Ads

Selasa, 05 Januari 2016

Suling Naga Jilid 041

Sore hari itu, setelah mandi dan berganti pakaian, Bi Lan diberitahu oleh pelayan bahwa hidangan telah disediakan dan bahwa ia diharapkan oleh tuan rumah untuk makan malam di ruangan makan.

Bi Lan mengikuti pelayan wanita itu dan memasuki sebuah ruangan yang bersih dan indah, di mana telah dipersiapkan hidangan di atas meja bundar yang cukup besar. Bau masakan yang masih panas menyambut hidungnya dan tiba-tiba saja Bi Lan merasa betapa perutnya amat lapar.

Oleh pelayan wanita ia dipersilahkan duduk. Tak lama Bi Lan menanti karena segera terdengar langkah-langkah orang dan ketika ia menengok, mukanya menjadi merah sekali melihat betapa sucinya datang bersama tuan rumah dalam suasana yang amat akrab dan mesra!

Sucinya tersenyum-senyum, bergandengan tangan dengan Bhok Gun dan menggerakkan kepala menengadah, memandang pria itu dengan sinar mata penuh kasih. Ia bergantung kepada lengan Bhok Gun dengan sikap manja dan mesra, seperti pengantin baru saja! juga pakaian sucinya itu baru dan berbau harum ketika sudah tiba dekat. Tanpa diberitahupun maklumlah Bi Lan bahwa telah terdapat persetujuan dan kecocokan antara sucinya dan ketua baru Ang-i Mo-pang itu!

Mereka berdua duduk bersanding, berhadapan dengan Bi Lan dan Bi-kwi yang lebih dulu membuka suara berkata kepada sumoinya,

“Siauw-kwi, kami telah bersepakat untuk saling bantu, dan memang antara kami masih ada ikatan keluarga seperguruan. Sute Bhok Gun dan aku mau bekerja sama dan engkau menjadi pembantu kami.”

“Benar, sumoi Can Bi Lan, mulai sekarang aku adalah suhengmu. Kita berdua harus mentaati semua perintah suci Ciong Siu Kwi,” kata pula Bhok Gun dengan senyum manis kepada Bi Lan.

Diam-diam hati Bi Lan menjadi geli mendengar namanya dan nama sucinya disebut dengan lengkap. Sambil tersenyum geli ia menoleh kepada sucinya. Agaknya Bi-kwi maklum akan isi hati sumoinya, maka iapun berkata dengan nada suara sungguh-sungguh,

“Sumoi, kita tidak lagi tinggal bersama tiga orang suhu kita dan sute tidak suka mendengar sebutan Bi-kwi dan Siauw-kwi. Bagaimanapun juga, kalau kelak kita menjadi orang-orang berkedudukan tinggi, segala sebutan jelek itu harus ditinggalkan dan mulai sekarang kita harus belajar menjadi orang sopan.”

Hati Bi Lan menjadi semakin geli.
“Suci, apakah ini berarti bahwa mulai sekarang engkau juga tidak akan melakukan hal-hal yang jahat lagi?”






Bi-kwi dan Bhok Gun saling bertukar pandang, lalu Bhok Gun yang menjawab,
“Sumoi, apa sih yang dimaksudkan dengan perbuatan jahat itu? Dia tidak pernah melakukan perbuatan jahat, yang kita lakukan adalah perbuatan yang menguntungkan diri sendiri. Bukankah ini sudah benar dan tepat? Kita berbuat untuk memperebutkan sesuatu yang baik dan menguntungkan untuk diri kita, untuk kehidupan kita. Kalau perlu kita singkirkan siapa saja yang manjadi penghalang kita.”

Bi Lan sudah hafal akan pendapat seperti itu, pendapat yang selalu ditanamkan oleh Sam Kwi, bahkan semua orang di dunia hitam atau golongan sesat.

“Maksudku bukan itu, suci,” katanya, tetap kepada Bi-kwi karena ia masih enggan harus bicara kepada laki-laki yang mengaku suhengnya dan yang matanya memiliki sinar seperti hendak menelanjanginya itu.

“Biasanya suci tidak perduli akan segala sopan santun, akan tetapi sekarang mendadak hendak merobah cara hidup. Sungguh lucu nampaknya,” katanya sambil tersenyum.

“Sudahlah, engkau masih terlalu muda untuk tahu akan urusan penting,” kata Bi-kwi.

“Mari kita makan, perutku sudah lapar sekali!”

Mereka lalu makan minum dan dua orang yang sedang berkasih-kasihan itu menyelingi makan minum itu dengan tingkah dan ucapan-ucapan mesra, kadang-kadang saling suap dengan sumpit mereka. Tentu saja hal ini membuat Bi Lan merasa canggung sekali dan ia menundukkan muka saja sambil makan dengan amat hati-hati.

