Ads

Senin, 28 Desember 2015

Suling Naga Jilid 015

Pek-bin Lo-sian terkekeh dan mengangguk-angguk.
“Kalau engkau tidak cerdik dan tidak melindungi tubuhmu, tentu cengkeramanku akan mematikanmu. Dan memang lebih baik engkau mati kalau tidak mampu melindungi diri dari ke curangan seperti itu. Musuh-musuhmu yang akan kau hadapi puluhan kali lebih curang dari pada yang kulakukan tadi. Tadi aku memang mengujimu. Kalau kau gagal, kau mampus, dan karena kau lulus, maka aku merasa lebih yakin kau akan mampu mempertahankan Liong-siauw-kiam.” Tiba-tiba kakek itu batuk-batuk dan darah segar keluar dari mulutnya.

“Locianpwe, harap kau beristirahat....!” kata Sim Houw dengan kaget karena muntah darah itu menunjukkan bahwa luka yang diderita kakek itu sudah amat berat.

“Heh-heh-heh....!” Pek-bin Lo-sian mengusap darah dari bibirnya sehingga ujung lengan bajunya menjadi merah semua. “Kau.... kau tunggu.... akan kuambil pusaka itu....“

Dan terhuyung-huyung dia memasuki guha yang lebar dan dalam itu. Sim Houw menanti di luar dengan hati tegang. Hatinya tidak merasa gembira. Tanpa sebab, tanpa permusuhan apapun dia telah menyebabkan seorang kakek yang memiliki kesaktian luar biasa menderita luka parah, luka yang dia tahu akan membawa maut bagi kakek itu. Dan sesungguhnya dia sama sekali tidak menginginkan pusaka orang, walaupan sikap dan kata-kata kakek itu tentang pusaka yang disebut Liong-siauw-kiam menarik perhatiannya.

Tiba-tiba dia melihat kakek itu keluar lagi, dan jalannya semakin terhuyung-huyung, bahkan ketika tiba di depan guha, kakek itu terguling roboh dan kembali muntahkan darah segar.

“Locianpwe....!” Sim Houw meloncat dan berlutut dekat kakek itu.

Akan tetapi kakek itu sudah bangkit duduk bersila, mengusap darah dari bibirnya dan dia mengangkat tinggi sebuah benda hitam yang ternyata sama benar bentuknya dengan senjata kakek itu yang pernah patah oleh pedang Koai-liong Po-kiam.

“Inilah Liong-siauw-kiam, pusaka ampuh itu yang akan kuserahkan kepadamu, Sim Houw.”

Pemuda itu memandang dengan sinar mata ragu. Benda itu serupa benar dengan senjata kakek tadi, dan tentu saja dia meragukan keampuhannya. Hanya sebuah benda sepanjang kurang lebih tiga kaki, terbuat dari kayu hitam yang diukir membentuk seekor naga, dengan ekor meruncing dan tepinya tajam seperti pedang, di tengahnya yang tebal terdapat lubang-lubang seperti suling. Sebatang Pedang Suling Naga? Kalau hanya terbuat dari kayu, mana dapat menjadi senjata yang ampuh? Mana mungkin dapat dibandingkan dengan pedang pusaka Koai-liong Po-kiam?






Agaknya Pek-bin Lo-sian dapat menduga apa yang diragukan pemuda itu.
“Sim Houw, coba keluarkan pedangmu dan kau babatlah pusaka ini untuk membuktikan bahwa pusaka ini tidak kalah dibandingkan dengan pedangmu itu.”

Wajah Sim Houw berobah agak merah karena isi pikirannya ternyata dapat ditebak dengan tepat oleh kakek itu. Dia lalu mengeluarkan Koai-liong Po-kiam dan nampaklah sinar biru berkelebat menyeramkan. Pek-bin Lo-sian sendiri memandang kagum dan mengangguk-angguk.

