Ads

Rabu, 30 Desember 2015

Suling Naga Jilid 026

“Hemm, Tiga Iblis?”

Nenek Wan Ceng bertanya, heran karena ia dan suaminya belum pernah mendengar nama ini. Memang sesungguhnyalah, dua orang kakek dan nenek ini sejak muda jarang berkecimpung di dalam dunia persilatan, hidup terpencil di gurun pasir di utara, maka mereka tidak banyak tahu tentang tokoh-tokoh kaum sesat. Apalagi karena Sam Kwi juga menyembunyikan diri dan bertapa selama sekian tahun setelah mereka dikalahkan oleh Pendekar Super Sakti dan baru sekarang mereka muncul ketika mereka ingin menguasai Liong-siauw-kiam, Pedang Suling Naga yang tadinya berada di tangan susiok mereka.

“Ya, ya, Tiga Iblis!” kata Bi Lan dengan nada suara gembira walaupun pandang matanya agak kecewa melihat betapa nenek itu tidak mengenal nama guru-gurunya. “Tiga orang guruku itu adalah Raja Iblis Hitam, Iblis Akhirat, dan Iblis Mayat Hidup. Kepandaian mereka hebat sekali!”

Suami isteri tua itu saling pandang dan Kao Kok Cu memancing dengan ucapan halus,
“Nona, kami melihat bahwa nona adalah seorang yang baik, akan tetapi mengapa menjadi murid tiga orang yang menurut julukannya adalah tokoh-tokoh golongan sesat?”

Bi Lan mengerutkan alisnya.
“Aku tidak mengerti pertanyaanmu, aku tidak tahu apa itu yang kau namakan golongan sesat, akan tetapi tiga orang guruku amat baik kepadaku, menolongku dari tangan gerombolan orang jahat yang telah membunuh ayah ibuku, bahkan membunuh semua gerombolan itu dan membantuku mengubur jenazah ayah ibuku.”

Pendekar Naga Sakti Gurun Pasir itu dan isterinya kini dapat mengerti bahwa gadis ini adalah seorang diantara sekian banyaknya korban perang pemberontakan di selatan, dan dapat menduga bahwa gadis ini diselamatkan oleh tiga orang tokoh sesat itu dan kemudian menjadi murid mereka.

Akan tetapi gadis ini menerima pelajaran ilmu yang sesat sehingga keracunan dan membuat pikirannya terguncang dan tidak waras. Mungkin hal ini bukan kesalahan tiga orang yang berjuluk Sam Kwi itu, melainkan kesalahan suci gadis ini yang berjuluk Bi-Kwi. Sukar dibayangkan apa yang dilakukan oleh datuk-datuk atau tokoh-tokoh kaum sesat yang aneh-aneh, maka mereka pun sukar menduga apa yang telah terjadi di antara keluarga perguruan sesat yang semua memakai julukan setan atau iblis itu.

“Siapakah namamu, anak yang baik?” tanya Wan Ceng dengan suara yang mengandung iba.

Ia melihat gadis ini seperti setangkai bunga indah bersih yang karena keadaan terpaksa hidup di tengah-tengah lumpur kotor.






Bi Lan tersenyum memandang wajah nenek itu.
“Tiga orang Suhuku bersama suci menyebutku Siauw-kwi. Hi-hik sebetulnya sekarang aku bukan seorang anak kecil lagi, bukan? Namaku sendiri adalah Can Bi Lan.”

“Bi Lan, dengarlah baik-baik, apakah engkau percaya kepada kami? Engkau lihat, kami sama sekali tidak berniat buruk dan tidak melakukan apa-apa yang buruk terhadap dirimu.”

Bi Lan tersenyum dan memandangi dua orang tua itu, lalu mengangguk-angguk.
“Aku percaya kepada kalian. Aku belum pernah bicara panjang lebar seperti ini dengan orang lain, dan kalian baik sekali.”

Wan Ceng menjadi gembira dan makin bersemangat mendengar ucapan gadisitu. Ia memandang suaminya dan suami yang sudah bergaul selama limapuluh tahunan dengan isterinya ini, sudah maklum apa yang terkandung dalam hati isterinya tanpa si isteri mengatakannya itu mengangguk sebagai tanda setuju.

“Bi Lan, kami melihat bahwa engkau menderita luka dalam, menderita keracunan yang amat membahayakan kesehatanmu karena engkau telah keliru dalam latihan ilmu silat, terutama sekali dalam latihan sin-kang dan pernapasan. Kami bermaksud untuk mengobatimu sampai sembuh. Maukah engkau?”

Bi Lan memandang ragu dan bingung.
“Aku tidak sakit apa-apa,” katanya, “dan andaikata sakit tentu suhu-suhuku dan suci akan mampu menyembuhkanku. Pula, bagaimana aku bisa keliru berlatih kalau suci sendiri yang mengajarku?”

