Ads

Selasa, 05 Januari 2016

Suling Naga Jilid 044

Dalam keadaan terdesak itu, Bi Lan teringat akan ilmu silat yang dipelajarinya secara rahasia dari suami isteri dari Istana Gurun Pasir. Tiba-tiba saja ia mengeluarkan suara melengking nyaring dan ketika tubuhnya meluncur ke depan, dua orang pengeroyoknya terkejut sekali. Mereka seolah-olah diserang oleh seekor naga yang meluncur turun dari angkasa. Mereka adalah orang-orang yang telah mewarisi ilmu-ilmu silat yang tinggi, maka mereka cepat mengelak sambil mengibaskan tangan untuk menangkis.

Namun, tetap saja hawa pukulan dari Sin-liong Ciang-hwat yang ampuh itu membuat mereka terdorong dan terhuyung ke belakang! Bukan main hebatnya Sin-liong Ciang-hwat yang diajarkan oleh Pendekar Naga Sakti Gurun Pasir Kao Kok Cu kepada gadis itu.

“Haiiittt....!”

Tiba-tiba Bhok Gun juga berteriak dan nampak sinar merah ketika dia mengebutkan sehelai saputangan merah. Saputangan ini mengandung debu pembius yang berwarna kemerahan dan dapat membuat orang menjadi pingsan kalau menyedotnya.

Begitu saputangan itu dikebutkan, ada debu merah menyambar ke arah muka Bi Lan Akan tetapi gadis ini bukan seorang yang bodoh. Ia sudah banyak mengenal kelicikan dan kecurangan yang biasa dipergunakan di dunia kaum sesat, maka begitu melihat sinar merah saputangan itu, ia sudah menahan napas, bahkan lalu meniup dengan pengerahan sin-kang ke arah debu merah.

Debu merah itu membuyar dan bahkan membalik menyambar ke arah Bhok Gun dan Bi-kwi. Tentu saja dua orang itu cepat-cepat menghindarkan dengan loncatan-loncatan jauh ke belakang. Keduanya marah sekali dan begitu tangan mereka bergerak, jarum-jarum beracun menyambar dari tangan Bi-kwi, sedangkan dari tangan Bhok Gun meluncur paku-paku beracun. Mereka tidak malu-malu untuk menyerang Bi Lan dengan senjata-senjata rahasia beracun dari jarak cukup dekat.

Akan tetapi, tiba-tiba dua orang itu kaget bukan main ketika mereka melihat sinar yang hijau kehitaman berkelebat dan mereka merasa betapa tengkuk mereka meremang. Pedang di tangan Bi Lan itu mengandung hawa yang demikian mengerikan. Itulah Ban-tok-kiam!

Seperti kita ketahui, agar dara itu dapat melindungi dirinya dengan baik, nenek Wan Ceng, isteri Pendekar Naga Sakti Gurun Pasir, yang amat menyayang Bi Lan, telah meminjamkan pedang mujijat itu kepadanya. Dan kini, melihat bahaya mengancam dirinya, Bi Lan sudah mencabut pedang itu dan dengan memutar senjata itu, semua jarum dan paku menempel pada pedang seperti jarum-jarum halus menempel pada besi sembrani.

Memang pedang Ban-tok-kiam, sesuai dengan namanya, yaitu Pedang Selaksa Racun, dapat menarik senjata-senjata rahasia beracun seperti besi sembrani menarik besi biasa. Setelah semua senjata rahasia itu melekat pada pedangnya, Bi Lan menggerakkan pedangnya sehingga pedang itu tergetar dan mengeluarkan bunyi






“wirrrr....!” dan semua, senjata rahasia itu meluncur kembali ke arah pemiliknya.

“Heii....!”

“Aihh....!”

Dua orang itu berseru kaget dan cepat mengelak, akan tetapi dua orang anggauta Ang-i Mo-yang yang berdiri di belakang mereka, terkena senjata paku dan jarum beracun. Mereka berteriak-teriak kesakitan dan roboh berkelojotan. Melihat ini, Bhok Gun marah sekali. Dia mencabut pedangnya, dan Bi-kwi juga mencabut pedang.

