Ads

Senin, 28 Desember 2015

Suling Naga Jilid 012

Pemuda itu berjalan seorang diri menyusuri tepi Sungai Wu-kiang, sebuah sungai yang mengalir ke utara untuk kemudian terjun ke sungai besar Yang-ce-kiang. Sungai Wu-kiang ini mengalir di antara bukit-bukit pegunungan yang amat luas, sunyi dan penuh dengan hutan liar.

Dia tidak sangat muda lagi. Usianya sekitar duapuluh enam tahun, bertubuh sedang namun tegap. Wajahnya sederhana seperti pakaiannya, hanya sapasang mata yang mengandung sinar penuh ketajaman itu yang menarik perhatian. Dilihat sepintas lalu, dia mirip seorang petani atau mungkin seorang pemburu karena berjalan seenaknya di tempat yang amat sunyi dan liar itu. Padahal, tempat itu amat berhahaya dan kalau tidak dengan rombongan yang bersenjata lengkap, jarang ada orang berani memasuki daerah ini. Akan tetapi, orang muda itu berlenggang seenaknya dan memandang ke kanan kiri, kadang-kadang tersenyum sendiri kalau melihat kupu-kupu, atau burung, atau kelinci berkejaran.

Di tempat yang amat sunyi itu, di mana tidak terdapat manusia lain kecuali diri sendiri, membuat mata menjadi waspada sekali. Pikiran menjadi hening, tidak terisi berbagai masalah seperti kalau berada di tempat ramai yang penuh orang. pikiran tidak mengada-ada, tidak dipenuhi keinginan-keinginan, karena kosong dan hening inilah maka panca indera bekerja dengan amat baiknya, setiap anggauta tubuh menjadi amat pekanya.

Dan dalam keadaan hening dan waspada ini, maka segala keindahanpun nampak! Biasanya, panca indera kita seperti menjadi tumpul karena dipenuhi oleh keinginan batin yang berupa nafsu sehingga perhatian hanyalah ditujukan kepada hal-hal yang belum ada yang sedang dikejar atau diinginkan. Akan tetapi, berada di tempat sunyi itu, barulah terasa betapa indahnya segala hal yang ada, betapa bersilirnya angin membawa suara indah melebihi alunan musik yang manapun juga, bahkan gugurnya setangkai daun kering yang menari-nari ke bawah nampak sedemikian indahnya seperti tarian yang menakjubkan.

Diri menjadi lenyap, seperti lebur menjadi suatu kenyataan yang ada, bukan lagi boneka yang dipermainkan oleh nafsu dan keinginan.

Pemuda itu amat sederhana, hanya menggendong sebuah buntalan pakaian dan di pinggangnya terselip sebuah benda kecil yang panjangnya kira-kira tiga kaki, terbungkus oleh sarung dari kain kuning.

Bagi orang yang tidak mengenalnya tentu mengira bahwa dia itu hanya seorang petani biasa, atau seorang pemburu dan paling hebat tentu seorang perantau yang biasa melakukan perjalanan seorang diri dengan bekal sedikit kepandaian silat untuk melindungi dirinya.

Akan tetapi sesungguhnya tidaklah demikian. Pemuda ini bukan orang sembarangan, melainkan seorang pendekar yang amat lihai, bahkan yang baru-baru ini memperoleh julukan Pendekar Suling Naga!

Bagi para pembaca KISAH PARA PENDEKAR PULAU ES , pemuda ini pasti dapat diduga siapa orangnya, karena dia merupakan seorang di antara para tokoh dalam kisah itu. Pemuda ini adalah Sim Houw. seorang pemuda gemblengan yang telah mewarisi ilmu-ilmu yang hebat dari dua aliran yang tadinya saling bertentangan, yaitu Ilmu Pedang Koai-liong Kiam-sut (Ilmu Pedang Naga Siluman) dan Ilmu Pedang Kim-siauw Kiam-sut (Ilmu Pedang Suling Emas).






