Ads

Selasa, 05 Januari 2016

Suling Naga Jilid 043

Api yang berkobar di dalam dada Bi Lan semakin besar dan gadis ini cepat bersila dan bersamadhi mengumpulkan kekuatan batin seperti yang pernah ia pelajari dari Pendekar Naga Sakti Gurun Pasir dan isterinya. Ia masih mendengar percakapan dua orang itu yang makin memberi bujukan tak langsung kepadanya dan mendengar mereka bercumbu, akan tetapi kini batinnya menjadi tenang karena cara bersamadhi itu dan ia dapat menguasai napsunya sendiri yang membakar.

Ia menjadi marah. Agaknya sucinya dan Bhok Gun sengaja, pikirnya. Mereka berada itu tentu maklum bahwa ia yang berada di kamar sebelah akan mampu mendengar semua percakapan dan perbuatan mereka. Akan tetapi mereka itu agaknya sengaja hendak menjatuhkannya dengan rayuan dan pembangkitan gairah napsunya. Bi Lan lalu menyambar buntalan pakaiannya, kemudian berkata dengan suara lantang,

“Suci dan suheng, aku akan pergi meninggalkan tempat ini sekarang juga!”

Suara dua orang di kamar sebelah itu tiba-tiba terhenti dan pintu tembusan itupun terbuka. Kiranya dua orang itu masih berpakaian lengkap dan semakin yakin hati Bi Lan bahwa mereka tadi hanya bermain sandiwara dengan tujuan tertentu, yaitu membangkitkan napsu berahinya agar mudah dilalap oleh Bhok Gun tanpa memperkosanya, melainkan memaksanya melalui pembakaran nafsu berahi agar ia dapat menyerahkan diri dengan suka rela kepada Bhok Gun. Semua nampak jelas olehnya dan Bi Lan menjadi semakin marah.

“Sumoi, apa yang kau katakan tadi? Kau mau pergi? Ke mana?” teriak Bi-kwi, mengerutkan alisnya karena mulai marah melihat betapa sumoinya itu sama sekali tidak dapat dibujuk.

“Suci, aku mau pergi sekarang juga.”

“Kenapa?”

“Bukan urusanmu.”

“Bukan urusanku? Eh, bocah sombong, apa engkau sudah lupa akan janjimu kepadaku? Apakah engkau sudah lupa bahwa tanpa bantuanku, sekarang engkau sudah bukan perawan lagi, sudah dilalap oleh Sam Kwi dan mungkin sudah mampus?”

“Suci! Aku sudah berjanji untuk mencari pusaka Liong-siauw-kiam. Dan aku akan menepati janji itu. Aku akan pergi mencari pusaka itu dan kalau sudah dapat, akan kuserahkan kepadamu.”

“Dan perebutan bengcu?”






“Kelak kalau sudah tiba saatnya engkau memperebutkan kedudukan bengcu, aku akan membantumu seperti pernah kujanjikan. Aku tidak akan melanggar janji.”

“Tapi ke mana kau hendak mencari pusaka itu?”

“Ke mana saja, akan tetapi tidak bersamamu!”

Bi-kwi marah bukan main. Akan tetapi Bhok Gun sudah melangkah maju dan dengan senyum menarik dia berkata,

“Sumoi, kalau engkau merasa sungkan bicara di depan suci, mari kita bicara empat mata di tempat terpisah. Maukah engkau? Mari, sumoi....”

Laki-laki ini sudah merasa yakin bahwa siasatnya menggairahkan dan membangkitkan berahi dara itu tentu berhasil dan kini agaknya dara itu sudah tidak kuat lagi bertahan, maka dengan dalih hendak pergi sebetulnya hendak menjauhkan diri dan kalau mungkin bicara berdua saja dengannya karena tentu saja merasa malu terhadap sucinya. Dia sama sekali tidak tahu bahwa justeru dara itu telah tahu akan siasatnya dan karenanya marah dan benci bukan main padanya.

“Aku bukan sumoimu dan kau tidak perlu merayuku. Suci mungkin mudah kau bujuk akan tetapi jangan harap aku akan suka melihat mukamu!”

Berkata demikian, Bi Lan sudah meloncat keluar dari kamar itu dan terus melarikan diri keluar dari rumah.

“Siauw-kwi, tunggu....!”

Bi-kwi mengejar, disusul pula oleh Bhok Gun. Ketika tiba di pintu gerbang rumah perkumpulan itu, ada belasan orang anak buah Ang-i Mo-pang sudah menghadang di situ dengan senjata di tangan. Mereka ini diam-diam sudah menerima perintah Bhok Gun bahwa kalau dara itu hendak pergi dari situ tanpa perkenan agar dihalangi.

Melihat belasan orang berseragam merah itu menghadang di jalan, dan obor-obor dipasang di kanan kiri pintu gerbang yang menunjukkan bahwa orang-oran ini agaknya memang telah siap siaga, Bi Lan membentak,

“Minggir kalian!”

