Ads

Minggu, 03 Januari 2016

Suling Naga Jilid 031

Ucapan ini saja sudah cukup bagi dua orang kakek yang lain.
“Bi-kwi,” kata Im-kan Kwi Si Iblis Akhirat, “kenapa engkau menyesatkan pelajaran silat kepada sumoimu? Engkau yang membohong bukan Siauw-kwi!”

Tiba-tiba Bi-kwi tertawa terkekeh dan memandang kepada tiga orang kakek itu dengan sikap genit.

“Perlukah suhu bertanya lagi? Tentu saja anak ini tidak becus membohong! Mana ia mampu meniru kebiasaan kita? Memang aku telah membohong. Aku iri hati kepadanya, karena ia cantik dan semakin manis saja. Aku sengaja menyelewengkan ajaran-ajaran silat itu agar ia berlatih secara keliru dan menghimpun hawa beracun di tubuhnya, agar ia mati perlahan-lahan tanpa suhu ketahui. Hi-hik, usahaku itu sudah berjalan dengan amat baiknya. Sialan, muncul pendekar brengsek dari Gurun Pasir itu yang menggagalkan segala-galanya. Akan tetapi, bagaimanapun juga, aku selalu setia kepada suhu bertiga, sedangkan sumoi ini diam-diam telah berguru kepada orang lain. Bukankah ini merupakan penghinaan bagi suhu bertiga?”

Tiga orang kakek itu kini tertawa.
”Ha-ha-ha, engkau memang murid yang baik dan membuat kami bangga! Kamu cerdik dan licik, sayang kurang beruntung sehingga gagal, Bi-kwi! Akan tetapi engkaupun murid yang sukar didapat, Siauw-kwi. Engkau berbakat sekali!”

Mendengar tiga orang gurunya memuji-muji sucinya sebagai cerdik itu, Bi Lan tidak merasa heran. Memang tiga orang suhunya ini orang-orang yang aneh, dan mungkin saja di dunia mereka, kecurangan dan kelicikan merupakan hal yang patut dibanggakan!

Sebaliknya, Bi-kwi merasa tidak senang karena merekapun memuji-muji Bi Lan.
“Sekarang suhu bertiga memilih saja, berat aku ataukah berat sumoi!” Ia menantang.

“Wah, berat semua, berat keduanya! ” Tiga orang kakek itu berkata hampir berbareng.

“Bi-kwi, jangan engkau berpendapat demikian!” Tiba-tiba Iblis Akhirat berkata. ”Ingat, tugasmu masih banyak dan berat dan engkau membutuhkan bantuan sumoimu ini. Seorang diri saja, mana kau mampu? Dan kami sudah tua. Apa artinya kami bersusah payah mendidik kalian kalau akhirnya kalian tidak mampu membuat sedikit jasa sedikitpun untuk kami? Kami selama setahun bertapa dan dengan susah payah mempersatukan diri menciptakan serangkaian ilmu silat dan kami akan mengajarkan kepada kalian agar kalian dapat bekerja sama melaksanakan tugas.”

Bi-kwi girang sekali mendengar ini dan lupalah ia akan rasa iri hati dan kebenciannya terhadap Bi Lan.

”Ah, lekaslah ajarkan ilmu itu kepadaku, suhu!”






Bi Lan hanya memandang saja. Sedikitpun ia tidak ingin mempelajari ilmu baru itu karena ilmu itu diajarkan hanya untuk ditukar dengan pelaksanaan tugas. Padahal, sebagai murid yang baik, tanpa diberi pelajaran ilmu baru sekalipun, ia siap untuk membalas budi guru-gurunya melaksanakan tugas yang betapa sukarnya sekalipun.

“Nah, kalian harus berdamai. Bi-kwi, engkau tidak boleh memusuhi sumoimu lagi. Mulai saat ini kalian harus bekerja sama, sumoimu akan menjadi pembantu yang boleh diandalkan,” kata pula Iblis Akhirat.

Bi-kwi adalah seorang yang luar biasa cerdik dan curangnya. Ia tidak melihat keuntungan kalau memusuhi sumoinya, dan memang benar, setelah sumoinya kini ternyata memiliki kepandaian yang cukup tinggi, dapat merupakan seorang pembantu yang amat baik.

