Ads

Sabtu, 26 Desember 2015

Suling Naga Jilid 002

Kini baru Bi Lan teringat akan nasib dirinya sendiri setelah ia jauh dari ayah ibunya. Tadi ia lupa akan keadaan diri sendiri karena melihat mereka dan kini baru ia tahu bahwa dirinya dibawa pergi menjauh dari pada yang lain oleh si tinggi kurus bermuka pucat. Rasa takut membuat ia menangis sesenggukan dan tidak berteriak-teriak lagi, tidak meronta lagi.

Ketika tiba di tengah hutan, di dekat sebuah sumber air di mana tumbuh rumput tebal di bawah pohon-pohon rindang, si tinggi kurus itu melempar turun Bi Lan ke atas rumput.
Anak itu terbanting perlahan dan karena rumput itu tebal dan lunak, ia tidak terlalu menderita nyeri.

Akan tetapi, Bi Lan segera bangkit duduk. Tubuhnya masih lemas karena kelelahan, ditambah lagi dengan kengerian yang dilihatnya, dan rasa takut yang amat sangat, membuat ia seperti lumpuh. Kini, dengan muka pucat, dengan mata merah basah, dengan rambut kusut dan tubuh panas dingin, ia memandang kepada laki-laki yang berdiri amat tingginya di depannya itu dengan sinar mata liar ketakutan. Ia melihat wajah yang pucat kurus itu menyeringai mata yang buas dan bengis itu ditujukan kepadanya.

“Nah, begitulah, anak manis. Diam saja dan jangan menangis. Aku paling benci kalau mendengar anak menangis. Nah, begitulah, jangan membikin aku marah.”

Laki-laki itu lalu menanggalkan bajunya, lalu duduk di depan Bi Lan. Anak perempuan ini melihat betapa kulit dadanya yang kurus itu, kulit yang hanya membungkus tulang, cacat dengan guratan-guratan panjang bekas luka. Mengerikan sekali dan gadis itu semakin ketakutan. Apa lagi melihat laki-laki itu menjulurkan tangan dan jari-jari yang kecil panjang itu menyentuh dan mengusap pipinya, lalu tangan itu mengusap rambutnya.

“Kembalikan.... kembalikan aku.... kepada ibuku....”

Akhirnya Bi Lan mampu juga bicara karena melihat laki-laki itu tak bersikap kasar kepadanya. Baru sekali ini nampak laki-laki itu tertawa dan hampir Bi Lan jatuh pingsan sakig takut dan seremnya. Laki-laki kurus ini sejak tadi diam saja dan sikapnya itu penuh dengan kebengisan, akan tetapi kalau ia diam, masih baiklah. Akan tetapi kini dia tertawa dan suasana menjadi menyeramkan. Dia tertawa tanpa disertai bibir dan matanya. Mulutnya seperti diam saja akan tetapi dari kerongkongannya terdengar kekeh lirih yang amat mengerikan, pantasnya iblis yang bisa tertawa seperti itu.






Dan kini laki-laki itu, masih terkekeh, mencengkeram baju Bi Lan dan sekali renggut, terdengar kain robek dan baju itu pun terlepas dari pundak dan lengan Bi Lan! Tentu saja Bi Lan terkejut setengah mati dan ia pun menjerit dan menangis.

“Ehh! Aku paling benci....“ Laki-laki itu berteriak dan tangan kirinya menampar.

“Plakkk....!”

Rasa nyeri membuat Bi Lan yang terpelanting ke atas rumput itu seketika menghentikan tangisnya. Nyeri dan kaget bukan main. Tamparan pada pipinya itu membuat pandang matanya berkunang dan ujung bibirnya berdarah. Ketika ia membuka matanya lagi, tahu-tahu laki-laki itu telah menyambar tubuhnya, dipangkunya dan laki-laki itu lalu menciumi bibirnya yang berdarah.