“Kerahkan pasukan, kepung dan serbu. Bunuh perempuan ini!”

Lebih kurang tigapuluh orang anggauta Ang-i Mo-pang mengurung tempat itu dan membantu Bhok Gun dan Bi-kwi yang sudah memutar pedang menyerang Bi Lan. Bi Lan cepat memutar pedang Ban-tok-kiam dan mengamuk. Akan tetapi dara ini biarpun sudah mewarisi ilmu-ilmu silat yang tinggi dan sakti, ia masih kurang pengalaman berkelahi.

Kini ia dikeroyok oleh Bi-kwi dan Bhok Gun saja sebenarnya sudah kewalahan dan baru bisa menandingi mereka karena ia pernah dilatih oleh suami isteri Istana Gurun Pasir dan memiliki pedang Ban-tok-kiam. Apa lagi sekarang dikepung dan dikeroyok demikian banyak lawan. Tentu saja ia menjadi repot sekali. Biarpun ia berhasil merobohkan sedikitnya enam orang lagi anggauta Ang-i Mo-pang, namun dalam hujan senjata itu, pedang di tangan Bhok Gun melukai pahanya dan sebatang jarum beracun yang dilepas Bi-kwi menancap di pundak kirinya, membuat lengan kirinya seketika terasa kaku.

Untung baginya bahwa ia banyak mempelajari ilmu mengenai racun dari Iblis Mayat Hidup dan tubuhnya sudah cukup kuat untuk melawan racun, kalau tidak tentu ia sudah roboh oleh pengaruh racun dalam jarum itu. Biarpun demikian, gerakannya menjadi lemah dan ia semakin terdesak.

Pada saat yang amat berbahaya bagi keselamatan Bi Lan itu, tiba-tiba sesosok bayangan orang menerjang masuk ke dalam kepungan. Begitu dia menggerakkan kaki tangannya, kepungan menjadi kacau balau. Bagaikan orang mencabuti rumput-rumput kering saja dan mencampakkannya, dia menangkap setiap anggauta Ang-i Mo-pang dan melempar-lemparkan mereka ke kanan kiri. Juga setelah kedua kakinya bergerak, setiap tendangan tentu merobohkan seorang lawan.

Ketika Bi-kwi yang sedang mendesak sumoinya itu dan siap melakukan pukulan maut dengan tangannya atau tusukan maut dengan pedangnya tiba-tiba mendengar suara anak buah Ang-i Mo-pang berteriak-teriak dan kepungan menjadi bobol, ia cepat menengok dan terkejutlah ia melihat masuknya seorang pemuda yang merobohkan banyak orang.

Apa lagi ketika ia mengenal wajah pemuda ini di bawah sinar obor. Pemuda itu bukan lain adalah pemuda yang pagi tadi dijumpainya di dalam rumah makan! Marahlah Bi-kwi. Walaupun pagi tadi ia merasa tertarik kepada pemuda ini yang selain berwajah tampan juga memiliki kepandaian tinggi seperti diperlihatkannya ketika menghadapi sepasang golok di tangan Tee Kok dengan sumpit dan dengan amat mudahnya mengalahkan Tee Kok, kini Bi-kwi marah sekali. Pemuda usilan ini sekarang datang untuk merugikan dirinya, karena jelas pemuda ini memihak Bi Lan.

“Bocah sial! Kau datang mengantar nyawa!” bentaknya dan iapun membalik, meninggalkan Bi Lan dan menyerang pemuda itu dengan pedangnya.

Gu Hong Beng, pemuda itu tersenyum dan cepat mengelak dengan loncatan ke kiri sambil menampar roboh seorang anggauta Ang-i Mo-pang.

“Bukan mengantar nyawa, melainkan menolong nyawa seorang gadis yang secara curang dikeroyok oleh begini banyak orang!”