Nenek itu adalah seorang wanita yang amat cerdik. Tadi ketika bicara dekat dengan gadis itu, ia melihat bekas-bekas pukulan yang masih meninggalkan tanda-tanda membiru pada leher dan pipi gadis itu, mungkin pada bagian tubuh lain yang tertutup pakaian. Karena ia dapat menduga bahwa tentu ini perbuatan sang suci yang katanya jahat dan kejam itu, ia lalu tiba-tiba bertanya,

“Bi Lan, siapa yang memukulimu sampai engkau menderita babak-belur dan ada bekas-bekas di leher dan mukamu?”

Ditanya secara mendadak itu, Bi Lan yang memang pada dasarnya berwatak jujur dan polos, masih belum ternoda oleh pengaruh lingkungan masyarakat, bahkan pada hakekatnya belum ketularan watak jahat para gurunya dan sucinya, menjawab terang-terangan sambil tersenyum,

“Ah, suci yang melakukan ini. Katanya ini perlu dalam latihan, ia memukuli dan menendangku dalam latihan-latihan silat.”

Kini Kao Kok Cu yang berkata,
“Nona telah tertipu oleh sucimu itu. Ia telah memukulimu, mungkin karena benci hanya tidak berani membunuhmu, maka ia melatihmu secara terbalik dan tersesat. Dengan latihan-latihan ini, kalau kau teruskan, engkau mungkin akan mati dalam satu dua tahun ini.”

“Mati adalah suatu hal yang menyenangkan.”

Bi Lan menjawab sambil menahan ketawanya, dan sikap ini jelas membayangkan sikap orang yang pikirannya tidak waras.

“Eh, mengapa begitu ?” tanya Wan Ceng mendengar ucapan yang biasanya hanya diucapkan oleh para pendeta yang berlagak sudah tahu akan keadaan sesudah mati.

“Hi-hik, aku sendiri tidak tahu, nek, yang berkata demikian adalah suci.”

“Sucimu lagi!” kata Wan Ceng, diam-diam merasa marah terhadap orang yang menjadi suci gadis ini. “Coba, kau bernapas yang dalam, lalu tahan sebentar.”

Bi Lan masih tersenyum-senyum, akan tetapi menuruti permintaan nenek itu. Setelah menarik napas panjang dan dalam, ia menahan hawa itu di dalam dadanya.

“Cukup, apa yang kau rasakan? Bukankah ada kelainan dan rasa nyeri di punggungmu?”

Nenek itu memiliki ilmu kepandaian tinggi dan sudah banyak pengalamannya tentang keracunan dan luka di sebelah dalam tubuh. Ia sendiri pernah menjadi murid Ban-tok Mo-li (Iblis Betina Selaksa Racun), maka dapat dikata ia adalah seorang ahli tentang keracunan.

Bi Lan memandang heran dan mengangguk.
“Benar, ada rasa seperti ditusuk di punggungku. Nenek apakah engkau bermain sihir sehingga tahu apa yang kurasakan?”

“Tidak, Bi Lan. Itu tandanya bahwa engkau benar-benar menderita luka dalam yang kalau tidak cepat disembuhkan akan membahayakan nyawamu. Dan kami yakin bahwa hal itu timbul karena kesalahan dalam latihan dan agaknya sengaja sucimu itu mengusahakan agar engkau tewas, karena latihan-latihanmu. Maukah engkau kami obati sampai sembuh?”

Gadis itu mengamati wajah kedua orang tua itu dengan sikap ragu-ragu. Akhirnya ia berkata,

“Tiga orang suhuku adalah orang-orang yang paling sakti di dunia ini, kemudian disusul oleh suci Bi-kwi. Apa yang kalian dapat lakukan, tentu dapat dilakukan pula oleh mereka. Coba perlihatkan dulu kepandaian kalian, baru aku akan percaya bahwa kalian adalah orang-orang yang lebih pandai dari mereka, dan aku mau kalian obati.”

Kao Kok Cu dau isterinya mengerti bahwa pengaruh Sam Kwi dan Bi-kwi sudah demikian dalam terutama di dalam hati gadis ini sehingga gadis ini percaya sepenuhnya kepada mereka. Maka, perlu untuk diyakinkan hati gadis ini dengan demonstrasi kepandaian agar dapat percaya dan mau ditolong. Mereka saling pandang dan kakek itu mengangguk.

“Bi Lan, bukankah tadi kami sudah memperlihatkan bahwa kami jauh lebih pandai dari padamu?”

“Kalau hanya mengalahkan aku, sucipun dapat seribu kali mengalahkan aku.”

“Baiklah. Kau lihat pohon di depan itu? Apakah kau kira guru-gurumu atau sucimu akan dapat merobohkan pohon itu tanpa memukul keras, tanpa menggugurkan setangkaipun daunnya?”