Bagaikan seekor srigala, laki-laki itu menjilati bibir sendiri yang berlepotan darah yang keluar dari bibir Bi Lan yang pecah, lalu menciumi lagi dengan buasnya, bukan mencium, melainkan lebih mirip hendak menghisap darah yang keluar itu sampai habis dari tubuh Bi Lan. Tentu saja Bi Lan semakin ketakutan dan kesakitan, meronta-ronta tanpa dapat mengeluarkan suara karena mulutnya tertutup mulut pria itu. Ia muak dan takut, matanya terbelalak dan ia masih belum mengerti mengapa orang itu melakukan hal seperti itu kepada dirinya.

Keadaan orang tinggi kurus itu seperti mabok. Memang, orang yang membiarkan dirinya dikuasai nafsu, tiada bedanya dengan orang mabok. Makin dibiarkan nafsu menguasai diri semakin parah pula maboknya itu sehingga ia lupa segala-galanya, yang teringat hanyalah bagaimana caranya untuk dapat melampiaskan nafsunya secepat mungkin dan sepuas mungkin.

Orang yang dikuasai oleh nafsu berahi seperti orang tinggi kurus itu, yang memang menjadi hamba dari nafsu berahinya dan membiasakan diri untuk tunduk kepada nafsu ini, tidak lagi melihat apakah perbuatannya dalam melampiaskan nafsunya itu sudah tepat dan benar. Dia lupa bahwa yang dicengkeramnya adalah seorang anak kecil berusia sepuluh tahun, bukan seorang wanita yang sudah dewasa dan sudah layak dijadikan pemuas nafsu berahinya. Dia tidak peduli lagi, yang penting baginya adalah bagaimana nafsunya dapat cepat tersalurkan.

Pada saat yang amat berbahaya bagi keselamatan diri Bi Lan itu, tiba-tiba terdengar suara orang ketawa-tawa. Suara ketawa itu terdengar aneh dan halus, akan tetapi menusuk anak telinga sehingga si tinggi kurus yang sedang menciuminya, atau seperti hendak memakannya dengan lahapnya itu, tiba-tiba mengangkat muka yang dibenamkannya pada leher anak perempuan itu dan menoleh.

Dia terkejut sekali melihat munculnya tiga orang yang tahu-tahu telah berada di situ. Karena dua orang itu bukan anak buahnya, dia pun menjadi marah dan sekali dorong, dia telah membuat tubuh Bi Lan yang dipangkunya itu terlempar sampai dua meter lebih di depannya, bergulingan di atas rumput.

Kemudian dengan sikap beringas karena merasa kesenangannya terganggu, dia meloncat ke atas seperti seekor harimau dan menghadapi tiga orang itu dengan dada dibusungkan. Akan tetapi karena memang tubuhnya kerempeng, biarpun dadanya dibusungkan, tetap saja nampak tidak gagah dan tidak menakutkan, malah lucu karena dadanya itu makin kelihatan kerempengnya.

Tiga orang itu memang aneh sekali keadaannya. Tiga orang kakek yang buruk rupa dan aneh, bahkan lucu dan agak menyeramkan. Usia mereka tentu tidak kurang dari enampuluh tahun. Yang seorang bertubuh tinggi sekali, hampir satu setengah orang biasa dan seperti biasa orang yang memiliki tubuh tinggi, dia condong untuk merendahkan tubuhnya sehingga agak membungkuk dan kedua pundaknyapun terlipat ke dalam atau ke depan.

Orang tinggi ini bertulang besar namun agak kurus, kulitnya penuh keriput kehitaman. Mukanya seperti muka kuda, agak meruncing ke depan dan kedua matanya yang berjauhan itu seperti menjuling kalau memandang ke depan dan sudah terbiasa untuk melihat dengan mata melirik sehingga mukanya selalu tidak lurus menghadapi benda-benda yang dipandangnya. Hidungnya juga mancung dan mulutnya meruncing.

Mukanya yang lucu sekali, apa lagi di tambah dengan telinga yang berdaun lebar dan panjang seperti telinga keledai. Matanya yang menjuling itu seringkali disipitkan karena dia memang kurang awas. Kedua lengannya panjang sekali sampai tergantung ke tepi lutut, seperti lengan kera saja. Pakaiannya serba hitam yang menambah keburukannya, dengan sepatu hitam pula yang dilapisi dengan baja. Kedua kakinya juga panjang-panjang dan agak bengkok seperti punggungnya pula.