Ilmu yang pertama dia peroleh dari mendiang ayahnya sendiri, yaitu Sim Hong Bu yang mewarisinya dari keluarga isterinya, keluarga Cu di Lembah Gunung Naga Siluman, di daerah Pegunungan Himalaya. Adapun ilmu yang ke dua itu diperolehnya dari pendekar sakti Kam Hong yang pernah menjadi calon mertuanya akan tetapi perjodohannya dengan puteri gurunya ini gagal karena gadis itu mencinta orang lain.

Ayahnya, pendekar sakti Sim Hong Bu telah gugur dalam pertempuran antara para pendekar yang melawan pasukan tentara pemerintah. Juga ibunya telah tewas sehingga dia hidup sebatangkara. Memang masih ada keluarga dari pihak ibunya, yaitu keluarga Cu di Lembah Gunung Naga Siluman, akan tetapi karena ayahnya telah bercerai dari ibunya dan terjadi pertentangan antara mendiang ayahnya dan keluarga Cu, dia tidak mau lagi kembali ke lembah itu. Demikianlah sedikit riwayat pendekar yang dijuluki orang Pendekar Suling Naga itu.

Baru kurang lebih tiga tahun dia diberi julukan itu setelah beberapa kali dia menghadapi datuk-datuk sesat yang lihai dan terpaksa dia menggunakan senjatanya yang ampuh, yaitu sebatang suling yang dapat dipergunakan sebagai pedang pula. Suling ini terbuat dari kayu yang diukir berbentuk seekor naga dan kayu yang sudah ribuan tahun usianya dan direndam ramuan obat itu menjadi keras seperti baja, dan selain dapat ditiup sebagai suling yang suaranya merdu, juga dapat dipergunakan sebagai pedang.

Kurang lebih tiga tahun yang lalu, timbul dalam pikiran Sim Houw untuk menjenguk keluarga Cu di Lembah Gunung Naga Siluman. Dia teringat bahwa yang tadinya bertentangan dengan ayahnya adalah ayah dari ibunya bersama seorang paman, juga ibunya sendiri.

Keluarga Cu terdiri dari tiga orang kakak beradik, yang pertama adalah Cu Han Bu, yaitu ayah ibunya, ke dua adalah Cu Seng Bu dan ke tiga adalah Cu Kang Bu. Yang menentang ayahnya hanyalah Cu Han Bu dan Cu Seng Bu yang sekarang telah meninggal dunia, sedangkan Cu Kang Bu tidak menentang ayahnya. Dan sekarang, yang tinggal di lembah itu hanya tinggal Cu Kang Bu dan isterinya.

Teringat akan paman kakeknya ini, seorang pendekar berjuluk Ban-kin-sian yang gagah perkasa, juga isteri pendekar ini seorang wanita bernama Yu Hwi yang memiliki kepandaian tinggi pula, Sim Houw menjadi rindu. Tidak ada lagi keluarganya di dunia ini kecuali paman kakek Cu Kang Bu itu, maka diapun berangkatlah ke Pegunungan Himalaya.

Akan tetapi, ketika pada suatu pagi dia tiba di lembah itu, menyeberangi jembatan tambang yang direntang dari lembah oleh seorang murid keluarga Cu, Sim Houw menjadi terkejut bukan main melihat betapa paman kakek berdua isterinya itu berada dalam keadaan luka parah! Cu Kun Tek, putera yang baru berusia dua belas tahun menjaga mereka dengan sikap murung dan berduka.

Lembah Gunung Naga Siluman itu merupakan tempat yang selain amat indah juga tersembunyi dan tidak mungkin dapat dikunjungi orang kecuali kalau penghuni lembah itu menghendaki. Lembah itu dikurung oleh jurang yang amat curam, dan jalan masuk satu-satunya hanyalah melalui jembatan tambang yang direntang dari lembah dan selalu dijaga oleh murid-murid penghuni lembah itu.