“Pedang itu memang hebat, akan tetapi cobalah diadu dengan pusaka ini.” Dia lalu mengacungkan Liong-Siauw-kiam itu dan memegang dengan kedua tangannya. “Babatlah dan pergunakan tenagamu. Aku sendiri ingin menguji keampuhan pusaka ini!”

Sim Houw lalu bangkit berdiri, mengerahkan tenaganya dan mengayun pedangnya. Sinar biru berkelebat dan pedang itu membacok Suling Naga itu dengan kuatnya karena didasari tenaga sin-kang.

“Cringggg....!”

Bunga api berpijar keras dan Sim Houw merasa betapa pedangnya bertemu dengan benda seperti baja kerasnya sehingga pedangnya membalik. Akan tetapi karena tenaganya amat besar dan kakek itu sudah lemah, hampir saja pusaka itu terlepas dari kedua tangannya.

Sim Houw memandang dan ternyata benda itu sama sekali tidak rusak, lecetpun tidak! Tentu saja dia menjadi kagum bukan main. Jangankan hanya kayu, biar baja sekalipun, kalau bukan baja terbaik, tentu akan patah terbabat Koai-liong Po-kiam. Akan tetapi suling atau pedang kayu hitam itu sama sekali tidak rusak.

“Heh-heh-heh....!” Pek-bin Lo-sian terkekeh dan mengulurkan tangannya. “Nih, terimalah Liong-siauw-kiam, mulai saat ini menjadi milikmu, Sim Houw.”

Sim Houw menerima benda itu.
“Terima kasih, locianpwe....” Dan ketika menerima pedang dia menyentuh jari-jari tangan kakek itu, dia menjadi terkejut bukan main karena jari-jari tangan itu terasa amat panas seperti api! “Ah, kau.... kenapa locianpwe?”

Kakek itu tidak menjawab dan kembali muntah-muntah darah. Wajahnya pucat bukan main dan ketika Sim Houw hendak menolongnya, dia menolak dengan tangannya.

“Tak perlu ditolong lagi. Kau pergilah, bawalah pusaka yang menjadi milikmu itu, pertahankan dengan nyawamu, dan berhati-hatilah. Ada tiga orang murid keponakanku yang amat lihai mengincar pusaka itu.... kau.... kau harus dapat melawan mereka....”

“Siapakah mereka, locianpwe?”

“Sam-kwi.... mereka.... ah, sudahlah, pergilah dan tinggalkan aku sendiri.”

Pek-bin Lo-sian menggerakkan tangannya mengusir Sim Houw. Terpaksa pemuda itu menjura dan mengucapkan terima kasih sekali lagi, baru dia pergi dengan berlari cepat sekali turun dari bukit itu sambil membawa Liong-siauw-kiam.

Dia adalah seorang pemuda yang berhati-hati sekali karena telah lama merantau di dunia kang-ouw, di mana terdapat banyak sekali kaum sesat yang licik dan curang. Dia dapat menduga bahwa melihat sikap dan perbuatannya, Pek-bin Lo-sian tentulah seorang datuk sesat pula yang mengasingkan diri, maka tadipun dia tidak sampai kena diserang secara menggelap karena dia sudah siap siaga.

Kini pun dia belum mau menelan begitu saja semua keterangan kakek itu dan dia masih memegang pusaka itu dengan hati-hati. Dia sudah mempergunakan kepandaiannya untuk meneliti apakah benda itu dilumuri racun dan setelah mendapat kenyataan bahwa benda itu bersih dari racun, dia tetap masih memegangnya dengan hati-hati, khawatir kalau-kalau di situ tersembunyi senjata rahasia yang akan membahayakan dirinya.

Setelah menuruni bukit itu, barulah Sim Houw memeriksa pusaka yang baru saja diterimanya dari Pek-bin Lo-sian. Dia memeriksa dengan teliti dan merasa kagum sekali. Benda itu benar-benar terbuat dari pada kayu, akan tatapi kayu hitam itu luar biasa keras dan kuatnya, tidak kalah dengan baja aseli! Dan ukirannya demikian indah dan halus.

