Ads

Sabtu, 26 Desember 2015

Suling Naga Jilid 004

“Brakkkkkk....!”

Pintu pondok kecil di tengah hutan yang tertutup rapat itu jebol, mengejutkan seorang laki-laki tinggi besar yang mukanya bercambang bauk, juga bertotol-totol hitam buruk yang sedang rebah dengan dada telanjang, hanya mengenakan celana dalam yang tipis. Siang itu hawanya panas dan laki-laki inipun berkeringat. Bau arak yang keras tercium ketika pintu itu jebol, dan melihat wajah laki-laki buruk rupa itu yang kemerahan, juga matanya liar, bau arak yang keluar dari mulutnya, jelas menunjukkan bahwa dia terlalu banyak minum arak.

“Ibu....!”

Bi Lan menjerit ketika melihat ibunya tergantung di dalam kamar itu. Wanita yang malang ini tergantung dalam keadaan telanjang bulat, dengan kepala di bawah dan kaki terikat pada tali yang digantungkan di tihang melintang di atas. Melihat tubuh telanjang itu sama sekali tidak bergerak, dan melihat mata yang terbuka akan tetapi tanpa sinar itu, mudah saja bagi tiga orang kakek Sam Kwi untuk menduga bahwa wanita itu sudah tewas, seperti juga mayat laki-laki yang menjadi ayah Bi Lan yang menggeletak di luar dengan tubuh hancur oleh senjata tajam.

Tiga orang Sam Kwi bernapas lega. Ayah ibu anak ini sudah mati. Bagus! Mereka tadi mempergunakan ilmu kepandaian mereka untuk mengejar gerombolan itu dan melihat mereka semua berada di dalam hutan itu.

Anak buah pasukan Birma yang berubah menjadi gerombolan jahat itu nampak tidur-tiduran di bawah pohon. Guci-guci arak berserakan dan agaknya mereka baru saja makan minum dan kini tertidur setelah puas kekenyangan. Apa lagi dalam keadaan mabok dan tidur, andaikata mereka dalam keadaan sadar dan tidak tidur sekalipun, amat mudah bagi tiga orang kakek itu untuk mendatangi pondok itu tanpa mereka ketahui.

Melihat bahwa ayah anak itu sudah tewas di tempat perampokan, mereka bertiga lalu melakukan pengejaran dan jelas nampak jejak kaki mereka sampai di tengah hutan itu. Dan karena ibu anak itu tidak ada, mereka dapat menduga bahwa tentu wanita itu dibawa ke dalam pondok kecil itu, maka mereka langsung saja mendobrak daun pintu sampai jebol. Dan benar saja, wanita itu berada di dalam kamar, akan tetapi agaknya sudah tidak bernyawa lagi setelah mungkin diperkosa beramai-ramai lalu digantung karena mungkin wanita itu melawan.

Si tinggi besar brewokan yang menjadi kepala pasukan, seorang Birma yang biasa hidup dalam kekerasan, terkejut bukan main. Baru saja dia memuaskan diri memperkosa dan menyiksa wanita itu sampai mati, lalu dia makan dan minum-minuman sampai mabok dan merebahkan diri untuk tidur.






Kini, kaget melihat jebolnya daun pintu dan melihat tiga orang kakek yang aneh, seorang di antaranya menggendong anak perempuan yang tadi dilarikan oleh pembantunya, dia mencium bahaya. Cepat dia bergerak kepada anak buahnya dan menyambarkan golok besarnya, menerjang ke depan, membabat ke arah Iblis Mayat Hidup yang paling menyeramkan dan berdiri paling dekat.

Akan tetapi, rangka terbungkus kulit itu dapat bergerak cepat bukan main. Golok itu menyambar seperti mengenai sasarannya membabat pinggang, akan tetapi tiba-tiba saja tubuh kurus kering itu lenyap dan ternyata sudah mengelak ke samping dan pada saat itu si tengkorak hidup menggerakkan tangannya yang kurus.

