Ads

Senin, 28 Desember 2015

Suling Naga Jilid 014

“Ohh....!”

Dia terkejut, akan tetapi juga girang. Tadi dia sengaja mengeluarkan jurus serangannya yang ampuh untuk menguji kepandaian pemuda aneh yang bersenjata suling emas itu, dan kini ternyata pemuda itu tidak hanya mampu membuyarkan serangannya, bahkan berbalik mengancam kedua lengannya! Dia cepat menarik kembali kedua tangan itu dan mulailah kakek itu berloncatan dan bergerak cepat, melakukan serangan bertubi-tubi kepada Sim Houw.

Sim Houw juga tidak mau berlaku sungkan lagi. Suling emasnya bergerak semakin cepat menghadang setiap serangan sehingga kini kakek itu yang berbalik terserang olehnya.

Beberapa kali kakek itu mengeluarkan seruan kaget. Suling itu berobah menjadi sinar keemasan bergulung-gulung disertai suara melengking-lengking seolah-olah suling itu ditiup dan dimainkan orang. Hal ini membuat Pek-bin Lo-sian kagum bukan main.

Pernah dia mendengar akan nama Pendekar Suling Emas, dan sekarang dia merasa seolah-olah berhadapan dengan pendekar yang pernah terkenal di seluruh dunia persilatan itu! Dia tidak tahu bahwa memang yang dihadapinya adalah murid dari Pendekar Suling Emas Kam Hong. Belum sampai limapuluh jurus, kakek itu sudah terdesak oleh gulungan sinar yang melengking-lengking itu.

Cu Kang Bu dan isterinya yang nonton pertandingan itu, menjadi kagum bukan main. Tak mereka sangka bahwa putera mendiang Sim Hong Bu dan Cu Pek In kini telah menjadi seorang pendekar yang demikian hebat ilmu silatnya.

Tiba-tiba kakek itu mengeluarkan teriakan mengguntur dan nampak sinar hitam berkelebat, dan tahu-tahu dia telah memegang sebuah pedang yang aneh sekali Senjata itu disebut pedang, karena dipegang dan dimainkan seperti orang memainkan pedang, akan tetapi bentuknya adalah seekor naga yang merupakan ukiran indah sekali dan warnanya hitam pekat, akan tetapi tubuh pedang berbentuk naga itu terdapat lubang-lubang seperti pada sebuah suling!

Dan ketika kakek itu menggerakkan senjata aneh ini, nampak sinar hitam berkelebat dan terdengar pula suara melengking kacau, sama sekali berbeda dengan lengking suara yang keluar dari suling emas di tangan Sim Houw yang terdengar merdu seperti melagu.

“Cringgg....!”

Nampak bunga api berpijar ketika senjata aneh itu bertemu suling emas dan Sim Houw merasa betapa tangannya yang memegang suling tergetar hebat. Akan tetapi pemuda ini tidak menjadi gentar. Cepat dia memindahkan suling emas di tangan kiri dan begitu tangan kanannya bergerak ke bawah jubahnya, nampak sinar berkilat menyeramkan, sinar biru yang menyilaukan mata dan mendengar suara mengaum seperti seekor singa. Itulah Koai-liong Po-kiam (Pedang Pusaka Naga Siluman) peninggalan ayahnya! Dan kini dia menggerakkan pedang di tangan kanan dan suling di tangan kiri.






Bukan main hebatnya karena pedangnya itu memainkan jurus-jurus ampuh dari Koai-liong Kiam-sut sedangkan suling emasnya memainkan jurus-jurus pilihan dari Kim-siauw Kiam-sut! Menghadapi gabungan dua ilmu yang sakti dan ampuh ini, si kakek kembali mengeluarkan suara terkejut bukan main dan dalam beberapa jurus saja dia sudah terdesak hebat.

Kini kakek itu benar-benar kagum bukan main, berkali-kali mengeluarkan seruan memuji, akan tetapi diapun mengerahkan seluruh tenaga dan kepandaiannya untuk mengalahkan pemuda yang amat menarik perhatiannya itu. Dan memang ilmu silat kakek ini aneh sekali. Beberapa kali hampir saja Sim Houw tertipu dan terpancing, akan tetapi berkat keampuhan dua ilmu silat yang digabung itu, serangan-serangan kakek itu selalu gagal.

Sim Houw diam-diam merasa bingung juga. Dia tidak ingin menanam bibit permusuhan dengan kakek ini, maka tadinya dia hanya ingin menandingi dan kalau mungkin mengalahkan tanpa melukai kakek itu. Akan tetapi, kini ternyata bahwa ilmu kepandaian kakek ini benar-benar hebat sehingga tidak mungkin kiranya tanpa melukai.
Bahkan kalau dia terlalu mengalah, jangan-jangan dia sendiri yang akan roboh akhirnya!

