Ads

Minggu, 03 Januari 2016

Suling Naga Jilid 032

Bi Lan mengangkat muka memandang kakek itu, alisnya berkerut akan tetapi mulutnya tersenyum.

”Akan tetapi, suhu tahu bahwa teecu tidak pernah minum arak! Kalau suci memang biasa minum, akan tetapi teecu....“

Tiba-tiba Bi-kwi tertawa dan dengan ramah dan gembira berkata,
”Sumoi, apa salahnya sekali-kali mencobanya? Apa lagi kalau suhu-suhu kita yang menghadiahkan, harus kita terima.”

Tiga orang kakek itu sejak tadi memang sudah minum arak, wajah mereka sudah menjadi merah dan sinar mata mereka yang tertimpa sinar lampu berkilauan.

”Benar kata Bi-kwi, Siauw-kwi. Engkau harus menerima ucapan selamat jalan kami melalui arak!”

Iblis Akhirat menuangkan arak dari gucinya itu ke dalam dua buah cawan arak, lalu memberikan dua cawan itu kepada Bi-kwi dan Bi Lan.

”Dan pula arak ini bukan arak yang keras, melainkan halus dan lezat, harum dan manis. Minumlah!”

Bi-kwi sambil tersenyum sudah minum cawannya, sekali tenggak habislah arak itu memasuki perut melalui tenggorokannya. Bi Lan merasa tidak enak kalau menolak, maka ia pun minum arak itu sampai habis. Memang benar kata Iblis Akhirat. Arak itu tidak terlalu keras, harum dan agak manis.

Kini Raja Iblis Hitam dan Iblis Mayat Hidup masing-masing menyuguhkan secawan arak. Tanpa ragu lagi Bi-kwi meminumnya, diikuti oleh Bi Lan. Akan tetapi setelah menghabiskan tiga cawan arak itu, Bi Lan memejamkan mata, merasa kepalanya berat dan agak pening.

Dan tiba-tiba saja Iblis Akhirat menubruknya dari belakang dan sebelum gadis yang sama sekali tidak curiga ini maklum apa yang terjadi, gurunya itu telah menotok jalan darah di kedua pundaknya dan iapun menjadi lemas, kaki tangannya tak dapat digerakkannya lagi.

“Suhu, apa yang suhu lakukan ini?” tanyanya heran ketika kini Raja Iblis Hitam yang tinggi besar itu sudah memondong tubuhnya.

Tiga orang kakek itu tertawa dan Bi Lan melihat betapa Bi-kwi tidak pusing seperti ia. Akan tetapi sucinya itu bangkit berdiri dan memandang kepada guru-guru mereka dengan alis berkerut. Anehnya, sucinya itu juga memandang kepadanya dengan sinar mata penuh kebencian, mengingatkan ia akan sikap sucinya pada waktu yang sudah-sudah.






“Ha-ha-ha, Siauw-kwi. Engkau belum menjadi Iblis Cilik yang sesungguhnya sebelum menjadi milik kami. Malam ini kau harus melayani kami bertiga, baru engkau benar-benar lulus ujian dan menjadi murid kami yang baik seperti Bi-kwi.”

Bi Lan terbelalak. Biarpun ia kurang pengalaman dan kurang pergaulan, namun nalurinya membisikkan apa arti ucapan gurunya itu. Ia sudah tahu akan keadaan sucinya, yang selain menjadi murid terkasih, juga sucinya itu kadang-kadang tidur dengan guru-gurunya! Karena sudah terbiasa oleh watak Sam Kwi dan Bi-kwi yang aneh-aneh, maka iapun tidak perduli. Akan tetapi sekarang, agaknya tiga orang gurunya yang seperti iblis itu hendak mengorbankan dirinya pula!

“Tidak....! Tidak....!” Ia berseru dengan perasaan ngeri. ”Aku tidak mau! Sampai matipun aku tidak mau!”

Tiga orang kakek itu saling pandang, kemudian Iblis Akhirat tertawa dan baru sekali ini Bi Lan mendengar suara ketawa itu sebagai suara yang amat menyeramkan dan baru sekarang ia melihat betapa wajah tiga orang kakek itu mengerikan dengan sinar mata mereka yang menakutkan pula. Baru sekarang ia melihat betapa buruk dan jahatnya tiga orang gurunya ini.