Akan tetapi, tigabelas orang itu tidak mau minggir, bahkan melintangkan senjata mereka dengan sikap mengancam. Mereka semua takut terhadap Bi-kwi, akan tetapi nona ini, biarpun katanya sumoi dari Bi-kwi, tidak mereka takuti, apa lagi mereka menerima perintah dari Bhok Gun dan Bi-kwi sendiri untuk merintangi nona itu pergi dari situ.

“Keparat, minggir!”

Bi Lan membentak marah, sekali ini sambil membentak ia menerjang maju. Empat orang terdepan menggerakkan senjata untuk menyerang karena mereka sudah menerima perintah bahwa kalau nona itu nekat menyerbu, mereka boleh menyerangnya.

Akan tetapi, gerakan Bi Lan cepat bukan main, juga kaki tangannya bergerak dengan tenaga dahsyat sehingga sebelum ada di antara empat senjata itu yang mengenai tubuh Bi Lan, lebih dahulu empat orang itu sudah terpelanting ke kanan kiri sambil mengaduh-aduh dan senjata mereka beterbangan terlepas dari tangan.

Hebat bukan main bekas kaki tangan Bi Lan karena empat orang itu tidak mampu bangkit kembali, ada yang patah tulang kaki, tangan atau iganya, bahkan seorang di antara mereka yang kena ditempiling kepalanya roboh untuk tidak bangkit kembali karena kepalanya retak-retak!

Para anggauta Ang-i Mo-pang terkejut dan marah, dan mereka segera mengeroyok. Akan tetapi, tentu saja mereka itu bukan apa-apa bagi Bi Lan dan begitu gadis itu bergerak dengan cepat, tubuh-tubuh terpelanting dan roboh. Biarpun kini banyak anggauta Ang-i Mo-pang yang datang berlarian dan mengeroyok, namun mereka itu seperti sekumpulan nyamuk menyerbu api lilin saja.

Sebentar saja belasan orang sudah roboh berserakan dan Bi Lan meloncat dan menerobos keluar dari pintu gerbang. Akan tetapi, ternyata Bhok Gun sudah berada di depannya di luar pintu gerbang itu. Wajahnya yang tampan itu tersenyum menyeringai, akan tetapi sepasang matanya mencorong penuh ancaman, bengis dan kejam.

“Adikku yang lihai dan manis, memang kepandaianmu hebat. Akan tetapi, bukankah dengan kita bertiga, maka semua pekerjaan akan dapat dilakukan lebih mudah lagi? Sumoi, sebelum terlambat, kembalilah dan mari kita bekerja sama.”

“Aku tidak sudi bekerja sama denganmu!” bentak Bi Lan.

“Siauw-kwi, engkau tidak boleh pergi. Aku melarangmu!” Tiba-tiba Bi-kwi sudah muncul dan berdiri di samping Bhok Gun.

“Kalau aku nekat pergi?” Bi Lan menantang dengan suara dingin dan pandang mata marah.

“Aku akan membunuhmu!” bentak Bi-kwi.

Bi Lan tersenyum, bukan senyum buatan, melainkan senyum pahit karena marah. Kini setelah ia hidup di luar lingkungan pengaruh tiga orang gurunya, ia tahu bahwa ia harus dapat berdiri di atas kaki sendiri, harus berani menempuh segala bahaya seorang diri dan tidak mengandalkan siapapun juga.

“Hemm, ucapan itu sama sekali tidak mengejutkan aku, suci, karena kalau kau akan membunuhku, bukan merupakan hal baru bagiku. Sejak dulupun, sejak aku masih kecil, kalau ada kesempatan, tentu engkau sudah membunuhku. Jangan menakut-nakuti aku dengan ancaman itu. Kalau memang kau mampu, buktikan omongan itu, karena aku tidak takut padamu!”

Ciong Siu Kwi atau Bi-kwi memang tidak pernah suka kepada sumoinya itu. Sejak pertama kali bertemu dan mendengar bahwa Bi Lan diambil murid oleh Sam Kwi, ia sudah membenci dan hendak membunuh sumoi yang dianggap saingannya itu. Apalagi setelah Bi Lan makin besar dan nampak cantik manis, ia menjadi semakin benci dan kalau saja ada kesempatan memang sudah sejak dahulu ia membunuh Bi Lan. Dan sekaranglah saat itu tiba.

Sam Kwi tidak berada di situ dan di sampingnya ia telah memperoleh seorang pembantu yang amat baik, lebih baik dan lebih menyenangkan dari pada Bi Lan, yaitu Bhok Gun. Tidak ada lagi gunanya membiarkan Bi Lan hidup lebih lama lagi. Maka, mendengar ucapan Bi Lan yang menantangnya, ia menjadi marah bukan main.

“Hiaaaatttt....!”

Ia mengeluarkan suara melengking nyaring dan tubuhnya sudah bergerak cepat ke depan, tangan kirinya menyambar dengan pukulan Ilmu Kiam-ciang yang membuat tangannya berubah kuat dan dapat membabat benda keras setajam pedang, juga lengannya dapat mulur panjang.