Maka, terpaksa diapun lalu mengeluarkan jurus-jurus terampuh yang digabung sehingga keadaan kakek itu benar-benar terkurung oleh sinar keemasan dan sinar biru yang dahsyat. Tiba-tiba sinar biru menyambar dahsyat menyambut pedang naga hitam itu, didukung tenaga sin-kang yang amat kuat.

“Krekkk....!”

Kini patahlah senjata ampuh kakek itu, terbabat Koai-liong Po-kiam yang ampuh dan pada saat itu juga, suling di tangan kiri pemuda itu sudah menotok ke arah tenggorokan dengan kecepatan seperti kilat menyambar.

“Ahhh....!”

Kakek itu terkejut melihat senjatanya patah sehingga kurang waspada dan tahu-tahu ujung suling sudah meluncur ke arah tenggorokannya. Melihat ini, Sim Houw yang tidak ingin membunuh, cepat mengurangi tenaga pada totokannya. Hanya itulah yang mampu dilakukan, karena menarik kembali tidaklah mungkin melihat kedudukannya, karena tangan kiri kakek itu dapat saja melakukan pukulan kalau ia menarik kembali totokan sulingnya. Kakek itupun biar terlambat masih dapat membuang tubuh ke samping.

“Tukk....!”

Tetap saja ujung suling masih menotok pundak kirinya dan kakek itu mengeluh, lalu terpelanting! Bukan main girang kagumnya rasa hati Cu Kang Bu dan isterinya melihat betapa akhirnya cucu keponakan mereka itu berhasil mengalahkan kakek gila yang amat lihai itu.

“Aihh, locianpwe, maafkan saya....!” Sim Houw terkejut dan menyesal, menyimpan sepasang senjatanya dan menjura.

“Sudahlah, aku kalah....” kakek itu mengeluh dan bangkit berdiri, napasnya terengah-engah dan dia menekan pundak kirinya.

Jelas bahwa totokan itu telah mendatangkan luka di dalam dadanya. Sampai beberapa lamanya kakek itu menatap wajah Sim Houw, kemudian dia mengangguk-angguk.

“Ah, tak kusangka bahwa akhirnya Suling Naga bertemu dengan majikannya. Orang muda, engkaulah orangnya yang patut sekali memiliki Liong-siauw-kiam. Engkau memiliki dua ilmu dengan pedang dan suling, dan kalau engkau mempergunakan Liong-siauw-kiam, berarti engkau dapat memainkannya dengan dua ilmu itu. Engkau telah mengalahkan aku, pusaka itu akan kuserahkan kepadamu.”

“Hemmm, kakek jahat. Pusakamu itu telah patah dua, untuk apa diberikan kepada cucu keponakan kami?”

Yu Hwi mencela sambil menuding ke arah senjata hitam yang patah terbabat pedang Koai-liong-po-kiam tadi. Kakek itu tertawa, akan tetapi tiba-tiba menahan ketawanya dan menyeringai kesakitan.

“Locianpwe, engkau telah terluka. Marilah kubantu meringankan penderitaanmu,” kata Sim Houw sambil melangkah maju. Akan tetai kakek itu mundur ke belakang.

“Jangan! Aku sudah terluka dan itu adalah resiko pertandingan. Kalau engkau yang kalah, engkau bukan hanya terluka melainkan mampus, orang muda! Dan siapa bilang bahwa pusaka itu benda yang patah itu? Heh-heh, kau kira aku begitu bodoh membawanya ke mana saja? Memang sama bentuknya, akan tetapi yang ini adalah buatanku sendiri, yang palsu. Yang aseli mana mungkin dapat dipatahkan, dengan senjata pusaka yang bagaimana ampuhpun juga? Mari, orang muda, engkau berhak memiliki Liong-siauw-kiam. Mari kau ikut denganku mengambilnya di tempat persembunyianku.”

Sim Houw percaya sepenuhnya kepada kakek aneh yang amat lihai itu, maka diapun mengangguk dan menjawab,

“Baiklah, locianpwe.”

“Sim Houw, jangan mudah percaya omongannya!” Tiba-tiba Yu Hwi berseru. “Orang macam dia ini mana bisa dipercaya? Jangan-jangan engkau dipancing untuk memasuki perangkap!”

Kakek itu memandang kepada Yu Hwi dan mengangguk-angguk sambil tersenyum aneh.

“Nyonya ini memiliki kecerdikan yang boleh juga, heh-heh. Terserah kepadamu, orang muda, apakah engkau berani atau tidak ikut bersamaku. Kalau tidak, sungguh aku akan mati dengan mata terbuka karena kecewa dan penasaran.”

