Ads

Selasa, 05 Januari 2016

Suling Naga Jilid 042

Demikianlah rencana yang diatur oleh Bi-kwi dan Bhok Gun. Usia mereka sebenarnya sebaya, dan mungkin Bi-kwi lebih tua satu dua tahun. Bukan karena usia maka Bi-kwi minta disebut suci oleh ketua Ang-i Mo-pang itu, melainkan sebutan itu membuat ia merasa bahwa ia lebih unggul dan lebih menang dalam tingkat dan kedudukan.

“Sumoi, pertemuan antara kita sungguh merupakan peristiwa yang amat menggembirakan, bukan? Siapa mengira bahwa aku akan bertemu dengan suci dan sumoi, dua orang saudara seperguruan. Kalau tidak melihat gerakan-gerakan silat kalian, tentu aku tidak akan pernah menduga. Bahkan dengan ketiga orang guru kalianpun yang masih terhitung paman-paman guruku, belum pernah aku bertemu.”

Bi Lan mengangguk, lalu berkata sambil melirik ke arah sucinya.
“Bagi suci tentu amat menggembirakan karena kalian dapat bekerja sama untuk merampas kembali pedang pusaka Suling Naga, dan dapat bersama-sama merebut kedudukan bengcu. Akan tetapi aku yang tidak mempunyai keinginan apa-apa, tidak ada artinya.”

“Eh, kenapa begitu, sumoi?” Bhok Gun berseru sambil tersenyum, memasang senyumnya yang paling menarik. “Bagiku, kegembiraan ini besar sekali, bukan karena kalian yang menjadi saudara-saudara seperguruanku amat lihai, akan tetapi juga kalian merupakan dua orang gadis yang amat cantik jelita seperti bidadari!”

“Hi-hik, sute Bhok Gun ini ganteng dan pandai merayu, bukan, sumoi? Senang sekali punya saudara seperguruan seperti dia ini!”

Bi Lan hanya tersenyum simpul saja mendengar ucapan sucirya itu, tanpa menjawab, akan tetapi diam-diam mukanya berubah agak merah karena percakapan itu, puji memuji ketampanan dan kecantikan, asing baginya.

“Suci dan sumoi, perkenankanlah aku memberi ucapan selamat datang kepada kalian dan terimalah hormatku dengan secawan arak!”

Bhok Gun lalu menuangkan arak dari sebuah guci merah ke dalam dua buah cawan dan dia menyerahkan dua cawan itu kepada Bi Lan dan Siu Kwi. Setan Cantik itu cepat menyambar cawan arak suguhan Bhok Gun, akan tetapi Bi Lan menolak.

“Aku tidak biasa minum arak, biarlah aku minum teh ini saja,” katanya sambil mengangkat cangkir teh.

“Aih, sumoi yang manis. Pemberian secawan arak ini merupakan penghormatan dariku, biarpun engkau tidak biasa minum arak, apa salahnya sekarang minum satu dua cawan untuk merayakan pertemuan yang menggembirakan ini? Terimalah, sumoi."






Bi Lan tetap menolak.
“Tidak, suheng. Aku tidak biasa dan minum sedikit saja tentu akan mabok. Aku sudah mendapatkan pengalaman yang pahit sekali dengan minum arak dan mabok, dan aku tidak mau mengulangnya lagi”.

Bhok Gun melirik ke arah Siu Kwi dan tertawa, suara ketawanya lantang dan sepasang matanya bersinar sinar.

“Ha-ha-ha, sumoi yang jelita. Maksudmu tentulah pengalaman minum arak, mabok dan hendak diperkosa oleh tiga orang gurumu? Ha-ha, akan tetapi aku bukan Sam Kwi, sumoi. Aku takkan melakukan hal yang keji itu. Bagiku, cinta harus dilakukan dengan suka rela, bukan paksaan.”

“Suka rela atau paksaan, aku tidak sudi!”