Bi Lan memandang. Pohon itu besarnya seperti tubuh manusia. Ia tahu bahwa tiga orang gurunya, juga sucinya, amat lihai dan tentu akan mampu merobohkan pohon itu. Akan tetapi tanpa memukul keras? Tanpa menggugurkan daunnya? Mana mungkin? Iapun lalu menggeleng kepala.

“Nah, kau lihat!” kata Wan Ceng dan nenek ini lalu menghampiri pohon yang dimaksudkan itu.

Sebentar ia mengerahkan tenaga, mengumpulkan tenaga sinkang di kedua tangannya, kemudian menempelkan kedua telapak tangannya pada batang pohon itu. Tidak kelihatan ia memukul dan pohon itupun tidak terguncang sama sekali. Akan tetapi, diam-diam nenek ini sudah mengerahkan hawa pukulan Selaksa Racun, pukulan kaum sesat yang amat hebat dan yang selama ini tidak pernah ia pergunakan walaupun nenek ini selama puluhan tahun telah menghimpun tenaga sin-kang yang amat kuat. Hanya nampak tubuhnya sendiri yang tergetar keras dan kemudian nenek itu meloncat mundur dengan muka agak pucat dan peluh membasahi dahi dan leher.

Melihat ini, Bi Lan terkekeh.
“Hi-hik, apakah yang telah kau lakukan tadi, nek ? Aku sama sekali tidak melihat pohon itu roboh.”

“Bi Lan, coba kau dorong pohon itu,” kata Wan Ceng sambil tersenyum.

Bi Lan maju dengan tangan kirinya mendorong batang pohon dan tiba-tiba pohon itupun tumbang dan ternyata batang di mana nenek tadi menempelkan tangannya telah remuk dan kehitaman seperti terbakar! Bi Lan terkejut dan melompat ke belakang, matanya terbelalak. Akan tetapi ia lalu mengerutkan alisnya.

“Nek, mungkin kau bermain sihir, akan tetapi kepandaianmu itu tidak kelihatan hebat.”

Nenek itu nampak tak senang dan penasaran, akan tetapi suaminya memberi isyarat dengan pandang mata, lalu pendekar tua itu berkata,

“Nona, tadi hanya main-main. Kau ingin menyaksikan kehebatan kami berdua? Nah, lihat, dengan kaki dan tangan kami, kami akan membersihkan sekitar tempat ini.”

Berkata demikian, kakek itu dengan sebelah lengannya lalu menerjang sebatang pohon besar. Terdengar suara “kraaakkk!” dan pohon itupun tumbang. Wan Ceng mengerti akan maksud suaminya. Seorang gadis yang masih belum berpengalaman seperti Bi Lan ini tentu akan lebih tertarik melihat kekuatan yang kasar dan kelihatan dahsyat. Maka iapun menerjang sebongkah batu besar, ditendangnya sehingga batu besar itu terlempar jauh.

Suami isteri ini lalu mengamuk, menumbangkan pohon-pohon di situ, melempar-lemparkan batu besar, bahkan Wan Ceng mencabut sebatang pohon berikut akar-akarnya dan melemparkan sampai jauh. Sebentar saja, terbukalah tempat yang cukup luas, telah ditumbangkan tujuh batang pohon besar dan belasan bongkah batu.

Melihat ini, Bi Lan terbelalak lalu bertepuk tangan, tak habisnya memuji kedahsyatan sepasang suami isteri tua itu.

“Hebat, kalian hebat! Mungkin tidak kalah oleh guru-guruku dan suci!” katanya.

“Nah, engkau sudah percaya ? Sekarang kami akan berusaha mengobatimu. Duduklah bersila di sini, Bi Lan,” kata Wan Ceng. “Tempat terbuka ini akan kami jadikan tempat tinggal kami untuk sementara agar dalam waktu beberapa lama ini kami dapat mengobatimu.”

Bi Lan tidak membantah lagi dan iapun duduk bersila di atas rumput. Kakek dan nenek itu juga duduk di depan dan belakangnya, bersila seperti ia sendiri.

“Kendurkan semua urat syarafmu, dan sama sekali jangan melawan. Ingat saja bahwa kami bermaksud baik, bahwa kami kasihan kepadamu dan ingin mengobatimu,” kata Wan Ceng yang duduk di depannya.

Tiba-tiba Bi Lan merasa betapa tengkuknya ditepuk dari belakang oleh kakek itu dan iapun tidak ingat apa-apa lagi.

Kakek dan nenek yang sakti itu lalu bekerja keras. Mereka menotok jalan-jalan darah di kepala gadis itu, membuka jalan-jalan darah yang tersumbat karena akibat salah latihan, dan menempelkan telapak tangan mereka pada dada dan punggung gadis itu, menyalurkan tenaga sin-kang untuk memulihkan kesehatan di dalam dada Bi Lan.

Suling Naga