”Baiklah. suhu. Sumoi, kita lupakan semua yang pernah terjadi dan mulai saat ini, kau jadilah seorang sumoi yang baik.”

Bi Lan tersenyum, akan tetapi ia tidak membantah, hanya berkata,
”Baik, suci. Asalkan engkaupun menjadi suci yang baik dan tidak menggangguku lagi.”

Bi-kwi mengangkat alisnya seperti orang terkejut.
”Eh, sejak kapan aku menjadi suci yang tidak baik? Coba ingat, kalau tidak ada ulahku, apakah engkau kini mampu menjadi orang pandai dan akan menerima pelajaran ilmu baru dari suhu-suhu kita?”

Kembali Bi Lan tersenyum. Memang keluarga suhu-suhunya itu orang-orang yang aneh sekali dan ia sendiri tidak tahu apa yang baik dan tidak baik bagi mereka. Kalau dipikirkan, memang ada benarnya juga ucapan Bi-kwi. Kalau sucinya itu tidak berbuat sejahat itu, tentu ia tidak akan bertemu dengan Pendekar Naga Sakti dan ia hanya akan menjadi sumoi dari Bi-kwi dengan kepandaian yang tentu saja jauh di bawah sucinya itu.

Melihat keduanya sudah akur, tiga orang kakek itu merasa gembira.
”Nah, kini kalian harus berlutut dan mengucapkan janji dan sumpah bahwa setelah mempelajari ilmu baru dari kami, kalian akan melaksanakan tugas dengan baik. Tugas pertama merampas kembali Liong-siauw-kiam (Pedang Suling Naga) yang terjatuh ke tangan orang yang tidak berhak. Tugas ke dua, kalian harus mewakili kami dan mengangkat diri menjadi beng-cu di antara kaum kita, dan untuk itu kalian boleh mengumpulkan bala bantuan, terutama dari Ang-i Mo-pang seperti yang pernah dilakukan oleh Bi-kwi. Setelah dapat merampas pusaka Pedang Suling Naga dan merampas kedudukan beng-cu, barulah tugas-tugas lain menyusul. Bagaimana, sanggupkah kalian dan berani berjanji dengan sumpah?”

Bi-kwi dan Bi Lan sudah berlutut, dan Bi-kwi tanpa ragu-ragu lagi berkata,
”Aku berjanji dan bersumpah untuk melaksanakan semua perintah suhu bertiga!”

“Aku berjanji akan membantu suci, terutama untuk merampas kembali pusaka Liong-siauw-kiam untuk kupersembahkan kepada ketiga suhu Sam Kwi,” kata Bi Lan.

Ia tidak tertarik dengan urusan perebutan kedudukan beng-cu, akan tetapi ia sudah mendengar dari suhu-suhunya ini, juga dari sucinya, tentang pedang pusaka yang tadinya milik susiok dari Sam Kwi dan yang kini terjatuh ke tangan orang lain.

Agaknya Sam Kwi sudah merasa puas dengan janji-janji itu dan mereka lalu mengajak kedua orang murid itu ke tengah lapangan rumput.

”Kalian ingat baik-baik,” sebagai juru bicara Sam Kwi, Iblis Akhirat berkata menerangkan, ”ilmu silat yang akan kami ajarkan ini adalah ciptaan kami bertiga selama bertapa setahun lebih dan telah kami kerjakan dengan susah payah. Ilmu ini merupakan inti dari pada ilmu-ilmu kami bertiga, digabungkan menjadi satu. Ada bagian-bagian dari ilmu kami termasuk di dalamnya, dirangkai menjadi tiga belas jurus ilmu silat yang ampuh sekali dan kami kira tidak ada bandingnya di dunia persilatan ini. Karena kami bertiga yang mencipta, maka ilmu silat ini kami namakan Sam Kwi Cap-sha-kun. Namanya sederhana, bukan? Akan tetapi keampuhannya hebat!”

Biarpun namanya sederhana dan ilmu itu hanya terdiri dari tigabelas jurus, akan tetapi kenyataannya tidak mudah untuk dipelajari. Tiga orang kakek iblis itu seorang demi seorang lalu mengajarkan ilmu silat tigabelas jurus, masing-masing ilmu silat itu memiliki dasar gerakan kaki yang sama, akan tetapi memiliki kembangan-kembangan yang berbeda.