“Biarlah, cek-kong berdua harap jangan khawatir. Saya dapat menjaga diri,” kata Sim Houw dan diapun lalu mengikuti kakek itu yang sudah membalikkan tubuh dan pergi sambil tertawa mengejek.

Cu Kang Bu dan isterinya mengikutinya dengan pandang mata khawatir, akan tetapi Cu Kun Tek berkata dengan kagum.

“Hebat sekali Sim Houw itu. Kalau aku menjadi dia, akupun akan pergi mengambil pusaka yang dijanjikan kakek itu.”

Dua orang itu lalu menyeberangi tambang dan dengan cepat sekali kakek yang mengaku bernama Pek-bin Lo-sian itu lalu berlari seperti terbang. Agaknya dia masih ingin menguji kepandaian Sim Houw. Akan tetapi, setelah berlari secepatnya dan napasnya mulai memburu dia menoleh ke belakang, dia melihat betapa pemuda itu berada tepat di belakangnya, sedikitpun tidak tertinggal, bahkan tidak nampak letih seperti orang berjalan seenaknya saja. Kakek itu kagum sekali dan menahan larinya, menjadi langkah biasa untuk mengatur pernapasannya. Wajahnya menjadi semakin pucat.

“Locianpwe, mengapa tergesa-gesa? Tidak baik untuk kesehatan locianpwe yang menderita luka.”

Sim Houw berkata dengan sungguh-sungguh karena dia tahu bahwa pengerahan tenaga gin-kang tadi memang amat berbahaya bagi kakek yang sudah menderita luka di dalam tubuhnya.

“Marilah, kita sudah dekat....!” kata kakek itu dengan napas terengah-engah dan dia mendaki bukit itu.

Dan karena luka yang diderita oleh Pek-bin Lo-sian semakin parah, kini kakek itu hampir tidak kuat mendaki bukit itu. Melihat ini, Sim Houw berkata,

“Locianpwe terluka, marilah saya membantu locianpwe untuk meringankan penderitaan itu.”

Pemuda ini bermaksud untuk mengobatinya dengan pengerahan sin-kangnya. Akan tetapi kakek itu menggeleng kepala.

“Tidak ada gunanya, hanya menghilangkan nyeri sebentar akan tetapi tidak akan mampu menyembuhkan.”

Sim Houw juga maklum akan hal ini dan dia merasa menyesal sekali.
“Maafkan saya, locianpwe. Bukan maksud saya untuk.... akan tetapi saya terdesak dan terpaksa....”

“Sudahlah, begini lebih baik. Roboh di tangan seorang pemuda seperti engkau tidak membikin hatiku penasaran. Kalau kau mau.... kau gendong saja aku sampai ke puncak, aku khawatir akan putus nyawaku sebelum berhasil menyerahkan pusaka itu”.

Sim Houw tidak ragu-ragu lagi lalu menggendong kakek itu di belakang punggungnya.
Baru beberapa langkah dia berjalan, tiba-tiba kakek yang tadinya nampak loyo itu menggerakkan tangan mencengkeram ke arah tengkuk Sim Houw.

“Tolol kau! Mencari mampus sendiri!”

Akan tetapi tiba-tiba kakek itu mengeluarkan teriakan kaget karena tengkuk yang dicengkeramnya itu lemas seperti tidak berotot atau bertulang sehingga cengkeramannya meleset dan tenaga yang dipergunakannya seperti tenggelam ke dalam air saja.

Tahulah dia bahwa pemuda itu tidak setolol seperti yang disangkanya karena diam-diam pemuda itu telah siap melindungi dirinya dengan ilmu I-kiong-hoan-hiat, yaitu Ilmu Memindahkan Jalan Darah yang hanya dapat dilakukan oleh orang yang sudah memiliki tenaga sin-kang yang amat kuat! Dan sebelum dia sempat melakukan hal lain lagi, tahu-tahu tubuhnya sudah tak dapat digerakkan karena pemuda itu telah menotoknya dan membuat kaki tangannya lumpuh! Diam-diam dia kagum dan girang sekali.

“Bagus! Baru yakin hatiku bahwa engkau memang paling pantas menjadi pemilik Liong-siauw-kiam, karena selain lihai engkaupun cerdik sekali.”

Dia lalu menunjukkan jalan bagi Sim Houw yang tidak menjawab melainkan berlari dengan cepat mendaki bukit itu sambil menggendong tubuh kakek yang sudah tidak mampu bergerak lagi itu. Setelah kakek itu menyuruhnya berhenti di depan sebuah guha besar, baru Sim Houw menurunkan tubuh kakek itu dari gendongan dan membebaskan totokannya sehingga kakek itu mampu bergerak lagi.

“Maafkan saya yang terpaksa menotokmu, locianpwe,” katanya dengan sikap tetap menghormat.

Suling Naga