Ads

Sabtu, 26 Desember 2015

Suling Naga Jilid 006

Sam Kwi kelihatan gembira sekali dengan pertemuan itu dan Bi Lan walaupun hatinya tidak senang, namun anak ini mempergunakan kecerdikannya. Ia tahu bahwa gadis ini mempunyai kekuasaan atas tiga orang gurunya agaknya tiga orang gurunyapun tidak akan dapat menyelamatkannya atau menjamin keselamatannya kalau sampai ia dimusuhi gadis ini. Sebaiknya ia bersiasat dan menyenangkan hati gadis ini sebelum mengenal benar keadaannya. Maka iapun lalu bangkit dan menjura kepada gadis itu, berkata dengan suara manis dan tersenyum. Ia, oleh tiga orang gurunya, diingatkan betapa manisnya kalau tersenvum, betapa timibul sepasang lesung pipit kanan kiri mulutnya.

“Suci yang cantik dan gagah perkasa, aku menghaturkan terima kasih kepadamu.”

Gadis cantik itu menjebikan bibirnya.
“Huh, baiknya engkau tadi berusaha melindungiku dari kemarahan suhu, kalau tidak. Baiklah, kalau selanjutnya engkau tunduk dan taat kepadaku, mulai saat ini engkau adalah sumoiku.”

“Terima kasih, suci.”

“Bi-kwi, kenapa tadi engkau mengatakan bahwa pendapat kami untuk menggabungkan ilmu dan diajarkan kepada Siauw-kwi tidak betul dan tidak tepat?”

Iblis Akhirat bertanya sambil menggandeng tangan wanita cantik itu dengan sikap yang kangen sekali.

“Tentu saja tidak tepat, karena di sini ada aku yang dapat mewakili suhu bertiga untuk mengajarkan ilmu-ilmu kita kepada sumoi. Kalau seorang anak kecil seperti sumoi itu sekaligus menerima pelajaran dari suhu bertiga, mana kuat menerimanya? Serahkan saja kepadaku dan suhu bertiga tidak perlu susah-susah.”

Tiga orang kakek itu mengangguk-angguk dan tersenyum gembira.
“Ha-ha, lihat, betapa beruntungnya kita bertiga mempunyai seorang murid seperti Bi-kwi,” kata Iblis Akhirat.

“Bi-kwi, bagaimana dengan tugasmu” tiba-tiba Raja Iblis Hitam bertanya, dan Bi Lan merasa heran mendengar suara kakek raksasa hitam ini.

Biasanya dia pendiam dan kalau bersuara terdengar keras, parau dan bengis, akan tetapi kini suaranya terdengar lembut dan mengandung kemesraan.






Gadis yang disebut Bi-kwi (Iblis Cantik) itu sebenarnya bernama Ciong Siu Kwi yang sejak berusia lima tahun sudah menjadi murid Sam Kwi. Seperti juga Bi Lan, Siu Kwi atau yang kini disebut Bi-kwi ini yatim piatu. Ayah ibunya dibunuh oleh Sam Kwi sendiri yang ingin menguasai anak ini dengan bebas.

Memang pada mulanya, Sam Kwi mengambil murid ini hanya untuk menurunkan ilmu karena melihat bakat baik pada diri Siu Kwi, juga agar anak ini dapat menemani mereka dalam persembunyian dan pertapaan mereka di puncak pegunungan Thai-san. Akan tetapi, makin dewasa, Bi-kwi atau Siu Kwi ini makin nampak watak aselinya, watak yang genit dan cabul, di samping wajahnya yang cantik.

Gadis ini mempelajari ilmu-ilmu tinggi, akan tetapi juga melayani Sam Kwi, mencuci pakaian, memasak dan segala macam kebutuhan tiga orang kakek itu. Setelah ia berusia hampir delapanbelas tahun, tiga orang kakek itu tidak tahan melihat kegenitannya. Mulailah mereka bertiga itu, tertarik sebagai pria terhadap wanita kepada murid sendiri dan mulailah terjadi hubungan perjinaan antara ketiga Sam Kwi dengan murid tunggal mereka itu!

