Ads

Minggu, 03 Januari 2016

Suling Naga Jilid 033

Dengan cerdik Bi Lan dapat mengambil Ban-tok-kiam ketika ia diajak pergi oleh sucinya malam itu, dengan alasan bahwa ia hendak kembali sebentar mengambil pakaiannya. Bi-kwi menanti di bawah puncak tanpa curiga dan dengan menyembunyikan pedang itu di balik bajunya, Bi Lan mengikuti sucinya yang membawanya lari menuju ke selatan.

Perjalanan ini mendatangkan kegembiraan besar di dalam hati Bi Lan. Sejak kecil, dalam usia sepuluh tahun, ia telah ikut bersama Sam Kwi yang membawanya tinggal di gunung-gunung dan di tempat-tempat sunyi. Jarang Bi Lan memperoleh kesempatan bergaul dengan orang lain dan ia hanya mengenal keadaan dunia melalui cerita tiga orang gurunya dan sucinya saja.

Paling banyak, ketika ia masih ikut suhu-suhunya, ia melihat dusun-dusun dan bertemu dengan penduduk dusun dan pegunungah yang hidup sederhana. Oleh karena itu setelah kini melakukan perjalanan bersama Bi-kwi, memasuki kota-kota besar, Bi Lan merasa gembira sekali, gembira dan penuh keliaran memandangi rumah-rumah besar di dalam kota, toko-tokonya dan keramaian kota. Mulai teringat pulalah kehidupan di dunia ramai yang ditinggalkan semenjak ia berusia sepuluh tahun itu.

Kenyataan yang mengejutkan hati Bi Lan adalah ketika ia melihat kerusakan-kerusakan dan bekas kehancuran sebagai akibat pemberontakan-pemberontakan di selatan, juga ia harus menahan perasaannya ketika ia dan sucinya memasuki kota-kota besar, ia melihat betapa pandang mata kaum pria yang ditujukan kepada ia dan sucinya, hampir semua mengandung kekurang ajaran dan nafsu berahi yang menjijikkan. Ia melihat seolah-olah kaum pria itu, sebagian besar, memiliki mata serigala yang melihat kelinci-kelinci montok lewat di depan hidung mereka!

Bi Lan adalah seorang gadis berusia tujuhbelas tahun lebih. Walaupun pengalamannya dengan kaum pria dapat dikata nol, akan tetapi naluri kewanitaannya dapat menangkap semua pandang mata kaum pria itu yang membuat gadis ini selain heran juga terkejut dan tidak enak, merasa canggung dan ngeri, seolah-olah dikepung bahaya.

Akan tetapi, jauh di dalam batinnya terdapat pula suatu perasaan aneh, perasaan bangga dan senang yang dengan keras ditutupnya. Ia tidak tahu bahwa semua perasaan wanita, semenjak ia dewasa, sama dengan perasaannya itu.

Sudah menjadi watak pria yang sesuai dengan naluri dan kejantanan mereka untuk tertarik apa bila melihat wanita muda yang cantik, dan pandang mata mereka selalu akan menempel pada penglihatan itu seperti bubuk-bubuk besi menempel pada semberani sehingga pandang mata mereka mengandung kekaguman dan kemesraan.

Dan justeru naluri alamiah wanita adalah butuh akan kekaguman dari kaum pria ini. Tidak ada wanita yang tidak merasa bangga, dan senang dikagumi pandang mata pria, walaupun hukum-hukum kesopanan dan kesusilaan memaksa wanita itu pura-pura tak senang, atau bahkan marah, atau setidaknya akan menyimpan rasa bangga dan senang ini jauh di dalam hatinya sendiri sebagai suatu rahasia pribadinya. Inilah sebabnya mengapa wanita paling mudah jatuh menghadapi rayuan-rayuan mulut manis dari para pria petualang asmara mempergunakan kelemahan wanita ini untuk menjatuhkannya dengan rayuan-rayuan dan pujian-pujian.






