Ads

Sabtu, 26 Desember 2015

Suling Naga Jilid 008

Mereka berdua tertawa-tawa dan Coa Pit Hu kepala penjahat itu, segera berpamit untuk mempersiapkan rencananya.

Siang hari itu, Cu Hak dan isterinya menjadi gelisah sekali ketika mendengar dari beberapa orang anak tetangga bahwa Hong Beng yang sedang bermain-main dengan mereka, tiba-tiba ditangkap oleh empat orang laki-laki yang tidak dikenal, mulutnya disumbat dan dibawa lari oleh mereka!

“Hong Beng diculik penjahat!” demikian Gu Hok berpendapat dengan muka pucat, merasa heran sekali. “Mengapa? Kita adalah keluarga miskin, perlu apa orang menculik anak kita?”

Isterinya juga merasa khawatir sekali dan sedikitpun tidak menghubungkan diculiknya anaknya itu dengan peristiwa pagi tadi di dalam pasar. Ia tidak menceritakan peristiwa itu kepada suaminya karena merasa tidak enak, takut suaminya akan marah dan ia tahu bahwa mereka tidak mampu berbuat sesuatu terhadap kekurangajaran seorang perwira seperti Bong-ciangkun.

“Apa yang harus kita lakukan? Ke mana kita harus mencari anak kita?” Dengan wajah pucat ibu yang kehilangan anaknya itu mengeluh.

Selagi ayah dan ibu ini kebingungan, seorang petani yang menjadi tetangga mereka tergopoh datang memberi tahu bahwa selagi bekerja di ladang, dia didampingi seorang laki-laki tinggi kurus bermata sipit yang mengatakan bahwa kalau keluarga Gu Hok menghendaki anaknya kembali dengan selamat, mereka harus menyediakan uang tebusan seratus tail perak dan yang mengantar uang itu untuk menebus anaknya haruslah ibu anak itu sendiri. Tidak boleh dikawal orang dan tidak boleh diantarkan orang lain atau ditemani orang lain. Kalau melanggar, anak itu akan dibunuh! Uang itu harus diantar malam nanti di tanah kuburan yang berada di tepi kota, tempat yang amat sunyi!

Tentu saja suami isteri itu menjadi kebingungan.
“Celaka!” kata Gu Hok. “Orang miskin seperti kita mana mampu menyediakan uang seratus tail perak?”

Akan tetapi sambil menangis isterinya membujuk-bujuknya agar mengumpulkan uang dari manapun juga.

“Biarpun tidak cukup seratus tail, cari dan kumpulkanlah uang itu, aku akan memohon kepada mereka agar suka meringankan beban itu, dan kalau anak kita sudah dikembalikan, biarlah kita cari kekurangan itu sedapat kita.”






Karena khawatir akan keselamatan anaknya. Gu Hok lalu mencari pinjaman ke sana-sini dan akhirnya dia dapat mengumpulkan uang sebanyak duapuluh tail perak. Isterinya, lalu membungkus uang itu dengan kain dan segera pergi meninggalkan rumah. Suaminya khawatir dan hendak menemaninya, akan tetapi isterinya melarang dengan keras.

“Suamiku, anak kita terancam nyawanya, jangan main-main,” katanya. “Bukankah mereka itu hanya menginginkan aku sendiri yang mengantarkan uang? Tentu mereka curiga, takut kalau engkau membawa kawan-kawan dan menggerebek. Biarlah aku yang mengantarkan dan aku akan mohon kasihan kepada mereka.”

“Tapi, apakah tidak berbahaya kalau engkau pergi sendiri? Malam-malam begini ke kuburan yang begitu sunyi?” Suaminya meragu.

“Jangankan ke kuburan, biar ke neraka aku bersedia kalau untuk menyelamatkan anakku!”

Terpaksa Gu Hok membiarkan isterinya pergi sendiri dan dia menanti di rumah dengan hati tidak karuan rasanya. Melarang isterinya pergi, berarti dia menaruh nyawa anak tunggalnya dalam bahaya, sedangkan membiarkan isterinya pergi, membuat hatinya merasa khawatir dan tidak enak sekali. Juga dia tidak berani secara diam-diam membayangi isterinya karena dia mengerti bahwa penjahat-penjahat itu amat berbahaya dan tentu akan tahu kalau dia mengintai. Hal ini bukan hanya dapat membahayakan keselamatan anaknya yang berada dalam cengkeraman penjahat, melainkan juga membahayakan isterinya karena mereka merasa dikhianati.