Pada waktu itu, Cu Kang Bu yang hanya mempunyai seorang putera memiliki belasan orang murid, selain untuk menjadi teman puteranya, juga untuk melayani segala keperluan keluarganya dan menjaga kebersihan tempat tinggal mereka. Murid-murid ini yang melakukan penjagaan jembatan tambang itu. Ketika Sim Houw muncul dan memperkenalkan namanya, di antara murid-murid itu ada yang sudah pernah mengenalnya, maka tambang yang tadinya tergantung ke dalam jurang lalu ditarik dan direntang.

Sim Houw mempergunakan ilmunya untuk menyeberang melalui atas tambang yang besar itu. Kalau tidak memiliki kepandaian dan tidak memiliki keberanian besar, siapa berani menyeberang melalui jembatan yang terbuat dari sehelai tambang itu? Sekali jatuh, nyawa akan melayang dan tubuh akan hancur lebur.

Melihat keadaan paman kakeknya suami isteri yang rebah dengan muka pucat, Sim Houw terkejut dan cepat menjatuhkan diri berlutut. Suami yang nampak lemah tubuhnya itu memandang penuh perhatian, lalu terdengar Cu Kang Bu bertanya,

“Orang muda, siapakah engkau dan ada keperluan apakah engkau mendatangi tempat kami ini?”

Mendengar pertanyaan kakek itu, Sim Houw merasa terharu sekali.
”Cek-kong (paman kakek), saya adalah Sim Houw....”

“Sim Houw....?” Isteri kakek itu bangkit duduk dan memandang dengan penuh perhatian.

Juga kakek itu bangkit duduk.
“Engkau Sim Houw putera mendiang Pek In?” tanya kakek yang kini usianya sudah limapuluh tiga tahun itu.

Disebutnya nama mendiang ibunya, Sim Houw menjadi semakin terharu.
“Benar dan saya menghaturkan hormat kepada cek-kong berdua.”

Suami isteri yang sedang menderita luka itu nampak gembira sekali.
“Kun Tek, lihat, pemuda perkasa ini adalah keponakanmu sendiri, putera tunggal mendiang encimu Cu Pek In! Sim Houw, ini adalah anak tunggal kami, bernama Cu Kun Tek.”

Sim Houw memandang kepada anak laki-laki itu. Dia hanya pernah mendengar bahwa suami isteri itu mempunyai seorang anak laki-laki dan baru sekarang dia bertemu dengan anak laki-laki itu, seorang anak laki-laki berusia kurang lebih duabelas tahun yang menjadi pamannya! Dia merasa canggung, akan tetapi Sim Houw segera bangkit berdiri dan menjura kepada anak itu.

“Paman kecil, harap engkau baik-baik saja dan banyak memperoleh kemajuan.”

Cu Kun Tek juga sudah banyak mendengar dari ayah bundanya tentang Sim Houw, maka diapun membalas penghormatan itu.

“Harap kau tidak terlalu sungkan, karena walaupun aku terhitung pamanmu, akan tetapi aku jauh lebih muda dan banyak mengharapkan petunjuk darimu.”

Diam-diam Sim Houw kagum dan dapat melihat bahwa paman cilik ini adalah seorang anak laki-laki yang cerdas dan ada pembawaan yang gagah perkasa seperti paman kakeknya.

“Selama ini engkau ke mana sajakah, anak Houw?” tanya Yu Hwi, isteri Cu Kang Bu itu.

“Saya merantau memperluas pengalaman dan tiba-tiba saya merasa rindu kepada keluarga di sini, juga tempat ini di mana saya dibesarkan, maka hari ini saya datang menghadap. Harap cek-kong berdua sudi memaafkan bahwa baru sekarang saya sempat singgah. Akan tetapi betapa kaget hati saya melihat bahwa cek-kong berdua agaknya dalam keadaan sakit.... kalau tidak salah, menderita luka dalam. Apakah cek-kong berdua berkelahi dengan seorang lawan yang amat lihai?”

