini menghendaki, tentu dia akan mampu merobohkannya. Akan tetapi Hong Beng dapat menduga siapa adanya gadis cilik ini. Puteri dari Pendekar Kao Cin Liong. Maka diapun hanya mengalah dan terus main mundur, mengelak dan menangkis, tidak pernah membalas.

Pada saat Hong Li menyerang sambil mengeluarkan bentakan nyaring itu, tentu saja Kao Cin Liong dan Suma Hui yang berada di dalam rumah terkejut sekali dan mereka berdua bergegas keluar untuk melihat apa yang terjadi. Ketika mereka melihat anak mereka berkelahi dengan seorang pemuda baju biru, Cin Liong sudah hendak melerai, akan tetapi lengannya dipegang isterinya yang berbisik,

“Lihat, bukankah dia menggunakan gerakan ilmu silat keluargaku?”

Cin Liong memperhatikan dan harus mengakui kebenaran isterinya. Pemuda yang selalu mengelak atau menangkis, yang terus mengalah itu, bersilat dengan gerakan ilmu silat keluarga Pulau Es! Setelah mereka melihat jelas, dan juga tahu bahwa pemuda itu lihai sekali dan sengaja mengalah, Suma Hui lalu meloncat ke depan.

“Hong Li, hentikan serangan-seranganmu itu!” bentaknya.

Mendengar bentakan ibunya, Hong Li meloncat ke belakang. Peluh membasahi dahi dan lehernya, ia merasa penasaran sekali tadi karena semua serangannya luput atau tertangkis, akan tetapi setelah ayah ibunya muncul, iapun kini sadar bahwa ialah yang lebih dulu menyerang pemuda itu.

Maka sebelum pemuda itu ditanyai, ia lebih dulu berkata kepada ibunya.
“Siapa yang tidak mendongkol? Orang ini mengaku-aku sebagai murid paman Suma Ciang Bun!”

“Anak bodoh! Apa engkau sudah tidak mengenal lagi gerakan-gerakannya yang jelas membuktikan kebenaran pengakuannya?” kata Suma Hui dan dengan girang ia memandang kepada pemuda itu yang sudah menjatuhkan diri berlutut di depan ia dan suaminya.

“Harap bibi guru dan paman tidak menyalahkan adik ini. Saya yang bersalah dan maafkan kelancangan saya,” kata Hong Beng yang diam-diam teringat betapa dia tadi sudah “menghajar” gadis cilik itu dengan menampar pinggulnya! Ia menjadi khawatir kalau-kalau si kecil itu mengadu kepada orang tuanya.

“Engkau murid adikku Suma Ciang Bun? Suma Hui bertanya. Dan siapa namamu tadi? Hong Li sudah memberitahukan kepada kami akan tetapi kami lupa.......”

“Namanya Gu Hong Beng dan kalau dia tak berhati-hati menjaga kelancangan tangan dan mulutnya, tentu akan kuhajar lagi!” kata Hong Li dan ucapan ini saja sudah membuat Hong Beng semakin gelisah.

Kiranya anak ini telah menyindirkan bahwa kalau ia tidak bersikap baik, tentu gadis cilik itu akan menghajarnya dengan mengadu kepada ayah dan ibunya

“Adik yang baik, harap maafkan aku.”

Kao Cin Liong tidak senang melihat kemanjaan puterinya. Jelas tadi bahwa yang terus-menerus melakukan penyerangan adalah Hong Li, akan tetapi kini sikap puterinya itu seolah-olah pemuda itu yang bersalah.

“Sudahlah, mari kita masuk dan bicara di dalam.”

Mereka masuk ke dalam rumah dan kemudian duduk di ruangan dalam. Suma Hui bertanya tentang adik laki-lakinya yang sudah lama tak pernah dijumpainya itu. Hong Beng menceritakan keadaan dirinya, betapa dia diselamatkan oleh Suma Ciang Bun pada tujuh tahun yang lalu, kemudian menjadi muridnya.

“Teecu diutus oleh suhu untuk melakukan penyelidikan tentang seorang pembesar bernama Hou Seng karena suhu mendengar betapa pembesar itu menguasai kaisar dan merajalela di kota raja.”

Suling Naga