Dengan perasaan serem ketika memasuki kuburan yang gelap itu, nyonya Gu Hok memberanikan hatinya demi anaknya, dan ia menoleh ke kanan kiri di tempat yang amat sunyi itu. Tiba-tiba ia terkejut dan hampir menjerit ketika tiba-tiba muncul sesosok bayangan orang tinggi kurus dari belakang sebuah batu kuburan. Kalau saja ia tidak tahu sebelumnya bahwa tentu ada orangnya gerombolan penjahat yang menyambutnya, tentu ia sudah menjerit ketakutan dan menyangka setan.

“Apakah engkau nyonya Gu Hok?” tanya laki-laki tinggi kurus itu.

“Be.... benar.... aku ibu dari anakku Hong Beng.... aku.... aku mohon kepadamu, di mana anakku?”

“Engkau datang sendirian saja?” tanya suara itu dengan galak.

“Benar....“

“Membawa uang itu?”

“Ampunkan aku kami tidak mampu mengumpulkan uang seratus tail dan hanya berhasil terkumpul duapuluh tail saja....”

“Hemm, mana bisa....?”

Tiba-tiba wanita itu menjatuhkan dirinya berlutut.
“Ampunkan kami, ampunkan anak kami, aku mohon kepadamu, bebaskanlah anakku dan aku berjanji bahwa kekurangannya kuanggap hutang dan kelak akan kubayar dengan cicilan....“

“Wah, mana bisa?”

“Aku mohon kepadamu, kasihanilah kami....“

“Begini, nyonya. Kalau pembayarannya kurang, aku tidak dapat memutuskan. Engkau harus minta sendiri kepada pimpinan kami.”

“Mana dia? Aku akan mohon kepadanya, dan mana anakku?”

“Anakmu dalam keadaan sehat, bersama pimpinan kami. Mari kita ke sana dan kau boleh bicara sendiri dengan dia dan mengambil anakmu”.

Tentu saja nyonya itu merasa girang sekali dan dengan penuh harapan disertai kecemasan, iapun mengikuti laki-laki tinggi kurus itu pergi ke sebuah rumah yang agak terpencil, sebuah rumah pondok kecil. Ia terus mengikuti ketika laki-laki tinggi kurus itu memasuki rumah dari pintu belakang dan hatinya gentar bukan main melihat belasan orang laki-laki yang bersenjata tajam berada di sekitar rumah pondok itu. Setahunya, pondok ini adalah rumah milik pembesar yang jarang dipakai, dan ia tidak mengerti mengapa ia dibawa ke pondok milik pembesar.

Dan ketika ia bersama orang tinggi kurus itu memasuki sebuah kamar yang besar, dan penerangan yang besar menerangi seluruh kamar itu, membuat ia dengan jelas dapat melihat laki-laki tinggi besar yang duduk di situ sambil menyeringai, jantungnya seperti ditusuk rasanya. Laki-laki itu bukan lain adalah Bong-ciangkun, laki-laki muka hitam berperut gendut yang matanya besar itu, yang pagi tadi mengganggunya di tengah pasar!

“Ibuuu....”

“Hong Beng, anakku....!”

Ibu itu berteriak girang melihat anaknya berada pula di sudut kamar. Akan tetapi ketika ia hendak lari menghampiri, pergelangan tangannya dicengkeram oleh si tinggi kurus.

“Jangan bergerak....!”

“Ibu....!”

Hong Beng meloncat dan berlari menghampiri ibunya, merangkul ibunya dan si tinggi kurus tidak mampu mencegah ibu dan anak itu saling rangkul. Wanita itu berlutut dan berangkulan dengan anaknya, si ibu menangis akan tetapi Hong Beng tidak menangis, melainkan memandang ke arah si tinggi kurus dan perwira brewokan itu dengan sirar mata berapi-api.

“Kalian telah meculikku, sekarang membawa ibuku ke sini. Sebetulnya kalian ini orang-orang jahat mau apakah?”

Tadi ketika ibunya belum dibawa ke situ, Hong Beng memperlihatkan sikap takut-takut, akan tetapi kini melihat ibunya juga diculik, kemarahannya meluap dan dia melupakan rasa takutnya.

“Plakkk....” Sebuah tamparan dari si tinggi kurus membuat Hong Beng terpelanting dan ibunya menjerit.

“Anak lancang, apa kau bosan hidup?”