“Tukkk!”

Hanya perlahan saja jari tangan Iblis Mayat Hidup menyentuh lengan yang memegang golok, akan tetapi seketika golok terlepas dan lengan itupun lumpuh dan berobah menghitam karena di sebelah dalamnya, beberapa otot besar putus dan darah mengalir liar membuat lengan nampak hitam!

Bukan kepalang rasa nyeri pada lengan kanan itu, membuat si brewok berteriak-teriak, akan tetapi kembali tangan kurus itu menyambar, sekali ini leher si brewok yang disentuh dan seketika si brewok roboh, suara mengorok keluar dari lehernya, mukanya berobah hitam dan dia berkelojatan dalam sekarat. Dia tewas tak bergerak lagi ketika anak buahnya yang belasan orang banyaknya itu sudah datang menyerbu dengan golok di tangan.

Melihat betapa pemimpin mereka sudah roboh dengan muka berwarna hitam, tak bergerak lagi, belasan orang kasar itu menjadi marah sekali. Langsung mereka menerjang tiga orang kakek itu dengan golok mereka. Tiga orang kakek itu melangkah keluar dari pondok. Perkelahian yang aneh, lucu dan tidak seimbangpun terjadilah.

Sepasang lengan Raja Iblis Hitam itu mulur dan tanpa memperdulikan golok-golok itu, kedua tangannya menangkapi lawan, membanting, melontarkan tinggi ke atas dan mambiarkan tubuh lawan itu terbanting keras, menangkap dua kepala dan mengadu dua kepala itu.

Si gendut Iblis Akhirat sambil menyeringai aneh dan menyeramkan, membiarkan golok-golok itu mengenai kepala botaknya atau lengannya, dan hanya kedua kakinya saja yang pendek-pendek dan besar-besar itu bergerak cepat ke kanan kiri dan setiap orang yang terkena tendangannya tentu terlempar, terbanting roboh dan tidak dapat bangkit kembali.

Iblis Mayat Hidup lebih mengerikan lagi. Dengan tulang-tulangnya mengeluarkan bunyi berkerotokan, dia membagi-bagi pukulan dan setiap kali tangannya menyentuh tubuh lawan, karena sentuhan perlahan itu tidak pantas dinamakan pukulan, lawan roboh dengan bagian badan yang disentuh berobah kehitaman!

Dalam waktu singkat saja, belasan orang itu roboh semua dan tidak seorangpun dapat bangkit atau bergerak lagi karena mereka telah tewas. Kepala-kepala pecah berantakan sampai otak dan darah berceceran, tulang-tulang berkerotokan ketika patah-patah bahkan ada kulityang robek-robek dan mayat yang ternoda hitam-hitam mengerikan.

“Ha-ha-ha-ha! Bi Lan murid yang baik, apakah kini engkau telah puas? Lihat, semua musuhmu telah kami bunuh,” kata Iblis Akhirat kepada Bi Lan.

Gadis cilik itu melorot turun dari gendongan Raja iblis Hitam dan iapun mematuki pondok, sejenak berdiri memandang mayat ibunya yang tergantung dengan tubuh terbalik. Pada bagian tubuh tertentu dari ibunya nampak lula-luka guratan senjata tajam. Ingin ia menjerit, akan tetapi batinnya mengalami guncangan hebat sehingga ia tidak lagi dapat menangis.

“Ibumu sudah mati,” tiba-tiba terdengar suara orang dan ketika gadis cilik itu menengok, yang bicara adalah Iblis Mayat Hidup.

Dua kakek lainnya juga sudah berdiri di belakangnya. Gadis cilik ini tidak tahu betapa tiga orang kakek itu memandang ke arah mayat ibunya dengan hati girang, bukan hanya karena gadis cilik itu kini sudah terlepas dari semua ikatan keluarga, juga karena mereka bertiga itu kagum akan cara gerombolan itu menyiksa wanita ibu Bi Lan!

