Ads

Senin, 28 Desember 2015

Suling Naga Jilid 011

“Nah, ini kubawakan semua keperluan dari rumahmu,” kata Suma Ciang Bun yang sudah duduk kembali.

Hong Beng membuka buntalan itu dan ternyata di dalamnya, selain terdapat belasan butir telur dan dua ayam paling gemuk, juga terdapat beras yang cukup dan juga beberapa potong pakaiannya yang paling baik. Melihat pakaiannya itu, Hong Beng memandang kepada Suma Ciang Bun dengan sinar mata bertanya.

“Kau tentu membutuhkan pakaian pengganti,” kata Ciang Bun. “Apakah kau dapat masak?”

Hong Beng mengangguk.
“Akan tetapi tidak ada tungku dan tidak ada api....”

Ciang Bun tersenyum. Dia sudah berpengalaman hidup merantau di gunung-gunung dan sebentar saja dia sudah dapat membuat api dan membuat tungku dari batu-batu.

Hong Beng segera menanak nasi dari panci yang berada dalam buntalan, dan dua ekor ayam itupun dipotong dan dipanggang. Tak lama kemudian, dua orang ini makan nasi dan panggang ayam dengan lahapnya, walaupun bumbunya hanya garam dan bawang yang dibawa oleh Ciang Bun dari rumah kecil keluarga Gu.

“Nah, sekarang kita bicara,” kata Ciang Bun setelah mereka makan kenyang. “Siapakah namamu dan apa yang telah terjadi maka ayah ibumu tewas di sana?”

Hong Beng memandang Ciang Bun dengan tajam untuk beberapa saat lamanya, kemudian menceritakan segala peristiwa yang menimpa keluarga orang tuanya, dimulai dari peristiwa di pasar ketika ibunya diganggu oleh Bong-ciangkun sampai dia diculik dan ibu berdua ayahnya kemudian tewas.

Setelah anak itu selesai bercerita, Ciang Bun mengangguk-angguk.
“Hemm, sudah kuduga tentu demikian. Aku sudah banyak mendengar akan kejahatan orang she Bong itu dan aku girang bahwa aku telah berbasil membasmi dia bersama komplotannya. Hong Beng, sekarang ayah ibumu telah tiada, lalu apa rencanamu selanjutnya? Apakah engkau memiliki sanak keluarga?”

Hong Beng menggeleng kepala.

“Jadi engkau sebatangkara saja?” Anak itu mengangguk.






“Hemmm, engkau sebatangkara dan engkau tak mungkin kembali ke Sang-nam. Di sana sudah geger dan orang-orang mulai mencari keluargamu yang lenyap. Lalu apa yang akan kau lakkukan sekarang?

“Kalau paman suka, aku akan ikut dengan paman....”

“Ikut aku?”

“Ya, menjadi.... murid atau pelayan....”

Ciang Bun tertawa. Dia semakin kagum kepada anak ini. Tidak banyak cakap, dan cukup sopan.

“Aku suka kepadamu, Hong Beng. Kalau engkau mau, akupun suka sekali mengambil engkau sebagai muridku.”

Mendengar ucapan ini, segera Hong Beng menjatuhkan diri berlutut di depan kaki Suma Ciang Bun.

“Suhu, mulai saat ini, teecu akan mentaati segala perintah suhu dan teecu berjanji akan menjadi seorang murid yang baik.”

Ciang Bun menyentuh kedua pundak anak itu dan menyuruhnya bangkit duduk. Ditatapnya wajah anak itu dan dia merasa senang sekali.

“Berapa usiamu Hong Beng?”

“Sebelas tahun, suhu.”

“Ah, engkau pantas menjadi anakku, keponakanku, atau muridku. Akan tetapi ketahuilah bahwa aku tidak mempunyai tempat tinggal yang tetap, aku seorang perantau yang tidak tentu tempat tinggalnya, kadang-kadang bermalam di dalam hutan, di puncak gunung atau di tepi sungai. Hidupmu akan serba kekurangan dan bahkan kadang-kadang harus berani menahan kehausan dan kelapaan kalau ikut aku. Beranikah engkau menghadapi semua kesukaran itu?”

Hong Beng mengangguk.
“Teecu berani dan apapun yang akan suhu perintahkan, teecu akan mentaati tanpa membantah.”

Ciang Bun lalu bangkit dan menarik tangan Hong Beng agar berdiri dan merangkul anak itu sambil tertawa.

“Ha-ha, jangan khawatir, muridku. Aku belum begitu gila untuk membuat engkau sengsara. Mari kita pergi naik ke puncak bukit di depan itu.Besok, di puncak itu, akan mulai kuajarkan dasar-dasar ilmu silat kepadamu. Engkau tidak akan menyesal menjadi muridku. Ketahuilah bahwa saat ini, engkau merupakan anak murid keluarga Pulau Es dan kalau engkau tekun belajar, kelak akan sukar orang menandingimu.”

Demikianlah, Suma Cian Bun yang selama bertahun-tahun hidup dalam kesunyian dan kesepian, kini memperoleh seorang murid yang seolah-olah membuat hidupnya berarti dan dia berguna bagi seseorang .

Kesepian atau kesendirian merupakan suatu hal yang amat ditakuti oleh kebanyakan orang. Sendirian sama artinya dengan mati atau lenyapnya bayangan tentang diri sendiri yang kita bentuk sendiri. Timbulnya sang aku adalah karena ada hubungan dengan manusia lain, dengan benda maupun dengan gagasan-gagasan. Kalau sudah berada sendirian maka sang akupun tidak dapat bergerak lagi, atau kalaupun bergerak, tentu hanya karena dorongan ingin mempertahankan hidup.

Itulah sebabnya kita selalu haus akan perhatian orang lain, selalu haus akan kasih sayang orang lain. Orang yang merasa bahwa dia tidak diperhatikan orang, tidak disukai orang, akan merasa sengsara dan hidupnya seolah-olah kosong, dapat mendatangkan penyakit hampa atau frustrasi, kanena sang aku yang sudah digambarkan dan dipupuk semenjak kecil menjadi tidak berarti lagi, menjadi diremehkan.

Takut akan kesepian atau sendirian ini pula yang mendorong kita untuk mengingatkan diri dengan apa saja yang menyenangkan lahir dan batin. Kalau sudah terikat, kita merasa aman, merasa terjamin. Padahal, ikatan-ikatan inilah yang membuat kita hidup seperti robot.

Pengulangan-pengulangan, kebiasaan-kebiasaan, menurut “umum”, dan menonjolkan sang aku sama saja dengan hidup di atas awan angan-angan dan karenanya seringkali menemui kekecewaan dan kedukaan karena kenyataan sama sekali berbeda dengan angan-angan dan harapan-harapan. Siapa yang berani meninggalkan hidup dalam dunia angan-angan dan harapan ini, dan berani membuka mata menghadapi segala macam kenyataan hidup, menerima sebagaimana adanya, barulah dia itu benar-benar hidup dan tidak terkecoh oleh harapan-harapan yang pada dasarnya hanyalah sang aku yang ingin senang.

**** 011 ****
Suling Naga