Dua orang murid itu harus menghafalkan tiga macam ilmu silat itu sampai dapat memainkannya secara otomatis, kemudian mereka harus menggabungkan tigabelas jurus itu dalam gerakan mereka kalau berkelahi. Karena masing-masing orang memiliki daya khayal sendiri-sendiri, dan selera sendiri-sendiri, juga kecerdikan yang berbeda-beda, maka tentu saja kembangan dari penggabungan tiga macam ilmu silat dari tigabelas jurus yang memiliki dasar gerakan kaki yang sama inipun jadinya tentu berbeda-beda pula.

Biarpun Bi-kwi dan Bi Lan merupakan dua orang wanita yang amat cerdik dan besar sekali bakat mereka dalam ilmu silat, namun setelah berlatih selama setengah tahun baru keduanya dianggap telah menguasai Sam Kwi Cap-sha-kun itu.

Setelah dinyatakan lulus, tiga orang kakek itu menguji mereka satu demi satu. Dan ternyata ilmu gabungan yang dikembangkan menurut daya khayal murid-murid itu sendiri, amat hebat. Masing-masing kakek dikalahkan oleh Bi-kwi dalam waktu kurang dari limapuluh jurus saja.

Ketika tiga orang kakek itu seorang demi seorang menguji Bi Lan, gadis yang amat cerdik ini menyembunyikan kepandaian aselinya. Ia dapat mengembangkan Sam Kwi Cap-sha-kun itu dengan baik, bahkan, lebih baik dari pada sucinya, apa lagi karena di dalam ilmu baru itu secara otomatis dimasuki unsur ilmu-ilmu silat sakti yang dipelajarinya baru-baru ini dari Perdekar Naga Sakti dan isterinya namun ia tidak ingin menonjolkan diri. Ketika ia diuji, ia menjaga sedemikian rupa sehingga akhirnya iapun dapat menang dari ke tiga orang Sam Kwi dalam waktu yang lebih lama dari pada sucinya, yaitu lebih dari limapuluh jurus!

Tiga orang kakek itu girang bukan main. Dengan tigabelas jurus masing-masing, mereka ini tidak mampu menandingi murid-murid mereka yang sudah menggabungkan tiga macam ilmu silat itu. Juga Sam Kwi bukan kakek-kakek yang bodoh, melainkan jagoan-jagoan tua yang sudah banyak pengalaman. Ketika menguji tadi, mereka tahu bahwa dalam hal penggabungan tiga ilmu silat itu, Bi Lan sama sekali tidak kalah oleh Bi-kwi.

Kalau Bi Lan hanya mampu menang dari mereka lebih lama dari sucinya, hal itu terjadi karena gadis ini terlalu berhati-hati dan agaknya masih merasa sungkan untuk mengalahkan guru-guru sendiri.

Mereka sama sekali tidak tahu bahwa Bi Lan benar-benar sengaja mengalah agar dalam hal ujian itu tidak sampai melampaui atau mengalahkan sucinya. Dan akalnya ini berhasil karena Bi-kwi tersenyum-senyum puas.

Bagaimanapun juga, kini ia mempunyai senjata ilmu Sam Kwi Cap-sha-kun yang kalau dipergunakannya, lebih hebat dari pada sumoinya dan setiap waktu ia tentu akan dapat menundukkan sumoinya dengan ilmu itu! Rasa unggul dan menang ini menenangkan hatinya dan untuk sementara membuat kebenciannya berkurang!

Penonjolan diri merupakan gejala yang nampak dalam kehidupan kita pada umumnya.
Penonjolan diri ini bersemi karena keadaan, karena cara hidup masyarakat kita. Semenjak kecil kita dijejali nilai-nilai, sejak duduk di bangku Sekolah Dasar kelas satu, bahkan sejak kelas nol, di sekolah ada sistim nilai dalam bentuk angka, di rumah ada pujian-pujian dan celaan-celaan bagi yang dianggap baik dan buruk, di dalam pergaulanpun nilai-nilai ini menentukan kedudukan seseorang, dalam olah raga timbul juara-juara.