Mendengar pertanyaan ini, suami isteri itu saling pandang dan seperti diingatkan akan sesuatu yang membuat mereka penasaran. Cu Kang Bu menarik napas panjang dan menjawab,

“Kalau diceritakan, sungguh membuat orang menjadi jengkel dan penasaran sekali. Seperti kau ketahui, Sim Houw, keluarga Cu selalu menjauhkan diri dari keributan, bahkan menempati lembah yang terpencil dan terasing ini, karena tidak ingin terlibat dalam permusuhan. Akan tetapi, kalau memang perkelahian akan terjadi, ke manapun kita bersembunyi, ada saja yang datang mencari perkara. Dan sekali ini yang datang mencari keributan adalah seorang kakek tua renta yang gila....“

Sim Houw terkejut dan merasa heran sekali. Seorang kakek tua renta yang gila? Dan seorang kakek gila demikian lihainya sehingga cek-kongnya yang lihai ini, bersama isterinya yang juga amat lihai, kalah dan menderita luka dalam

“Cek-kong, apakah yang telah terjadi?”

Kembali Cu Kang Bu menarik napas panjang.
“Dua pekan yang lalu, pada suatu siang muncul seorang kakek di seberang jurang dan dia berteriak dengan mempergunakan khi-kang, minta bertemu denganku. Karena maklum bahwa dia seorang yang memiliki kepandaian tinggi maka aku menyuruh para murid merentangkan jembatan tambang. Kakek itu menyeberang dan ternyata dia sudah sangat tua, dan dia datang mengajukan usul yang aneh.”

“Bagaimana usulnya itu?” Sim Houw bertanya dengan hati tertarik sekali melihat Cu Kang Bu menghentikan ceritanya.

“Ahh, sungguh aneh dan memalukan. Dia mengatakan bahwa dia memiliki sebuah benda pusaka yang akan diwariskan kepada seorang pendekar yang mampu mengalahkannya. Karena dia bertapa di Pegunungan Himalaya dan dia mendengar bahwa di lembah ini tinggal pendekar-pendekar sakti, dia lalu datang untuk minta dikalahkan agar dia dapat mewariskan pusaka itu kepada kami. Tentu saja aku yang tidak butuh pusakanya, menolak. Akan tetapi dia malah marah-marah dan mengatakan bahwa kalau aku tidak mau melayaninya, dia akan membunuh aku dan seluruh penghuni lembah ini....”

“Gila....”

Sim Houw berseru heran dan penasaran. Mana di dunia ini ada aturan seperti itu? Hendak mewariskan pusaka saja dengan syarat harus mengalahkannya, dan kalau orang tidak mau menyambut usulnya yang aneh itu, akan dibasmi seluruh keluarganya!

“Memang, agaknya dia telah gila, akan tetapi dia lihai bukan main.” Cu Kang Bu menarik napas panjang dan menggelengkan kepalanya. “Karena ancamannya yang gila itu, tentu saja aku menjadi marah dan akhirnya kami bertanding, bukan untuk memenuhi permintaannya, melainkan untuk menentang niatnya yang hendak membasmi kami itu. Akan tetapi, biarpun isteriku telah membantuku, tetap saja setelah lewat seratus jurus, kami berdua terkena pukulannya yang ampuh dan terluka. Akan tetapi dia tidak membunuh kami, hanya mengatakan bahwa setelah kami sembuh, dia akan datang lagi, karena dia menganggap bahwa aku cukup pantas menerima warisan dan dia minta agar aku berlatih dan memperkuat diri agar lain kali aku dapat mengalahkannya. Kemudian dia pergi.”

“Orang itu agaknya memang gila dan dia bisa berbahaya sekali”, kata Yu Hwi. “Bayangkan saja, cek-kongmu ini sudah mempergunakan cambuknya, dan akupun sudah melawan mati-matian. Kami hanya mampu mengimbangi saja tanpa mampu mengatasinya sehingga akhirnya kami terluka.“

“Siapakah nama kakek itu dan di mana tempat tinggalnya?” Sim Houw yang merasa amat tertarik dan penasaran bertanya.

Suling Naga