Ads

Sabtu, 26 Desember 2015

Suling Naga Jilid 005

Tiga orang Sam Kwi itu lalu meninggalkan hutan itu menuju ke timur. Mereka melakukan perjalanan cepat sekali, mengambil jalan melalui bukit-bukit dan rawa-rawa, melalui sungai dan hutan yang liar, yang jarang didatangi manusia.

Mereka mengambil jalan memotong, menerjang jalan yang betapa sukar sekalipun, dengan kepandaian mereka yang tidak lumrah manusia. Kalau mereka melalui perjalanan yang amat sukar yang tidak dapat dilalui manusia biasa, mereka mondong Bi Lan bergantian, akan tetapi kalau melalui jalan biasa sambil menikmati pemandangan alam, mereka membiarkan Bi Lan berjalan kaki di belakang mereka.

Dasar orang-orang aneh, kadang-kadang mereka meninggalkan Bi Lan begitu saja, membuat gadis cilik itu berlari-larian setengah mati mengejar mereka dan kalau Bi Lan sudah hampir putus asa karena tidak mampu mengejar dan guru-gurunya lenyap, barulah mereka muncul!

Dan di sepanjang perjalanan, mereka melatih Bi Lan dengan dasar-dasar ilmu silat, dan menggemblengnya dengan latihan-latihan untuk menghimpun tenaga sin-kang.

Ada kalanya tiga orang itu berebut untuk melatih Bi Lan yang ternyata memiliki bakat yang hebat, tepat seperti dugaan mereka. Setiap pelajaran yang diberikan guru-gurunya, dapat ditangkap dengan mudah oleh Bi Lan dan hanya dalam latihan sajalah gadis cilik itu perlu memperoleh tekanan.

Dan gadis cilik itupun cerdik bukan main. Segera ia dapat merasakan betapa tiga orang gurunya yang aneh itu amat menyayanginya, bahkan berlumba dalam menyayangnya.
Hal ini dipergunakannya sebagai senjata untuk menguasai tiga orang kakek itu!

Pada suatu hari, tiga orang kakek itu terlibat dalam ketegangan dan perbantahan ketika mereka akan mulai menurunkan ilmu silat tinggi kepada murid mereka. Mereka memperebutkan, ilmu silat siapakah yang harus diutamakan sebagai dasar.

“Siapa yang mampu menandingi ilmuku Hek-wan Si-pat-ciang (Ilmu Silat Delapanbelas Jurus Lutung Hitam)?” bentak Raja Iblis Hitam. “Aku akan mengajarkan ilmu lebih dulu kepada Bi Lan!”

“Ha-ha-ha, sombongnya. Apa artinya pukulan-pukulanmu bagi orang yang memiliki kekebalan seperti ilmuku Kulit Baja? Sebaiknya Bi Lan kulatih lebih dulu dalam ilmu tendanganku yang tiada bandingan, yaitu Pat-hong-twi (Tendangan Delapan Penjuru Angin). Dan untuk kematangannya, ia perlu memiliki dasar tenaga sin-kang yang amat kuat seperti aku,” bantah Iblis Akhirat.






“Ah, tidak! Seorang wanita seperti Bi Lan harus memiliki gin-kang (ilmu meringankan tubuh) seperti aku sebagai dasar, sambil mempelajari ilmu silatku Hun-kin Tok-ciang (Tangan Beracun Memutuskan Otot)!” bentak Iblis Mayat Hidup.

Tiga orang kakek itu tidak mau saling mengalah. Di atas padang rumput yang sunyi di sebuah lereng bukit itu, mereka ngotot tidak mau saling dan akhirnya mereka menentukan bahwa harus diuji lebih dulu ilmu siapa yang paling kuat dan dialah yang berhak memberi bimbingan pertama kali kepada Bi Lan. Dan terjadilah perkelahian di antara mereka!

Bukan perkelahian sembarangan, bukan sekedar adu otot dan adu ilmu melainkan perkelahian sungguh-sungguh dengan serangan-serangan mematikan. Bukan main hebatnya serang-menyerang yang terjadi di antara mereka bertiga dan karena memang tingkat mereka seimbang, tentu saja sukarlah bagi seorang di antara mereka untuk memperoleh keunggulan. Kalau ada seorang di antara mereka yang nampaknya memperoleh angin dari orang ke dua, orang ke tiga lalu turun tangan mendesak sehingga yang tadinya nampak memperoleh angin sebaliknya terdesak kembali.

Dan perkelahian itu bukan hanya mempergunakan ilmu pukulan biasa, melainkan mempergunakan sin-kang yang membuat tempat di sekitarnya dilanda angin pukulan yang bersiutan dan berdesingan. Juga mereka saling mengerahkan khi-kang, mengeluarkan bentakan-bentakan melengking nyaring.