Bi-kwi mengajak Bi Lan memasuki Propinsi Yunan di selatan. Pada waktu itu, pemberontakan telah dapat dipadamkan dan Propinsi Yunan sudah menjadi tenang dan tenteram kembali. Rakyat di daerah itu yang paling parah menderita akibat perang pemberontakan, telah kembali ke daerah masing-masing. Yang kehilangan rumah kini mulai membangun kembali dari bawah dan biarpun masih nampak bekas reruntuhan akibat perang, namun agaknya para penghuninya sudah merupakan peristiwa menyedihkan itu dan tidak lagi terbayang ketakutan pada wajah mereka.

Pada suatu pagi, tibalah dua orang wanita itu di kota Kun-ming yang merupakan kota terbesar di Propinsi Yunan. Karena dalam perjalanan itu Bi-kwi memilih jalan terdekat, maka jarang mereka melewati kota besar, hanya dusun-dusun dan kota-kota kecil, maka begitu memasuki kota besar Kun-ming di selatan ini, Bi Lan memandang penuh kekaguman. Ia masih ingat bahwa keluarga orang tuanya juga datang dari Yunan selatan.

Ketika perjalanannya membawanya tiba di Propinsi Yunan, mendengar suara percakapan orang-orang di dusun-dusun yang dilewatinya saja sudah mendatangkan keharuan di hatinya, mendatangkan keyakinan bahwa memang ia berasal dari Yunan. Ia mengenal betul logat bahasa daerah Yunan, walaupun ia sendiri kini sudah berlogat lain, namun logat bahasa selatan itu tidak asing baginya, bahasa orang tuanya, bahasanya ketika ia masih kecil.

Hari itu masih pagi, akan tetapi jalan-jalan raya di kota Kun-ming sudah ramai oleh mereka yang pergi ke pasar-pasar. Banyak toko yang masih tutup, akan tetapi toko-toko yang sudah buka merupakan penglihatan yang mendatangkan kagum dam heran di hati Bi Lan. Berkali-kali ia bertanya kepada Bi-kwi arti tulisan-tulisan yang terpampang di depan toko-toko atau rumah-rumah besar sehingga Bi-kwi menghardiknya untuk diam karena ia merasa jengkel harus menerangkan sejak tadi arti tulisan-tulisan yang hanya merupakan nama-nama dari toko yang mereka lewati atau kata-kata reklame toko untuk menarik langganan.

Memang Bi Lan seorang gadis buta huruf, ia hanya puteri seorang petani yang tidak sempat menyekolahkannya, dan sejak berusia sepuluh tahun ia ikut dengan Sam Kwi, tiga orang datuk sesat yang sama sekali tidak perduli akan pendidikannya, bahkan menganggap bahwa melek huruf merupakan hal yang tidak ada gunanya bagi wanita! Akan tetapi Bi-kwi sempat mempelajari baca tuiis walaupun hanya secara sederhana.

Ketika mereka melewati sebuah rumah makan besar yang sudah buka, hidung mereka dilanggar bau masakan yang sedap dan perut mereka segera memberi isyarat bahwa sejak kemarin siang mereka belum makan apa-apa. Bi-kwi memberi isyarat kepada sumoinya dan merekapun melangkah ke arah restoran itu.

Bi Lan tersenyum girang.
”Wah, kalau yang ini tak perlu kauceritakan, suci. Aku tahu bahwa di sini tentu dijual makanan enak.”

Mau tak mau Bi-kwi tersenyum juga.
”Engkau memang gadis tolol. Tak perlu banyak bertanya, lihat saja dan kau tentu akan mengerti sendiri.”

Seorang pelayan menyambut dua orang tamu ini dan wajahnya tersenyum gembira ketika dia melihat bahwa tamu-tamunya adalah dua orang wanita yang cantik-cantik dan manis-manis. Dia memandang dengan sinar mata penuh selidik. Seorang wanita berusia tigapuluh tahunan, berpakaian mewah dan indah, sinar matanya genit, wajahnya manis dan bertambah cantik oleh riasan muka, seorang wanita yang matang dan menarik.