Pengalamannyaa ketika ia diloloh arak oleh tiga orang suhunya, kemudian ditawan oleh Sam Kwi membuat ia berhati-hati dan sedikitpun tidak mau menyentuh arak. Ia tidak khawatir akan racun yang dicampurkan makanan atau minuman karena ia pernah mempelajari tentang racun dari Iblis Mayat Hidup yang ahli racun sehingga ia dapat menolak kalau sampai makanan atau minuman itu dicampuri racun.

Maka ia hanya makan makanan yang telah dimakan oleh tuan rumah, dan ia sama sekali tidak mau minum arak setetespun. Ia tidak melihat, karena selalu menundukkan muka, betapa Bi-kwi dan Bhok Gun kadang-kadang mengamatinya dengan pandang mata penuh selidik dan sikapnya yang hati-hati itu agaknya diketahui pula oleh mereka.

Bi Lan sama sekali tidak tahu bahwa tadi, di dalam kamar Bhok Gun, ketika beristirahat dari kegiatan mereka untuk “saling mengenal” atau melihat apakah mereka dapat “bekerja sama”, dua orang itu telah menyinggung namanya, bahkan membicarakan tentang dirinya dengan serius.

“Agaknya sumoimu itu tidak suka padamu, atau tidak begitu cocok, bahkan nampaknya bercuriga terhadap kita,” kata Bhok Gun.

“Memang antara aku dan ia tidak ada kecocokan. Aku juga heran mengapa Sam Kwi mau mengambil anak macam itu sebagai murid mereka yang ke dua. Hemm, anak itu kelak hanya akan mendatangkan pusing saja bagiku.”

“Hemm, suci yang baik, kalau memang begitu, kenapa tidak dari dulu-dulu kau bunuh saja sumoi yang tiada guna itu?”

Bi-kwi menarik napas panjang dan mengerutkan alisnya.
“Ah, kau kira aku begitu bodoh? Memang ada keinginan itu di hatiku, akan tetapi aku selalu tidak memperoleh kesempatan yang baik. Ketika ia masih kecil, aku yang disuruh melatihnya. Aku tidak dapat membunuhnya karena Sam Kwi kelihatan sayang kepadanya. Aku akan mendapat marah besar kalau ketika itu kubunuh. Aku lalu melatihnya, akan tetapi sengaja kuselewengkan sehingga ia tidak dapat mempelajari ilmu silat yang benar, melainkan kacau balau, bahkan latihan sin-kang yang kuselewengkan membuat ia hampir gila.”

“Bagus sekali! Ha-ha, engkau sungguh cerdik mengagumkan sekali!”

Bhok Gun demikian kagum dan girang sehingga dia menghadiahkan beberapa ciuman mesra kepada Bi-kwi yang membalasnya dengan takkalah bersemangatnya. Sejenak mereka lupa akan percakapan tadi, akan tetapi ketika teringat kembali, Bhok Gun bertanya,

“Lalu mengapa ia kini tidak kelihatan seperti gila lagi?”

Kembali Bi-kwi menarik napas panjang. Biasanya, wanita ini tidak pernah memperlihatkan perasaan hatinya. Akan tetapi kini ia berada dalam keadaan santai dan suasana mesra, maka iapun seperti wanita biasa yang diombang-ambingkan antara suka dan duka, puas dan kecewa tanpa pengendalian diri sama sekali.

“Entah ia terlalu beruntung ataukah aku yang terlalu sial. Ketika Sam Kwi sedang bertapa untuk menciptakan ilmu baru, aku memperoleh kesempatan sepenuhnya terhadap diri Siauw-kwi. Ia sudah hampir gila karena latihan yang salah. Akan tetapi tiba-tiba saja ia menjadi sembuh dan setelah kuselidiki, ternyata ia bertemu dengan suami isteri yang telah mengobatinya!” Bi-kwi mengepal tangan kanannya dengan gemas. “Dan aku tidak dapat berbuat apa-apa terhadap mereka!”

“Eh?” Bhok Gun mengangkat alisnya, memandang heran. Kalau kekasihnya ini sampai tidak mampu melakukan sesuatu, tentu suami isteri itu bukan orang sembarangan. “Siapakah mereka?”

“Si Naga Sakti Gurun Pasir dan isterinya.”

“Ohhh....!”

Sepasang mata Bhok Gun terbelalak dan tentu saja dia pernah mendengar nama pendekar yang sudah seperti nama dalam dongeng itu karena dunia kang-ouw hanya mengenal namanya tanpa pernah melihat orangnya.

“Akan tetapi, apakah setelah itu engkau tidak dapat membunuhnya? Kulihat ia melakukan perjalanan bersamamu, berarti engkau mempunyai banyak kesempatan.”

Bi-kwi menggeleng kepala.
“Kami berdua mempelajari ilmu baru dari Sam Kwi. Kulihat ia telah menguasai ilmu-ilmu kami, dan ia dapat merupakan seorang pembantu yang cukup lihai. Mengingat akan cita-citaku, aku merasa bahwa dari pada membunuhnya, lebih baik menjadikan ia sebagai pembantuku untuk merampas Liong-siauw-kiam dan kedudukan bengcu. Dan ia sudah berjanji untuk membantuku.”