Bi Lan berkata ketus dan iapun bangkit berdiri dan melangkah hendak meninggalkan ruangan makan itu, kembali ke kamarnya.

Akan tetapi dengan beberapa loncatan saja Bhok Gun sudah menghadang di depannya dan laki-laki ini lalu memberi hormat dengan menjura dalam-dalam, merangkap kedua tangan di depan dada.

“Maaf, ah, apakah engkau tidak dapat memaafkan aku, sumoi Aku memang suka berkelakar dan kalau tadi aku mengeluarkan kata-kata yang menyinggung perasaan hatimu yang halus, maafkanlah aku. Maafkanlah aku sebagai tuan rumah, juga sebagai suheng yang menyayang sumoinya dan menghormati tamunya. Aku tidak akan mengulang lagi tentang minum arak.”

Melihat pria itu bersikap dengan sopan dan demikian menghormat, Bi Lan merasa tidak enak kalau melanjutkan kemarahannya. Apa lagi mendengar sucinya tertawa terkekeh dan berkata,

“Aiihh, sumoi, apakah mendadak saja engkau menjadi seorang yang suci dan tidak dapat menghadapi kelakar dan godaan? Hi-hik, kami berdua agaknya malah kedahuluan olehmu. Kami belum biasa hidup sopan santun seperti yang diminta sute, engkau malah agaknya sudah menjadi orang sopan yang tidak sudi mendengar kelakar nakal, hi-hik.”

Bi Lan terpaksa kembali ke tempat duduknya dan dengan sikap serius ia berkata, ditujukan kepada sucinya, tidak langsung kepada Bhok Gun walaupun kepada pria itulah sebenarnya ucapannya ditujukan,

“Aku tidak perduli akan kelakar atau apa saja, akan tetapi asal tidak menyangkut diriku. Kalau menyangkut diriku, aku tidak sudi orang bersikap kurang ajar kepadaku, siapapun juga orang itu.”

“Maaf, sumoi, aku sama sekali tidak berani kurang ajar kepadamu, Dan kalau ada seorang laki-laki berani kurang ajar kepadamu, akulah yang akan menghajarnya. Engkau adalah sumoiku yang cantik jelita, manis dan sopan, aku harus menjagamu baik-baik.”

“Hi-hik, masih perawan lagi, selamanya belum pernah bersentuhan dengan pria, bukankah begitu, sumoi?” kata Bi-kwi mengejek.

“Ah, kalau begitu sumoi Can Bi Lan adalah seorang dara yang bagaikan setangkai bunga masih bersih dan suci, tak pernah terjamah tangan, tak pernah tersentuh kumbang, harus makin dijaga baik-baik,” kata Bhok Gun yang sengaja bersikap baik untuk mencari muka.

Akan tetapi dasar dia seorang gila perempuan, ucapan-ucapannya itu malah membuat Bi Lan merasa tidak enak walaupun itu merupakan pujian. Ia tidak mau mencampuri ucapan-ucapan mereka itu dan melanjutkan makan minum yang tadi belum selesai.

“Hemm, aku sih tidak ingin menjadi kembang yang belum tersentuh kumbang, tidak ingin menjadi dara atau perawan murni yang belum pernah berdekatan dengan pria, aku tidak mau tidur sendiri kedinginan. Aku ingin kehangatan setiap saat....” kata pula Bi-kwi dan iapun bangkit dari tempat duduknya, merangkul Bhok Gun dan mencium bibir pria itu dengan penuh napsu.

Bhok Gun tersenyum dan maklum akan maksud kekasih barunya ini, yaitu untuk membangkitkan rangsangan dan berahi dalam hati Bi Lan. Maka diapun membalas ciuman itu dan keduanya lalu bercumbu, berangkulan dan berciuman begitu saja di depan Bi Lan, tanpa malu-malu lagi bahkan mereka sengaja melakukan cumbuan-cumbuan yang tidak sepantasnya diperlihatkan orang lain. Bhok Gun menggunakan sumpitnya menggigit sepotong daging dan secara pamer sekali dia menyuapkan daging itu dari mulutnya ke mulut Bi-kwi yang menerimanya sambil terkekeh genit.