Bi-kwi tidak bicara lagi, akan tetapi menyerang kalang kabut, menggunakan pedangnya menusuk lambung sedangkan tangan kirinya menampar ke arah kepala pemuda itu. Hong Beng tidak bersikap sembrono. Dia cukup maklum betapa lihainya wanita ini, maka sambil mengelak dari tusukan pedang, diapun mengangkat tangan kanan memapaki tamparan yang dilakukan lawan, sambil mengerahkan tenaga sin-kangnya.

“Plakkk....!”

Dua telapak tangan bertemu dan akibatnya, hampir Bi-kwi roboh karena hawa dingin yang luar biasa menyusup ke dalam tubuhnya melalui telapak tangan, membuat ia menggigil! Cepat ia melompat mundur sambil menahan napas dan mengerahkan sin-kang.

Itulah tenaga Soat-im Sin-kang atau tenaga Inti Salju yang merupakan satu di antara ilmu tangguh dari keluarga Pulau Es! Ketika Bi-kwi melompat ke belakang, kesempatan itu dipergunakan oleh Hong Beng untuk menubruk ke kanan dan merobohkan dua orang pengeroyok Bi Lan.

Setelah ditinggalkan sucinya, Bi Lan yang sudah luka itu merasa agak ringan, tidak begitu terhimpit lagi walaupun Bhok Gun yang dibantu oleh anak buahnya itu, masih mengepungnya dan merupakan lawan berat bagi dara yang sudah menderita luka itu.

Dengan Ban-tok-kiam di tangan Bi Lan mengamuk. Ia juga melihat munculnya pemuda yang membantunya dan ia merasa heran karena iapun mengenal pemuda itu sebagai pemuda yang pagi tadi ia lihat di rumah makan. Mengapa pemuda ini bisa berada di sini dan mengapa pula membantunya padahal mereka sama sekali tidak saling mengenal?
Akan tetapi diam-diam ia bersyukur karena dengan munculnya bantuan ini, ia mempunyai harapan untuk meloloskan diri.

“Nona, mari kita pergi dari sini!” teriak Hong Beng setelah merobohkan dua orang anggauta Ang-i Mo-pang.

“Boleh pergi asalkan kau meninggalkan nyawamu!” bentak Bi-kwi yang sudah menyerang lagi.

Hong Beng sudah memperhitungkan ini karena biarpun dia bicara kepada Bi Lan yang diajaknya melarikan diri, diam-diam dia memperhatikan Bi-kwi dan sudah membuat perhitungan untuk membuat gerakan yang mengejutkan.

Ketika Bi-kwi menyerang dengan pedangnya, tiba-tiba saja Bi-kwi terkejut karena ada tubuh seorang anggauta Ang-i Mo-pang melayang dari depan menyambut bacokan pedangnya! Itulah perbuatan Hong Beng yang tadi dengan cepat telah menangkap seorang pengeroyok dan melemparkan tubuh orang itu ke arah Bi-kwi.

Akan tetapi, dasar hati Bi-kwi amat kejam dan tidak mengenal kasihan kepada orang lain, walaupun yang melayang itu adalah tubuh seorang anak buah Ang-i Mo-pang akan tetapi karena orang itu merupakan penghalang, tanpa memperdulikan apa-apa lagi ia melanjutkan bacokannya.

“Crakkk!”

Tubuh orang itu putus menjadi dua dan Bi-kwi menyusulkan tendangan yang membuat tubuh itu terlempar ke samping dan pada saat itu Bi-kwi menjerit kaget dan marah. Sebatang jarum telah menancap di pergelangan tangan kanannya, membuat tangan itu lumpuh dan pedangnya terlepas.

Kiranya Hong Beng yang juga memiliki kepandaian mempergunakan jarum halus yang berbau harum, tidak beracun akan tetapi dapat menyerang jalan darah, telah mempergunakan kesempatan tadi, tertutup oleh tubuh orang yang dilontarkan, menyusulkan serangan dengan sebatang jarum halus ke arah pergelangan tangan Bi-kwi.