“Heh-heh-heh, Siauw-kwi. Sikapmu begini sungguh tidak pantas, seolah-olah engkau bukan murid kami saja! Sekali waktu, sebagai seorang wanita, engkau tentu akan mengalami hal itu, dan tidak ada kehormatan yang lebih besar dari pada melayani guru-gurumu seperti Bi-kwi!”

“Tidak! Aku lebih baik mati! Suhu bertiga boleh bunuh aku, akan tetapi aku tidak sudi....!”

Bi Lan berteriak-teriak dan berusaha untuk meronta, akan tetapi tangannya tak dapat ia gerakkan. Dalam kengerian dan rasa takutnya, juga ia merasa heran dan tak dapat dimengerti mengapa tiga orang suhunya yang tadinya menyayangnya seperti cucu sendiri, kini tahu-tahu berobah seperti tiga ekor serigala yang hendak menerkamnya. Hampir ia tidak percaya dan meragukan apakah ia tidak berada dalam sebuah mimpi buruk.

“Engkau tidak akan mati, akan tetapi melayani kami malam ini, mau atau tidak mau!” tiba-tiba Raja Iblis Hitam membentak dan hal ini juga mengejutkan hati Bi Lan.

Di dalam suara ini lenyaplah semua getaran kasih sayang seperti yang biasa ia rasakan dari guru-gurunya ini, yang ada hanya getaran nafsu yang menjijikkan.

“Tinggal pilih, melayani kami dengan suka rela atau harus kami perkosa!” bentak pula Iblis Mayat Hidup dan sepasang mata kakek kurus kering ini yang biasanya sudah mencorong itu kini bertambah seperti ada api menyala di dalamnya.

Bi Lan terkejut bukan main, mukanya pucat dan kedua matanya tanpa disadarinya menjadi basah oleh air mata. Ia tidak melihat jalan keluar dan ia sudah tidak berdaya. Kini terbukalah matanya dan baru ia tahu bahwa tiga orang gurunya itu benar-benar bukan manusia lagi, melainkan tubuh-tubuh yang sudah dirasuki roh-roh jahat yang tidak segan melakukan kejahatan dalam bentuk apapun juga.

“Ha-ha-ha, tak perlu menangis, Siauw-kwi. Kami hanya akan memberi suatu kehormatan kepadamu, membuatmu dewasa. Sepatutnya kau berterima kasih, bukan menangis. Dan yang dikatakan mereka tadi benar. Mau tidak mau engkau harus melayani kami malam ini. Tentu saja kami menghendaki engkau melayani kami dengan suka rela. Kami beri waktu selagi kami memuaskan diri minum arak untuk mempertimbangkan. Kalau engkau tetap menolak, terpaksa kami akan melakukan kekerasan dan hal itu sungguh amat tidak menyenangkan,” kata Iblis Akhirat sambil tersenyum, akan tetapi bagi Bi Lan, senyumnya tidak ramah lagi melainkan seperti iblis menyeringai.

”Bi-kwi, bawa ia ke dalam kamar dan jaga baik-baik sampai kami bertiga selesai minum. Dan heh-heh, jangan khawatir, engkaupun akan mendapat bagian dari kami!”

Bi-kwi mengangguk dan mencengkeram punggung baju Bi Lan, lalu dijinjingnya tubuh Bi Lan seperti orang menjinjing seekor keledai yang akan disembelih. Bi-kwi nampak diam saja karena menghadapi peristiwa yang akan menimpa diri sumoinya, ia tadi termenung dan berpikir keras. Tentu saja ia tidak perduli kalau sumoinya diperkosa oleh ketiga orang guru mereka, tidak perduli apa yang akan menimpa diri sumoinya yang tidak disukanya.

Akan tetapi, di dalam menghadapi setiap peristiwa, Bi-kwi selalu memperhitungkan dan mencari kalau-kalau ada hal yang akan dapat menarik keuntungan bagi dirinya sendiri. Ia membayangkan bahwa kalau sumoinya sampai diperkosa oleh tiga orang gurunya, maka mulai saat itu sumoinya telah menduduki tempat yang lebih tinggi lagi, menjadi kekasih tiga orang gurunya. Dan sebagai seorang wanita yang sudah banyak pengalamannya dalam mengenal watak pria dalam hal ini, ia membayangkan betapa setelah memperoleh yang baru dan yang muda, tiga orang gurunya tentu akan mengesampingkan dirinya.