Kiam-ciang adalah ilmu andalan dari Sam Kwi, dan Iblis Mayat Hidup merupakan ahli yang paling lihai di antara Sam Kwi dalam penggunaan Kiam-ciang. Sedangkan lengan mulur itu adalah ilmu yang didapat dari Hek Kwi Ong atau Raja Iblis Hitam. Hebatnya bukan main serangan tangan pedang dengan lengan yang dapat mulur itu.

“Hemmm....!”

Tentu saja Bi Lan mengenal baik serangan ini dan iapun melangkah mundur dua tindak sambil mengerahkan tenaga dan tangan kanannya bergerak menangkis dengan ilmu yang sama, dan dengan pengerahan tenaga sin-kangnya yang lebih kuat karena ia sudah digembleng oleh pendekar Naga Sakti Gurun Pasir.

Dua lengan bertemu dan terdengar suara nyaring seperti bertemuna dua senjata dari baja saja, dan akibatnya tubuh Bi-kwi terdorong mundur dua langkah. Akan tetapi Bi-kwi yang sudah maklum akan kekuatan sumoinya itu, tidak menjadi kaget melainkan sudah cepat menyerang lagi, kini mengeluarkan jurus dari Sam Kwi Cap-sha-kun, yaitu tigabelas jurus ilmu silat baru ciptaan terakhir dari tiga orang datuk Sam Kwi itu.

Angin pukulan yang amat dahsyat menyambar-nyambar, sampai terasa oleh para anggauta Ang-i Mo-pang yang berdiri agak jauh sehingga mereka ini terkejut dan ketakutan lalu mundur menjauh.

Memang hebat bukan main ciptaan terakhir Sam Kwi itu, ciptaan gabungan mereka bertiga yang sudah diolah matang ketika mereka mengasingkan diri. Bhok Gun sendiri memandang kagum karena dia sendiri tentu akan kewalahan kalau menghadapi serangan ilmu yang dahsyat itu.

Akan tetapi tentu saja Bi Lan tidak menjadi gentar menghadapi serangan ilmu ini karena ia sendiri pun sudah melatih diri dengan ilmu ini selama setengah tahun, bersama sucinya itu. Dan dalam hal melatih ilmu ini, ia tidak kalah oleh sucinya, bahkan ia dapat menguasai ilmu itu lebih sempurna setelah ia menjadi murid Pendekar Naga Sakti Gurun Pasir selama setengah tahun.

Karena itu, menghadapi serangan Bi-kwi, iapun hapal benar akan semua gerakan dan perubahan Ilmu Sam Kwi Cap-sha-kun itu maka ke manapun Bi-kwi menyerang, pukulan-pukulannya selalu dapat tertangkis membalik seperti menyerang dinding baja saja.

Bahkan ketika Bi Lan membalas dengan jurus terampuh dari ilmu itu, Bi-kwi hampir tidak dapat menahannya karena ternyata ia kalah kuat dalam tenaga sin-kangnya. Ia terhuyung dan kalau Bi Lan menghendaki, selagi ia terhuyung itu tentu saja Bi Lan akan dapat mengirim serangan susulan. Akan tetapi Bi Lan tidak melakukan hal itu, melainkan meloncat hendak meninggalkan sucinya. Akan tetapi pada saat itu, Bhok Gun sudah menerjangnya dengan pukulan yang mendatangkan bunyi berdesing.

Bi Lan terkejut dan maklum bahwa pukulan ini adalah pukulan sakti semacam Kiam-ciang yang amat berbahaya, maka iapun segera menggunakan keringanan tubuhnya untuk mengelak ke kiri dan sambil mengelak, kakinya melakukan tendangan Pat-hong-twi. Ilmu Tendangan Pat-hong-twi (Delapan Penjuru Angin) ini merupakan ilmu andalan Im-kan Kwi atau Iblis Akhirat dan kini berbalik Bhok Gun yang terkejut karena kalau tadi dia menyerang, kini tendangan yang datangnya bertubi-tubi itu membuat keadaan menjadi terbalik karena dialah yang kini didesak!

Akan tetapi, Bi-kwi sudah menerjang lagi membantu Bhok Gun sehingga Bi Lan dikeroyok dua. Begitu dikeroyok dua, Bi Lan segera terdesak. Bi-kwi selalu mengimbanginya dengan ilmu silat yang sama sehingga semua serangan Bi Lan menemui jalan buntu, sedangkan Bhok Gun menyerangnya selagi kedudukannya tidak menguntungkan, maka tentu saja ia mulai terdesak dan terus mundur mendekati pintu gerbang lagi. Agaknya dua orang itu hendak memaksanya kembali memasuki pintu gerbang.

Bi Lan maklum bahwa kalau ia mempergunakan ilmu-ilmu yang didapatkannya dari Sam Kwi, ia tidak akan mampu menang. Semua ilmunya tentu akan dipunahkan oleh Bi-kwi, sedangkan Bhok Gun menyerangnya dengan ilmu lain yang belum dikenalnya.

Suling Naga