Wanita ini marah bukan main, biarpun tangan kanannya lumpuh, ia masih menubruk ke depan menggunakan tangan kanannya, dihantamkan ke arah dada pemuda itu. Hong Beng menyambutnya dengan telapak tangannya.

“Tarrr....!”

terdengar suara keras dan tubuh Bi-kwi terdorong ke belakang, mukanya pucat dan tubuhnya tergetar. Ia tadi sudah siap menghadapi serangan hawa dingin dari pemuda itu, dengan pengerahan sin-kang yang membuat telapak tangannya panas.

Akan tetapi siapa sangka, ketika telapak tangannya bertemu dengan tangan Hong Beng, ada hawa panas yang luar biasa menyerangnya, seolah-olah membakar telapak tangannya dan menyusup sampai kejantung. Ia tidak tahu bahwa pemuda itu sekali ini menggunakan ilmu sakti Hui-yang Sin-kang atau tenaga Inti Api yang hebat.

Akan tetapi pada saat itu, Bi Lan sudah hampir tak dapat mempertahankan dirinya lagi.
Iasudah terlampau lelah dan juga luka di pundak oleh jarum beracun dan luka pedang di pahanya membuat gerakannya semakin lemah. Ketika tiga pasang golok anak buah Ang-i Mo-pang menerjang dari tiga jurusan, ia mengerahkan tenaga terakhir dan memutar Ban-tok-kiam.

Terdengar pekik-pekik mengerikan dan tiga orang itu roboh bergelimpangan, akan tetapi pada saat itu, pedang di tangan Bhok Gun dengan kecepatan kilat menusuk ke arah leher Bi Lan tanpa dapat dielakkan atau ditangkis lagi oleh Bi Lan karena pada saat itu, gadis ini sedanq menghadapi tiga orang pengeroyok tadi.

“Trangggg....!”

Sebatang golok melayang dan menghantam pedang di tangan Bhok Gun sehingga tusukan ke arah leher Bi Lan itu menyeleweng dan tusukannya luput karena pedangnya ditangkis oleh golok yang dilontarkan Hong Beng. Di lain saat, tubuh Bi Lan yang terhuyung itu sudah dipondong oleh Hong Beng.

“Nona, kita harus pergi dari sini,” katannya.

Bhok Gun marah dan pedangnya menyambar ganas.
“Cringgg....!”

Pedang yang menghantam ke arah kepala Hong Beng itu dapat ditangkis oleh Ban-tok-kiam di tangan Bi Lan. Biarpun Bi Lan sudah berada dalam pondongan Hong Beng, namun melihat bahaya mengancam ia dan penolongnya, gadis perkasa ini sudah mengangkat pedangnya menangkis.

Hong Beng meloncat dan merobohkan dua orang penghalang dengan dorongan tangan kanannya, sedangkan lengan kirinya merangkul tubuh Bi Lan yang dipondongnya. Dia juga berhasil merampas sebatang tombak dan dengan senjata ini dia lalu memukul jatuh obor-obor yang menerangi tempat itu sehingga cuaca menjadi hampir gelap karena hanya obor-obor yang agak jauh dari situ yang masih bernyala.

Kesempatan ini dipergunakan Hong Beng untuk meloncat jauh dan melarikan diri di dalam gelap. Dia berlari cepat sekali keluar dari kota Kun-ming, melalui pintu gerbang sebelah timur.

Para penjaga pintu gerbang terkejut melihat seorang pemuda lari keluar memondong seorang gadis yang membawa pedang. Sejenak mereka tertegun, akan tetapi karena pada waktu itu terdapat larangan membawa senjata tajam sedangkan gadis tadi membawa pedang dan juga sikap mereka amat mencurigakan, para penjaga itu lalu melakukan pengejaran.

Tak lama kemudian, serombongan orang yang di antaranya banyak yang memakai pakaian serba merah nampak berlari-lari keluar pintu gerbang pula. Para penjaga semakin kaget dan mereka semua ikut mengejar. Akan tetapi, yang dikejar sudah tak nampak lagi bayangannya karena ditelan kegelapan malam.

**** 044 ****
Suling Naga