Ketika dia memegang bagian kepala yang menjadi gagang dan mencoba untuk memainkannya, dia terkejut sendiri dan juga girang. Benda itu enak benar dimainkan sebagai pedang, dengan bobot yang tepat dan ketika dia mencoba satu dua jurus, benda itu mengeluarkan suara merdu, tidak kalah oleh suling emasnya! Lalu dia mencoba untuk meniupnya, ternyata benda itu merupakan sebuah suling yang suaranya amat merdu! Dengan hati girang luar biasa Sim Houw lalu kembali ke Lembah Naga Siluman.

Setelah dia menyeberang dan bertemu dengan Cu Kang Bu dan isterinya, dia menceritakan pengalamannya dan memperlihatkan pusaka itu. Suami isteri itu kagum bukan main dan juga merasa amat gembira.

“Ah, engkau sungguh beruntung, Sim Houw,” kata Cu Kang Bu dengan kagum sambil mengembalikan pusaka itu. “Ternyata kakek aneh itu tidak membohongimu dan engkau telah mendapatkan sebuah pusaka yang amat hebat”

“Dengan demikian engkau memiliki tiga buah pusaka ampuh, Sim Houw,” kata Yu Hwi dengan suara yang jelas mengandung iri. “Sebuah suling emas, sebuah pedang pusaka Koai-liong Po-kiam dan sekarang pusaka Liong-siauw-kiam!”

Cu Kang Bu dapat mendengar suara mengandung iri dari isterinya, maka dia cepat berkata dengan suara lantang.

”Tentu saja dan memang dia berhak memiliki semua itu. Suling emasnya adalah tanda bahwa dia murid Pendekar Suling Emas Kam Hong, pedang Koai-liong-kiam adalah warisan ayahnya, sedangkan Pedang Suling Naga ini adalah pemberian Pek-bin Lo-sian setelah Sim Houw berhasil menundukkannya. Semua itu adalah haknya!”

Akan tetapi, sebelum menghadap suami isteri itu, dalam perjalanannya meninggalkan kakek itu, setelah mencoba Liong-siauw-kiam dan tahu benar bahwa pusaka itu memang ampuh, Sim Houw sudah mengambil satu keputusan.

“Cek-kong berdua, Long-siauw-kiam ini dapat dipergunakan sebagai suling dan juga sebagai pedang. Dengan sendirinya, pusaka ini seperti pengganti suling emas dan Koai-kong Po-kiam menjadi satu. Bahkan penggabungan kedua ilmu dapat lebih mantap kalau dimainkan dengan pusaka ini, hanya tinggal melatih saja. Karena itu Koai-liong Po-kiam dan suling emas akan saya tinggalkan di sini, saya serahkan kepada cek-kong sekeluarga.”

“Ah, apa maksudmu dengan keputusan ini?”

Cu Kang Bu yang berwatak keras dan jujur itu bertanya dengan suara lantang dan sinar matanya menatap wajah Sim Houw penuh selidik.

“Cek-kong Cu Kang Bu, harap jangan salah mengerti. Saya sudah mendengar bahwa lembah ini dahulunya bernama Lembah Suling Emas, dan bahwa pusaka suling emas yang terkenal itu berasal dari tempat ini. Juga sekarang lembah ini di ganti dengan nama Lembah Naga Siluman, dan pedang pusaka Naga Siluman juga berasal dari tempat ini. Biarpun suling emas di tangan saya bukan suling emas yang aseli, melainkan hanya tiruan saja, akan tetapi biarlah saya serahkan kepada keluarga Cu berikut pedang pusaka Naga Siluman, dengan demikian terhapuslah sudah, semua rasa penasaran dan kedua pusaka itu kembali ke tempat asalnya.”

“Akan tetapi....” Cu Kang Bu hendak membantah.