Orang ke dua adalah seorang yang jelas merupakan seorang gadis yang baru mekar, berpakaian sederhana sekali, bahkan mukanya tanpa bedak, akan tetapi kulit muka itu jauh lebih halus dan mulus dibandingkan dengan wanita pertama, dan bentuk tubuh gadis belasan tahun itu demikian ramping seolah-olah pinggangnya dapat dilingkari empat jari tangan si pelayan.

“Selamat pagi, nona-nona. Apakah ji-wi hendak sarapan?”

Bi-kwi mengangguk.
“Silahkan masuk, ji-wi siocia, silahkan duduk.”

Pelayan itu membawa mereka ke sebuah meja di sudut, di mana para pelayan dan pengurus rumah makan dapat melihat mereka dengan jelas, sebaliknya tempat ini menyenangkan hati Bi-kwi karena di sini ia dapat duduk sambil melihat ke semua penjuru, juga ke arah jalan raya di depan restoran.

Tidak banyak tamu di restoran itu sepagi ini. Hanya ada lima meja yang terisi, di antara tigapuluh lebih meja di ruangan yang cukup luas itu. Bi-kwi lalu memesan makanan dan minuman. Bi Lan tak pernah membuka mulut, membiarkan sucinya yang memesan makanan apa saja karena ia tidak tahu harus memilih apa. Akan tetapi ia teringat akan minuman dan berbisik.

“Suci, aku minum teh saja, teh panas.”

Mendengar ini, pelayan itu tersenyum lebar dan memandang kepada Bi Lan sambil mengangguk.

”Kami terkenal dengan teh kami yang harum, nona.”

Bi-kwi mengangkat mukanya dan memandang wajah pelayan itu. Sinar matanya menyambar seperti dua batang anak panah dan muka yang tadinya menyeringai dalam senyum ramah itu segera berobah dan si pelayan menunduk dan membungkukkan tubuhnya. Dia terkejut melihat sepasang mata yang jeli itu seperti berapi, dan tahu bahwa wanita itu marah, maka dia tidak berani lagi bersikap main-main.

“Apakah arakmu juga sebaik tehmu?” tanya Bi-kwi ketus.

Pelayan itu membungkuk-bungkuk.
”Tentu, tentu.... nyonya, arak kami....“

“Brakk!”

Bi-kwi menggebrak meja sehingga pelayan itu terkejut. Bi Lan menahan ketawanya karena geli melihat sikap sucinya dan pelayan itu.

“Suci bukan nyonya, masih nona,” katanya karena ia dapat menduga mengapa sucinya marah-marah disebut nyonya.

“Oh.... eh.... nyo.... nona, maafkan saya” melihat si pelayan menjadi gagap gugup, Bi Lan tertawa.

Suara ketawanya bebas lepas, tanpa menutupi mulutnya karena ia memang tak pernah diajar sopan santun seperti orang-orang kota, seperti wanita-wanita yang dianggap sopan menutupi mulut kalau tertawa. Hal ini tentu saja menarik perhatian para tamu lain yang duduk di situ dan merekapun menengok, lalu ikut tersenyum melihat betapa seorang gadis, agaknya gadis dusun, tertawa begitu gembira.

“Sumoi, diam kau!” Bi-kwi mendesis dan Bi Lan menahan ketawanya. ”Dan kau jangan cerewet dan ceriwis!” bentak Bi-kwi kepada si pelayan. ”Cepat sediakan teh panas, arak baik dan nasi, daging panggang dan dua mangkok sayur yang paling enak!”

Kini pelayan itu tidak berani banyak lagak lagi. Dia membungkuk-bungkuk.
”Baik, nona, baik, nona....“

Akan tetapi saking gugupnya, ketika dia meninggalkan meja itu dan menghampiri meja pengurus untuk melaporkan pesanan, dia lupa berapa banyak sayuran yang dipesan Bi-kwi, maka dengan muka kecut terpaksa dia menghampiri lagi meja dua orang wanita itu.