Dapat dibayangkan betapa besar rasa malu menekan batin Bi Lan. Selamanya belum pernah ia melihat adegan-adegan seperti itu, dalam mimpipun belum. Biarpun ia tahu bahwa sucinya adalah juga kekasih tiga orang gurunya dan mereka melakukan hubungan suami isteri. Namun tiga orang gurunya tidak pernah mencumbu sucinya itu di depannya.

Dan iapun tahu bahwa sucinya seringkali menculik dan memaksa pemuda-pemuda tampan untuk menggaulinya, namun hal inipun terjadi di luar tahunya. Baru sekarang ia melihat sucinya bercumbu sebebas itu dengan seorang pria di depannya. Tadinya ia hanya menundukkan muka sambil makan dan tidak sudi memandang, akan tetapi suara-suara cumbuan itu masih saja menusuk telinganya dan akhirnya iapun bangkit berdiri.

Tak dapat ia bertahan lebih lama lagi. Bukan karena suara-suara dan pandangan-pandangan itu dianggapnya tidak sopan dan cabul, karena semenjak kecil ia digembleng oleh tiga orang guru yang berjuluk Tiga Iblis, yang tidak mengenal sama sekali tentang sopan santun, dan hanya karena memang nalurinya yang halus saja Bi Lan tidak terseret, akan tetapi yang membuat ia tidak dapat bertahan adalah karena adegan itu mendatangkan suatu perasaan yang membuatnya takut sendiri. Perasaan yang belum pernah dirasakannya sebelumnya. Yang membuatnya berdebar-debar dan menimbulkan perang di dalam batinnya.

Di satu pihak, ada suara hatinya membisikkan bahwa perbuatan yang dilakukan dua orang di depannya itu sama sekali tidak patut dilihat atau didengar, akan tetapi perasaan lain membuat ia ingin sekali melihat dan mendengarkan dengan diam-diam. Hal inilah yang menakutkan hatinya dan membuat ia tidak dapat bertahan lagi, lalu ia bangkit berdiri.

“Aku.... aku mau beristirahat dulu di kamarku,” tanpa menanti jawaban dua orang yang masih saling rangkul dan saling berciuman itu iapun meninggalkan mereka dan memasuki kamarnya, menutupkan daun pintu keras-keras. Ia tidak tahu betapa dua orang itupun menghentikan permainan mereka.

“Hemm, kurasa usaha kita hampir berhasil,” kata Bhok Gun lirih.

“Hi-hik, ia mulai panas dingin. Kau memang hebat, sute. Akan tetapi awas, kalau sampai engkau berhasil kemudian lebih mementingkan sumoi dan mengesampingkan aku, kau akan kubunuh!”

Bhok Gun tersenyum dan merangkulnya.
“Heh heh, cemburu lagi?”

“Tidak cemburu, akan tetapi ia masih dara, masih perawan murni. Laki-laki tentu lebih suka dan setelah mendapatkan yang muda, lalu melupakan yang tua.”

“Hemm, aku bukan pria seperti itu. Aku lebih menyukai buah yang sudah matang dari pada yang masih hijau dan mentah. Kalau aku menaklukkannya, bukan karena ingin mendapatkan yang hijau dan mentah, melainkan demi kelancaran usaha kita, bukan? “

“Nah, mari teruskan menggodanya sampai ia jatuh,” kata Bi-kwi dan sambil bergandeng tangan mereka lalu menuju ke kamar mereka yang berada di samping kamar yang ditinggali Bi Lan, hanya terpisah dinding kayu di mana terdapat sebuah pintu tembusan yang tertutup.