Luar biasanya, gadis yang sejak kecil hidup di tempat pengasingan di Thai-san itu, menyambut tiga orang kakek buruk rupa yang menjadi suhunya itu dengan tangan dan hati terbuka! Dan sejak berusia delapanbelas tahun itulah, Siu Kwi menjadi murid dan merangkap kekasih Sam Kwi dan mulai pula ia menguasai tiga orang kakek itu yang namanya saja guru-gurunya, akan tetapi dalam banyak hal mereka bertiga itu tunduk dan taat kepada Siu Kwi!

Mendengar pertanyaan Hek-kwi-ong tentang tugasnya tadi Siu Kwi melepaskan tangan Iblis Akhirat, dan mengerutkan alisnya, kemudian ia duduk di atas sebuah batu yang bersih. Tiga orang kakek itupun duduk di depannya dan Bi Lan yang ingin mendengarkan juga duduk di dekat Siu Kwi.

Gadis ini menarik napas panjang beberapa kali, lalu berkata dengan suara jengkel.
“Dua urusan yang suhu serahkan kepadaku itu semua gagal! Yang pertama mengenai Pendekar Super Sakti Majikan Pulau Es, ternyata telah tewas belasan tahun yang lalu!”

“Wah, sialan!” Raja Iblis Hitam berseru kecewa sambil mengepal tangannya yang besar.

“Pengecut! Mampus lebih dulu!” Iblis Mayat Hidup juga berseru kecewa.

“Ha-ha, biarlah dia mampus, kelak di akhirat kita masih dapat mencarinya untuk membuat perhitungan!” kata Iblis Akhirat yang lalu memandang Siu Kwi. “Dan bagaimana dengan urusan yang lain?”

“Urusan Liong-siauw-kiam (Pedang Suling Naga) lebih menjengkelkan lagi. Dengan susah payah selama berbulan-bulan aku mencari kakek Pek-bin Lo-sian (Dewa Tua Muka Putih) di sekitar Pegunungan Himalaya dan belum kutemukan jejaknya. Akan tetapi, akhirnya dari para pertapa aku mendengar bahwa kakek tua bangka itupun sudah meninggal dunia.”

“Dan pusakanya?” Raja Iblis Hitam memotong.

“Itulah yang menjengkelkan hatiku. Menurut keterangan para pertapa yang mengenal Pek-bin Lo-sian, sebelum kakek itu meninggal dunia, mereka sering kali melihat kakek itu berbincang-bincang dengan seorang pendekar sakti dan menurut mereka, sangat boleh jadi kakek itu mewariskan Liong-siauw-kiam kepada pendekar itu.”

“Wah-wah, siapa pendekar jahanam itu?” bentak Iblis Akhirat dengan marah.

“Mereka tidak tahu, akan tetapi, dalam penyelidikanku selanjutnya, ada sebuah berita yang amat menarik, yaitu munculnya seorang pendekar yang dijuluki Pendekar Suling Naga yang kabarnya membawa senjata sebatang suling naga....“

“Itulah orangnya!” bentak Iblis Mayat Hidup. “Di mana dia?”

Gadis itu menggerakkan pundaknya.
“Menurut penyelidikanku, pendekar yang berjuluk Pendekar Suling Naga itu merantau ke selatan, dan karena aku ingin mendengar keputusan suhu dalam hal ini, maka aku lalu mencari suhu untuk melapor.”

Tiga orang kakek itu saling pandang, kemudian Iblis Akhirat yang biasa menjadi juru bahasa mereka, berkata,

“Tugasmu menjadi semakin berat, Bi-kwi. Pendekar Super Sakti sudah mati, akan tetapi keturunan Suma tentu masih banyak berkeliaran. Karena itu kita harus berusaha membasmi semua keturunan Suma Han si Pendekar Super Sakti yang pernah membuat kami bertiga harus menyembuyikan diri selama puluhan tahun. Akan tetapi, di samping itu juga kita harus mencari orang yang menguasai Pedang Suling Naga untuk merampasnya. Tak mungkin tugas-tugas berat itu kau pikul sendiri. Maka, sebaiknya kita melatih Siauw-kwi ini sampai pandai agar kelak dapat membantumu menunaikan tugas-tugas itu. Kami sendiri sudah terlalu tua untuk berkeliaran mencari orang.”