Kita hidup menjadi budak-budak setia dari nilai-nilai. Kita hidup mengejar nilai-nilai sehingga dalam olah raga sekalipun, yang dipentingkan adalah pengejaran nilai, bukan manfaat olah raganya itu sendiri bagi kesehatan tubuh. Bahkan, untuk mengejar nilai, kita lupa diri dan olah raga bukan bermanfaat lagi bagi tubuh, bahkan ada kalanya merusak, karena tubuh diperas terlalu keras untuk mengejar nilai!

Karena sejak kecil hidup di dalam masyarakat dan dunia yang tergila-gila kepada nilai, maka agaknya sudah kita anggap wajar kalau kita selalu berusaha untuk menonjolkan diri. Kalau tidak menonjol, kita merasa rendah diri, merasa hampa dan hina, merasa bodoh dan tidak diperhatikan. Karena sejak kecil sekali kita diperkenalkan dengan pujian dan celaan, maka sejak kecil sekali pula kita berusaha untuk menonjolkan diri, untuk menarik perhatian orang-orang lain, hanya karena kita sudah haus akan nilai, haus akan pujian.

Kalau diri sendiri sudah tidak memungkinkan adanya penonjolan dan penghargaan orang lain atau pujian atau kekaguman, maka kita lalu membonceng kepada kepintaran anak kita, atau teman segolongan kita, atau juga suku atau bangsa kita, bahkan banyak kita lihat penonjolan diri seseorang membonceng kepada burung perkututnya, atau mobilnya, atau bahkan membonceng kepada senjata pusaka, atau batu cincin istimewa yang tidak dimiliki orang lain. Semua itu nampak jelas kalau kita mau membuka mata mengamati keadaan diri sendiri lahir batin dan mengamati keadaan sekeliling kita.

Demikian pula halnya dengan Bi-kwi. Wanita ini tadinya merasa iri kepada Bi Lan dan membencinya. Hal itu karena penonjolan ke-aku-annya tersinggung, karena ia merasa kalah oleh Bi Lan. Akan tetapi sekarang, karena kekhawatiran akan terkalahkan oleh sumoinya itu dalam ilmu silat terbukti bahwa ialah yang lebih unggul, ia yang dapat menguasai sumoinya, perasaan iri itupun menipis dan terganti perasaan bangga dan puas!

Setelah merasa bahwa dua orang muridnya itu kini cukup boleh diandalkan untuk melaksanakan tugas mereka, Sam Kwi memanggil mereka menghadap.

”Bi-kwi dan Siauw-kwi, kami merasa puas dengan kemajuan kalian dan besok kalian kami perkenankan untuk turun gunung dan mulai dengan tugas kalian. Dan untuk kepergian kalian besok pagi, malam ini kami ingin makan bersama kalian sebagai ucapan selamat jalan dan selamat bekerja. Lekas kalian persiapkan untuk pesta kita,” kata Iblis Akhirat dan dua orang wanita itu tersenyum girang lalu membuat persiapan untuk membuat masakan.

Untuk keperluan ini, di tempat tinggal mereka itu terdapat segala macam bumbu masak. Sayur-mayur tinggal ambil di ladang belakang dan keperluan daging dapat dicari seketika di dalam hutan. Tak lama kemudian, tiga orang kakek itu bersama dua orang muridnya sudah duduk menghadapi bangku-bangku kasar dan makan bersama.

Sam Kwi nampak gembira sekali. Iblis Akhirat yang pendek bundar itu banyak tertawa gembira, memuji-muji dua orang muridnya. Bahkan Raja Iblis Hitam dan Iblis Mayat Hidup yang biasanya pendiam, malam itupun nampak tertawa-tawa. Hari telah mulai gelap ketika mereka mengakhiri malam bersama itu dan tiba-tiba Iblis Akhirat mengeluarkan sebuah guci arak yang disimpannya sendiri. Guci itu berwarna merah dan dia berkata.

“Bi-kwi dan Siauw-kwi, sebelum kita menyelesaikan pesta ini dan pergi beristirahat, kami bertiga ingin memberi ucapan selamat jalan kepada kalian dengan masing-masing dari kita menghidangkan satu cawan arak!”

Suling Naga