Orang yang buruk rupa ini sama sekali bukan orang yang biasa saja, bahkan keburukannya itu menambah ketenarannya di dunia kaum sesat karena orang ini adalah Hek-kwi-ong (Raja Iblis Hitam) yang memiliki kesaktian luar biasa, juga memiliki kekejaman yang hanya dapat disamakan dengan raja iblis sendiri. Akan tetapi, selama puluhan tahun ini dia tidak pernah keluar dan baru sekarang nampak di hutan itu, suatu hal yang kebetulan saja nampaknya.

Orang yang kedua tidak kalah anehnya. Orangnya bulat seperti bal. Tingginya hanya tiga perempat orang biasa dan karena dia amat gemuk, terutama sekali perutnya yang gendut seperti bola, maka dia kelihatan bulat seperti sebuah gentung yang mempunyai kaki dan tangan. Mukanya yang bulat itu nampak cerah selalu karena dia memiliki mulut yang tidak dapat ditutup rapat, selalu terbuka sehingga nampaknya selalu tersenyum atau tertawa ramah. Orang ini memang segala-galanya serba bulat. Matanya, hidungnya, mulutnya yang lebar bahkan telinganya juga bundar bentuknya. Lengan dan kakinya juga gemuk bulat, apalagi pinggul dan perutnya. Pendeknya, manusia bundar ini memang lucu sekali kelihatan dari samping atau belakang.

Akan tetapi jangan lihat dari depan karena kalau melihat sinar matanya dan kalau tersenyum, baru nampak sesuatu yang mengerikan membayang dari sinar mata dan senyumnya. Kalau dia diam saja malah mulutnya kelihatan tersenyum ramah, akan tetapi kalau dia tertawa atau tersenyum, sungguh mukanya seketika berubah seperti muka iblis! Dan matanya itu mengeluarkan sinar mencorong yang seperti bukan mata manusia lagi, melainkan mata srigala buas atau mata harimau di tempat gelap. Dia ini pun seorang yang luar biasa sekali, selain sakti juga pada puluhan tahun yang lalu amat terkenal dengan julukan Im-kan Kwi (Iblis Akhirat).

Orang ke tiga lebih menakutkan lagi. Tubuhnya hanya kulit membungkus tulang saja, agaknya sama sekali tidak berdaging lagi, apalagi bergajih. Seperti tengkorak dan rangka terbungkus kulit, juga mukanya pucat seperti mayat. Bahkan kalau berjalan kadang-kadang mengeluarkan suara berkerotokan seolah-olah tulang-tulang saling beradu! Hanya sepasang matanya saja yang nampak hidup, bahkan mata ini mencorong menakutkan. Orang ini sama dengan yang dua orang pertama, amat terkenal pada puluhan tahun yang lalu dengan julukan Iblis Mayat Hidup.

Karena tiga orang ini selalu saling bantu dan bekerja sama, maka mereka bertiga itu dikenal di dunia kaum sesat sebagai Sam Kwi (Tiga Iblis). Kurang lebih duapuluh tahun yang lalu, Sam Kwi ini pernah mencoba kepandaian Pendekar Super Sakti dari Pulau Es dan melalui perkelahian yang amat sengit, di mana Pandekar Super Sakti dikeroyok oleh mereka bertiga, akhirnya Sam Kwi dapat dikalahkan dan masing-masing menderita kekalahan yang cukup parah.

Karena tadinya mereka menyombongkan diri, merasa bahwa dengan maju bertiga, mereka dapat mengalahkan siapapun juga, dan bersumbar di depan Pendekar Super Sakti bahwa kalau mereka bertiga kalah mereka takkan muncul lagi di dunia persilatan, maka setelah dikalahkan, mereka bertiga lalu pergi menyembunyikan diri bertapa. Mereka merasa malu dan juga penasaran. Oleh karena itu, mereka mengasingkan diri jauh ke puncak yang terpencil dari Pegunungan Thai-san, di mana mereka bertapa dan memperdalam ilmu mereka, ditemani seorang murid yang pandai.