Bi-kwi menoleh ke arah Bi Lan dan mengerutkan alisnya. Ia adalah seorang cerdik. Mewakili suhu-suhunya bermusuhan dengan keturunan Pendekar Super Sakti adalah tugas yang amat berat dan tidak menarik hatinya. Ia sudah mendengar bahwa Pendekar Super Sakti adalah seorang tokoh besar yang amat tinggi ilmu kesaktiannya dan sukar dilawan. Bahkan tiga orang gurunya yang pernah mengeroyok pendekar itupun tidak mampu menang. Tentu keturunannya juga amat lihai dan bagaimana kalau keturunannya itu banyak jumlahnya? Dan urusan balas dendam guru-gurunya karena pernah dikalahkan ini, tidak ada apa-apanya yang menarik hatinya karena tidak ada yang menguntungkan.

Sebaliknya, mencari pusaka Suling Naga itu lebih menarik baginya. Kanena itu, menghadapi dua tugas ini memang sebaiknya kalau ia ditemani orang yang dapat dipercaya, dan agaknya Bi Lan inilah orangnya.

“Hemm, aku meragukan apakah anak ini akan sanggup. Siauw-kwi, sanggupkah engkau membantuku kelak dalam dua urusan itu?”

Bi Lan sejak tadi mendengarkan dan kini ia menghadap ketiga orang suhunya.
“Urusan suhu dengan keluarga Pendekar Super Sakti itu mudah teecu mengerti. karena tentu urusan dendam pribadi yang melibatkan keluarga Pendekar Super Sakti yang sudah mati. Akan tetapi urusan ke dua, teecu kurang jelas. Apakah pusaka Suling Naga itu dan mengapa dijadikan rebutan?”

“Ha-ha-ha, engkau memang anak cerdik yang ingin memasuki suatu urusan tidak secara membuta. Baiklah, akan kuceritakan padamu mengenai pusaka itu.”

Im-kan Kwi atau Iblis Akhirat yang bertubuh pendek bundar itu lalu dengan ringkas bercerita tentang pusaka yang dinamakan Pedang Suling Naga itu. Benda pusaka itu telah ribuan tahun usianya, terbuat dari pada semacam kayu yang tumbuh di Pegunungan Himalava, dan kayu itu diukir dan dibuat menjadi sebuah suling yang amat indah oleh seorang abi di Pegunungan Himalaya kurang lebih seribu tahun yang lalu.

Benda itu lalu direndam dalam obat-obatan rahasia yang membuat kayu itu menjadi keras membaja, bahkan kabarnya lebih keras dari pada baja. Pusaka yang indah itu, yang dapat ditiup sebagai sebatang suling yang suaranya merdu, juga dapat dipegang sebagai sebatang pedang, kepala naga menjadi gagang dan badan serta ekornya menjadi pedangnya.

Ukiran naga itu sedemikian hidupnya, sepasang mata di bagian kepalanya dibuat dari batu permata sehingga nampak bernyala dan hidup sekali. Selama ratusan tahun, benda itu menjadi pusaka dan menjadi lambang kekuasaan raja-raja Khitan.

Sampai akhirnya, di jaman Kaisar Jenghis Khan, raja Mongol ini dalam penyerbuannya ke barat berhasil merampas benda itu dan karena amat kagum dan suka, benda itu menjadi pusaka kesayangan Kaisar Jenghis Khan. Akan tetapi pada suatu hari, pusaka itu lenyap dari dalam gudang pusaka.

Kaisar Jenghis Khan marah sekali akan tetapi urusan itu dirahasiakan karena kaisar akan merasa malu kalau terdengar rakyat bahwa pusaka yang paling disayang itu dapat lenyap begitu saja dari dalam gudang pusaka. Saking marahnya, Kaisar Jenghis Khan menghukum mati tigapuluh orang pengawal dan pelayan yang dicurigai! Dan semenjak saat itu, pusaka Suling Naga dianggap lenyap dan tak pernah dapat ditemukan kembali walaupun Kaisar Jenghis Khan telah mengeluarkan banyak sekali biaya dan mengerahkan banyak orangnya untuk mencarinya.