Bi Lan yang berdiri menjauh dan merasa dilupakan oleh tiga orang gurunya, merupakan satu-satunya penonton dan satu-satunya orang yang paling menderita di antara mereka.

Angin pukulan yang dahsyat dan menyambar-nyambar itu tadi telah membuat ia jatuh bangun dan terguling-guling seperti sehelai daun kering dilanda badai dan ia yang cerdik cepat menggerakkan tubuhnya bergulingan di atas padang rumput sampai agak jauh.

Akan tetapi, setelah angin pukulan tidak mampu meraihnya karena jauh, suara-suara yang mengandung tenaga khi-kang itu menyiksanya. Anak itu merasa betapa suara itu menusuk-nusuk anak telinganya dan biarpun ia sudah menutupi kedua telinga dengan kedua tangan, tetap saja suara itu membuat isi perutnya jungkir balik dan menyiksanya dengan hebat.

“Sudahlah, biar kalian bunuh saja aku!”

Akhirnya ia berteriak dan berlari ke tengah medan perkelaihian, berloncatan dan dengan nekat terjun di antara mereka bertiga. Tiga orang kakek yang lihai itu tentu saja dapat melihat munculnya murid mereka yang meloncat ke tengah medan perkelahian.

Kalau orang lain yang berbuat demikian, tentu mereka bertiga akan menjatuhkan pukulan maut sehingga tubuh orang yang berani mengganggu mereka itu akan hancur lebur. Akan tetapi melihat bahwa yang datang adalah Bi Lan, ketiganya tiba-tiba saja menghentikan gerakan mereka, masing-masing menarik diri dan mundur, berdiri dengan tubuh berkeringat dan tak bergerak seperti patung, tidak tahu harus berbuat apa.

“Kenapa suhu semua berhenti? Hayo teruskan perkelahian itu!” kata Bi Lan dengan suara marah.

“Ah, berbahaya untukmu. Menyingkirlah, Bi Lan, agar kami melanjutkan untuk menentukan siapa yang berhak lebih dulu mengajarmu.” Iblis Akhirat berkata.

“Tidak perlu teecu menyingkir. Sejak tadi teecu sudah tersiksa. Biarlah kalau teecu mati juga, menemani, seorang atau dua orang di antara suhu yang akhirnya tentu akan kalah dan mati pula!“

Baru mereka tahu bahwa Bi Lan marah karena perkelahian mereka tadi.
“Kami.... kami berkelahi memperebutkan hak mengajarmu lebih dulu. “Kembali Iblis Akhirat berkata memberi keterangan.

“Teecu (murid) telah mengangkat suhu bertiga menjadi guru semua, kenapa mesti berebutan lagi? Kenapa suhu bertiga tidak memberi pelajaran bersama saja?” Ia berhenti sebentar untuk melihat tarikan muka mereka, lalu melanjutkan, “Kalau suhu bertiga berebutan dan berkelahi lagi, teecu tidak akan mau belajar dari yang paling menang!”

Mendengar ancaman dari murid yang mereka tahu amat keras hatinya ini, tiga orang kakek itu saling pandang.

“Bergabung....?” Raja Iblis Hitam berkata bingung.

“Ilmu ketiga orang disatukan?” Iblis Mayat Hidup menyambung ragu.

“Wah, mengapa tidak? Kita ajarkan bersama ilmu-ilmu kita dan karena ilmu-ilmu itu amat tinggi, tentu sukar baginya untuk menerima semua.

“Justeru karena menerima setengah-setengah inilah maka ia akan dapat menggabung ilmu-ilmu itu menjadi satu ilmu yang tentu hebat karena mengandung dasar dan kelihaian ilmu kita masing-masing!”

“Bagus!” kata Raja Iblis Hitam girang.

“Tepat sekali!” kata pula Iblis Mayat Hidup.

“Sama sekali tidak bagus dan tidak tepat!”

Tiba-tiba terdengar suara merdu seorang wanita. Bi Lan terkejut dan merasa heran ada orang berani mencampuri percakapan tiga orang gurunya. Ketika ia menengok, ia melihat seorang wanita yang usianya sekitar duapuluh lima tahun, berpakaian rapi dan mewah, berwajah cantik sekali dengan sinar mata yang tajam. Kecantikannya aneh mengandung hawa dingin, akan tetapi ada kecabulan membayang dalam senyum dan kerlingnya. Hati Bi Lan merasa khawatir sekali. Wanita ini sudah bosan hidup, pikirnya.

Ia sudah mulai mengenal watak tiga orang gurunya yang aneh dan kadang-kadang amat kejam, apa lagi setelah ia mendengar julukan guru-gurunya yang memperkenalkan diri sebagai Sam Kwi dengan julukan yang serem-serem itu. Ia malah dapat menduga bahwa gurunya adalah orang-orang yang amat kejam dan jahat, akan tetapi yang amat baik kepadanya karena sayang kepadanya. Karena takut kalau-kalau tiga orang gurunya itu menurunkan tangan secara tiba-tiba membunuh gadis itu, Bi Lan mendahului, meloncat dan menghadap tiga orang gurunya.