Dengan demikian, maka dalam mengambil hati guru-gurunya, ia akan kalah pula oleh sumoinya! Jadi, kalau sumoinya sampai menjadi korban Sam Kwi, walaupun pada mulanya ia merasa puas bahwa sumoi itu menderita malapetaka itu, namun pada akhirnya sumoinya yang akan mendapat keuntungan dan ia malah menderita rugi!

Maka ia lalu membayangkan hal sebaliknya dan mencari kemungkinan agar ia memperoleh keuntungan sebanyaknya dari hal sebaliknya itu. Sumoinya sekarang adalah seorang yang cukup lihai, mungkin hanya kalah sedikit olehnya, kalah dalam hal ilmu baru Sam Kwi Cap-sha-kun itu saja. Dengan demikian berarti bahwa sumoinya dapat menjadi pembantunya yang amat berharga, menjadi pembantunya yang tenaganya boleh diandalkan. Dan ia merasa betapa perlunya tenaga seperti itu. Sudah banyak ia mencari pembantu, bahkan Tee Kok ketua Ang-i Mo-pang dapat ditarik menjadi pembantunya, akan tetapi kepandaian orang itu bersama kekuatan anak buahnya belum dapat diandalkan benar.

Kalau ia dapat menguasai sumoinya, kalau sumoinya mau membantunya dengan sungguh-sungguh dalam usaha merampas kembali Liong-siauw-kiam, tentu hasilnya lebih dapat diharapkan. Dengan kasar ia lalu melemparkan tubuh sumoinya yang tak mampu bergerak itu ke atas pembaringan, lalu iapun duduk di dekatnya.

”Hemm, dapatkah kau membayangkan apa yang akan dilakukan oleh tiga orang tua bangka itu terhadap tubuhmu? Tubuhmu yang muda dan mulus itu akan digeluti, akan dinodai dan dipermainkan sampai mereka bertiga puas! Setelah mereka selesai engkau sudah akan rusak sama sekali dan tidak mungkin dapat dipulihkan kembali! Engkau akan merasa terhina, muak dan jijik, akan tetapi setiap kali mereka menghendaki, engkau harus merangkak kepada mereka, seperti anjing kelaparan! Senangkah hatimu membayangkan itu semua?”

Air mata sudah jatuh berderai dari kedua mata Bi Lan ketika ia mendengar ucapan sucinya itu. Ia tidak mampu mengeluarkan suara, hanya menggeleng kepala berkali-kali dengan perasaan ngeri terbayang pada wajahnya. Akan tetapi, ia tahu bahwa sucinya tidak akan mau menolongnya, maka percuma sajalah andaikata ia akan minta tolong juga.

Agaknya pikirannya ini dapat diduga oleh Bi-kwi.
“Hayo katakan! Hayo bilang bahwa kau minta tolong padaku!”

Bi Lan berbisik,
”Tidak ada gunanya. Engkau tentu bahkan akan mengejekku. Engkau tentu girang melihat keadaanku, engkau tentu puas karena melihat aku yang kau benci ini mengalami penderitaan hebat....“

“Hemmm, belum tentu,” kata Bi-kwi. ”Lihat sumoi macam apa engkau ini, baru aku akan mengambil keputusan. Tak perlu kusangkal, memang aku tidak suka kepadamu, sumoi, karena kehadiranmu hanya merugikan aku. Akan tetapi, kalau saja engkau dapat berguna bagiku, tentu saja aku tidak ingin melihat engkau celaka. Ada budi ada balas, tentu engkau mengerti, bukan?”

“Apa.... apa maksudmu?”

“Maksudku, kalau engkau mau melakukan sesuatu untukku, tentu akupun mau melakukan sesuatu untukmu. Ada budi ada balas!”

“Apa yang harus kulakukan dan apa yang akan kau lakukan?”

“Misalnya, engkau berjanji untuk membantuku mati-matian dan sekuat tenaga untuk merampas Liong siauw-kiam, kemudian membantuku sampai aku berhasil menjadi beng-cu....“

“Bukankah itu tugas kita?”