Hal ini tak lepas dari perhatian Bi Lan yang merasa betapa orang ini lucu sekali.
“Maaf, nona. Tadi.... pesanan sayurnya berapa banyak?”

Bi-kwi sudah hampir menghardiknya, akan tetapi didahului oleh Bi Lan yang membentak dengan wajah tersenyum geli.

”Dua mangkok!”

Bentaknya nyaring, mengejutkan si pelayan dan kembali menarik perhatian para tamu. Setelah si pelayan pergi, Bi-kwi mengomel kepada sumoinya.

“Tak perlu engkau tertawa dan berteriak-teriak seperti itu. Apakah kau ingin menarik perhatian orang-orang?”

“Maaf, nyo.... eh, nona....”

Bi Lan menirukan suara dan gaya si pelayan sehingga Bi-kwi terpaksa menyeringai gemas. Bi Lan adalah seorang gadis yang pada hak dasarnya memiliki dasar watak gembira dan lincah jenaka. Kalau tadinya ia bersikap aneh, hal itu adalah karena ulah sucinya yang memberi pelajaran yang menyesatkan sehingga pikirannya bingung dan agak berobah.

Akan tetapi setelah ia menerima pengobatan dari Pendekar Naga Sakti dan isterinya, dan sembuh sama sekali dari pengaruh hawa beracun, dasar wataknya itupun muncul kemba!i. Maka, setelah ia berada di dalam kota dan merasa gembira dapat melihat daerah asalnya, kegembiraannya timbul dan melihat ulah pelayan yang demikian lucu, iapun segera menggodanya.

Tak lama kemudian, pelayan itu datang membawa makanan dan minuman yang dipesan, dan Bi Lan segera menikmati hidangan itu. Memang nikmat, karena selama ini di puncak Thai-san, ia makan masakannya sendiri dan masakan sucinya yang sederhana sekali, asal sudah diberi garam, cukuplah.

Dengan lirikan ujung matanya, Bi Lan melihat betapa seorang pemuda yang duduk di sudut ruangan itu, sejak tadi kadang-kadang melirik ke arah mejanya. Pemuda ini belum tua benar, paling banyak duapuluh tahun. Seorang pemuda yang berwajah cerah dan tampan, namun amat sederhana, baik perawatan muka dan rambutnya yang dikuncir tebal itu maupun pakaiannya yang hanya terbuat dari kain kasar berwarna biru dan sepatunya dari kulit. Pemuda itu makan bakmi dengan sumpitnya, dan cara makannya juga sopan, tanda bahwa pemuda itu bukan orang yang suka ugal-ugalan walaupun pakaiannya tidak menunjukkan bahwa dia seorang terpelajar.

Di atas mejanya terdapat sebuah buntalan yang agak panjang, mungkin terisi pakaian dan ini saja menandakan bahwa pemuda itu tentu seorang pendatang dari luar kota pula, bukan penduduk di situ dan agaknya dia baru saja masuk kota, terbukti dari bekal pakaian yang masih dibawanya, seperti juga Bi Lan dan Bi-kwi sendiri yang menaruh buntalan pakaian mereka di atas meja.

Juga Bi Lan melihat betapa sucinya beberapa kali mengerling ke arah pemuda itu dan karena inilah sebetulnya maka ia menjadi tertarik dan ikut-ikut melirik. Dari sikap sucinya, ia dapat menduga bahwa sucinya sudah kambuh pula penyakitnya, yaitu penyakit mata keranjang. Tentu sucinya naksir pemuda tampan itu, pikirnya dan kembali ada perasaan tidak enak menekan hatinya. Sejak dahulu, melihat watak sucinya, ia merasa muak dan tidak senang. Akan tetapi karena hal itu adalah urusan pribadi sucinya, iapun pura-pura tidak tahu dan tidak ingin mencampurinya pula.

Suling Naga