“Ha-ha-ha, Bi Lan. Kami telah memenuhi permintaanmu, sekarang berlututlah dan angkat kami sebagai gurumu dan menyebut suhu,” kata Iblis Akhirat.

“Nanti dulu,” gadis cilik itu berkata. “Sebelum itu kuminta agar kalian suka mengubur jenazah ibuku, juga jenazah ayahku, dikubur bersama dalam satu lubang di tempat ini.”

Tiga orang kakek itu saling pandang.
“Wah, apa-apaan ini!” Raja Iblis Hitam mengeluh.

“Ada-ada saja!” Iblis Mayat Hidup menyambung. Jelas bahwa keduanya merasa tidak senang dengan pekerjaan itu.

“Apa gunanya?” Si gendut Iblis Akhirat berseru. “Biarkan saja begitu, akhirnya juga akan habis sendiri.”

“Tidak!” Bi Lan berseru. “Kalau kalian tidak mau, biar aku sendiri yang akan melakukan penguburan itu. Mereka harus dikubur agar jenazah mereka tidak dimakan binatang buas!”

“Hemm, apa kau kira di dalam tanah tidak ada binatang buasnya? Kulit dagingnya akan digerogoti tikus dan cacing-cacing sampai habis!”

Mendengar ucapan si gendut itu, Bi Lan bergidik.
“Biarlah, mereka hancur dikubur dan kalau kalian tidak mau, akan kulakukan sendiri dan aku tidak akan sudi menjadi murid kalian.”

Tiga orang kakek itu saling pandang dan menggaruk-garuk kepala. Akan tetapi tiba-tiba nampak bayangan berkelebat disertai suara berkerotokan dan Iblis Mayat Hidup sudah lenyap dari tempat itu. Tak lama kemudian dia datang kembali membawa mayat Can Kiong, ayah Bi Lan yang sudah penuh luka itu. Dan tanpa banyak cakap lagi, tiga orang kakek itu lalu menggali sebuah lubang besar. Cepat sekali pekerjaan ini dilakukan oleh tiga orang sakti itu, mempergunakan golok-golok para korban amukan mereka tadi.

Setelah mengubur dua orang suami isteri itu dan menutupi lubang dengan tanah, kemudian atas permintaan Bi Lan mereka menaruh sebuah batu bundar sebesar gajah di tempat kuburan, mereka lalu berdiri berjajar dan menuntut agar Bi Lan suka menjadi murid mereka dan memberi hormat seperti layaknya seorang yang mengangkat guru.

Kini Bi Lan tidak ragu-ragu lagi. Kalau bukan tiga orang kakek aneh ini, siapa lagi manusia di dunia ini yang memperdulikannya? Ia lalu menjatuhkan diri berlutut di depan kaki tiga orang itu, memberi hormat dengan sungguh-sungguh.

“Suhu.... suhu.... suhu....!” katanya setiap kali ia menyembah di depan kaki seorang kakek.

Tiga orang itu girang bukan main.
“Muridku yang baik!” kata Raja Iblis Hitam dan tiba-tiba Bi Lan merasa tubuhnya melayang jauh tinggi di udara.

Anak itu tentu saja terkejut bukan main, sama sekali tidak menyangka bahwa raksasa hitam yang menjadi seorang di antara gurunya itu akan melakukan hal seperti itu, melemparkan tubuhnya tinggi ke udara! Ia teringat betapa tadi suhunya yang ini melempar-lemparkan tubuh lawan ke atas dan tubuh itu terbanting jatuh dengan kepala pecah berantakan. Tentu saja ingatan ini mendatangkan rasa takut yang hebat dalam batinnya yang sehari itu sudah mengalami guncangan-guncangan luar biasa.

Akan tetapi justeru guncangan-guncangan hebat itu membuat Bi Lan kehilangan rasa takut, atau andaikata ada rasa takut, ia berani menghadapinya dan mendatangkan suatu kenekatan besar. Maka, betapa ngerinya, ia mengatupkan bibirnya yang kecil dan tidak mau mengeluarkan suara yang membayangkan ketakutan!