“Tadinya memang begitu, akan tetapi kalau engkau mau berjanji melakukan itu untuk aku, bukan untuk suhu, nah, misalnya engkau mau berjanji melakukan itu, mungkin aku mau membebaskan totokanmu dan mengajakmu lari sekarang juga.”

Berdebar rasa jantung di dalam dada Bi Lan. Inilah satu-satunya kesempatan. Dan menjanjikan seperti yang diminta sucinya itu bukan berarti berjanji untuk melakukan hal-hal yang tak disukainya.

“Baiklah, suci, aku berjanji.”

“Sumpah?”

“Sumpah!”

“Baik, tanpa janji dan sumpah sekalipun, kalau engkau mengingkari, setiap waktu aku akan dapat membunuhmu,” kata Bi-kwi dan iapun cepat membebaskan totokan dari tubuh Bi Lan, kemudian mengajak sumoi itu untuk diam-diam melarikan diri melalui jendela.

Tiga orang kakek yang menaruh kepercayaan sepenuhnya kepada Bi-kwi, tidak menduga sama sekali dan mereka masih enak-enak minum arak sambil main tebak jari untuk menentukan siapa pemenang pertama, ke dua dan ke tiga yang berhak menggauli Bi Lan lebih dahulu.

Setelah minum arak cukup banyak, arak yang tadi disuguhkan Bi Lan, tidak mengandung racun atau pembius, melainkan arak yang tua dan amat keras sehingga tadi Bi Lan yang tidak biasa minum arak itu menjadi pening dan setengah mabok.

Tiga orang kakek itu lalu sambil tertawa-tawa masuk ke dalam dan menghampiri kamar Bi Lan dengan harapan bahwa murid mereka itu akan menyambut mereka dengan suka rela sehingga mereka tidak perlu mempergunakan paksaan, seperti yang terjadi pada Bi-kwi dahulu.

Dapat dibayangkan betapa heran dan juga marah hati mereka ketika melihat betapa kamar itu sudah kosong. Bi-kwi maupun Siauw-kwi tidak nampak bayangannya lagi! Tanpa mencaripun tahulah mereka bahwa kedua orang murid itu telah pergi tanpa pamit.

Mereka lalu duduk berunding.
“Tidak mungkin Siauw-kwi membebaskan sendiri totokannya. Aku yang melakukan totokan dan dalam waktu sedikitnya tiga jam ia tidak akan dapat bebas, kecuali kalau ada yang membebaskannya,” kata Raja Iblis Hitam penasaran.

“Dan yang dapat membebaskannya hanyalah Bi-kwi, satu-satunya orang yang berada di sini.”

“Akan tetapi Bi-kwi tidak akan mengkhianati kita.”

“Mungkin Bi-kwi hanya iri dan tidak ingin melihat kita mendekati sumoinya, maka ia membebaskannya dan mengajak sumoinya pergi tanpa pamit melaksanakan tugas mereka.”

“Itu lebih tepat. Mereka tentu akan melaksanakan tugas mereka dan mereka hanya ingin menghindarkan apa yang kita kehendaki malam ini.”

“Akan tetapi bagaimana kalau mereka benar-benar mengkhianati kita? Habislah harapan kita dan hancurlah semua jerih payah kita.”

“Ah, kita tidak perlu bingung,” akhirnya Iblis Akhirat berkata.”Hanya ada dua hal yang akan terjadi. Pertama, mereka tidak berkhianat dan hanya menghindarkan maksud kita terhadap Siauw-kwi. Kalau benar demikian dan mereka kelak pulang, masih belum terlambat untuk mendapatkan Siauw-kwi yang manis. Ke dua, kalau benar mereka itu berkhianat, kita cari mereka dan kita bunuh mereka.”

“Bagus, dan kita sudah terlalu lama menganggur di sini, mari kita pergi mencari mereka dan menyelidiki apa yang mereka lakukan.”

Demikianlah, pada keesokan harinya, tanpa tergesa-gesa, tiga orang kakek iblis itupun turun dari Thai-san untuk mencari dua orang murid mereka.

**** 032 ****
Suling Naga