“Sebenarnya yang mencuri benda pusaka itu adalah seorang sakti yang menyembunyikan dirinya di pegunungan sebelah utara. Benda itu menjadi kebanggaannya karena tentu saja orang yang mampu mencuri benda dari gudang pusaka Kaisar Jenghis Khan adalah seorang yang sakti. Benda itu turun temurun menjadi milik murid-murid keturunannya dan akhirnya jatuh ke tangan suhu dan susiok kami yang bertapa di Pegunungan Himalaya. Ketika suhu meninggal dunia, pusaka itu oleh suhu diserahkan kepada susiok Pek-bin Lo-sian yang bertapa di Pegunungan Himalaya. Kami memintanya, akan tetapi susiok mengatakan bahwa pusaka itu tidak pantas menjadi milik kami. Tentu saja kami berusaha merampasnya, akan tetapi susiok Pek-bin Lo-sian terlalu tangguh bagi kami. Tidak ada lain jalan kecuali menanti sampai kakek yang sudah tua renta ini mampus. Akan tetapi, sungguh tak terduga sekali halnya kami dikalahkan oleh Pendekar Super Sakti sehingga kami terpaksa mengundurkan diri bertapa sampai duapuluh tahun dan ketika kami mengutus Bi-kwi, ternyata kakek tak tahu malu itu telah mampus dan mewariskan pusaka itu kepada orang lain!”

Iblis Akhirat menghentikan ceritanya dan tiga orang kakek itu nampak beringas dan marah sekali.

“Bagaimana, Siauw-kwi, maukah engkau membantu sucimu dalam mencari pusaka itu dan membalas dendam terhadap keturunan Suma?” tiba-tiba Iblis Mayat Hidup bertanya.

Cerita itu amat menarik hati Bi Lan. Bagaimanapun juga, tiga orang suhunya memang berhak mendapatkan kembali pusaka itu dan pendekar yang menerimanya dari Pek-bin Lo-sian tidak berhak.

“Baik, suhu. Teecu akan belajar giat agar kelak mampu membantu suci.”

Mereka berlima lalu meninggalkan tempat itu, kembali ke puncak Pegunungan Thai-san.

Di sepanjang perjalanan, dengan hati kaget dan heran, juga muak, Bi Lan melihat betapa tiga orang gurunya itu mengadakan hubungan amat mesra dengan sucinya. Ia belum begitu mengerti tentang hubungan perjinaan seperti itu, akan tetapi nalurinya membuat ia selalu membuang muka dan menyingkir kalau melihat pertunjukan tak tahu malu di sepanjang perjalanan itu.

Karena perbuatan ini saja, diam-diam Bi Lan merasa amat tidak suka kepada sucinya dan kepada tiga orang suhunya, walaupun dengan cerdik ia dapat menyembunyikan perasaan ini di lubuk hatinya.

Demikianlah, setelah tiba di puncak Pegunungan Thai-san, di tempat terpencil sunyi, Bi-kwi atau Su Kwi mulai melatih sumoinya dengau ilmu silat. Akan tetapi, dasar orang yang licik, curang dan juga hatinya diliputi penuh kebencian, Bi-kwi yang tidak rela kalau ada orang kelak lebih pandai atau setidaknya mengimbangi kepandaiannya, ia melatih dengan cara yang kadang-kadang dibalikkan, dengan harapan agar sumoinya tentu mewarisi ilmu yang keliru cara melatihnya menjadi ilmu sesat yang akan membahayakan sumoi itu sendiri.

Ilmu bersamadhi dan menghimpun tenaga sin-kang misalnya, kalau dilatih dengan cara yang keliru, amat membahayakan, dapat membuat orang menjadi menderita luka dalam, atau dapat membikin orang menjadi gila, atau bahkan mati keracunan!

**** 006 ****
Suling Naga