Ketika tubuhnya melayang turun berputaran tangan Iblis Akhirat sudah menyambutnya dan kembali ia dilemparkan ke atas oleh kakek itu yang terkekeh senang. Ketika merasa betapa tubuhnya tidak terbanting melainkan disambut hendak di lemparkan lagi ke atas, mengertilah Bi Lan bahwa tiga orang gurunya itu bermain-main atau mungkin hendak menguji ketabahannya. Hal ini membesarkan hatinya. Ia akan memperlihatkan kepada tiga orang kakek aneh itu bahwa ia tidak takut!

Maka, ketika untuk kedua kalinya tubuhnya terlempar ke atas, ia mengeluarkan suara ketawa cekikikan sebagai tanda bahwa iapun senang dilempar-lemparkan seperti itu. Akan tetapi terdengar suara Iblis Mayat Hidup mencela.

“Apa ketawa-ketawa! Dalam setiap keadaan, engkau harus belajar karena setiap peristiwa mengandung bahan baik untuk dipelajari!”

Dan ketika tubuhnya meluncur turun, ia disambut pula oleh kakek kurus kering itu dan dilontarkan pula ke atas. Bi Lan menghentikan ketawanya, takut kalau ketiga orang gurunya marah. Gila, pikirnya, dlempar-lempar ke udara seperti itu dapat mempelajari apakah?

Lalu teringatlah ia betapa kalau meluncur lagi ke bawah, tuhuhnya berputaran tidak karuan. Mengapa ia tidak mau belajar agar luncurannya itu nyaman dengan kaki di bawah dan kepala di atas? Bukankah kalau ia terpaksa terbanting ke atas tanah, akibatnya tidak begitu parah kalau kakinya lebih dulu dari pada kepalanya?

Mulailah ia menggerak-gerakkan kaki tangannya, mengatur keseimbangan agar tubuhnya tidak jungkir balik atau berputaran. Agaknya tiga orang gurunya girang melihat ini, dan begitu ia meluncur turun, ia disambut lagi bergantian untuk dilontarkan pula ke atas.

Akhirnya setelah puluhan kali dilontarkan ke atas, Bi Lan berhasil mengatur luncuran tubuhnya sehingga kakinya selalu meluncur di bawah, kedua tangan dikembangkan dan kedua kaki dipentang seperti orang menunggang kuda.

Melihat ini, tiga orang gurunya bergantian memberi petunjuk, bagaimana harus mengatur tangan atau kaki, bagaimana harus mengatur napas dan gerakan-gerakan lain. Bi Lan yang tahu bahwa tiga orang gurunya ini adalah orang-orang aneh dan begitu ia mengangkat mereka sebagai guru, langsung saja mereka itu menguji dan memberi pelajaran yang begitu aneh!

Maka iapun memperhatikan dengan tekun dan tanpa mengenal lelah ia terus berusaha, walaupun tubuhnya yang memang sudah amat lelah, apa lagi baru saja mengalami hal-hal yang amat hebat itu, terasa sakit-sakit. Bahkan ia menahan rasa lapar dan kantuknya sampai akirnya ia tertidur selagi tubuhnya dilemparkan lagi ke atas oleh Iblis Mayat Hidup.

Melihat betapa murid mereka itu meluncur turun dengan tubuh lunglai, tiga orang kakek itu terkejut setengah mati, khawatir kalau-kalau murid mereka yang masih lemah dan amat lelah itu tidak kuat dan mati di udara! Mereka menyambutnya dan legalah hati mereka melihat bahwa murid mereka itu hanya tertidur pulas!

Meledaklah suara ketawa mereka dan hati mereka puas dan bangga. Dilempar-lemparkan seperti itu, murid mereka ini malah bisa tidur nyenyak, dan itu dianggap oleh mereka sebagai tanda nyali yang amat besar, ketabahan yang jarang dimiliki seorang anak kecil, apa lagi anak perempuan.

Suling Naga