Si tinggi kurus membentak anak yang kini merangkak bangun dengan pipi kiri merah membiru dan agak membengkak itu. Akan tetapi sebelum anak itu dapat bergerak, si tinggi kurus sudah meloncat dan sekali pegang sudah mencengkeram tengkuk anak itu sehingga tidak mampu bergerak lagi.

“Jangan.... jangan pukul anakku.... ah, jangan bunuh anakku.... ini, tai-ciangkun, aku sudah membawa uangnya, tetapi kurang.... kami hanya mampu mengumpulkan duapuluh tail saja.... ampunkanlah kami dan anakku, kekurangannya akan kucicil....“

Wanita itu bicara dengan air mata bercucuran dan mengeluarkan buntalan berisi uang duapuluh tail perak. Ia berlutut di depan kaki perwira Bong yang tersenyum menyeringai karena setelah berdekatan, ternyatalah olehnya bahwa wanita ini memang mulus dan manis sekali.

“Nyonya, kalau saja sikapmu di pasar tadi tidak kasar dan lunak seperti sekarang ini, tentu aku tidak perlu membawa anakmu ke sini. Sekarang, bagaimana? Engkau pilih anakmu mati di depanmu ataukah melayani aku dan menyenangkan hatiku?”

Perwira brewok itu mengajukan pertanyaan ini tanpa malu-malu, di depan Hong Beng yang belum mengerti apa yang dimaksudkan laki-laki buruk rupa itu dan didepan si tinggi kurus Coa Pit Hu yang hanya menyeringai. Kedua lengan Hong Beng masih ditelikungnya ke belakang sehingga anak ini tidak mampu meronta.

Dapat dibayangkan betapa kaget, takut dan bingungnya hati ibu Hong Beng mendengar ucapan itu. Tak disangkanya sama sekali bahwa ke situlah tujuan perwira ini menculik anaknya, yaitu untuk memaksanya melayani perjinaan dengan penwira itu. Tentu saja ia tidak sudi! Akan tetapi melihat puteranya dalam cengkeraman si tinggi kurus, ia tidak berani menolak secara kasar dan hendak mencari jalan lain.

“Tai-ciangkun, ampunkanlah aku, ampunkan anakku....” Ia berlutut sambil menangis. “Kami akan berusaha sedapat mungkin untuk memenuhi tuntutan seratus tail itu.... asal anakku dibebaskan.... aku mau bekerja keras, aku mau melakukan apa saja demi keselamataan anakku.... akan tetapi.... jangan itu....”

“Setan!” Si perwira brewok membentak. Hatinya tersinggung sekali, harga dirinya runtuh mendengar ada wanita berani menolaknya mentah-mentah. “Coa-sicu, bunuh anak itu sekarang juga di depan matanya!”

Si perwira brewok mengedipkan matanya dan Coa Pit Hu terkekeh, lalu meloloskan, sebatang golok besar yang tajam mengkilat. Golok itu ditempelkannya ke leher Hong Beng. Melihat ini, tentu saja ibu anak itu menjadi pucat, matanya terbelalak lebar dan saking takutnya ia hanya menggeleng-geleng kepalanya dan memegang lehernya sendiri seolah-olah ia dapat merasakan bagaimana leher anaknya itu dipenggal.

“Tidak.... tidak.... jangan....!”

“Mau kau melayaniku?” Kembali perwira itu membentak dengan senyum mengejek.

Ibu muda itu mengangguk-angguk, akan tetapi, matanya masih terus memandang anaknya sambil bercucuran air mata. Ia tidak mampu mengeluarkan suara, akan tetapi dalam keadaan seperti itu, ia tidak dapat memilih lain. Yang terpenting baginya adalah keselamatan anak tunggalnya. Biar harus mengorbankan nyawa sekalipun ia rela asal anaknya selamat.

“Ha-ha-ha!” Perwira itu tertawa penuh kemenangan. “Coa-sicu, jangan bunuh anak itu dan ajaklah keluar kamar”.

Coa Pit Hu menyeringai dan memandang wanita itu.
“Tapi.... ciangkun berjanji akan memberi bagian kepadaku....“

“Ha-ha-ha, kita lihat saja nanti. Kalau aku suka, aku tidak akan membaginya kepada siapapun juga dan engkau akan kuberi hadiah barang lain, akan tetapi kalau aku tidak suka, boleh saja kuberikan padamu!”

Suling Naga