“Suhu sekalian harus dapat memaafkan cici ini!” teriaknya.

Akan tetapi kini terjadi hal yang amat mengherankan hati Bi Lan. Iblis Akhirat yang gendut pendek itu berteriak kegirangan,

“Aha, Bwi-kwi (Iblis Cantik), kau baru muncul? Waah, aku sudah kangen sekali padamu!”

Dan si gendut langsung memeluk pinggang wanita cantik itu dan menariknya. Anehnya, gadis itu tersenyum lalu merendahkan kepalanya dan kakek gendut itu lalu mencium mulutnya dengan bernapsu sekali sampai mengeluarkan bunyi “ceplok!”.

Tentu saja Bi Lan menjadi bengong melihat ini, apalagi melihat dua orang suhunya yang lain juga menghampiri gadis itu, Raja Iblis Hitam mengelus rambut gadis itu, dan si Iblis Mayat Hidup mencolek dadanya! Dan gadis cantk itu hanya tersenyum manis saja, sama sekali tidak marah.

“Suhu, siapakah bocah itu?” gadis itu bertanya dan kini tahulah Bi Lan bahwa gadis itu adalah murid tiga orang suhunya.

“Ha-ha-ha-ha, ia adalah murid kami yang baru. Bakatnya bagus sekali, melebihimu, Bi-kwi. Namanya Can Bi Lan, heh-heh, dua orang murid kami semua cantik-cantik. Kami menyebutmu Bi-kwi, biarlah mulai sekarang Bi Lan kami sebut Siauw-kwi (Iblis Cantik). Ha-ha!”

Tiba-tiba sepasang mata yang indah dan bersinar tajam itu berkilat memandang ke arah Bi Lan.

“Murid suhu? Hemm, sejak dahulu murid suhu bertiga hanya aku, dan setiap ada orang berani merobah keadaan ini harus dibunuh. Anak ini pun harus kubunuh!”

Berkata demikian, tiba-tiba saja wanita itu menggerakkan tangan kanannya dan lengan kanan yang montok itu tiba-tiba mulur panjang dan dua jari yang mungil menotok ke arah dada Bi Lan! Akan tetapi, biar baru beberapa bulan lamanya, Bi Lan sudah menerima latihan-latihan dasar dari tiga orang sakti, maka begitu ada tangan menyerangnya, gadis cilik itu mampu melempar tubuh ke belakang dan berjungkir balik dengan sigapnya.

“Ehh....! Ia malah sudah-belajar dari suhu!” bentak Bi-kwi dan iapun menyerang lagi, kini kakinya melangkah ke depan.

Akan tetapi tiba-tiba pinggangnya dipeluk dari belakang oleh Raja Iblis Hitam, dan kedua tangannya dipegang masing-masing oleh Iblis Akhirat dan Iblis Mayat Hidup.

“Hemm, suhu bertiga menghalangi? Berarti suhu bertiga tidak lagi cinta kepadaku!”

“Ehh? Tenang.... sabar, sabar....! Kami sudah menjelajah dunia ramai dan melihat perobahan-perobahan hebat terjadi di dunia persilatan . Engkau seorang diri tidak akan kuat menghadapi mereka, oleh karena itu kami sengaja memilih Bi Lan untuk menjadi murid kedua. Apa salahnya itu?”

“Hanya murid?” Gadis cantik itu menegaskan.

“Heh-heh, cemburu? Hanya murid karena bagi kami sebagai laki-laki, engkau seorang sudah lebih dari cukup dan memuaskan. Nah, maukah engkau berbaik dengan Bi Lan?” tanya Iblis Akhirat.

Bi-kwi mengangguk.
“Baiklah, tadipun ia sudah berusaha menolongku. Tidak apa mengampuni nyawa anjingnya. Akan tetapi kalau kelak ada tanda-tanda bahwa suhu bertiga.... hemm, aku pasti akan membunuhnya.“

Bi Lan mengerutkan keningnya. Ia tidak tahu apa sebenarnya maksud percakapan aneh itu dan iapun masih tertegun menyaksikan adegan aneh ketika gadis cantik itu menerima ciuman Iblis Akhirat dan belaian-belaian dua orang suhunya yang lain. Akan tetapi ia tahu bahwa gadis itu berbahaya bukan main, dan agaknya tidak kalah jahatnya dibandingkan dengan tiga orang kakek itu. Ia harus berhati-hati menghadapi gadis ini, pikirnya.

“Ha-ha-ha, bagus sekali. Bi Lan, lekas berterima kasih kepada sucimu (kakak seperguruanmu) yang baru saja mengembalikan nyawamu,” kata Iblis Akhirat.

Suling Naga