Dengan jantung masih berdebar dan kedua pipi kemerahan, mukanya terasa panas Bi Lan memasuki kamarnya. Apa yang dilihatnya dan didengarnya di depannya tadi, di ruangan makan, benar-benar membuat hatinya tidak karuan rasanya. Rasa kedewasaannya tersentuh dan ada dorongan amat kuat dan aneh yang membuat ia ingin mengetahui lebih banyak tentang hubungan antara pria dan wanita. Gairahnya timbul, keinginan untuk mengetahui, mengalami.

Akan tetapi kesadarannya bahwa Bhok Gun adalah seorang laki-laki yang tidak baik, yang tidak mendatangkan rasa suka di hatinya, membuat ia menolak keras dan hatinya sudah mengambil keputusan bahwa kalau kelak tiba saatnya harus melayani pria, mencurahkan hasrat yang bernyala-nyala di dalam hatinya dan di seluruh syaraf tubuhnya itu dengan seorang pria, maka pria itu bukan Bhok Gun dan tidak seperti Bhok Gun!

Rasa tidak suka kepada Bhok Gun ini menolong dan meredakan gelora batinnya yang dibakar oleh gairah berahi yang wajar dari seorang dara yang mulai bangkit dewasa. Karena tadi tubuhnya tidak karuan rasanya, Bi Lan melempar tubuhnya ke atas pembaringan tanpa berganti pakaian, tanpa membuka sepatu. Ia menelungkup dan perlahan-lahan mulai menenteramkan hatinya yang bergelora.

Tiba-tiba perhatiannya tertarik oleh suara orang di kamar sebelah. Langkah dua orang disusul ketawa cekikikan dari sucinya! Bi Lan mengangkat kepalanya dengan hati-hati agar jangan sampai mengeluarkan bunyi.

Sucinya dan Bhok Gun memasuki kamar itu, kamar sebelah yang hanya terpisah dinding kayu. Baru langkah kaki mereka saja dapat terdengar oleh pendengarannya yang terlatih dan amat tajam. Apa lagi suara-suara lain. Tanpa melihat saja Bi Lan dapat mendengar betapa mereka berkecupan, betapa mereka berdua menjatuhkan diri di atas pembaringan, berbisik-bisik, terkekeh dan terutama sekali suara erangan kemanjaan dari mulut sucinya terdengar jelas.

Kembali jantung Bi Lan berdebar keras, lebih hebat dari pada tadi. Api yang tadinya sudah hampir dapat dipadamkannya itu kini berkobar lagi, mendatangkan gairah rangsangan yang membuatnya gelisah. Ia bangkit duduk, otaknya dijejali gambaran-gambaran yang terbentuk oleh pendengarannya. Agaknya dua orang di sebelah itu mengumbar napsu mereka tanpa dikendalikan lagi.

“Ssttt, suci.... jangan keras-keras, nanti terdengar sumoi di sebelah,” terdengar suara Bhok Gun berbisik, akan tetapi dapat didengar oleh Bi Lan dengan jelas sekali.

“Kalau dengar mengapa? Iapun seorang wanita, ia berhak untuk menikmati. Kalau ia mau, sebaiknya kalau engkau yang memberi pelajaran kepadanya tentang hubungan pria dan wanita, sute. Dari pada ia belajar dari laki-laki lain yang tak dapat dipercaya!

“Ah, mana ia mau?” terdengar laki-laki itu berkata lagi, sementara jantung di dalam dada Bi Lan berdebar semakin keras.

“Bodoh kalau ia tidak mau. Kenapa malu-malu? Aku membolehkan kalian bermain cinta, bukankah kalian masih saudara seperguruanku sendiri? Suatu waktu ia tentu akan menyerahkan tubuhnya kepada seorang pria, untuk yang pertama kali, untuk menjadi gurunya yang pandai dan berpengalaman, mengapa tidak engkau, sute?”

Suling Naga