Setelah merasa bahwa ilmu mereka mencapai tingkat yang tinggi, dan mendengar betapa negara kacau oleh pemberontakan-pemberontakan, tiga orang itu akhirnya turun gunung dan pergi ke timur. Pada hari itu, tanpa disengaja mereka tiba di hutan yang sunyi di sebelah timur Sungai Lan-cang dan melihat seorang laki-laki tinggi kurus sedang mempermainkan dan agaknya hendak memperkosa seorang anak perempuan yang masih kecil.

Perbuatan seperti itu tentu saja tidak ada artinya bagi tiga orang datuk sesat yang pernah melakukan segala macam kejahatan seperti iblis itu, bahkan dianggap sebagai suatu perbuatan yang tidak ada artinya dan memalukan, hanya pantas dilakukan oleh bajingan kecil saja. Maka, tadinya mereka hanya tersenyum-senyum melihat tingkah laku laki-laki tinggi kurus itu dan membiarkannya saja. Akan tetapi ketika pada suatu ketika anak perempuan itu mengangkat mukanya yang pucat dan tiga orang kakek itu melihat anak itu, tiba-tiba mereka bertiga melangkah maju dan ketiganya merasa amat tertatik.

Pandang mata mereka yang tajam melihat bakat terpendam yang amat hebat dalam diri anak perempuan itu! Tentu saja Hek-kwi-ong tidak dapat melihat jelas, hanya melihat betapa anak perempuan itu sama sekali tidak berteriak minta tolong walaupun berusaha dan meronta untuk melawan dan hal ini saja dianggapnya sebagai suatu keberanian luar biasa.

“Wah, anak itu bagus sekali!” kata Im-kan-kwi.

“Benar. lebih bagus dari pada murid kita,” sambung Iblis Mayat Hidup.

“Dan ia pemberani dan tabah,” kata pula Raja Iblis Hitam tidak mau ketinggalan karena hal ini sama saja mengakui bahwa matanya lamur!

“Sayang daging lunak dan lezat itu dimakan anjing kotor,” kata Iblis Akhirat.

Ketiganya lalu mengeluarkan suara ketawa dan tubuh mereka melesat seperti terbang saja, dalam sekejap mata tiba di dekat si tinggi kurus yang sedang menciumi anak itu. Suara ketawa inilah yang mengejutkan perajurit Birma tinggi kurus itu dan dia mendorong pergi Bi Lan kemudian meloncat bangun dengan marah.

“Keparat busuk, kalian ini tiga orang tua bangka sudah bosan hidup, berani menggangguku!” bentak si tinggi kurus sambil mengamangkan goloknya ke arah tiga orang kakek itu.

Iblis Akhirat yang lebih suka bicara dari pada dua orang kawannya, kini tertawa bergelak dan seketika prajurit Birma tinggi kurus itu tercengang dan bergidik. Setelah tertawa, kakek yang kelihatannya ramah itu menjadi begitu menakutkan mukanya. Seperti setan!

“Ha-ha-ha-hah! Cucuku, siapakah engkau?” Iblis Akhirat bertanya, suaranya tentu saja memandang rendah sekali.

Melihat sikap tiga orang ini, si tinggi kurus yang juga bukan seorang yang hijau atau bodoh, dapat menduga bahwa tentu tiga orang kakek ini bukan orang sembarangan sehingga sikap dan keadaannya demikian aneh. Akan tetapi dia tidak takut, dan dia ingin mendatangkan kesan dan wibawa kepada tiga orang ini untuk menggertak mereka, maka jawabnya dengan angkuh,

“Aku adalah perwira pasukan Birma yang jaya!”

Pada waktu itu, semua orang tahu bahwa pasukan Birma bersekutu dengan pasukan pemberontak, dan semua orang takut kepada pasukan Birma ini.

Akan tetapi, Iblis Akhirat itu agaknya sama sekali tidak takut.
“Apa? Dari bahasamu, jelas kamu ini bukan orang asing, bukan orang Birma, akan tetapi pekerjaanmu sebagai perwira pasukan Birma. Wah, kalau begitu engkau ini adalah seekor cacing busuk, seorang pengkhianat, ya? Kami paling benci deh melihat pengkhianat!”

“Anjing penjilat busuk!” kata Raja Iblis Hitam.

“Srigala masih lebih baik dari pada kamu!” bentak pula Iblis Mayat Hidup.

Suling Naga