“Aih, kenapa engkau hendak menolak niat baik dari Sim Houw? Niatnya itu membuktikan bahwa dia adalah seorang gagah sejati, yang tahu akan jalannya sejarah dan mengenal pula sumbernya. Keluarga Cu adalah keluarga yang tadinya berhak atas kedua pusaka itu. Dan keluarga Cu masih belum habis, masih ada engkau dan sekarang ada pula Cu Kun Tek, puteramu. Tidak pantaskah puteramu kelak mewarisi pusaka-pusaka lembah yang turun-temurun dihuni oleh keluarga Cu ini?” kata Yu Hwi dengan penuh semangat.

Cu Kang Bu masih mengerutkan alisnya yang tebal.
“Sim Houw, apakah tidak ada maksud-maksud tersembunyi di balik niatmu ini? Apakah engkau tidak akan menyesal kelak? Ingat, yang menguasai ilmu Kim-siauw Kiam-sut dan Koai-liong Kiam-sut adalah engkau seorang, jadi kedua pusaka itu memang sudah menjadi hakmu.”

Sini Houw mencabut keluar suling emas dari pinggangnya dan meloloskan sabuk pedang Koai-liong Po-kiam dari punggungnya, kemudian menyerahkan kedua pusaka itu kepada Cu Kang Bu dengan sikap hormat dan wajah penuh keramahan.

“Saya menyerahkannya dengan hati ikhlas dan rela, cek kong. Biarlah kedua pusaka ini, walaupun suling emasnya hanya tiruan, menjadi pusaka-pusaka keturunan keluarga Cu.”

“Wah, aku senang sekali kalau punya dua senjata itu!“ Tiba-tiba si kecil Kun Tek berseru girang. “Kelak aku ingin bisa menjadi seperti Sim Houw!”

“Hemm, enak saja kau bicara!” ayahnya menegur, “Tanpa memiliki ilmu-ilmu sakti Kim-siauw Kiam-sut dan Koai-liong Kiam-sut, mana bisa seperti Sim Houw?

“Jangan khawatir, Kun Tek.” Ibunya menghibur. “Ayahmu dapat mengajar ilmu dengan suling emas, dan aku akan mengajarkan ilmu pedang padamu.”

Nyonya ini bukan hanya membual. Ia adalah seorang ahli pedang, bahkan ia memiliki Ilmu-ilmu Kiam-to Sin-ciang, yaitu ilmu yang membuat lengannya dapat digerakkan dengan ampuh seperti berobah menjadi pedang dan golok. Di samping ini, juga ia ahli ilmu Pat-hong Sin-kun (Ilmu Silat Depalan Penjuru) dan ilmu ini dapat pula dimainkan dengan pedang menjadi Ilmu Pedang Delapan Penjuru Angin.

Karena melihat kesungguhan hati dan kerelaan Sim Houw, dan mengingat bahwa memang keliru alasan Sim Houw yang mengatakan bahwa kedua pusaka itu berasal dari lembah mereka akhirnya Cu Kang Bu menerima juga penyerahan dua pusaka itu dengan hati girang.

“Aku akan menyimpan benda-benda ini sebagai pusaka-pusaka Lembah Naga Siluman dan mudah-mudahan kami akan mampu menjaganya.” katanya dengan hati lega. “Dan banyak terima kasih kepadamu, Sim Houw. Engkaulah yang telah menyatukan kembali keretakan yang pernah terjadi pada mendiang ayah dan ibumu.”

Setelah tinggal di lembah itu selama tiga hari, Sim Houw lalu berpamit dan diantar oleh keluarga Cu ayah ibu dan anak itu sampai ke tepi jembatan tambang. Dia lalu meninggalkan lembah itu dan mulai dengan perantauannya. Selama tiga tahun ini, banyak sudah dia lakukan demi menegakkan kebenaran dan keadilan sebagai seorang pendekar.

Karena dia tidak pernah meninggalkan nama, atau jarang sekali memperkenalkan diri, akhirnya yang lebih dikenal di dunia kang-ouw hanyalah senjata barunya itu dan mulailah dia dijuluki orang Pendekar Suling Naga.

Suling Naga