“Akan tetapi, bukankah sekarang ada aku!”

Bi-kwi mengangguk dan meraba dagu laki-laki itu.
“Memang, sekarang ada engkau. Sebaiknya kita bunuh saja anak itu, karena kurasa kelak ia hanya akan menjadi penghalang bagi kita. Wataknya berbeda sekali dengan kita, dan ia tidak pantas menjadi murid Sam Kwi. Bahkan ada kecondongan hatinya untuk memihak musuh-musuh kita, para pendekar. Ia berlagak menjadi pendekar agaknya. Hatinya lemah.”

Bhok Gun mengangguk-angguk, kemudian berkata dengan hati-hati,
“Bagaimanapun juga, apakah tenaga yang demikian baiknya harus dimusnahkan begitu saja? Ingat, sekarang ini, untuk mencapai cita-cita kita, kita membutuhkan banyak tenaga yang kuat dan lihai. Dan kurasa sumoimu itu merupakan tenaga yang amat berharga.”

Bi-kwi mengangguk-angguk.
“Itulah sebabnya aku belum membunuhnya sampai sekarang. Ia telah menguasai semua ilmu Sam Kwi, dan agaknya hanya sedikit selisih tingkatnya dengan tingkatku. Akan tetapi kalau tidak dibunuh dan kemudian ia berdiri di pihak yang menentang kita, bukankah hal itu akan merugikan?”

“Orang-orang pandai jaman dahulu berkata bahwa api adalah musuh yang amat berbahaya akan tetapi dapat menjadi pembantu yang amat menguntungkan. Kurasa demikian pula dengan sumoimu Can Bi Lan itu. Kalau kita pandai mempergunakan, bukan membunuhnya melainkan menundukkannya dan ia dapat membantu kita, bukankah hal itu menguntungkan sekali?”

Sepasang mata wanita itu memandang dengan tajam penuh selidik, lalu bibirnya berjebi.

“Huh, laki-laki di manapun sama saja! Aku tahu apa yang terbayang dalam pikiranmu yang kotor itu!”

Bhok Gun tersenyum lebar dan merangkul Bi-kwi, menciumnya dengan mesra sehingga wanita itu dapat tersenyum kembali.

“Aihh, benarkah seorang seperti engkau ini masih dapat cemburu?”

“Siapa yang cemburu!”

Bi-kwi membentak. Memang, ia tidak pernah merasa cemburu. Baginya, mempunyai kekasih bukan berarti mengikatkan diri ia boleh bebas memilih pria, sebaliknya iapun tidak akan melarang kekasihnya mendekati wanita lain. Kalau memang masih sama suka, tentu tidak akan menoleh kepada orang lain.

“Akan tetapi, Sam Kwi juga tadinya berusaha untuk menggagahi sumoi agar dapat menundukkan hatinya yang keras. Akan tetapi aku mencegah dan melarikan sumoi, karena dengan demikian ia akan berhutang budi dan untuk membalasnya, ia sudah berjanji untuk membantuku.”

“Akan tetapi sekarang engkau ragu-ragu karena sikapnya yang seperti hendak menentang kita. Habis, bagaimana baiknya? Dibunuh kau tidak setuju. Kutaklukkan ia kau pun tidak setuju.”

“Bukan tidak setuju, hanya aku sangsi akan hasilnya. Andaikata engkau mampu menundukkannya dan menggagahinya, aku tidak yakin ia akan mau tunduk. Bahkan mungkin ia akan merasa sakit hati, mendendam dan memusuhi kita. Orang macam ia amat mementingkan kehormatan seperti para pendekar. Kecuali kalau ia mau menyerahkan diri dengan tulus dan suka rela kepadamu....”

“Hal itu bisa diusahakan! Aku memiliki modal cukup untuk itu, bukan? Kalau ia kurayu, kuperlakukan dengan baik, aku tidak percaya akhirnya ia tidak akan bertekuk lutut dan menyerahkan diri.”

Dalam hal ini, Bhok Gun tidak membual karena memang sudah tak terhitung banyaknya wanita yang jatuh oleh rayuannya ditambah ketampanan dan kelihaiannya.

“Hemm, jangan sombong kau! Sumoiku adalah seorang perawan yang selama hidupnya belum pernah berdekatan dengan pria dan agaknya belum siap untuk menyerahkan diri kepada seorang pria.”

“Ha-ha-ha, justeru yang masih hijau itulah yang paling mudah. Kau lihatlah saja, dalam waktu satu dua hari saja ia tentu akan jatuh ke dalam pelukanku dan selanjutnya menjadi boneka yang akan mentaati segala perintahku.”

“Kita sama lihat saja.”

Suling Naga